Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 46 : Andi Wijaya


Sore itu terlihat Andi dan putranya Dennis mendatangi rumah sakit. Mereka sempat bertanya ke bagian informasi ruangan tempat kakak iparnya dirawat.


“Orang suruhanmu tidak salah kan?” tanya Andi pada putranya.


“Tidak Pi, dia orang yang bisa dipercaya.” jawab Dennis tersenyum licik.


Begitu mendapatkan informasi dari petugas, bergegas mereka menuju ke lantai 5 tempat Pak Riadi dirawat.


“Ini kesempatanmu. Mumpung Pram sedang tidak ada di Jakarta.” Andi menepuk pundak putranya memberi semangat.


Begitu sampai di ruangan yang dimaksud, terlihat gadis incaran mereka sedang duduk dengan pandangan kosong menatap ke pintu ruang ICU. Gadis itu benar-benar terguncang sepertinya. Keadaan seperti ini menjadi peluang yang bagus untuk mereka.


“Selamat sore,” sapa Andi. Dia memilih duduk tepat di samping Kailla yang hanya menatapnya sekilas.


Diam, tidak ada respon sama sekali. Kailla masih tetap menatap pintu ruang ICU tanpa terpengaruh dengan kedua orang yang mendekatinya. Donny dan Sam yang berdiri tidak terlalu jauh langsung menghampiri. Donny masih mengenali, berbeda dengan Sam yang sama sekali tidak pernah bertemu karena dia baru beberapa tahun bekerja dengan keluarga Riadi.


“Sore Tuan.” Donny menyapa kembali laki-laki paruh baya bertubuh gempal yang dikenalinya.


“Ada keperluan apa ya? Maaf kondisi Nona sedang tidak baik.” lanjutnya lagi.


“Iya tidak apa-apa, kami turut prihatin Nak.” Terlihat dia menepuk lembut pundak Kailla.


“Terimakasih,” jawab Kailla lebih terdengar seperti bisikan.


“Kamu bisa memanggilku Om. Aku ini adik ipar daddymu,” jelasnya lagi sekaligus memperkenalkan diri.


Kailla menyunggingkan senyumannya sekilas dan mengangguk.


“Kenalkan ini putraku Dennis, mungkin kamu sudah mengenalnya.”


“Iya.” Kailla menjawab singkat.


“Bagaimana kondisi daddymu?”


“Da.. daddy ko..ma.” Kailla menjawab terbata meneteskan air matanya.


“Pasti semuanya akan baik-baik saja.” Dia merangkul gadis yang sesengukkan di hadapannya.


“Kamu sudah makan? Sepertinya kamu tidak makan dengan baik. Wajahmu pucat.” tanyanya lagi.


Kailla menggeleng, “Aku tidak lapar Om.”


“Baiklah.” Laki-laki tua itu berusaha untuk tidak memaksa dan mengambil kepercayaan Kailla.


Sebelum ini mereka sudah mencari tahu banyak hal tentang Kailla. Bagi mereka Kailla adalah kartu as yang akan mengantarkan mereka untuk mencapai impian. Kalau dia berhasil menikahkan putranya dengan putri tunggal pemilik RD Group, setidaknya dia bisa ikut menikmati kekayaan Riadi Dirgantara. Bagaimanapun dia merasa memiliki hak atas apa yang seharusnya dimiliki oleh alm kakaknya. Dia bukannya tidak tahu asal usul gadis di hadapannya ini. Walaupun secara biologis dia adalah putri Riadi Dirgantara tapi secara status dia hanyalah putri dari seorang p*lacur yang tidak sengaja mengandung benihnya Riadi Dirgantara.


Andi berpamitan setelah 1 jam-an menemani Kailla. Fisiknya sudah tidak terlalu kuat kalau harus berlama-lama duduk, apalagi kondisi ruangan ICU benar-benar membuat kepalanya pusing.


“Kai, Om pamit dulu ya,” pamitnya. Lembut mengelus pundak Kailla berusaha memberi kekuatan.


“Tapi Dennis akan menemanimu disini, kamu bisa mengandalkannya.” lanjutnya lagi berjalan meninggalkan putranya dan Kailla di bangku ruang tunggu ICU.


Ketika Andi sudah berasa di lobby rumah sakit, pandangannya terpaku pada sosok yang sedang berlari masuk ke dalam rumah sakit.


“Pram..... Bagaimana bisa dia ada disini, bukannya dia sedang di luar kota,” gumamnya.


