Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 195. Kemarahan Pram


Sampai di kediaman Riadi yang lama, rumah megah itu tampak sepi. Terlihat Sam berlari ke belakang rumah mencari kedua orang tuanya. Ya, kedua orang tua Sam dipekerjakan Pram untuk menjaga dan membersihkan rumah lama Riadi. Mereka tinggal di rumah belakang, tempat para asisten sebelumnya tinggal.


Hanya ada satu orang security berjaga di gerbang. Itu pun, setiap hari gerbang lebih sering dalam keadaan terkunci.


“Pak, apa ada yang datang ke sini?” tanya Pram pada security yang berlari menghampirinya.


“Pernah ada yang datang mencari Pak Riadi, tapi sudah beberapa minggu yang lalu. Saya lupa pastinya Pak,” sahut security.


Pram hanya mengangguk, berlalu masuk ke dalam rumah.


“Siang Pak,” sapa ibunya Sam, kaget melihat Pram dengan tampang kusutnya. Jas kerjanya hanya digantung di tangan, kemejanya kusut dengan lengan yang digulung. Beberapa kancing kemeja teratasnya terbuka. Rambut yang biasanya tersisir rapi saat ini acak-acakan tidak beraturan.


“Buatkan aku kopi hitam, antar ke kamar Kailla. Tanya Sam di mana kamarnya,” jelas Pram, berlalu pergi. Terlihat ia berlari menaiki tangga, bergegas masuk kamar yang dua puluh tahun ini tempati istrinya.


Ceklek.


Begitu pintu kamar terbuka, semua masih sama. Hanya saja, sudah tidak ada pakaian tersisa di sana. Lemari-lemari pakaian sudah kosong, apalagi lemari koleksi tas istrinya, tidak ada satu pun yang terisi di sana. Untuk perabotan yang lain tetap utuh, tidak bergeser sedikit pun.


Tak lama, terdengar bunyi ketukan di pintu kamar. Dengan malas, Pram bangkit dari duduknya untuk membuka pintu kamar.


“Ini Pak.” Ibu Sam menyodorkan secangkir kopi hitam kepada Pram, yang berdiri di depan pintu menghalangi jalan masuk.


Terima kasih,” sahut Pram, mengambil alih cangkir kopi itu dan menutup kembali pintu kamar dengan kasar.


Pikirannya kacau saat ini. Ia tidak bisa berbuat apa pun selain menunggu kabar dari Bayu. Pria dengan tampilan kusut itu memilih berbaring di sofa sambil memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


“Ini pasti kerjaan Andi! Aku tidak akan memaafkannya kalau dia benar-benar menyakiti Kailla,” ucap Pram, mengepalkan tangannya. Baru saja ia akan menyesap kopi hitamnya, tetapi Bayu sudah menghubunginya terlebih dulu.


“Iya Bay,” ucap Pram buru-buru. Ia sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari asisten istrinya itu.


“Sepertinya dugaan Bos benar. Orangku sedang melacak dimana mereka membawa Non Kailla saat ini,” jelas Bayu.


Pram langsung berlari keluar meneriakkan nama Sam dari lantai dua. Suaranya menggelegar, mengejutkan siapapun yang mendengarnya.


“SAM! SAM! DI MANA KAMU?” teriak Pram berulang kali.


Sam baru muncul saat Pram sudah berada di ruang makan. Tampak asisten itu berlari dengan napas memburu, berdiri ketakutan menunggu perintah majikannya.


“Berikan kunci mobilnya!” pinta Pram, menyodorkan tangan, menunggu Sam mengeluarkan kunci mobil.


Sam terlihat ragu sambil menatap majikannya yang terlihat kacau dan berantakan. Ia khawatir melihat keadaan Pram yang tidak mungkin bisa mengemudikan mobilnya sendiri. Dan kemungkinan tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Ia khawatir Pram akan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya.


“Berikan padaku atau aku akan membunuhmu sekarang!” ancam Pram, langsung menarik kerah kaos Sam, memukul wajah tanpa dosa itu hingga tersungkur ke lantai.


“Pak, saya saja yang menyetir.” Sam memberi usul setelah sudah berdiri kembali depan Pram, mengusap ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan Pram.


“Berikan sekarang! Aku tidak mungkin membawamu kesana,” pinta Pram lagi.


“Pak ....” Sam masih berusaha menolak. Ia tidak bisa membiarkan majikannya itu menghadapi semuanya sendirian.


“Berikan, Brengs*ek!” Pram sudah bersiap mencekal Sam lagi, tetapi tertahan saat melihat kedua orang tua Sam yang sedang berjalan mendekati mereka.


Sam yang ikut menatap kedua orang tuanya, tidak menyadari Pram yang merebut paksa kunci mobil di tangannya.


