Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 97 : Kailla Mulai Berulah Lagi


“Kai... kamu kenapa?” tanya Pram lagi saat melihat Kailla hanya menusuk steak di hadapannya dengan garpu.


“Aku mau pulang. Aku mengantuk!” ucap Kailla tanpa melihat ke arah suaminya sama sekali. Sebenarnya dia sudah mulai bosan, sejak dulu Kailla tidak bisa duduk manis tanpa melakukan hal apapun. Apalagi sudah lama sekali dia tidak membuat kekacauan. Ketidakhadiran Sam di dalam hidupnya, membuat semua terasa datar.


“Habiskan makan siangmu, Kai. Nanti sopir akan mengantarmu kembali ke apartemen,” pinta Pram mengecup pucuk kepala Kailla sekilas, setelah selesai menghabiskan pasta tanpa rasanya.


Terlihat Kailla menghela napasnya, menyuapi sepotong daging ke dalam mulutnya dengan malas. Matanya langsung membulat saat daging steak ini menyentuh lidahnya.


“Sayang.. ini enak!” ucapnya tersenyum menatap Pram. Matanya langsung berbinar-binar saat dia menikmati kelezatan steak yang sedang di proses di dalam mulutnya.


“Aa..buka mulutmu..!” pinta Kailla menyuapkan sepotong steak ke dalam mulut Pram.


“Sudah Kai, aku sudah kenyang.” tolak Pram tersenyum melihat ekspresi Kailla yang berubah seketika.


“Kamu harus memakannya Sayang, pasta tadi sungguh mengerikan,” celetuk Kailla.


“Kai..........,” panggil Pram meminta Kailla untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Pram menatap Pieter sekilas.


“Tapi ini....” Kailla tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Pram sudah menyela kembali.


“Kai......, nanti aku akan menegur chefnya langsung. Nikmati saja steak yang ada di depanmu Sayang,” Pram mengambil alih garpu di tangan Kailla dan menyuapkan steak ke dalam mulut istrinya.


Pieter tersenyum melihat pemandangan di hadapannya.


“Pram benar- benar menikah dengan bocah yang masih polos-polosnya.”


“Pram, setelah ini kita ada rapat. Akan ada pertemuan dengan klien dari Jerman. Sebaiknya kamu ikut Pram,” jelas Pieter.


Pram mengangguk, segera tatapannya beralih pada Kailla yang hampir menghabiskan isi piringnya.


“Kai, setelah ini kamu dan Bayu kembali ke apartemen. Nanti sore aku akan menjemputmu, kita makan di luar,” ucap Pram.


“Iya..” Kailla menjawab singkat. Dia sudah dilanda kebosanan selama berada di kantor. Tidak ada hal yang menarik minatnya disini. Dia juga sudah mulai mengantuk. Sejak berada di Austria jam tidurnya masih belum normal, ditambah Pram mengganggunya hampir setiap malam.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka pun kembali ke ruangan Pram menyiapkan materi untuk rapat. Di depan ruangan sudah tampak Mitha berdiri menunggu kedatangan mereka sambil memeluk sebuah map hitam. Mata Kailla langsung membulat. Bola matanya hampir keluar, seketika kantuk yang tadi menyerangnya langsung menghilang.


“Wanita terong ini lagi. Mau apa lagi dia menempel ke suamiku!” gerutu Kailla dalam hati.


“Bagaimana Mit?“ tanya Pieter yang berjalan tepat di belakang Pram.


“Mereka sedang menunggu di ruang rapat, Pak. Semua sudah siap hanya menunggu Pak Presdir dan Pak Pieter,” jelas Mitha sopan.


Pram masuk ke dalam ruangannya diikuti Kailla, meninggalkan Pieter dan Mitha yang tetap menunggu di luar pintu.


“Kai, kamu langsung pulang ya. Nanti Bayu akan kesini menjemputmu. Aku tidak bisa menemanimu ke bawah. Aku harus rapat sekarang,” ucap Pram langsung meraih tubuh Kailla, memeluknya sebentar dan mengecup kening istrinya.


“Sayang, aku boleh ikut rapat?” pinta Kailla mengejutkan Pram seketika. Pram melepaskan pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Kailla supaya bisa melihat raut wajah istrinya saat ini.


“Hah? Kamu serius Sayang?” tanya Pram memastikan kalau Kailla tidak salah mengucapkannya. Dia tidak yakin Kailla sanggup menunggunya di ruang rapat. Di dalam sana, istrinya akan kebosanan.


“Iya, aku janji tidak akan nakal,” ucap Kailla memelas. Berharap suaminya mengizinkannya masuk ke ruang rapat. Bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan wanita terong itu mengambil kesempatan di saat dia lengah.


“Kamu menunggu di ruanganku saja ya,” tawar Pram, membingkai wajah cantik istrinya yang sebentar lagi akan meledak kalau saja dia tidak hati-hati menjinakannya. Kailla tidak bisa ditolak, tapi pada saat kita bisa membujuknya dengan baik, dia akan jadi penurut sekali.


“Aku tidak mau, aku mau bersamamu,” rengek Kailla menggelengkan kepala mendengarkan saran dari Pram.


