
"Aku mau apa yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya kembali ke tanganku, Andy Wijaya. Aku satu-satunya, ahli waris keluarga Wijaya, setelah kakakku Anna Wijaya meninggal. Tapi bagaimana bisa ayahku malah menyerahkannya kepada kakakku yang akhirnya jatuh ke tangan Riadi Dirgantara.”
“Atas dasar apa kamu memintanya padaku?” tanya Pram.
“Karena istrimu tidak punya hak apa-apa, atas semua harta sekaligus perusahaan Riadi Dirgantara yang seharusnya itu milik keluarga Wijaya.”
“Aku sudah mengetahui semuanya. Istrimu sebenarnya putri kandung Riadi, anak pel*cur itu. Bukan putri yang diadopsi Riadi,” lanjut Andi.
“Aku memiliki perjanjian dengan Riadi dulu, tapi dia membohongiku. Ternyata dia menyembunyikan identitas putri kandung yang diakui sebagai putri adopsi.”
Maksudmu perjanjian apa? Mertuaku tidak pernah membahasnya denganku,” tanya Pram.
“Kalau memang istrimu adalah putri kandung Riadi, bisa dipastikan Riadi tidak akan menyerahkan kembali perusahaan ke tanganku. Kalau kamu bisa berdamai denganku, membujuk istrimu. Aku mungkin akan melepaskannya atau membagi beberapa persen untuk istrimu,” ucap Andi.
“Bagaimanapun istrimu bukanlah keluarga Wijaya, dia orang luar. Tidak ada hubungan darah dengan kami,” lanjutnya.
Mata Pram menyipit, menelusuri raut wajah Andi. Semuanya diperhatikan, sampai tidak ada satu pun yang terlewatkan. Dahinya berkerut saat otaknya merangkai sesuatu. Dia menemukan sesuatu yang selama ini mengacaukan pikirannya akhir-akhir ini.
“Jangan-jangan kamu yang mengancamku selama ini?” Agak ragu Pram bertanya, tapi kemungkinan terbesar lelaki gempal tidak tahu diri ini lah yang memiliki peluang dan kepentingan terbesar dalam hidup Kailla.
“Hahaha...! Kenapa kamu jadi lamban sekali sekarang Pram,” ejek Andi sambil tertawa.
“Br*ngsek!! Jangan pernah menyentuh istriku!” Pram langsung bangkit menghampiri Andi.
“Kamu berani menyentuh sehelai saja rambut istriku, aku pastikan kamu akan lenyap di tanganku! Aku sendiri yang akan menghancurkanmu dengan tanganku!” ancam Pram.
Pram langsung menarik kerah jas Andi. Dia sudah akan melayangkan tinju di tangan kanannya, bersiap mendaratkannya di wajah memuakkan Andi Wijaya.
Tapi Kailla terlebih dulu masuk ke dalam ruangan dengan menenteng sekantong makanan.
Ceklek!
“Sayang..,” panggil Kailla manja, dia belum sempat melihat pemandangan di dalam ruang kerja Pram. Saat masuk tadi, dia terlalu sibuk menggoda Stella, sekretaris Pram.
Mendengar suara Kailla, Pram langsung melepas cekalannya. Tapi, Kailla sudah terlanjur menangkap aura mematikan di mata Pram. Bahkan dia sempat sekilas menatap tinju di tangan kanan Pram.
Segera dia berlari, memeluk erat pinggang suaminya. Wajah Pram langsung benar-benar berubah dalam sekejap. Rautnya menjadi biasa. Aura dan tatapan menyeramkan yang sempat muncul, meluap berganti seulas senyum di bibirnya. Andi terbahak melihat perubahan Pram seketika.
“Hahahaha....” Kembali tawa itu keluar dari bibir Andi. Terdengar sangat menyebalkan.
“Kelemahan seorang Pram ternyata ada di gadis manja ini.”
“Silahkan keluar sekarang!” perintah Pram, berusaha terlihat biasa. Sambil tetap mendekap Kailla di dalam pelukannya.
“Sayang, maafkan aku...,” bisik Kailla mendongak, menatap Pram.
“Hmmmm, kenapa?” tanya Pram lembut.
“Kamu membuat kesalahan lagi atau kamu menyusahkanku lagi di luar sana, Sayang? Hmm..,” tanya Pram, mengeratkan pelukannya.
Kailla menggelengkan kepalanya.
“Lalu? Istri manjaku kenapa minta maaf?” tanya Pram. Mengecup seluruh wajah Kailla tanpa ada yang terlewatkan.
Cup!Cup!Cup!Cup!
“Ah... make-up ku rusak Sayang,” keluh Kailla, berusaha menghindar. Mendorong bibir Pram, supaya menjauhinya.
“Maafkan aku, aku janji tidak akan banyak bertanya lagi pada Om jahat yang tadi itu,” ucap Kailla, kembali menelusupkan wajahnya di dada Pram. Menikmati aroma tubuh yang sudah bercampur aroma parfum mahal kesukaan suaminya itu.
“Iya, tidak usah dipikirkan. Dia hanya ingin mengganggu saja.” Pram menjelaskan.
“Iya, jangan bertengkar dengan siapa pun. Aku tidak suka melihatmu berkelahi dengan siapa pun,” pinta Kailla dengan manjanya. Kepalanya menengadah ke atas, menunggu jawaban sang suami.
“Iya, aku janji,” ucap Pram, menggesekkan hidungnya pada hidung mancung istrinya.