“Maafkan aku. Istri dan anakku sedang membutuhkanku. Kalau malam ini aku tidak kembali, tolong laporkan Andi Wijaya ke polisi!” ucap Pram, berpesan pada Sam.


Bergegas berlari menuju mobil. Tujuan Pram saat ini adalah kediaman Andi Wijaya. Ia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Kailla. Ia bisa kehilangan semuanya, tetapi tidak istri dan anaknya.


Sebelum menuju ke rumah Andi, Pram mampir ke apartemennya. Sudah lama ia tidak kesana, tetapi ia tidak mungkin mendatangi laki-laki licik itu dengan tangan kosong. Setelah mengeluarkan senjata dari brankas ruang kerjanya, bergegas ia berlari ke mobil. Pram harus mendapatkan anak dan istrinya kembali.


“Sore Pak, ada yang bisa dibantu?” tanya penjaga saat Pram menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Aku ingin menemui Andi! Katakan padanya Pram ingin bertemu dengannya!” ucap Pram kasar. Wajahnya benar-benar tidak bersahabat. Rahang mengeras dengan mata memerah. Belum lagi urat-urat menonjol di pelipis menandakan kemarahan sudah melewati ambang batas.


“Maaf Pak, Pak Andi sedang ....”


Penjaga itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Pram sudah membuka kasar pintu mobil dan mendorongnya hingga terjengkang.


“Buka sekarang! Kalau tidak aku akan menghancurkannya!” ancam Pram.


“Maaf, Pak Andi sedang tidak bisa diganggu,” jelas pria penjaga berusaha bersikap tenang.


“Baik kalau itu maunya! Aku akan meladeni,” ucap Pram mengangguk. Ia masuk kembali ke dalam mobil. Kemarahannya semakin bertambah. Terlihat dia memundurkan Bentley hitam kesayangannya. Dengan menginjak pedal gas penuh, Pram menabrakan mobilnya ke pintu gerbang rumah Andi.


Brak.


Suara benturan antara mobil dan pintu gerbang yang hancur menimbulkan bunyi nyaring dan mengejutkan. Jangan ditanya bentuk mobil Pram sekarang, sama hancurnya dengan gerbang rumah yang sudah tumbang.


Terlihat ia mengeluarkan ponsel dari kantong celana untuk menghubungi asistennya.


“Dave, kirimkankan orang untuk mengambil mobilku yang hancur di rumah Andi Wijaya. Kirimkan mobil juga untukku! Aku akan akan mengirim alamatnya padamu,” perintah Pram sebelum keluar dari mobilnya yang sudah tidak berbentuk di bagian depannya.


Beberapa penjaga rumah yang mencoba menghalanginya terpaksa harus mundur saat Pram menodongkan senjata pada mereka.



“ANDI KELUAR! AKU TAHU KAMU MENDENGARKU SEKARANG!” teriak Pram, menggedor pintu rumah.


“JANGAN JADI PENGECUT!” teriak Pram lagi.


“KALAU KAMU TETAP TIDAK MAU KELUAR, AKU AKAN MENGHUBUNGI POLISI SEKARANG!” ancam Pram lagi.


“JANGAN SAMPAI AKU MEMBONGKAR SEMUA DOSA MASA LALUMU! AKU TIDAK SEBAIK RIADI!”


Pram sudah bersiap menghubungi polisi. Ponsel hitam miliknya sudah menempel di telinga, saat Andi dengan wajah santai membuka pintu rumah dan tersenyum licik. Saat ini laki-laki gempal itu ditemani dua orang asistennya.


“Ada apa keponakan angkatku Reynaldi Pratama rupanya berkunjung ke sini?” tanya Andi dengan santai. Ia menatap pada gerbang rumahnya yang sudah hancur. Pandangannya beralih pada Pram yang masih memegang erat sepucuk senjata yang sewaktu-waktu bisa saja meletupkan kepalanya, kalau dia tidak hati-hati bicara.


Ia mengenal jelas bagaimana sifat Pram. Laki-laki di depannya memiliki kesabaran yang luar biasa, tetapi saat kemarahan menguasai, Pram akan menghancurkan segalanya tanpa berpikir ulang.


“Di mana kamu menyembunyikan istriku?” tanya Pram, berusaha sedikit lebih tenang.


“Apa maumu?” tanya Pram lagi.


“Hahahaha ... aku tidak mau apa-apa. Aku hanya akan mengambil hak-ku,” jelas Andi.


“Aku tidak akan menyakitinya, aku hanya butuh tanda tangannya,” lanjut Andi lagi, menjelaskan.


“Apa yang kamu mau? Aku akan memberikannya padamu,”


“Aku mau perusahaan itu kembali ke keluargaku,” ucap Andi.


“Tidak masalah, mari kita bicarakan,” sahut Pram menerobos masuk ke dalam rumah.


***


To be continue.