Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 103 : Pencuri Ponsel


Mendengar kata-kata Pram, dengan terpaksa Kailla melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Dia sengaja berdiri di tengah pintu kamar, tetap mendekap selimut yang membelit tubuh polosnya.


“Kenapa kembali Kai?” tanya Pram sambil tersenyum menatap istrinya yang sedang berdiri di tengah pintu.


“Tidak, aku tidak jadi keluar,” jawab Kailla kesal. Matanya sesekali menatap ke arah luar. Berada di dalam kamar atau pun di luar, sama-sama mengerikannya. Kalau diluar, dia takut dengan roh gentayangan, di dalam kamar juga ada singa kelaparan yang sewaktu-waktu bisa menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya.


“Aku harus tetap waspada!” ucap Kailla dalam hati.


“Kemari Sayang..,” panggil Pram tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.


“Aku tidak mau, aku sudah lelah.” Kailla berkata sambil menggelengkan kepalanya.


Melihat kelakuan Kailla yang begitu menggemaskan, Pram sudah ingin tertawa terbahak-bahak. Dia masih ingat dengan jelas saat istrinya merengek memintanya menyudahi proses produksi calon anak-anaknya.


“Ayo Kai, kalau kamu tetap disana bukan tidak mungkin roh gentayangan itu akan mengerayangimu terlebih dulu,” ucap Pram pura-pura bergidik ngeri.


Tampak Pram dengan jahilnya berjalan ke arah saklar dan mematikan lampu kamar seketika.


“Ahhhhhhhhhh.........!!!!” teriak Kailla, dia lari pontang panting masuk ke dalam kamar. Karena panik, tanpa sengaja dia menginjak ujung selimut panjang yang membelit tubuhnya.


Bukkk! Kailla jatuh terguling ke lantai.


Mendengar suara kedebuk nyaring di tengah kegelapan, Pram langsung menyalakan lampu dan menghentikan keusilannya.


“Kai, kamu baik-baik saja,” tanya Pram panik saat melihat Kailla yang sudah terbaring di lantai dan mengusap bokongnya.


“Aduh...,” rintih Kailla sambil cemberut.


“Ini saatnya aku mengerjainya,” batin Kailla.


“Aduh....., perutku sakit Sayang,” rintih Kailla. Tangan yang tadi mengusap bokong sekarang sudah berpindah mengusap perutnya.


Melihat Kailla yang kesakitan, Pram langsung mengendong dan membawa tubuh istrinya ke atas ranjang.


“Maaf Sayang, sakitnya dimana?” tanya Pram. Wajahnya sudah panik melihat Kailla meringis kesakitan.


“Sakitnya di perut Sayang,” jawab Kailla. Dia sedang berusaha keras mengeluarkan air mata supaya dramanya lebih meyakinkan.


“Ya Tuhan, di saat genting seperti ini, aku lupa lagi drama korea yang paling sedih apa ya,”


“Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pram saat melihat Kailla terdiam.


Kailla mengangguk. “Sepertinya waktu aku terjatuh, calon anak-anakmu ambyar di dalam sini.” Kailla menjawab asal, sambil terus mengusap perutnya. Dia sudah ingin tertawa melihat ekspresi khawatir di wajah Pram.


Mendengar jawaban Kailla, Pram semakin panik.


“Astaga aku lupa, bisa saja Kailla sedang hamil sekarang. Bukankah...”


“Kai, apa yang kamu rasakan?” Pram benar-benar panik saat ini. Dia menyambar asal pakaiannya di dalam lemari dan mengenakannya buru-buru. Pandangannya sedari tadi tidak berpindah dari istrinya.


Kailla terpaksa menutup wajahnya dengan selimut untuk menahan tawanya.


“Kai, apakah benar-benar sakit? Kenapa menutup wajahmu?” tanya Pram. “Kamu butuh sesuatu?” tanya Pram lagi.


“Aku mau pakaianku sekarang?” pinta Kailla dengan tetap memasang wajah meringis.


Segera Pram meraih pakaian Kailla yang masih berserakan di lantai. Baru saja dia akan membantu Kailla mengenakan pakaiannya, tapi Kailla sudah menolak.


“Aku bisa sendiri Sayang,” tolak Kailla, langsung menyambar pakaian dari tangan Pram.


Dengan buru-buru dia mengenakannya, sambil tersenyum.


“Kai... Kai..,” panggil Pram, dia sedikit curiga dengan gelagat Kailla yang tiba-tiba sudah tidak merintih kesakitan seperti sebelumnya.


“Anak ini sepertinya mengerjaiku,” batin Pram.


“Ehemmm.. Kai, ayo aku periksa. Apakah ada sesuatu yang keluar?” pinta Pram menarik tangan Kailla tiba-tiba.


