
Kailla masih cemberut sepanjang perjalanan. Sesekali dia mendengus kesal, sambil memukul kencang kursi mobil di depannya, membuat Sam terkejut. Kebetulan Kailla duduk tepat di belakang Sam yang sedang menyetir.
“Gawat ini! ucap Sam dalam hatinya.
Entah siapa yang bakal kena pelampiasan putri majikannya itu nanti begitu sampai di rumah.
Begitu mobil yang dikendarai Sam berhenti di halaman rumah Riadi Dirgantara, tampak Donny dan Bayu yang berada di mobil lain berlari membantu Pak Riadi turun dari dalam mobil. Mereka kaget melihat tampang putri majikannya yang cemberut dan terlihat kesal.
“Sam, ada apa?” bisik Bayu menyenggol lengan Sam. Pandangannya mengarah pada Kailla yang saat ini masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah.
“Kesambet!” Sam menjawab singkat. Tanpa mempedulikan Bayu yang tetap menatap Kailla tanpa berkedip, sampai punggung istri bosnya itu menghilang dibalik pintu rumah.
“Sekedar saran saja ya Bay. Kalau kondisi lagi gak kondusif gini, mending jaga jarak aman . Paling gak radius15 meter.” ucap Sam. “Pokoknya jangan sok-sokan mau uji nyali deh!” lanjut Sam lagi, wajahnya tampak serius.
“Hah!” Bayu yang masih belum paham arah pembicaraan Sam terlihat menggaruk-garukan kepalanya.
“Pokoknya sementara jaga jarak sama Non Kailla. Kalau gak kepaksa banget jangan muncul di depannya. Paling gak, sampai pawangnya datang.” ucap Sam.
“Pawang?” Bayu bertanya keheranan.
“Pak Pram!” Sam menjelaskan.
“Hahahaha...! Memang Pak Pram berani sama Non Kailla, perasaan tiap hari dia ngalah mulu.” Bayu menimpali ucapan Sam.
“Pak Pram itu sabar banget, tapi kadang dia tegas sama Non Kailla. Kalau Pak Pram sudah ambil keputusan, Non Kailla gak bisa bantah lagi. Cuma Pak Pram yang sanggup menangani kenakalan Non Kailla,” jelas Sam.
***
Setelah memastikan daddy sudah beristirahat, Kailla pun pergi ke kamarnya. Menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang, menahan emosinya yang ingin meledak sedari tadi. Setelah puas, dia bangkit dan keluar mencari Sam.
“Sam!” panggilnya setengah berteriak. Panggilan pertama dan kedua belum ada jawaban. Panggilan ketiga baru tampak Pram berlari menghampiri Kailla.
“Iya Non,” sahut Sam masih mengatur nafasnya yang naik turun karena baru berlari dari pos security.
“Benar-benar tamat riwayat ku kali ini!” batin Sam begitu melihat wajah tidak bersahabat Kailla.
“Itu koper Om yang di dalam kamarku, tolong disingkirkan. Sekalian semua perlengkapan Om yang ada di dalam kamar dan kamar mandi.” perintah Kailla.
“Hah!” Sam terperanjat. Bagaimana dia bisa melakukannya. Bisa-bisa dia dimarahi Pram.
“Cepat Sam! Aku tidak mau menyentuh barang-barangnya! Singkirkan dari dalam kamarku, jangan tinggalkan apapun, sehelai rambutnya pun aku tidak mau terlihat di kamarku!” titah Kailla.
“A...aku tidak berani Non.” tolak Sam terlihat ragu-ragu.
Aduh! Simalakama ini.
“Apa tidak sebaiknya Non Kailla yang menyiapkannya, saya tinggal buang keluar saja.” Sam berusaha mencari jalan keluar terbaik untuknya.
“Jadi maksudmu aku yang harus melakukannya Sam?” tanya Kailla.
Sam mengangguk dengan kepala tertunduk, mengintip Kailla sesekali.
