Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 38 : Penyesalan Pram


Di restoran.


“Apa yang mau kamu bahas An?” tanya Pram begitu mereka sudah duduk di dalam restoran. Dia sama sekali tidak mau menatap wanita cantik di hadapannya.


“Kita pesan makanan saja dulu, Pram.” Anita berusaha mengulur waktu, supaya bisa berlama-lama dengan lelaki tampan dan matang di hadapannya.


Bahkan sekarang Pram sudah termasuk dalam kategori mapan dibanding 17 tahun yang lalu. Dengan jabatan dan fasilitas yang diterimanya dari Riadi sejak berumur 10 tahun, Pram bisa memiliki beberapa mobil mewah yang terparkir di basement apartemennya. Itu belum termasuk kepemilikannya untuk beberapa unit apartemen mewah di Jakarta dan London. Riadi Dirgantara benar-benar memeperlakukannya seperti putranya kandungnya sendiri.


Tak lama pelayan pun mengantarkan pesanan mereka, memecahkan keheningan yang terjadi di antara keduanya.


“Silahkan!” ucap pelayan singkat sembari memamerkan senyum menunjukkan deretan giginya.


“Terimakasih, Mbak.” Anita tersenyum. Anita masih berlama-lama menatap Pram yang sedang menatap secangkir kopi di hadapannya.


“Aku mau minta maaf karena sudah membuat kekacauan di apartemenmu,” Anita membuka pembicaraan.


“Tidak usah dipikirkan, aku sudah melupakannya An.” Pram menjawab singkat. Terlihat dia mengambil sebungkus gula dan menambahkannya ke dalam kopi hitam pekat miliknya.


Hening—


“Kembalilah ke apartemenmu, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Mungkin hubungan kita dulu sudah benar-benar tidak bersisa,” lirih Anita menatap laki-laki tampan yang bahkan saat ini tidak berminat menatapnya. “Aku doakan kamu bahagia dengan Kailla,” lanjutnya lagi.


“Terimakasih.” Pram menjawab datar, kali ini pandangannya beralih menatap jendela besar di sampingnya. Melihat seorang anak kecil yang merengek pada ibunya. Senyumnya tersungging, persis seperti Kailla kecil, selalu merengek padanya setiap kali minta dibelikan es krim. Setiap mengingat gadis nakal itu, ada perasaan nyaman di dalam hatinya. Entah sejak kapan perasaan sayang itu berubah menjadi cinta, tapi 2 tahun ini dia belajar menerima Kailla di dalah hatinya dan cinta itu pun tumbuh seiring waktu.


“Kamu benar-benar mencintainya?” tanya Anita lagi.


Pram mengalihkan pandangannya, kali ini dia menatap Anita. “Kamu tentu masih mengenalku kan.”


“Sepertinya aku tidak punya kesempatan sama sekali, hehehe... “ Anita terkekeh.


Terlihat Pram menghela napasnya,. “An, kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, bisakah aku kembali ke kantor?” tanya Pram mengangkat cangkir kopi dan menghabiskannya.


“Bahkan sekarang, kamu tidak mau menatapku sama sekali, Pram. Kamu benar-benar berubah sekarang. Tidak ada lagi yang tersisa di antara kita.” Anita terlihat menunduk, tangannya saling meremas.


“Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana aku melewatkan 17 tahun ini, “gumam Anita. Airmatanya lolos kali ini.


“Maaf,” lirih Pram. “Aku tidak bertanya karena aku tahu di dalamnya hanya akan ada airmata dan luka. Maafkan aku.” Pram meminta maaf untuk kesekian kalinya, mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.


“Sampai sekarang ibuku masih sering menanyakanmu...“ Anita berkata, suaranya bergetar menahan tangisannya. “I..ibu, sudah sakit-sakitan sekarang, beberapa tahun terakhir kondisi fisiknya sudah mulai melemah,” jelas Anita.


Pram tertegun, dia tahu dia banyak berbuat salah pada keluarga Anita. Sampai kapan pun dosanya tidak akan termaafkan.


“Aku sudah mulai belajar melupakan semuanya, sejak malam itu aku sadar tidak ada lagi yang tersisa diantara kita. Sebentar lagi, kamu juga akan menikah. Aku mendoakanmu, semoga kamu berbahagia. Mungkin ini saatnya kita berdamai dengan masa lalu“ ujar Anita tegar.


