
“Kita selesaikan dulu, Kai. Baru aku akan melepaskanmu,” ucap Pram tersenyum menatap Kailla.
“Ah! Aku tidak mau Om,” rengek Kailla menolak. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling berharap ada yang datang dan menolongnya saat ini.
Pram terkekeh. “Sayang.., tidak akan ada yang datang,” bisik Pram di telinga Kailla. Hembusan nafas berat Pram yang menerpa telinga dan kulit leher Kailla, seketika membuat bulu-bulu halus di kulit Kailla meremang.
“Jangan begini dong Om!” protes Kailla. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menghindari Pram yang sedari tadi berusaha mengecup wajahnya.
“Begini bagaimana maksudmu Kai?” Pram balik bertanya. Dia menghentikan serangannya dan memilih diam, menatap wajah cantik istrinya yang sedang cemberut.
“Begini?” tanya Pram tiba-tiba, secepat kilat dia mengecup seluruh wajah Kailla tanpa jeda. Merasa belum puas, dia menambah beberapa k*cupan di leher jenjang istrinya yang masih memberontak.
“Bu...bu..kan begitu!” sahut Kailla terbata-bata, dengan susah payah dia berhasil mendorong mundur bibir Pram dengan telapak tangannya.
“Salah lagi?!” ucap Pram, menatap Kailla pura-pura berpikir. Dia sudah ingin tertawa melihat wajah kecut Kailla lengkap dengan bibir mengerucut yang ditujukan padanya.
“Benar-benar menggemaskan!”
“Sudah! Aku mau kembali ke kamar.” rengek Kailla masih berusaha melepaskan tangan Pram yang masih mendekap erat tubuhnya.
“Bukannya tadi kamu juga mau mengajakku ke kamar. Ayo!” ajak Pram mengedipkan sebelah matanya.
“Aku tidak mau!” Kailla menjawab ketus.
“Hahaha...” Pram tertawa lepas.
“Kai, kali ini aku serius,” ucap Pram setelah menghentikan tawanya. Dengan cepat, dia merengkuh tubuh Kailla dan meng*cup lembut bibir tipis yang sedari tadi menggodanya. Kailla hanya bisa melotot begitu mendapat serangan tiba-tiba suaminya itu. Dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah siap mengepal, memukul mundur dada Pram.
“Aku merindukannya,” bisik Pram di sela ciumannya. Menangkap kedua pergelangan tangan Kailla yang terkepal, kemudian melanjutkan menikmati bibir istrinya. Berlama-lama disana, disaat si empunya tidak melawan dan memberontak.
Pram tersenyum begitu menyudahi ciumannya. Dia menatap Kailla yang masih memejamkan matanya. Perasaan Pram melambung di udara melihat pemadangan di hadapannya saat ini. Walau Kailla menolaknya di awal, tapi pada akhirnya Kailla mau menerima semua perlakuannya.
Pram tahu perjuangannya tidaklah mudah untuk menaklukan Kailla. Kailla sudah terbiasa dengan dirinya sejak dia lahir. Sudah terbiasa dengan kasih sayang yang dicurahkan Pram selama 20 tahun ini. Untuk menukar semua perasaan yang sudah terbangun selama 20 tahun ini, pasti istrinya membutuhkan waktu. Dan Pram rela menunggu, bahkan dia sudah siap kalau harus menghabiskan sisa umurnya dengan memperjuangkan cinta Kailla.
“Terimakasih,” ucap Pram lembut mengecup kening istrinya, begitu Kailla membuka matanya.
Sebuah senyuman indah dipersembahkannyaa untuk Kailla. “Kemarilah Kai, ada yang mau aku sampaikan.” Pram merengkuh pinggang Kailla dan memeluknya erat dari belakang.
“Kai, jangan marah seperti tadi lagi,” bisik Pram di telinga Kailla.
Hening— Mata mereka sama-sama menatap ke arah kolam ikan koi yang sedang berenang. Gemericik air kolam ikan menjadi satu-satunya suara yang terdengar saat ini.
Terlihat Pram menghela napas, sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Kita bukan anak kecil lagi dan pemandangan tadi itu tidak layak jadi tontonan semua orang. Lain kali, saat marah padaku, kamu boleh memukulku sampai puas. Tapi tidak di depan semua orang. Kamu mengerti?” jelas Pram yang dianggukin Kailla sambil tertunduk.
“Perempuan itu cuma teman kuliahku, bukan sesuatu yang penting. Jangan pernah berpikir aku mengabaikanmu. Hidup Reynaldi Pratama ini hanya milikmu,” lanjut Pram mengeratkan pelukannya.