“Beraninya kamu Sam!” Kailla terlihat mengepalkan tangannya. Kailla masuk kembali ke kamarnya, mengambil semua barang-barang Pram, melemparnya sembarangan ke dalam koper pakaian Pram yang sudah tersusun rapi. Menutup paksa koper itu, kemudian menyeretnya keluar kamar.
Brukk!!
Kailla melempar koper keluar, tepat di depan kaki Sam. “Terserah mau dibuang kemana!” perintah Kailla.
“Ta....,” belum sempat Sam bertanya lagi, Kailla sudah menutup pintu kamarnya dengan keras.
Blammmmm!!
“Astaga!” Sam mengelus dadanya. Terlihat Sam menyeret koper milik Pram, menuruni tangga menuju ke lantai satu.
Bayu yang baru saja masuk untuk mengambil minuman di dapur, kaget melihat Sam yang berjalan lesu dengan wajah tertunduk menyeret koper.
“Sam, kamu dipecat?” tanya Bayu. Sam hanya menggeleng, menatap Bayu sekilas kemudian menunduk kembali.
“Tapi bisa saja sebentar lagi aku dipecat Pak Pram,” jawab Sam lemas.
“Kenapa bawa-bawa koper Sam?” tanya Bayu lagi.
“Non Kailla memintaku membuang koper milik Pak Pram,” sahut Sam terduduk lemas sambil memangku koper di kursi ruang makan.
“Mampus loe, Sam! Aku ke depan dulu deh. Sesuai saranmu tadi.” Buru-buru Bayu keluar dan memilih duduk di pos security.
Bu Sari yang sedari tadi memasak makan siang di dapur keheranan melihat tampang lusuh dan pucat Sam yang sedang duduk memeluk sebuah koper.
“Aku harus bagaimana Bu, ini koper Pak Pram mau diletakkan dimana?” tanyanya kepada Bu Sari dengan wajah memelas.
“Ya Tuhan. Non Kailla bertengkar dengan Pak Pram?” tanya Bu Sari mengelus dada. “Letakkan saja di kamar Pak Pram yang lama, Sam.” usul Bu Sari menunjuk salah satu kamar yang biasanya ditempati Pram sebelum menikah dengan Kailla. Dengan langkah gontai, Sam menyeret koper milik Pram. Setelah meletakkan koper di dalam kamar, dia memilih duduk di pos security bergabung dengan Bayu dan lainnya.
“Apes banget aku Bay.” ucap Sam membuka pembicaraan. “Ikut terlibat pertengkaran rumah tangga orang lain,” lanjutnya lagi.
“Sabar Sam!” Bayu menepuk pundak Sam.
“Nanti kalau Pak Pram nyariin barang-barangnya pasti aku yang kena. Non Kailla paling lempar ke aku lagi.” Sam berkata sambil tertunduk.
“Yang ada Pak Pram marah-marah lagi, dianggap gak becus ngurusin Non Kailla. Kalau Non Kailla enak, kalau Pak Pram marah tinggal dikecup-kecup, Pak Pram langsung luluh lantah.”
“Ya coba kamu pakai cara Non Kailla juga, siapa tahu Pak Pram luluh juga,” sahut Bayu sambil terkekeh.
“Kamu enak! Non Kailla gak mau sama kamu. Nanti kamu akan merasakan betapa sulitnya di posisiku, Bay.” ucap Sam. Tatapannya kosong menerawang apa yang akan terjadi padanya beberapa jam ke depan.
***
Di restoran,
Pelayan yang datang membawakan pesanan, menghentikan sejenak obrolan dua orang sahabat lama itu.
“Silahkan.” Pelayan restoran itu menunduk sembari tersenyum kepada dua orang yang terlibat sibuk mengobrol dari tadi.
“Terimakasih!” ucap Winny sambil tersenyum.
“Aku tidak pernah berpikiran bisa bertemu denganmu lagi Pram.” Senyum tidak pernah lepas dari wajah Winny. “Sudah punya anak berapa?”Winny lansung bertanya blak-blakan. Dia tidak bertanya tentang status Pram, karena sudah melihat sendiri cincin yang melingkar di jari manis Pram.
