
“Kamu!!!” Pram segera melepas cengkeramannya pada Anita dan berlari ke parkiran mobil.
Mobilnya masih terparkir rapi di sana. Tapi tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Bahkan sopirnya juga tidak ada. Kosong! Hanya tertinggal cluth putih dan high heels milik Kailla yang tunggang langgang di lantai mobil.
“Sayang, kamu dimana? Maafkan aku.” Pram berkata lirih masih menggengam cluth milik Kailla. Buru-buru dia mengecek isi cluth , berharap Kailla masih sempat membawa ponselnya. Tapi ponsel milik Kailla masih utuh di dalam sana. Pikirannya kacau, membayangkan apa yang terjadi pada istrinya saat ini.
Segera dia meraih ponselnya menghubungi Bayu. “Bay, tolong cari istriku. Dia menghilang di parkiran Hotel xxxx, di Bandung. Cek semua cctv atau apapun. Kamu harus menemukannya secepatnya!!” Teriak Pram. Saat ini dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Kepalanya hampir pecah, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah memutuskan teleponnya, dengan buru-buru dia kembali menghubungi nomor David.
Dia hampir menggila ketika harus mengulang berkali-kali karena David tidak mengangkat ponselnya.
“Dave, cari segala informasi mengenai sopir yang mengantarku dan Kailla ke Bandung. Aku kehilangan Kailla saat ini dan sopir itu juga menghilang. Aku tunggu secepatnya,” titah Pram begitu David menerima panggilannya.
“Iya...” Belum sempat David menjawab, Pram sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Segera dia masuk lagi ke dalam, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Anita. Wanita itu sedang bersama ibunya saat ini menyapa para tamu.
“Ikut aku!” Pram menarik kasar Anita untuk masuk lagi ke ruangan di sebelah tempat acara.
“Dimana istriku?” tanya Pram tanpa melepas cengkeramannya sama sekali. Matanya menatap tajam seolah siap menelan siapapun yang ada di depan matanya.
Anita hanya tersenyum, sama sekali tidak ada ketakutan melihat amarah Pram yang sudah memuncak.
“Baiklah, aku akan melaporkanmu ke polisi.” Tampak Pram merogoh ponsel dari kantong jasnya. Tapi belum selesai dia menekan tombol di layar ponselnya, Anita sudah mengeluarkaan ancaman.
“Haha... tidak masalah Pram. Aku pastikan kamu tidak akan menemukan Kailla selamanya.” Anita mengancam balik. Saat ini perasaannya campur aduk. Disatu sisi dia bahagia sudah bisa memporak-porandakan perasaan Pram, di sisi lain hatinya juga teriris melihat betapa besarnya cinta Pram untuk wanita lain. Harusnya cinta itu miliknya. Selamanya cinta Pram hanya miliknya. Sama sepertinya, yang tetap menyimpan cinta itu untuk Pram.
“Apa maumu, An?” Kali ini Pram mencoba cara lembut untuk mengatasi Anita. “Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa melepaskan istriku?” tanya Pram lembut, melepaskan cengkeramannya pada Anita.
“Ceraikan dia, aku akan melepaskannya untukmu.” Anita menjawab sambil tersenyum.
“Aku tidak bisa An.” Pram memilih duduk. Kepalanya sedikit pusing meladeni kegilaan Anita. Anita memilih meninggalkan Pram sendiri, setelah dirasa mereka tidak bisa mencapai kesepakatan bersama.
***
Pram memilih menenangkan diri di dalam mobilnya. Meletakkan kepalanya di atas setir mobil. Dia tidak tahu harus mencari kemana. Dia tidak mengenal jelas kota Bandung. Yang bisa dilakukan saat ini menenangkan diri dan menunggu informasi dari Bayu dan David. Perasaannya hancur saat ini. Dia mengkhawatirkan keadaan Kailla. Apakah dia ketakutan? Apakah dia menangis? Apakah dia baik-baik saja. Semakin memikirkannya, kepalanya semakin sakit.
Dia menyesal, harusnya dia tidak membawa istrinya kesini. Harusnya dia mendengarkan Kailla. Padahal Kailla sudah menolak untuk ikut dengannya. Tapi dia dengan egoisnya membujuk Kailla dengan berbagai cara. Mengingat bagaimana gigihnya membujuk Kailla, ada senyum tersungging di wajahnya.
Flashback On
Kailla masih duduk di depan meja rias memegang hairdryer ditangannya ketika Pram memeluknya.
“Mau ya?” bisik Pram manja di telinga Kailla. Kailla hanya menggeleng tetap pada pendiriannya. Pram hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Kailla. Pupus sudah harapannya. Tadinya dia ingin menyudahi semua permainan Anita, dengan menunjukkan pada wanita itu sekarang dia sudah menikah. Dan tidak akan pernah ada celah lagi untuk Anita atau wanita manapun menggantikan posisi Kailla di hati dan hidupnya.
Tring!!
Tiba-tiba terlintas ide gila di otak Pram. Dengan sekali sentakan dia sudah menggendong tubuh istrinya itu seperti karung beras. Hairdryer yang masih menyala seketika berhenti berfungsi karena colokan yang tercabut dari stop kontaknya.
“Ahhhhh...!” Terdengar suara teriakan histeris Kailla yang tidak menyangka bakal digendong oleh Pram tiba-tiba.
