Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 76 : Berhitung


Pram heran melihat Winny yang langsung menyetujui kerjasama mereka tanpa pembahasan lebih lanjut.


“Maksudnya ini bagaimana Win? Jujur, aku tidak terlalu mengikuti. Baiknya menunggu asistenku saja.” ujar Pram.


“Pram.. Pram, kita sudah saling mengenal dan aku yakin perusahaanmu tidak mungkin akan merugikanku,” jelas Winny. “Sebaiknya kita, bahas hal yang lain. Ada banyak cerita yang harus kamu bagi untukku.”


Pram baru saja hendak menjawab, dari kejauhan tampak David berjalan menghampiri meja mereka.


“Pak, Bu Winny..,”sapa David sembari tersenyum.


“Maaf saya terlambat,” ucap David lagi memilih duduk di sebelah Pram.


“Dave, Winny sudah oke!” ucap Pram santai, sambil menyesap kopinya. Mendengar kata-kata atasannya, David terkejut. Pram yang mengerti apa yang dipikirkan David pun segera menjelaskan.


“Winny ini teman kuliahku sewaktu di London.” jelas Pram. Mendengar itu, David hanya bisa menganggukan kepala.


Tak lama setelah itu, Pram pun berpamitan. Dia harus segera pulang untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Austria besok.


“Aku duluan ya. Selebihnya kamu bisa bertanya dengan David, Win,” pamit Pram.


“Duh! Pengantin baru emang suka begitu bawaannya,” goda Winny melihat Pram yang buru-buru pergi.


***


Klakson mobil di depan gerbang mengejutkan Donny, Bayu, Sam dan beberapa security yang sedang berbincang sambil menikmati kopi panas buatan Bu Sari. Tampak seorang security berlari membuka gerbang begitu memastikan klakson berasal dari mobil Pram.


“Tamat riwayatku!” Sam berkata pelan sambil menyembunyikan dirinya begitu melihat mobil Pram melintas di hadapannya.


Sontak Bayu dan yang lainnya tertawa melihat kelakuan Sam.


“Bay, kalau Pak Pram nanyain aku, bilang lagi makan siang di warteg ya. Tapi bilangnya warteg yang jauh. Jangan yang deket,” pinta Sam memasang wajah memelas.


“Beres!” Terlihat Bayu menepuk pundak Sam memberi semangat. Sebenarnya dia juga kasihan melihat kondisi Sam saat ini.


“Aku belum siap bertemu Pak Pram sekarang. Nyaliku belum ngumpul semua.” celetuk Sam, diiringi tawa yang lainnya.


Terlihat Pram turun dari mobil masih dengan kacamata hitamnya, setengah berlari menuju ke dalam rumah. Begitu sampai di ruang tamu, dia berpapasan dengan Bu Sari.


“Bu, Kailla dimana?” tanyanya.


“Di kamarnya Pak.” Bu Sari menjawab singkat. Mendengar jawaban Bu Sari Pram bergegas menaiki anak tangga yang membawanya menuju lantai dua, dimana kamar Kailla berada.


Bu Sari terlihat risau, pandangannya tidak lepas dari punggung Pram yang berjalan semakin mendekat kamar istrinya. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan hanya Bu Sari, bahkan hampir semua penghuni rumah sudah bersiap menunggu ledakan yang akan terjadi sebentar lagi.


Ceklek!


Pram berusaha membuka pintu kamarnya, tapi terkunci dari dalam. Dia mengerutkan dahinya keheranan. Tidak biasanya Kailla mengunci pintu kamarnya.


Tok.tok.tok!


Pram mencoba mengetuk pintu kamar. Hening, tanpa ada jawaban atau tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


Tok.tok.tok!


“Kai..,” panggil Pram setelah mengetuk pintu kamar kembali. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.


“Kai....” panggil Pram lagi. Kali ini dia memilih menempelkan telinganya ke daun pintu mencoba mendengar ada aktivitas atau tidak di dalam sana.


Hening—


“Tidak biasanya. Apa Kailla ketiduran? Atau sedang mandikah?” ucapnya pelan. Dia segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan menghubungi Kailla.


Nada dering dari ponsel Kailla samar-samar terdengar sampai ke tempat Pram berdiri saat ini.


Tapi sampai panggilan berakhir tetap tidak ada jawaban. Kali ini perasan Pram sudah mulai tidak enak. Dia ingat percakapannya terakhir dengan Kailla di ponsel yang terputus secara tiba-tiba. Dia berusaha mencoba menghubungi ponsel Kailla kembali. Dan benar saja, kali ini panggilannya ditolak Kailla. Pram mencoba menghubungi berulang kali dan lagi-lagi mengalami hal yang sama. Sampai pada akhirnya, Pram tidak bisa lagi menghubungi ponsel Kailla.


“Sepertinya dinonaktifkan.”


“Kai...! Buka pintunya!” panggil Pram sambil mengetuk pintu kamar kembali. Tetap hening tanpa ada jawaban, padahal jelas-jelas Kailla ada di dalam kamar dan menolak semua panggilannya.


“Kai! Buka pintunya! Ada apa?” panggil Pram sambil menggedor pintu kamar kembali. Dia sudah mulai panik, keyakinannya pasti telah terjadi sesuatu pada Kailla tanpa sepengetahuannya.


Segera dia berlari menuju tangga dan berteriak memanggil Sam dari lantai dua.


“SAM!!


“SAM!!


Teriakan Pram yang mengelegar bisa terdengar sampai ke pos security.


“Tuh kan! Gak yang laki, gak yang perempuan sama saja. Sukanya marah-marah!” celetuk Sam.