Pram menggeleng. “Masih tahap ke sana, hehehe.” Pram menjawab sambil terkekeh.
“Ooopp! Sabar saja, baru juga 40 tahun. Itu pas lagi matang-matangnya. Asal jangan terlalu lama Pram, malah bonyok jadinya.” Winny menggoda Pram.
“Kamu sendiri?” Pram balik bertanya.
“Anakku sepasang. Yang paling besar cowok SMP kelas 1, yang kecil cewek baru mau masuk SD tahun depan.” jelas Winny.
“Menikah dengan Hendrawan kan?” tanya Pram. Terlihat dia mengambil satu sachet gula pasir menuangkannya ke dalam cangkir kopi hitamnya. Bunyi halus dentingan sendok bersentuhan dengan dinding cangkir menandakan si empunya sedang mengaduk-aduk kopinya saat ini.
“Dengan siapa lagi Pram, hanya dia satu-satunya yang mau menerimaku.” Winny berkata. Raut wajahnya sengaja dibuat sesedih mungkin. Sontak membuat Pram tertawa.
“Ah, padahal dulu yang mengejarmu banyak. Dasar kamu saja yang sudah kepelet si Hendra.” ucap Pram, membuat tawa kembali terdengar dari wanita di hadapannya saat ini.
“Kamu sendiri? Menikah dengan mantanmu kah?” tanya Winny. Dia bukannya tidak tahu, dulu di kampus tidak sedikit gadis-gadis yang mengejar Pram termasuk dirinya. Tapi saat itu Pram menolak mereka semua, Pram masih sangat mencintai mantan kekasihnya.
Pram menggeleng. Seketika membuat Winny tersentak kaget.
“Yang benar?” Winny tidak percaya. Dia tahu jelas seberapa besar cinta Pram dulu pada mantan kekasihnya. Bahkan sampai sekarang dia berkeyakinan kalau Pram tidak akan menikah. Kalau menikah pun, pasti Pram akan menikahi sang mantan.
“Kamu tidak menikah dengan.... “ Terlihat Winny berpikir keras sampai dahinya mengkerut. “Aku lupa, padahal sudah diujung lidah,” lanjut Winny lagi.
“Anita...” Pram menjawab singkat.
“Ah iya! Siapa yang tidak tahu nama itu di kampus kita dulu. Nama yang membuat mahasiswi se-Imperial College London patah hati.” goda Winny lagi.
“Haha.. kamu masih mengingatnya jelas. Aku malah sudah melupakannya.” ucap Pram datar.
“Kenapa tidak mencoba mengejarnya lagi?” tanya Winny. Belum sempat Pram menjawab wanita itu sudah melanjutkan lagi. “Ah, aku tahu! Pasti ditinggal nikah.” Winny terkekeh kali ini.
“Istriku yang terbaik saat ini, kenapa harus kembali ke mantan. Masa sudah dibuang, diambil balik.” Pram menjawab sambil terkekeh.
“Wow.. dudududuh! Kali ini aku serius Pram, aku penasaran dengan istrimu.” ucap Winny, dia menegakkan duduknya kembali bersiap menunggu Pram bercerita.
“Tidak ada yang istimewa dari istriku,” Pram menjawab singkat.
“Istimewanya karena dia bisa menaklukanmu Pram.” Winny tidak mau kalah. Sedari dulu memang dia paling suka membantah semua pernyataan Pram sampai laki-laki itu kehabisan kata-kata.
“Ayolah! Kita masih sahabat kan. Kenapa tidak mau berbagi sedikitpun denganku,” rengek Winny kali ini.
“Aku ceritakan padamu juga, kamu pasti tidak mengenalnya.” Pram menjawab singkat. “Sebaiknya kita bahas kerjasama perusahaan kita saja,” lanjut Pram mulai membalik lembaran-lembaran kertas yang menumpuk di atas meja.
“Ya sudah! Selamat atas kerja sama kita Pram. Sampai bertemu lagi di Austria!” ucap winny menyodorkan tangannya ke hadapan Pram.
***
Terimakasih. Mohon like dan komennya ya