“Kai...” panggil Pram manja, menyusul menindih tubuh mungil Kailla.
“Om..” Kailla bergidik ngeri melihat tatapan Pram seolah-olah akan melahapnya saat itu juga.
“Sayang..” panggil Pram lagi di telinga Kailla. Kali ini Pram sengaja memainkan tali pengikat di bathrobe yang dipakai Kailla.
Melihat tangan Pram yang siap beraksi, Kailla langsung berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh kekar Pram. Dia sudah panik dan kalang kabut ketika Pram mulai menarik tali itu hingga terlepas ikatannya. Dengan susah payah dia menahan supaya Pram tidak melanjutkan kegiatannya saat ini.
“Ikut ke Bandung ya Kai?” Pram bertanya lagi, berharap sampai sejauh ini Kailla akan menyerah. Tapi gadis itu masih kukuh pada pendiriannya.
“Aku tidak mau ikut Om.” Kailla menggeleng, sambil menahan rapat kimononya supaya tidak terbuka.
Pram tidak kehilangan akal, sekarang tangannya sudah mendarat di paha putih mulus bak porselin milik Kailla, bathrobe itu tersingkap di bagian bawahnya saat Pram membanting Kailla di ranjang. Kondisi yang menguntungkan untuk Pram.
“Bahkan disaat seperti ini pun keberuntungan masih bersamaku, tidak perlu bersusah payah, bathrobe itu dengan penuh pengertiannya membuka jalan untukku.” Pram bersorak sorai di dalam hatinya.
“Ah... jangan Om.” pinta Kailla. Tangan Kailla berusaha menahan agar tangan Pram tidak semakin merambat ke atas. Sorot matanya sudah diliputi ketakutan. Walaupun Pram sekarang suaminya, rasanya tidak mudah untuk melakukannya saat ini.
“Tapi ikut ke Bandung ya Kai?” tanya Pram lagi. Kailla masih mengeleng. Perasaan Kailla sedang tidak enak, entah kenapa tiba-tiba rasanya tidak ingin ikut ke Bandung.
“Hah! Masih belum mau ikut?” tanya Pram terkekeh. Mata Pram sudah melotot menatap penampilan Kailla saat ini, mengenaskan sekaligus menggemaskan di bawah kungkungan tubuhnya. Bathrobe ditubuh istrinya itu hanya butuh sekali sentakan kecil saja sudah langsung terbuka, belum lagi bagian bawah yang hampir tersingkap semua. Sebenarnya pertahanan Pram juga hampir runtuh saat ini. Sebagai laki-laki normal, pasti dia juga sangat menginginkan istrinya.
“Tinggal selangkah lagi! Kalau Kailla masih menolak dengan terpaksa dia harus membawa Kailla berdayung bersamanya ke Pulau Seribu.” batinnya. Senyum tersungging di wajah tampannya.
“Baiklah, aku tidak bertanya lagi. Kalau kamu berubah pikiran dan bersedia ikut ke Bandung bersamaku, tinggal teriak saja ya Kai!” ucap Pram. Toh! untuk saat ini ikut atau tidak ikut tidak penting lagi bagi Pram. Baginya apa pun pilihan Kailla, sama-sama menguntungkan baginya.
“Hah!” Kailla belum sempat melanjutkan kata-katanya, Pram sudah mengecup basah leher jenjang milik Kailla, sesekali memberi tanda kepemilikannya disana. Kailla yang tidak ada persiapan hanya bisa menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, menghindari bibir Pram yang mengecup tanpa jeda.
“Jangan .. Om” pinta Kailla lirih.
“Menolak suami itu dosa loh Kai.” bisik Pram di telinga Kailla, membuat Kailla bergidik saat merasakan hembusan nafas Pram.
Tangan Pram sudah sibuk meremas kesana kemari, menyentuh apa yang bisa disentuh. Dengan susah payah Kailla menahannya, akhirnya dia terpaksa mendesah merespon apa yang dilakukan Pram padanya. Desahan Kailla seperti tiket masuk untuk Pram, dengan cekatan tangannya langsung meraih salah satu sisi bathrobe. Sekali sentak saja, keindahan dibaliknya terpampang nyata di depan mata Pram.
Ini kali keduanya, tapi sikap malu-malu dan pemberontakan Kailla tak jauh beda dengan pertama kalinya. Baru saja Pram akan bertindak lebih jauh, Kailla sudah mengejutkannya.
“A.. aku .. aku ikut Om!” teriak Kailla terengah-engah. Berusaha bangun dan merapikan bathrobe-nya yang berantakan.
“Kita tidak jadi ke Bandung Kai, kita ke pulau seribu saja ya.” pinta Pram dengan wajah memelas dan setengah memohon.
Kailla menggeleng, “Kita tetap ke Bandung Om!” ucap Kailla. Segera dia bangkit dari ranjang. Meninggalkan Pram yang sedang berbaring telentang di atas ranjang. Terlihat Pram menghela napas berkali-kali sambil memejamkan matanya.
Malam ini akan menjadi malam terberat untuk Pram. Setelah sejauh ini, Kailla baru menyetujuinya di detik-detik terakhir.
Flashback off.
***
Terimakasih dukungannya ya. Love you all.