“Aku tetap mau ikut bersamamu Sayang.” Kailla tetap pada pendiriannya. “Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu,” janji Kailla. Matanya memelas, jemarinya menarik ujung jas milik suaminya. Memohon agar permintaannya kali ini dikabulkan Pram.


“Kai.....” Pram masih berusaha membujuk.


“Sayang, please...” Kailla masih merengek dan memohon. Berharap Pram menyetujui permintaannya kali ini.


Pram menghela napas, memijat keningnya. Dia tidak bisa membujuk Kailla, artinya dia harus menuruti semua permintaan Kailla.


“Baiklah, kamu tidak boleh membuat kekacauan di dalam sana. Cukup diam dan mendengarkan orang-orang itu berbicara. Kalau kamu bosan, kamu bisa keluar. Kamu mengerti?” jelas Pram menepuk puncak kepala Kailla.


“Iya Sayang,” sahut Kailla langsung memeluk manja lengan Pram.


“Aku tidak tahu keputusanku mengizinkanmu masuk ke ruang rapat tepat atau tidak. Tapi aku tidak bisa menolak. Mudah-mudahan saja kamu tidak membuat kekacauan atau mempersulitku di dalam sana. Bahkan kamu bisa belajar banyak hal dari rapat ini,” batin Pram.


Terlihat Pram menggenggam tangan Kailla keluar dari ruangannya.


“Istriku akan ikut rapat bersama kita,” jelas Pram setelah melihat wajah keheranan dari Pieter dan Mitha.


“Baik Presdir.” Pieter menjawab singkat. Dia memilih berjalan terlebih dahulu, mengingat dia belum sempat mengajak Pram berkeliling untuk mengenal ruangan dan staff-staff di perusahaannya.


Kailla tersenyum puas menatap Mitha saat ini. Dia melepas genggaman tangan Pram dan memilih memeluk erat lengan kekar suaminya itu sambil berjalan menuju lift. Mitha yang mengekor di belakang mereka hanya bisa mendengus kesal.


“Mau pamer!” gerutu Mitha dalam hati.


Kailla benar-benar memancing emosi Mitha. Belum puas dia memamerkan kemesraan di depan Mitha, sekarang malah dia menengok ke belakang. Menatap Mitha dengan tersenyum. Senyum kemenangan karena berhasil membuat wanita terong itu sadar tempatnya dimana.


Tidak cukup sampai disitu, di dalam lift lagi-lagi Kailla melakukan hal yang sama. Begitu pintu lift tertutup, dia memilih memeluk Pram di depan asisten dan si penerjemah. Dengan tidak tahu malunya, dia menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Pram. Kedua tangannya memeluk erat pinggang Pram, tidak membiarkan suaminya itu menjauh darinya. Senyum puas tersungging dibibir Kailla, matanya tidak pernah lepas dari Mitha. Semakin Mitha mendengus kesal, Kailla semakin kegirangan.


“Aku harus memberi pelajaran kepada wanita yang sudah berani mengganggu laki-laki milik wanita lain!”


***


Pram membawa Kailla masuk bersamanya ke dalam ruang rapat. Tampak Pram menyapa beberapa orang yang sudah duduk terlebih dulu mengelilingi meja oval memanjang, menunggu kedatangannya. Masalah pertama muncul saat Kailla berebutan tempat duduk dengan Mitha.


Kailla memilih duduk tepat di samping Pram. Kursi yang seharusnya menjadi tempat Mitha sebagai penerjemah. Sedangkan Pieter memilih duduk di sisi yang lainnya, karena dia memang dibutuhkan Pram untuk menjelaskan materi-materi yang belum Pram kuasai.


“Kai, kamu pindah ya Sayang,” pinta Pram setelah melihat Kailla tidak mau mengalah. Membiarkan Mitha tetap berdiri disamping, menunggu Kailla merelakan kursi untuknya.


“Kamu bisa duduk di sebelah Mitha. Aku butuh Mitha disampingku saat ini Kai. Klien kita ini dari Jerman, aku tidak paham Sayang,” jelas Pram lembut sambil mengenggam tangan Kailla.


Kailla tetap diam, tidak bereaksi apapun. Dia sebenarnya tahu dan sadar, tapi rasa cemburunya sebagai wanita menutup logika dan akal sehatnya.


“Sayang..., bukannya sudah berjanji tidak akan membuatku dalam masalah.” pinta Pram lagi.


Dengan wajah cemberut akhirnya Kailla berdiri dari duduknya dan merelakan kursi yang didudukinya kepada Mitha. Dia memilih duduk di sisi Pieter, membiarkan Pram yang menatapnya tanpa berkedip. Dia sengaja tidak mau mendengarkan kata-kata Pram yang memintanya duduk di samping Mitha, dia terlanjur kesal karena Pram lebih membela Mitha daripada dirinya. Selain itu, dia juga tidak mau bersebelahan dengan wanita tukang tikung, yang suka menggoda laki-laki.



****


Apa yang terjadi di rapat. Apa Kailla berulah lagi. Next ya..!