Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 121 : Berkenalan Dengan Winny


Mobil yang ditumpangi Bayu dan Kailla sudah masuk ke halaman kantor KRD. Terlihat Bayu turun untuk membantu Kailla membuka pintu mobil. Begitu melihat istrinya Bosnya turun , Bayu sedikit terkejut. Mungkin karena selama seminggu ini Kailla hanya di dalam apartemen yang tertutup jadi dia tidak menyadari perubahan fisik majikannya.


“Non Kailla kok pucat banget ya? Apa kena cahaya matahari, jadi kelihatan seputih kapas wajahnya,” batin Bayu.


Bayu berjalan mengekor di belakang Kailla. Matanya tidak lepas menatap punggung majikannya itu.


“Iya beneran, kurusan lagi!” ucapnya pelan.


“Bay, kamu anterin aku sampai ruangan suamiku ya,” perintah Kailla saat sudah di depan lift. Dia tidak mau bertemu dengan Pieter.


“Baik Non,” jawab Bayu singkat.


Ting! Pintu lift terbuka mengantar mereka ke lantai 5, lantai dimana ruangan Presdir berada.


Kailla sempat tersenyum saat melewati meja sekretaris Pram.


Kailla masuk ke dalam ruangan Pram tiba-tiba, tanpa mengetuk terlebih dulu. Seketika mengejutkan dua orang sahabat lama yang sedang mengobrol di sofa.


“Sayang kamu sudah datang?” ucap Pram langsung menghampiri Kailla. Tatapan Pram langsung berubah saat melihat istrinya.


“Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pram saat melihat wajah Kailla yang pucat dan terlihat lebih tirus.


“Iya, aku baik-baik saja,” sahut Kailla tersenyum langsung memeluk erat lengan Pram. Dia sudah hampir seminggu tidak melihat wajah suaminya, walaupun Pram pulang setiap malam. Tapi dia sudah terlelap setiap Pram pulang.


“Kemarilah. Kenalkan ini Winny Kai.” Pram mengajak Kailla menghampiri Winny.


“Win, ini istriku Kailla,” Pram memperkenalkan.


“Akhirnya aku memiliki kesempatan juga berkenalan dengan Nyonya Reynaldi Pratama. Aku Winny, teman kuliah suamimu. Aku memanggil Kailla saja ya,” sapa Winny langsung memeluk Kailla. Mencium kedua pipi istri teman kuliahnya itu.


“Aku Kailla, eh...” Kailla langsung menatap Pram, meminta pendapat suaminya. Dia bingung harus memanggil Winny apa. Karena umurnya jauh di bawah Winny.


“Panggil Winny saja, sama seperti suamimu memanggilku. Aku menolak tua kalau dipanggil Tante,” canda Winny. Dia memahami arti tatapan dan kebingungan Kailla.


“Iya Wi..nny.” ucap Kailla ragu, terlihat dia menatap Pram kembali sambil tersenyum malu.


“Tidak apa-apa Sayang,” sahut Pram tersenyum melihat istrinya yang begitu polos dan menggemaskan. Dia langsung menghampiri dan memeluk pinggang Kailla, mengajak istrinya itu duduk di sebelahnya.


“Aduh Pram, istrimu masih muda sekali. Jangan sampai si Hendra tahu, bisa- bisa dia minta nikah lagi,” celoteh Winny lagi.


“Kenapa tidak ikut Pram selama ini Kai?” tanya Winny pada Kailla yang sedari hanya menunduk.


Kailla langsung melihat ke arah suaminya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Jangan seperti ini Kai, aku bisa menggigitmu nanti!” bisik Pram di telinga Kailla. Melihat tampang polos istrinya saat ini, dia benar-benar ingin menciumnya. Hampir seminggu dia tidak bertemu dengan Kailla, dia sangat merindukan wajah istrinya yang menggemaskan.


“Seminggu ini kamu membuatku sibuk. Sampai aku tidak punya waktu lagi untuk istriku,” sindir Pram. Sontak membuat Winny tertawa.


“Kamu berubah banyak Pram. Saat melihatmu bersama istrimu, seperti melihat orang lain. Seperti bukan Pram saja!” goda Winny.