“Maafkan aku, An.”


“Sudahlah, aku sudah melupakannya. Aku juga sudah mencoba memaafkanmu sebenarnya.


Kalau kamu bisa, sempatkanlah menemui ibuku, kamu bisa mengajak Kailla bersamamu. Ibuku pasti senang, dia juga menunggumu Pram. Dia masih menunggumu untuk meminta maaf padanya,” pinta Anita.


Terlihat Anita diam dan sedikit ragu, menatap ke arah Pram yang menunduk.


“A.. anakmu juga selama 17 tahun ini pasti menunggumu. Maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik saat itu. Aku harus kehilangannya.” Anita terbata.


Sontak, kalimat terakhir Anita menghujam jantung Pram. Dia menatap Anita yang sedang menangis, mencari kebenaran di matanya.


“Ka..kamu hamil waktu itu?” Pram bertanya untuk memastikan. Anita mengangguk, masih berusaha menahan tangisannya.


“Maaf, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf,” Pram menghampiri kemudian memeluk Anita seketika.


“Kenapa tidak mengatakan padaku kalau kamu hamil. Maafkan aku, tidak bisa menjaga kalian saat itu. Maaf sudah membuat luka untuk keluargamu,” Pram berbisik lirih. Dia berusaha menahan tangisnya sambil memeluk Anita. Kali ini penyesalannya semakin bertambah, dosanya semakin bertambah.


“Kamu menghilang, bagaimana aku memberitahumu. Aku dan ayahku ke rumah Pak Riadi, dia mengusir kami seperti sampah. Bahkan dia melempari kami dengan uangnya, meminta kami untuk tidak menganggumu. Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya ayahku saat itu,” jelas Anita.


“Maafkan aku, An. Sebelum aku menikah, aku akan menemui ibumu. Aku benar-benar tidak termaafkan. Aku menyesal,” lanjut Pram lagi. Terlihat dia berusaha menenangkan Anita.


Pram menggengam tangan Anita, “Maafkan aku, aku bersalah pada kalian.”



( visual Om Pram dan Anita, maaf kalau kurang jelas )


***


Kailla yang menunggu di dalam kantor Pram terlihat mulai bosan. Sebentar dia keluar untuk mengobrol dengan Stella, sebentar lagi dia duduk meletakkan kepalanya di meja Pram, memandang foto Pram dan dirinya yang terbingkai indah di atas meja kerja Pram.


“Dia akan menjadi suamiku,” batinnya menyentuh foto Pram.



Ponsel Kailla tiba-tiba berdering, ternyata Rika teman kampusnya yang menghubunginya.


“Iya Rik, ada apa?” jawab Kailla.


“Kai, bisa kesini gak? Dona kecelakaan sekarang lagi di RS. Xxxx, ruangan Cendrawasih ya,” ucap Rika dengan nada panik.


“Oke, aku langsung jalan nih,” putus Kailla. Dengan buru-buru dia meletakkan ponselnya di atas meja kerja Pram, menyambar tasnya yang diletakkan di sofa dan segera berlari keluar mencari Stella.


“Stella, aku jalan dulu ya, aku ada urusan penting. Nanti kalau Om balik ke kantor tolong sampaikan ya. Aku mungkin nanti langsung pulang ke rumah, gak balik ke sini lagi,” jelas Kailla sambil setengah berlari menuju lift.


“Nyonya, mau dipanggilkan sopir kantor?” Stella menyusulnya.


“Gak deh, nanti aku pake taksi aja,” tolak Kailla. Segera dia masuk ke dalam lift.


*************


Di dalam taksi, Kailla bermaksud menghubungi Pram, memberitahu kalau dia akan ke rumah sakit menjenguk temannya yang kecelakaan. Dia mengobrak-abrik seluruh isi tasnya dan baru menyadari kalau ponselnya tidak ada di dalam tas.


“Astaga, ponselku. Terjatuh dimana ya?” gumamnya. “Nanti pinjem ponsel Rika saja baru menghubungi Om.”


Pikirannya tidak tenang begitu Rika mengabarinya. Dona itu salah satu sahabatnya, apalagi saat ini keluarga Dona sedang tidak ada di Jakarta.


“Mudah-mudahan Dona baik-baik saja,” batinnya.


***


Terimakasih dukungannya. Mohon bantuan like dan komennya ya.