
Keesokan harinya.
Pram keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Tangannya saat ini sedang menyeret Kailla yang masih mengantuk di belakangnya. Mau tidak mau, dia harus membangunkan Kailla. Istrinya itu hanya bisa makan dari suapan tangannya. Selain itu, dia juga harus memastikan Kailla minum vitaminnya. Dia tahu jelas, bagaiamana susahnya Kailla minum obat. Kalau dia meninggalkan tugas ini kepada asistennya, bisa dipastikan vitamin-vitamin itu akan berakhir di tempat sampah.
Sam yang baru saja masuk ke unit majikannya hanya bisa melotot, melihat Kailla yang berjalan bergandengan tangan di belakang Pram dengan setengah mengantuk.
“Woy, pagi-pagi sudah kesambet!” ucap Bayu menepuk bahu Sam yang sedang termenung, menatap pemandangan tidak biasanya.
“Aku shock melihat Non Kailla,” ucap Sam mengucek mata, memastikan penglihatannya.
“Kenapa?” tanya Bayu.
“Itu Non Kailla?” tanya Sam, saat melihat Pram sedang menyuapi Kailla sarapan, bahkan sepiring berdua.
“Cih, mau pamer si macan tua, sok-sokan romantis!”
“Ah.. itu gak seberapa! Biasanya kita sama Bu Ida diminta Pak Pram ngungsi dulu kalau mau enak-enakan sama istrinya,” celetuk Bayu.
“Astaga, ternyata Non Kailla sudah mengakui macan tua itu suaminya,” ucap Sam berdecak.
“Gimana gak ngaku Sam. Perutnya Non Kailla sudah kembung sama Pak Pram,” sahut Bayu saambil terkekeh.
“Ayo mendingan ngopi!” ajak Bayu. Keluar dari apartemen sambil membawa secangkir kopi hitam diikuti Sam.
***
“Sayang, minggu ini aku akan mengajakmu jalan-jalan,” ajak Pram.
“Sudah lama kita tidak jalan-jalan berdua,” lanjut Pram, sambil menyuapi Kailla yang sibuk dengan ponselnya.
“Hmmm,” gumam Kailla. Hanya itu saja yang keluar dari bibirnya.
“Bu, nanti kita buat cireng seperti ini ya,” ucap Kailla sambil menunjukkan ponselnya pada Bu Ida yang sedang mencuci piring.
“Iya Non. Pakai bumbu rujak enak,” sahut Bu Ida.
“Iya, tapi aku ingin membuatnya sendiri,” sahut Kailla lagi.
Pram yang mendengar percakapan keduanya hanya menggelengkan kepalanya.
“Istriku cuma tas saja yang seleranya branded, kalau lidah tetap ndeso,”
“Sayang, hari ini kamu ada rapat di luar?” tanya Kailla sudah membuka mulutnya, bersiap menunggu tangan Pram menyuapinya nasi goreng spesial buatan Bu Ida.
“Tidak.., ada apa?” tanya Pram, sembari menyuapai nasi goreng berikutnya ke mulutnya sendiri.
Sejak beberapa hari ini, dia harus berbagi sarapan dan makan malam dengan Kailla.
“Aku boleh ke kantor?” tanya Kailla, menatap Pram penuh harap.
“Kenapa?” tanya Pram heran.
“Tidak ada, aku hanya merindukanmu,” sahut Kailla asal. Dia tidak mungkin mengatakan pada Pram, dia akan menyelidiki Mitha.
“Asalkan kamu tidak membuat kekacauan,” sahut Pram, menghabiskan air putih di dalam gelas setelah mereka berdua menghabiskan sarapannya.
“Aku berangkat sekarang,” pamit Pram, mengecup kening Kailla.
“Iya..,” sahut Kailla.
“Aku titip anakku,” ucap Pram tersenyum, mengelus pelan perut rata Kailla. Kemudian menyodorkan pipinya pada Kailla.
Cup!Cup! Dua kecupan beruntun mendarat di pipi kiri Pram.
“Aku tidak mencintaimu,” goda Pram mengernyitkan matanya, menepuk pucuk kepala Kailla.
“Sudah berangkat! Aku mau mandi sekarang. Mau membuat cireng dengan Bu Ida,” ucap Kailla.
***
Tampak Kailla sibuk di dapur menyaring tepung tapioka dan terigu sambil melihat resep di youtube.
“Bu...! Seperti ini sudah benar?” tanya Kailla pada Bu Ida yang sedang duduk di hadapannya. Kailla tidak mengizinkan siapapun membantunya. Bahkan Sam hanya bisa menonton sambil mengambil videonya.
“Iya Non, nanti dikasih seledri dan daun bawang. Habis itu kasih bumbu dan air panas. Diuleni saja. Bentuk, tinggal digoreng,” jelas Bu Ida.
Setelah selesai membentuk, Kailla pun mulai menggoreng sambil menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu rujaknya.
Mendengar kata-kata Kailla hati Sam langsung berbunga-bunga. Doanya untuk bisa bertemu Mitha terkabul.
“Siap Non!” jawabnya dengan penuh semangat.
Kailla dan Bu Ida sedang menggoreng adonan cireng, saat Sam dengan jahilnya menambah segenggam cabe rawit ke dalam blender yang nantinya akan digunakan untuk membuat bumbu rujak.
“Yes! Aku mau lihat macan tua itu mengamuk setelah makan cireng bumbu rujak buatan istrinya tercinta. Mumpung Non Kailla sedang hamil, dia pasti tidak berani marah-marah,” ucap Sam dalam hati sambil tersenyum licik.
