
Bayu, Sam dan Donny terlihat sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan secangkir kopi panas dan pisang goreng buatan duo asisten rumah tangga, yaitu Bu Ida dan Bu Sari.
Pram yang baru saja keluar dari kamar sambil menggandeng istrinya, terlihat menarik kursi dan mempersilahkan Kailla duduk.
“Kai, aku harus bertemu Bayu sebentar,” ucap Pram, berlalu pergi.
Terlihat Pram mendatangai ketiga asistennya.
“Pagi Pak,” sapa mereka hampir serempak.
“Bay, bisa iku aku sebentar,” ajak Pram, meninggalkan Sam dan Donny yang memandang dengan tatapan heran.
Pram mengajak Bayu berbicara serius di teras samping. Ada hal penting yang harus disampaikannya.
“Ada apa Bos?” tanya Bayu saat mereka sudah saling berhadapan.
“Tolong jaga Kailla. Aku mengkhawatirkannya. Aku sudah mengetahui dalang dari teror pesan ancaman itu. Dia adik ipar mertuaku,” jelas Pram.
“Jangan biarkan dia mendekati Kailla. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan anakku,” lanjut Pram lagi. Pandangannya saat ini sedang tertuju pada istrinya, yang sedang memakai celemek bersiap memulai kursus memasaknya.
Dari teras samping, Pram bisa leluasa menatap Kailla dari dinding kaca yang sengaja dibuatnya supaya bisa menampilkan taman hijau dari ruang makannya.
“Aku tidak bisa mendampinginya setiap saat. Aku hanya bisa mengandalkanmu sekarang,” ucao Pram, menepuk pundak Bayu. Terlihat dia berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
“Kai, kamu tidak sarapan?” tanya Pram, saat sudah berdiri di belakang istrinya yang sedang mempersiapkan sayuran yang akan dibersihkan.
“Aku masih kenyang. Nanti aku akan makan,” jawab Kailla tanpa menoleh.
“Temani aku sarapan,” pinta Pram, saat melihat Kailla yang sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya. Istrinya terlalu sibuk dengan brokoli dan kembang kol di tangannya.
“Kemarilah!” ajak Pram, menarik lengan istrinya supaya mengikutinya.
“Aku mau, kamu menemaniku sarapan,” ucap Pram, setelah mereka berdua duduk berdua di meja makan.
“Baiklah.” Kailla hanya menjawab singkat. Dia kembali meraih ponselnya, memilih berselancar mencari resep-resep yang nanti akan dicobanya.
“Sayang, kamu tidak lapar?” tanya Pram, tiba-tiba sudah menyodorkan sesendok nasi goreng di depan mulut istrinya.
“Tidak terlalu,” jawab Kailla dengan mulut penuh, setelah melahap nasi goreng yang disuapkan suaminya.
Sudah menjadi kebiasan keduanya, berbagi makanan. Sejak menikah, ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan Pram dan Kailla, salah satunya adalah kebiasaan berbagi makanan di setiap
“Sayang, jam berapa aku harus ke kantor?” tanya Kailla, menatap Pram yang sedang sibuk menikmati nasi goreng spesial.
“Lebih cepat lebih baik,” ucap Pram tersenyum usil.
“Stella membuat janji setelah makan siang,” jelas Pram lagi.
“Baiklah,” sahut Kailla. Terlihat dia meraih garpu dari tangan Pram, mencuri sepotong telur ceplok yang menggugah selera dari piring suaminya itu.
“Eitttts Nyonya, kamu mencuri telur ceplokku!” ucap Pram menatap tajam, pura-pura tidak terima.
“Pencuri kecil! Aku sengaja menyisahkannya untuk terakhir, supaya aku bisa menikmatinya,” lanjut Pram, terkekeh.
“Bukan niatku Sayang. Anakmu yang menginginkannya.” Kailla membela diri. Dia ikut-ikutan tertawa setelah melihat mata Pram yang melotot padanya.
“Aaaakkkk.. semua telur untuk anakku,” ucap Pram menyodorkan potongan telur yang tersisa di piringnya.
“Sayang, kamu tidak ada rencana mengidam lagi?” tanya Pram menatap Kailla sambil tersenyum.
Kailla menggeleng.
“Aku sedang menunggumu memintaku memanjat dan memetik mangga muda di halaman rumah tetangga,” ucap Pram sambil tertawa.
“Seperti di sinetron-sinetron Nyonya,” lanjut Pram lagi.
“Aku tidak mau,” tolak Kailla.
“Itu terlalu mudah untukmu,” lanjut Kailla.