Terlihat dia menunduk dan mengendap-endap supaya tidak terlihat oleh Pram.


Tak lama tampak Bayu datang menghampiri Pram setelah Sam memutuskan belum mau menemui Pram sampai kondisi aman terkendali.


“Iya Bos!” sahut Bayu saat sudah berada di hadapan Pram.


“Sam dimana?” tanya Pram. Wajah Pram saat ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada kesal, panik, khawatir, marah yang berkumpul menjadi satu.


“Eee... Sam sedang makan di war.. teg Bos!” Bayu menjawab terbata-bata sambil tangannya menunjuk ke arah luar.


“Panggil dia kesini sekarang! Kalau dia masih belum mau datang, tanyakan padanya mau dipesangonin berapa?” ucap Pram keras. Pram yakin ucapannya ini bisa didengar Sam yang sedang bersembunyi di pos.


“SAM! KELUAR!” teriak Pram menatap tajam ke arah pos. Tak lama tampak Sam berjalan dengan ragu ragu menuju Pram yang sedang berkacak pinggang menatap tajam padanya.


“Ada apa dengan Kailla?” tanya Pram sedikit lebih lembut setelah Sam berdiri dengan wajah tertunduk di hadapannya.


“Saya tidak tahu Pak. Tiba-tiba sudah marah-marah begitu pulang dari rumah sakit,” jelas Sam pelan. Dia tidak berani menatap Pram yang sedang memandangnya dengan tatapan mematikan.


“Bagaimana kamu bisa tidak tahu! Tugasmu itu menjaganya dan memastikan dia baik-baik saja!” Pram kesal mendengar jawaban Sam. “Saat aku meninggalkannya, dia baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang dia mengunci diri di dalam kamar?” lanjut Pram meminta penjelasan.


“Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu,” ucap Sam pelan.


“Ikut aku!” perintah Pram. Terlihat Pram membawa Sam ke depan kamar dan meminta Sam yang memanggil Kailla keluar.


Dengan ragu-ragu akhirnya Sam mengetuk kamar Kailla.


“Non... Non..” panggil Sam pelan di depan pintu kamar Kailla. Masih tidak ada respon apa-apa.


Kembali Sam mengetuk dan memanggil majikannya itu berulang-ulang tetap tidak mendapat jawaban.


Pram frustrasi, dia sudah menghabiskan banyak waktu di depan pintu kamar, tanpa ada kejelasan dan penjelasan. Bahkan dia tidak tahu penyebab istrinya berdiam diri dan mengunci diri di dalam kamar. Dia juga tidak bisa mengandalkan Sam, orang yang sudah dibayar untuk menjaga istrinya itu malah tidak tahu apa-apa.


“Kai...... “ panggil Pram setengah berteriak, berharap istrinya itu mau mendengar. “Kamu kenapa Sayang?” tanya Pram melembut.


“Cih! Sayang.. sayang segala. Masalahnya di dia sendiri. Jelas-jelas Non Kailla marah padanya!” batin Sam.


Melihat Pram saat ini, Sam sudah ingin tertawa. Sekeras-kerasnya Pram berteriak padanya, tetap saja majikannya itu tidak sanggup menangani istrinya sendiri. Sam membuang mukanya, supaya tawa yang ditahannya tidak terlihat oleh Pram.


“Kamu menertawaiku?” tanya Pram ketika matanya menangkap senyum terukir di bibir Sam.


“Ti..ti.. tidak Pak! Mana berani saya menertawai Bapak,” ucap Sam sambil menunduk.


“Kai..” panggil Pram lagi. Sekarang kesabarannya sudah mulai menipis. Walau bagaimanapun dia harus tahu masalah sebenarnya.


“Kai..! Dalam hitungan 10 kalau kamu tetap tidak mau membuka pintu, aku akan memecat Sam sekarang juga!” ancam Pram. Dia tahu jelas, bagaimana Kailla sangat menyayangi Sam, asistennya itu. Kalau bukan karena Kailla, Pram sudah lama memecat Sam.


“Selesai sudah!” ucap Sam dalam hati. Tubuhnya sudah lemas, bayangan cicilan motornya bermunculan di depan mata.


“10.. 9.. 8.. 7..6.. 4....”


“Tunggu-tunggu Pak! Angka 5 ketinggalan..,” protes Sam serius.


Saat ini 1 angka juga berarti buatnya, setidaknya bisa mengulur waktu lebih lama menuju detik-detik kehancuran hidupnya. Dia sedang berusaha menguatkan dirinya kalau sampai dipecat Pram. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini, walaupun meladeni Kailla sangat melelahkan. Tapi sebenarnya Kailla sangat baik padanya dan menganggapnya seperti keluarga. Apalagi gaji yang diterima lumayan besar untuk tamatan SMA sepertinya.


“Hitungnya ulang dari awal lagi Pak..,” usul Sam mencoba menawar.


Bagaimanapun dia akan berusaha sampai titik darah penghabisan. Untuk mencari pekerjaan baru itu tidak lah mudah. Pram yang mendengar kata-kata Sam, sudah hampir meledak tawanya. Sebenarnya dia hanya ingin menggertak Kailla, supaya istrinya itu mau membuka pintu untuknya. Dia yakin Kailla tidak akan membiarkannya memecat Sam.


Tapi dia tidak menyangka Sam begitu polosnya, termakan gertakan yamg sebenarnya tidak ditujukan padanya. Melihat raut wajah Sam yang menyedihkan saat ini, sebenarnya dia kasihan juga.


***


Terimakasih.