“Maaf,” Kailla berbisik lirih mendengar semua penjelasan Pram.
“Aku tidak menuntutmu berubah seperti yang aku inginkan, tapi aku mau kamu belajar. Aku sudah tidak muda lagi, Kai. Aku juga bisa lelah. Yang aku takutkan ketika aku lelah, aku tidak bisa mengontrol diriku dan akan menyakitimu.” Pram berkata sambil memejamkan matanya. Sesekali dia menelusupkan wajahnya ke dalam lekuk leher istrinya,
“Maafkan aku, Om,” ucap Kailla pelan. Sebenarnya dia sedikit menyesal, selama ini Pram sudah baik padanya. Bahkan Pram hampir tidak pernah memarahinya, meskipun kelakuannya sudah sangat kelewatan.
“Baiklah, aku masih ada urusan dengan Bayu. Kamu makan siang dulu, aku akan meminta Bu Sari menyiapkannya,” ucap Pram. Tampak dia menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Kailla, kemudian mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
Pram baru saja mendorong sebagian pintu kaca yang menghubungkan ke dalam rumah, tapi baru terbuka sebagian, sudah terdengar suara teriakan kesakitan Sam.
Bukk!!
“Aduh!!”
“Astaga Sam! Kenapa berdiri di situ?” tanya Pram, terkejut dengan kehadiran Sam di belakang pintu.
“Maaf Pak,” sahut Sam menggosokan kepalanya yang terkena daun pintu. “Saya hanya berjaga-jaga, memastikan tidak ada orang yang akan ke taman belakang sebelum Bapak selesai,” jelas Sam. Tadi dia sempat melamun, karena terlalu lelah berdiri. Sampai tidak menyadari kedatangan Pram.
“Kamu mengintip Sam!” tuduh Kailla, mengarahkan telunjuknya pada asisten kesayangannya itu.
“Ti..tidak Non. Siapa juga yang ngintip. Kalau ngintip itu sembunyi-sembunyi.” Sam membela diri.
“Terus?” ucap Kailla ketus, matanya menatap tajam ke arah Sam.
“Kalau tadi itu kelihatan, tidak sengaja melihat.” sahut Sam terkekeh.
“Kamu....!” Kailla buru-buru melepas tautan jarinya dengan Pram, segera dia menarik paksa lengan Sam menjauh dari Pram. Memukulnya berkali-kali sampai puas.
“Aduh Non! Jangan begini!” Sam masih berusaha menghindar.
Di tengah-tengah pukulannya, tampak Kailla mengenggam tangan Sam dan membisikkan sesuatu.
“Kamu kelewatan Sam, kenapa tidak memberitahuku kalau kopernya tidak jadi dibuang.” bisik Kailla.
“Kalau aku kasih tahu, Non pasti marah,” sahut Sam pelan, berusaha supaya ucapannya tidak terdengar oleh Pram.
“Aku harus membayar mahal untuk menyelamatkan kita.” ucap Kailla kesal. Mereka masih saling berbisik, takut percakapannya terdengar oleh Pram.
“Aku juga mempertaruhkan jabatanku hanya untuk sebuah koper Non,” Sam membela diri, semakin membuat kesal Kailla.
“Kamu....” Baru saja Kailla hendak menarik kemeja Sam, Pram sudah menarik tangannya.
“Kai, sudahlah. Tidak perlu memarahinya. Kalau sudah tidak mau, dipecat saja,” ucap Pram. Mendengar kata-kata Pram, sontak kedua orang yang sedang berseteru itu menjawab serentak.
“Jangan!”
“Jangan...”
Sam tertunduk lemas sedangkan Kailla menatap Sam penuh dengan rasa iba. Dia teringat, hari ini adalah hari terakhirnya bersama asisten kesayangannya. Dia tidak akan bertemu dengan Sam dalam waktu yang lama.
“Sam, malam ini menginaplah disini. Aku mau kamu yang mengantarku ke bandara besok.” pinta Kailla.
Wajah Kailla terlihat sedih, menatap Sam tanpa berkedip. Selama dua tahun ini, Sam satu-satunya yang paling mengerti dirinya. Sam selalu tutup mulut untuk setiap kesalahan yang dilakukannya. Bahkan tidak jarang, Sam harus menanggung semua kesalahan Kailla dan menerima semua kemarahan Pram karena dirinya.
***
Terimakasih dukungannya.