
“Suamimu ini tidak sebaik yang kamu bayangkan, Sayang!” Anita menatap Kailla dari atas ke bawah berulang kali.
Melihat tatapan Anita, Kailla bergidik ngeri. Tatapannya seperti orang yang kehilangan akal sehat. Segera dia merapatkan dirinya pada Pram, memeluk erat lengan kokoh suaminya.
“Om..” Kailla berbisik lirih.
Melihat pemandangan di depannya, tawa Anita hampir meledak. “Drama apa-apaan ini.” gumamnya.
“Cih! Bagaimana seorang Pram takluk di tangan anak ingusan seperti ini.
“Kai, kamu tunggu di mobil. Aku akan menyelesaikan masalahku dengan wanita ini.” Segera Pram meraih tangan Kailla untuk membawanya ke mobil. Pram tahu saat ini Kailla sedang ketakutan. Anita bukan wanita sembarangan, membiarkan Kailla tetap disini hanya akan membahayakannya.
Pram membuka pintu mobil bagian belakang dan meminta Kailla menunggunya di dalam.
“Pak tolong dikunci pintunya. Apapun yang terjadi, jangan membukanya sampai aku kembali,” perintah Pram pada sang sopir. Dia mengenal Anita dengan baik, melihat sepak terjang wanita itu yang berani melakukan hal-hal diluar batas kewajaran dia tidak yakin Kailla akan baik-baik saja kalau tetap di dalam sana.
“Om.. apakah dia...” Kailla tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena Pram mengecup bibirnya sekilas.
“Hanya sebentar! Aku akan segera kembali Kai.” Pram memeluk Kailla untuk menenangkannya.
“Aku mencintaimu.” Pram tersenyum mengecup pucuk kepala Kailla. Kailla hanya bisa diam melihat punggung kekar suaminya menghilang di lobby hotel.
“Sebenarnya ada masalah apa antara Om dan Anita.”
***
Anita baru saja selesai menghubungi seseorang ketika Pram kembali menemuinya.
“Bisa kita bicara di tempat yang lebih tenang? Aku harus meluruskan semuanya,” pinta Pram berdiri tepat di depan Anita. Dia sedang berusaha untuk bicara baik-baik dengan Anita.
“Baik!” Anita mengajak Pram masuk ke ruangan di sebelah tempat acara. Tadinya itu adalah ruangan yang dipakai Ibu Anita beristirahat sebelum acara dimulai.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” Anita bersikap lebih lembut dibandingkan sebelumnya.
“Sebenarnya aku tidak mau membahas masalah bayimu, tapi entah kenapa sepertinya kamu suka sekali memanfaatkannya untuk menekanku.” Pram mencoba membuka pembicaraan.
“Bayi kita, Pram,” sahut Anita masih berusaha menekan Pram.
“Jujur sebenarnya berat untukku membuka semua ini, An. Bagaimana pun aku seorang laki-laki. Tidak pantas mempermalukan seorang wanita, terlebih aku memiliki kesalahan di masa lalu padamu dan keluargamu.” Pram terlihat menghela napasnya.
“Aku sudah mencari tahu tentang bayimu. Selama ini aku memilih mendiamkan semua kelakuanmu, walaupun aku sudah mengetahui kebenarannya. Aku berharap kamu akan lelah sendiri dan mundur. Aku pikir aku akan memaafkan semua setelahnya.” lanjut Pram lagi.
“Lalu.. kamu sudah yakin kan ini bayimu.” Anita tersenyum.
“Sudah kukatakan dari awal itu bukan bayiku. Aku hanya ingin mencari ayah bayi itu dan menyeretnya di hadapanmu. Jadi kamu tidak terus-terusan memaksaku dan berhalusinasi seolah-olah itu bayiku,” jelas Pram.
“Haha... kamu belum berhasil?” Kalau belum sebaiknya akui saja.” ejek Anita.
“Orangku sudah mengecek semua cctv di hotel malam itu. Dan bisa dipastikan tidak terjadi apa-apa di dalam kamar hotel. Kamu lupa menutup mulut room boy hotel, An,” jelas Pram.
“Malam itu dia yang membantumu membawaku ke kamar hotel dan kamu meminta bantuannya memotret kita di atas ranjang,” lanjut Pram tersenyum penuh kemenangan.
“Haha...Good job, Pram!” Anita tertawa sembari bertepuk tangan, membuat Pram terheran-heran melihat reaksi Anita.
“Tapi kalau kamu masih mau meneruskan mimpimu, aku sarankan untuk melakukan tes DNA untuk bayimu. Kamu tidak perlu menunjukkan padaku hasilnya, karena aku yakin bukan anakku.” ucap Pram lagi.
Baiklah karena urusan kita sudah selesai, aku permisi!” pamit Pram.
“Pram! Urusan kita belum selesai.” Teriak Anita berusaha menghentikan langkah Pram.