“Tidak ada. Sekarang sudah baik-baik saja.” ucap Kailla panik. “Perutku juga sudah tidak sakit lagi,” lanjut Kailla lagi.


“Kamu mengerjaiku. Hah!” tanya Pram serius.


“Awas kamu! Aku serius akan mengigitmu sekarang!” ancam Pram. Dia sudah mencekal kedua tangan Kailla, bersiap menindih istrinya.


“Aku.. aku tidak mau lagi,” tolak Kailla. “Maafkan aku Sayang, aku tidak mau lagi!” Kailla masih memohon.


***


Pram tersenyum penuh kemenangan menatap wajahnya di cermin. Dia sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Kailla yang harus menerima hukumannya, hanya bisa cemberut sambil menatap Pram dengan kesal.


“Dia benar-benar mengerjaiku hari ini, tidak memberiku waktu beristirahat sama sekali!” gerutu Kailla.


Tadinya dia masih ingin tidur kembali, meladeni Pram benar-benar melelahkan. Tapi begitu melihat suaminya sudah siap berangkat ke kantor, ingatannya tertuju pada Mitha.


“Waduh! Bagaimana nasib suamiku hari ini. Di depanku saja, wanita itu masih berani menempel. Apalagi kalau aku tidak ada disana.” batin Kailla.


Otaknya sedang berpikir keras saat ini. Dia harus mencari alasan supaya bisa ikut dengan suaminya ke kantor hari ini.


Sontak dia langsung bangun dari tidurnya, meraih selimut menutupi tubuhnya yang kembali dit*lanjangi Pram tadi.


“Sayang..,” Kailla langsung memeluk Pram dengan satu tangannya. Tangan lainnya digunakan untuk mendekap selimutnya supaya tetap membungkus rapi tubuhnya.


“Hmmmm, ada apa?” tanya Pram. Pandangannya masih serius pada ponsel di tangannya. Hari ini dia ada janji dengan Winny di luar kantor.


“Sayang, aku boleh ikut ke kantor?” tanya Kailla ragu.


Pram tertegun, menatap wajah cantik istrinya yang masih acak-acakan karena belum mandi.


“Lain kali ya,” tawar Pram lembut. “Hari ini aku ada jadwal meeting di luar,” jelas Pram lagi. Tampak dia menyimpan ponsel di saku celananya.


“Mitha ikut?” tanya Kailla lagi.


“Iya, dia ikut. Pieter hari ini harus stay di kantor,” jelas Pram mengecup kening Kailla sekilas.


“Aku boleh ikut? Aku janji tidak akan nakal.” Kailla memohon pada suaminya.


“Tidak bisa Sayang,” tolak Pram. Terlihat dia menghela nafas, menatap istrinya yang sedang kecewa dengan jawabannya.


“Aku janji pulang cepat. Ya?” bujuk Pram lagi.


Kailla hanya menunduk, tidak menjawab.


“Ayolah Sayang, aku janji tidak akan macam-macam diluar. Kamu tidak percaya pada suamimu?” tanya Pram. Dengan telunjuknya dia mengangkat dagu Kailla yang menunduk, mengecup bibir tipis itu sekilas.


“Aku mencintaimu,” ucap Pram lembut.


Setelah lama terdiam, akhirnya Kailla memilih bergelayut manja di leher Pram, membiarkan selimut di tubuhnya itu melorot. Mel*mat bibir Pram dengan tidak tahu malunya. Setelah dirasa suaminya mulai membalas ciuman dan merengkuh pinggang rampingnya, dengan cekatan tangan kanannya menelusup masuk ke dalam kantong celana Pram. Kailla mencuri ponsel suaminya sendiri.


“Maafkan aku Sayang, aku tidak punya cara lain,” ucap Kailla dalam hati.


Setelah ponsel itu bisa dikuasainya, segera dia melepaskan ciumannya. Meraih selimut yang teronggok di lantai.


“Baiklah... aku menyayangimu,” ucap Kailla lembut, menyembunyikan ponsel di gulungan selimut yang membelit tubuhnya kembali.


Pram tersenyum dan mengecup puncak kepala Kailla sebentar.


“Aku pergi sekarang, jangan nakal di rumah,” ucap Pram. Tampak dia keluar dari kamar dengan menenteng tas kerjanya.


Saat di pintu keluar, Pram sempat bertemu dengan Bayu yang hendak masuk ke dalam apartemen.


“Pagi Bos,” sapa Bayu sambil tersenyum.


“Pagi Bay, tolong jaga istriku. Sebentar lagi temani dia ke kantor. Istriku akan mengantar ponsel milikku yang tertinggal,” perintah Pram sambil tersenyum.


“Siap Bos!” jawab Bayu heran. Tampak dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Terimakasih.