“Aku yakin, kamu sudah mengincar pohon mangga mana yang mau kamu panjat,” jelas Kailla.
“Kalau tidak, mana mungkin kamu berani menawariku dengan sukarela,” dengus Kailla.
“Hahaha....”
Tangan Pram sedang merapikan sendok dan garpu ke atas piring kosong. Nasi goreng itu sudah tandas tanpa sisa. Sebagian masuk ke perut Pram, sisanya masuk ke perut Kailla. Setelah mengusap bibir dengan kain lap putih di atas meja, Pram langsung berdiri dan mengecup kening istrinya.
“Aku berangkat Sayang. Kamu cantik sekali dengan celemek ini. Sudah mirip seperti seorang istri. Hanya kurang daster batiknya saja,” goda Pram. Kali ini dia menangkup wajah Kailla dengan kedua tangannya.
Cup!cup! Memberi kecupan beruntun pada bibir tipis merona milik Kailla.
“Daddy berangkat ke kantor Sayang,” pamit Pram, mengusap perut istrinya.
***
Ruangan Presdir RD Group.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11.30 siang. Pram sudah bersiap menunggu kedatangan Kailla. Dia ingin mengajak istrinya makan siang di luar dan langsung menuju ke dokter kandungan setelahnya.
Di sedang membereskan meja kerjanya, saat ponsel di meja berdering. Melihat nama penelepon, Pram buru-buru menggeser tombol hijau di layar.
“Iya, bagaimana?” tanya Pram.
“Saya sudah mendapatkan semua informasi Bos,” ucap si penelepon dari seberang.
“Dia sekarang tinggal di Bali. Mungkin informasi ini akan membuat Bos terkejut. Saya sudah mengirim semua informasi penting ini melalui wa. Silahkan Boss periksa sendiri,” lanjut si penelepon.
“Baik, aku akan meminta David mengirim ke rekeningmu. Setelah memastikan informasi ini akurat, aku akan menambah bonus untukmu,” jawab Pram, merespon ucapan laki-laki yang dimintanya mencari tahu tentang Pratama Indraguna dan Citra Wijaya.
Tanpa menunggu jawaban, Pram langsung mematikan ponselnya. Buru-buru membuka pesan teks. Matanya membulat melihat pesan lengkap dengan foto-foto yang melengkapi informasi yang dimaksud. Jantung Pram berdetak kencang, dia gugup saat melihat salah satu foto perempuan tua yang sudah mulai renta dan duduk di kursi roda.
Dia lupa segala hal, bahkan dia lupa janjinya dengan Kailla. Tanpa mempertimbangkan apapun, dia segera menghubungi David, meminta asistennya datang ke ruangannya.
“Ada apa Presdir!” tanya David sudah berdiri di hadapannya.
“Dave, carikan aku tiket ke Bali sekarang juga,” perintah Pram. Perasaannya tidak tenang saat ini.
“Penerbangan yang tercepat. Aku akan ke sana sekarang,” lanjut Pram lagi.
David hanya melongo, mendengar permintaan Pram yang tiba-tiba.
“Apa-apaan ini. Bahkan sore nanti, masih ada meeting penting,” ucap David dalam hati.
Tidak bisa membantah, David hanya mengangguk. Segera kembali ke ruangan untuk melaksanakan perintah Pram. Pram yang sudah tidak bisa berpikir jernih, terlihat mondar mandir di dalam ruangannya. Sesekali menatap foto wanita tua yang dikirimkan orangnya.
Ada rasa yang sulit diungkapkan saat melihat raut wajah keriput yang terlihat bersedih.
Pram bahkan melupakan semua hal saat ini. Dia lupa dengan pekerjaannya, tanggung jawabnya, bahkan janjinya dengan sang istri. Begitu bunyi pintu ruangannya terbuka, dia sudah memanggil nama David tanpa melihat siapa yang datang menemuinya.
“Dave! Bagaimana?” tanya Pram, terkejut saat menyadari siapa yang masuk ke ruang kerjanya saat ini.
Tampak Kailla, sang istri tersenyum padanya sambil menenteng salah satu koleksi tas mahalnya. Dia sudah berdandan cantik hari ini. Dia dan Pram akan bertemu dengan anak mereka sebentar lagi.
“Sayang...,” sapa Kailla manja, langsung memeluk Pram. Kedua tangannya sudah bergelayut manja di leher suaminya, siap bermanja-manja dalam pelukan Pram. Terlihat dia sudah menelusupkan wajahnya ke dalam dada Pram, mencium aroma maskulin bercampur parfum kesukaan sang suami.
****
Maaf telat up ya.
Terimakasih.
Love You All.