Mungkin kamu sudah mengetahui kebenaran mengenai bayiku, tapi banyak yang belum kamu ketahui, Pram.” Anita berjalan menghampiri Pram yang sedang meraih gagang pintu.
“Kamu mau apalagi An?” tanya Pram berbalik menatap Anita.
Mendengar jawaban Anita, Pram terkekeh. Seolah ucapan Anita hanya sebuah lelucon belaka.
“Aku anggap kamu sedang bercanda, An!” Pram kembali meneruskan langkahnya meninggalkan ruangan. Setelah meluruskan semua permasalahannya dengan Anita, perasaannya jauh lebih tenang, setidaknya Anita tidak akan mengganggu hidupnya dan Kailla.
“Aku ingin kamu menceraikan Kailla, kalau tidak dia akan berakhir sama seperti ayahnya!”
Deg—
Pram berbalik menatap tajam Anita, perasaan tenang yang beberapa saat memenuhi hatinya sekarang menguap entah kemana. Kalimat terakhir Anita mampu menghancurkan kesabaran yang beberapa jam terakhir terus dia jaga.
“Apa maksudmu An?” Pram menghampiri Anita sekarang, menarik tangan wanita itu dengan kasar.
Apa maksudmu An? Katakan!” ulangnya lagi setelah tidak mendapat jawaban dari Anita. Emosinya tersulut. Terlihat rahangnya mengeras dengan mata memerah dan urat-urat yang timbul di pelipisnya.
“Hahaha... kenapa Pram? Bukannya kamu sudah mau pergi. Kenapa sekarang kembali?” tanya Anita terkekeh, berusaha memancing amarah Pram.
Apa maksud ucapanmu? Hah!” Pram membentak, kesabarannya hampir pada batasnya. Kalau tidak mengingat di depannya adalah seorang perempuan pasti dia sudah menghajarnya habis-habisan.
“Aku ingin kamu menceraikan Kailla, setelah itu aku akan mengganggap lunas semua dendamku pada Riadi Dirgantara.”
Pram menggeleng, “Tidak akan pernah!”
Anita terkekeh, menatap Pram sambil tersenyum. Terlihat dia menyibak rambut panjangnya ke belakang.
“Jangan terlalu cepat menjawabnya Pram, takutnya nanti malah kamu yang akan memohon padaku.”
Kali ini amarah Pram sudah sampai dipuncak. Dengan kasar dia mencengkeram lengan Anita.
“Katakan apa maksudmu An!”
“Aku tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin membiarkan mereka merasakan apa yang aku dan keluargaku rasakan.” Anita menjawab dengan santai.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka aku juga tidak akan membiarkan orang lain mendapatkanmu terlebih keturunan Riadi Dirgantara!!”
“Baik, kalau memang tidak ingin menjawab. Aku akan menganggap pembicaraan kita selesai sampai disini, An.” Pram melepas cengkeramannya, setelah dirasa sia-sia, Anita tetap bungkam.
“Pram.. Pram! jangan terlalu merasa di atas angin. Sebentar lagi kamu akan menangis memohon padaku. Aku pastikan itu!” Anita menatap Pram, senyumnya terkembang.
“Oh ya.. Bagaimana kabar ayah mertuamu Pram? Tadinya aku pikir dia akan berakhir di ruang ICU. Tapi dia masih bernasih baik, setidaknya dia masih bisa melihat kamu menceraikan putrinya.”
“Kamu....” Pram tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Terlihat Anita memilih duduk tenang memandang Pram tanpa berkedip.
“Keadaan sudah berbalik kepadaku, Pram. Kalau dulu dia yang memintamu meninggalkanku. Sekarang aku yang akan memintamu meninggalkan putrinya.” Anita terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
Pram menghela napas, membiarkan perempuan di depannya melampiaskan semua emosinya.
“Ada baiknya juga kamu menikahinya, Pram. Setidaknya kamu bisa mencicipi dulu sebelum mencampakannya. Haha....! Apa rasanya keturunan Riadi Dirgantara, sehebat ibunya kah? Siapa yang tidak kenal ibunya dulu.”
Pram mendatangi Anita yang sedang tertawa bahagia, terlihat dia mencengkeram kasar lengan Anita. “Kamu perempuan! Kalau laki-laki sudah kupastikan mati di tanganku saat ini.”
“Haha... istrimu di tanganku sekarang, Pram. Bagaimana bisa kamu mau membunuhku. Kalau kamu masih ingin melihatnya tetap bernapas, ceraikan dia!” Anita tertawa penuh kemenangan.
“Aku tidak main-main Pram, kamu bisa melihat kan bagaimana seorang Riadi Dirgantara sekarang, yang tidak berdaya di atas kursi rodanya. Hahaha..”
“Kamu...!
****
Terimakasih dukungannya. Love you all.