“Apa yang kamu bawa untukku?” tanya Pram, setelah melihat kantong makanan yang masih di tenteng Kailla.
“Ini?” Kailla mengangkat bawaannya ke depan wajah Pram.
“Apa itu? Bekal makan siangku?” tanya Pram, menaikkan kedua alisnya.
“Tidak. Aku tadi mampir di Thai Resto,” jelas Kailla sedikit ragu melanjutkan kata-kata berikutnya. Dia menatap Pram dengan senyum malu-malu.
“Lalu..?” tanya Pram singkat.
“Aku ingin mencoba somtam seperti yang aku lihat....,” Kailla tidak dapat melanjutkan ucapannya, Pram sudah memotong terlebih dulu.
“Aku benar-benar ingin mencobanya,” ucap Kailla, melepaskan pelukannya. Beralih melangkah ke pintu.
“Ste, tolong minta orang di pantry bawakan piring dan sendok untukku ya,” pinta Kailla pada sekretaris Presdir. Dia hanya menjulurkan kepalanya dari balik pintu ruang kerja suaminya.
“Siap Nyonya,” sahut Stella sambil tersenyum usil.
Pram membuka isi kantong makanan yang dibawa istrinya. Saat itu juga matanya melotot, melihat udang mentah bercampur dengan berbagai macam sayuran mentah yang dibuat seperti rujak sayuran.
“Kamu tidak boleh makan ini Kai!” ucap Pram tegas dan tidak bisa ditawar.
“Tapi.. aku benar-benar ingin mencobanya Sayang,” rengek Kailla, meraih tangan Pram.
“Tidak, ini mentah semua. Tidak baik untuk anak kita,” tolak Pram.
“Hanya sedikit saja,” pinta Kailla.
“Tidak! Ayo, aku akan meminta Stella memesan makan siang untukmu,” ajak Pram, membawa Kailla duduk di kursi kebesarannya.
Dengan cekatan tangannya merapikan kembali makanan yang dibeli Kailla. Dia tidak mau istrinya terus-terusan mengingat makanan yang menurutnya tidak baik dikonsumsi istrinya yang sedang hamil.
Melihat tatapan Kailla yang penuh damba pada makanan yang baru saja dirapikan kembali, timbul rasa kasihan juga pada Kailla.
“Kamu sungguh ingin mencobanya?” tanya Pram.
Kailla mengangguk, beralih menatap suaminya dengan penuh harap. Menunggu jawaban dan kebijaksanaan Pram. Pasangan suami istri masih saling menatap, saat seorang karyawan mengetuk pintu dan meminta izin masuk membawa piring dan sendok.
“Maaf Pak, ini piring dan sendoknya,” ucap sang karyawan yang bekerja di bagian pantry.
“Terimakasih. Letakkan di atas meja saja. Kamu boleh keluar sekarang,” perintah Pram.
Terlihat Pram menuang sedikit makanan aneh itu ke atas piring. Baru saja Kailla meraih sendok, tapi tangannya sudah ditahan oleh Pram.
“Nanti! Aku yang mencobanya dulu,” ucap Pram.
“Hah... serius Sayang? Kamu mana bisa makan yang beginian?” tanya Kailla, masih tidak percaya.
“Demi istri dan anakku. Aku bisa apa?” sahut Pram, mengedipkan matanya pada sang istri kecil yang manjanya luar biasa.
Dengan ragu dia memasukkan ujung sendok yang berisi sayuran dan sedikit kuah itu ke dalam mulutnya. Wajahnya saat ini benar-benar menyedihkan. Kalau bukan demi Kailla, dia tidak akan menyentuh makananan mentah ini seumur hidupnya.
“Ssssssshhhh... ah...!” Hanya itu yang keluar dari mulut Pram. Wajahnya mengernyit, susah menangkap apa yang dirasakanya. Dia menjulurkan lidahnya, berlari secepatnya menuju kamar mandi
“Kai, kamu tidak boleh memakannya,” teriak Pram dari kamar mandi.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla, menepuk punggung Pram yang sedang membungkuk di depan wastafel. Kailla menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja di bukanya.
Pram tidak menjawab, hanya meraih sebotol air kemudian membersihkan mulutnya.
“Ah, itu pedas, asam, aroma udang mentahnya itu. Aku tidak sanggup,” jelas Pram.
“Kamu boleh merasakannya dari bibirku, kalau mau mencobanya,” lanjut Pram, terkekeh.
Cup! Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Kailla.
“Tolong bantu menghilangkan rasa aneh di mulutku Sayang,” pinta Pram, memelas.
Kailla terkejut, tapi segera dia mengetahui maksud dari suaminya.
“Maafkan aku. Aku tidak akan memakannya, kalau kamu tidak mengizinkan,” sahut Kailla.
“Anak pintar,” jawab Pram tersenyum. Dia sudah bersiap menunggu ciuman dari Kailla sambil tersenyum menggoda.
Dengan sigap kedua tangan Kailla, sudah bergelayut di leher Pram. “Aku padamu,” bisik Kailla, sebelum mencium bibir Pram.
“Ah... kamu curang Nyonya,” protes Pram.
“Bahkan kamu tidak mau mengatakan dengan jelas, kalau kamu mencintaiku. Keras kepala sekali,” gerutu Pram setelah menyelesaikan adegan ciumannya dengan Kailla.
****
To be continue
Love You all
Terimakasih
Mohon dukungan Like Share dan komen semuanya.