“Kamu! Ada urusan apa kamu kesini?” tanyanya begitu sudah berhadapan dengan Andi.


“Hahaha... tentu saja melakukan kewajibanku sebagai adik ipar yang baik.” Andi menjawab dengan penuh percaya diri.


“Sudahlah Pram, kalau memang kamu tidak bisa mengurusnya sebaiknya serahkan saja padaku. Lagipula memang seharusnya ini menjadi tanggung jawabku bukan orang asing sepertimu,” lanjutnya lagi tersenyum mengejek Pram.


“Aku peringatkan, jangan pernah menampakan diri di depanku atau ayah mertuaku! Kamu tentu masih mengingatkanya dengan jelas, bagaimana bisa ditendang dari perusahaan dan keluarga Riadi,” seru Pram.


“Untuk itulah aku kembali sekarang, Pram.”


Terlihat Pram mengepalkan tangan, menahan amarahnya. Kalau tidak mengingat laki-laki renta di depannya bukanlah lawan yang seimbang untuknya, pasti dia sudah memukulnya habis-habisan.


“Hahaha... simpan tenagamu Pram, aku sudah tidak pantas menjadi lawanmu,” sindirnya begitu melihat Pram mengepalkan tangan bersiap untuk memukul.


“Aku permisi,” pamitnya menepuk mundur dada Pram yang menghalangi langkahnya.


***


Amarah Pram yang sedikit terpancing saat bertemu dengan Andi di lobby rumah sakit, harus kembali meledak ketika dia tiba di ruangan tempat Pak Riadi dirawat. Matanya memerah, nafasnya memburu, dengan susah payah dia harus mengontrol amarahnya di depan Kailla yang saat ini sedang duduk bersebelahan dengan Dennis.


“Kai...” panggilnya begitu dia sudah berdiri di hadapan Kailla dan langsung menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


“Kamu baik-baik saja? Maafkan aku,” ucapnya. Menangkup wajah lelah itu dengan kedua tangannya. Air mata gadis itu langsung turun meleleh di kedua pipinya. Dia tidak dapat berkata-kata, hanya diam menatap Pram.


“Jangan menangis lagi.. maafkan aku,” ucapnya kembali mendekap erat.


“Sudah?” tanya Kailla datar setelah airmatanya berhenti. Terlihat dia mendorong Pram dan kembali duduk dengan wajah masam di sebelah Dennis.


“Hahahaha..” Dennis terkekeh melihat tontonan dihadapannya.


“Kita perlu bicara....” ucap Pram menatap tajam kepada laki-laki yang tersenyum mengejeknya,


“Baiklah, mari kita bicara secara laki-laki. Urusan kita tempo hari belum selesai.” jawab Dennis segera mengikuti langkah Pram.


Sekarang mereka berdua sedang berada tangga darurat rumah sakit. Sengaja Pram memilih tempat ini karena sepi dari orang-orang yang lalu lalang.


“Katakan apa yang kamu inginkan?” tanya Pram bersandar di dinding.


“Bukannya terbalik, aku yang harus bertanya kenapa membawa ku kesini.” jawab Dennis tidak mau mengalah.


“Baik, langsung ke intinya saja. Jangan dekati istriku!!! Kalau yang kalian inginkan itu perusahaan, silahkan merengek ke ayah mertuaku nanti saat dia sadar. Aku tidak keberatan menyerahkan kursi presdir untukmu. Tapi jangan pernah dekati istriku!!!”


“Calon.. dia masih calon istrimu...” Dennis menjawab dengan santainya. “Kalau aku katakan aku ingin keduanya, kamu bisa apa?” lanjutnya memancing emosi laki-laki di hadapannya.


“Br*ngsek!!! Pram menarik kerah kemeja Dennis dan mendorongnya ke dinding.


Dengan sekali hentakan Dennis mendorong Pram sehingga terjerembab. Pram yang sedang di puncak emosi, langsung berdiri dan melayangkan pukulan ke rahang lawannya membabi buta. Demikian juga Dennis melakukan perlawanan yang sama. Dia menyerang Pram dengan pukulan demi pukulan. Mereka bergumul dan saling melayangkan pukulan seperti anak kecil yang sedang berebutan permen lolipop.


“Jangan coba-coba dekati Kai, aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” ancam Pram setelah berdiri dan merapikan kemejanya. Terlihat ada darah keluar dari sudut bibir dan pelipis kanannya.


Maaf telat up. Terimakasih untuk dukungannya. Love you all