Tak lama cireng dan bumbu rujak pun siap. Bu Ida terlihat menyusunnya ke dalam kotak bekal sambil menunggu Kailla bersiap-siap.
“Sam, ayo kita jalan sekarang. Bayu tidak perlu ikut,” ajak Kailla sambil menenteng tas makanan yang sudah disiapkan Bu Ida.
“Bu, bumbu rujaknya tidak lupa kan?” tanya Kailla lagi.
“Tidak Non, Ibu letakkan di wadah yang kecil,” sahut Bu Ida.
****
Kailla terlihat turun dari mobil di temani Sam, berjalan masuk ke dalam kantor KRD. Kailla sengaja tidak menghubungi Pram, rencananya dia ingin membuat kejutan untuk suaminya itu.
Ceklek!
Mereka disambut dengan pemandangan Pram sedang serius dengan laptop dan berkasnya, berdua dengan Mitha di dalam ruangan. Raut wajah sam langsung berubah berseri-seri, berbeda dengan Kailla yang cemberut dan menampakkan wajah asamnya. Kata-kata Sam kemarin, melintas lagi di pikirannya.
“Sayang....,” panggilnya langsung berdiri tepat di samping Pram. Tas bekal itu langsung di letakkan di tengah-tengah meja, tepat di sebelah laptop suaminya yang masih menyala, menindih berkas-berkas yang sedang dibahas Pram dan Mitha.
“Kamu membawa bekal Sayang?” tanya Pram, menyingkirkan tas bekal itu ke pinggir meja.
“Siang Nyonya.” Mitha ikut menyapa.
“He..em,” menatap tajam ke arah Mitha yang sedang serius menbaca berkasnya.
“Aku bisa minta waktunya sebentar?” Setelah melihat Pram dan Mitha tetap melanjutkan diskusinya.
“Sebentar Sayang, aku selesaikan ini dulu,” ucap Pram, tersenyum menatap Kailla sekilas. Kemudian meneruskan pekerjaannya kembali. Sikap Pram akhirnya mengantar Kailla melangkahkan kakinya menuju ke sofa, menunggu di sana dengan sedikit kecewa.
Sam sendiri, sudah terlebih dulu duduk di sana diam-diam memperhatikan sang pujaan hati. Jantung Sam berdetak kencang hanya dengan menatap punggungnya saja. Otaknya sedang berpikir keras, mencari alasan supaya bisa berbicara lebih dekat dengan si penerjemah.
“Apa aku traktir makan siang saja ya?” pikir Sam setelah melihat jam di ponselnya menjelang makan siang. Sedikit ragu dia membisikkan pada Kailla yang sedang menyandar di sofa, memejamkan matanya.
“Non, aku boleh pinjam uang tidak?” tanya Sam pelan.
“Untuk apa?” tanya Kailla ketus. Perasaannya masih terbawa saat melihat suaminya berduaan dengan si penerjemah.
“Aku mau membawa gadis itu makan siang, jadi Non Kailla bisa berduaan dengan Pak Pram yang tampan tidak ada takarannya itu,” sahut Sam pelan, supaya tidak terdengar yang lainnya.
“Kalau mau sampai minta jatah ke Pak Pram, pinjeminnya lebihan dikit Non. Biar aku pesan agak banyakan makan siangnya,” celetuk Sam, terkekeh.
Kailla terlihat berpikir, sebelum akhirnya mengeluarkan dompet dari tasnya. Ia mengosongkan semua isi dompetnya. Uang asing yang diberikan Pram untuk pegangan selama suaminya bekerja.
Selama di Austria, Pram memberinya uang cash untuk berjaga-jaga jika ia dan asisten membutuhkan sesuatu selama tinggal di apartemen.
“Kalau segini, Non belum tuntas urusannya dengan Pak Pram , bisa-bisa aku sudah kembali membawa gadis itu kesini,” protes Sam saat melihat angka yang tertera di lembaran-lembaran uang di tangan Kailla.
“Ini bukan rupiah, Sam. Ini Euro!” ucap Kailla kesal menunjuk selembar uang kertas yang menyelip dengan pecahan yang lebih kecil
“Gajimu sebulan saja lebih kecil dari selembar ini!” gerutu Kailla lagi.
“Hah! Kenapa dipinjami sebanyak ini, Non. Nanti aku bayar pakai apa?” tanya Sam heran.
"Ambil saja! Aku tidak tahu kamu membutuhkan berapa banyak. Ini bukan Jakarta, aku tidak bisa memperkirakan." Kailla menjawab santai.
Tersenyum menatap Sam. "Supaya kamu bisa mentraktir Mitha makan di bulan, jadi kamu bisa kembali lebih lama. Kalau bisa, tidak perlu kembali lagi. Anggap saja lupa jalan pulang,” bisik Kailla, kesal menatap suaminya dan Mitha yang masih serius membahas pekerjaan.
Mata Sam membulat. “Memangnyan Non mau minta jatah berapa ronde ke Pak Pram?” tanya Sam, berdecak.
“Kurang aja kamu, Sam!” Kailla memukul dada Sam, sontak membuat Pram menghentikan kegiatannya. Menatap tajam Kailla yang sedang bersiap menerkam Sam yang tidak berdaya di sofa ruang kerjanya.
“Kita lanjutkan nanti, Mit!” perintah Pram, langsung menutup laptopnya kasar.
“Sayang..,” panggil Pram, berjalan menghampiri Kailla yang sedang memukul Sam bertubi-tubi.
***
Terimakasih.