“Baiklah, aku harus pamit dulu. Anakku yang bontot sebentar lagi pulang sekolah. Biasa suka nanyain kalau tidak melihat mommy-nya.” pamit Winny.


“Kai, aku akan mengundangmu dan Pram ke rumahku. Kamu harus datang ya,” ucap Winny sambil tersenyum.


“Iya..,” Kailla menjawab.


***


Terlihat Pram membingkai wajah pucat Kailla dengan kedua tangannya. Sudah lama dia tidak menatap wajah istrinya sejelas ini. Dia mengecup bibir tipis istrinya.


“Sayang, kamu baik-baik saja kan?” tanya Pram setelah menyudahi ciumannya.


“Iya... memangnya kenapa Sayang?” Kailla balik bertanya.


“Pucat sekali Sayang. Kamu sakit?” tanya Pram mulai khawatir.


Kailla menggeleng. “Mungkin karena aku tidak nafsu makan seminggu ini.”


“Aku merindukanmu,” ucap Pram langsung mendekap erat Kailla.


Cup!Cup!Cup! Pram mengecup seluruh wajah Kailla bertubi-tubi. Hampir seminggu ini, dia hanya bisa memeluk Kailla dalam tidur. Itu pun hanya beberapa jam. Kalau tidak memikirkan istrinya sendirian di rumah, dia lebih memilih menginap di kantor saja.


“Hanya jus jeruk. Aku mual, mungkin karena seminggu ini aku tidak makan dengan teratur,” jawab Kailla.


“Kita makan siang sekarang. Aku tidak bisa lama-lama. Masih banyak pekerjaanku Sayang,” ajak Pram.


Pram terus menggengam tangan Kailla. Tiba di kantin pun dia masih enggan melepaskannya.


“Sayang, sabar sedikit lagi ya. Aku usahakan minggu depan aku tidak pulang malam lagi,” ucap Pram.


Terlihat pelayan mengantarkan 2 piring steak di atas meja mereka. Pram langsung memotong kecil-kecil daging steak itu supaya memudahkan Kailla menyantapnya.


“Makanlah Kai. Kamu harus makan yang banyak. Wajahmu pucat sekali Sayang,” Pram menyodorkan piring steak yang sudah dipotong ke hadapan Kailla.


Tapi baru saja Kailla akan menyuapkan potongan steak itu ke dalam mulutnya. Rasa mual kembali datang menyerangnya. Segera dia menutup mulutnya kembali. Supaya tidak memuntahkan semua isi perutnya.


“Kenapa Sayang? Kamu sakit?” tanya Pram panik.



Segera Pram bangkit dari duduknya, menyodorkan minuman pada Kailla sambil mengusap lembut punggung istrinya.


“Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pram. Melihat kondisi istrinya saat ini dia benar-benar khawatir.




“Kai, kita ke dokter saja ya Sayang,” ajak Pram. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kailla.


“Aku tidak apa-apa. Sepertinya aku telat makan, jadi masuk angin. Istirahat sebentar juga sudah enakan,” tolak Kailla.


“Sayang...,” bujuk Pram.


“Aku sudah tidak apa-apa. Aku tidak mau makan lagi. Perutku mual, aku minum saja,” ucap Kailla.


“Kamu beneran tidak apa-apa?” tanya Pram sekali lagi untuk memastikan.


Kailla hanya mengangguk. “Kamu makan saja, aku akan menemanimu. Setelah itu aku akan pulang. Aku mau tidur,” ucap Kailla pelan.


“Sayang, setelah ini aku mau bertemu dengan Mitha.” Kailla berkata sambil menyeruput es lemon.


“Iya, nanti aku akan menemanimu ke tempat Mitha,” sahut Pram. Terlihat dia buru-buru menghabiskan steaknya. Dia juga masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


“Aku akan pulang cepat malam ini,” lanjut Pram. Melihat kondisi Kailla, sepertinya dia sudah tidak bisa lagi lembur setiap malam. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kailla. Seminggu ini Kailla sendirian di rumah, hanya ditemani Bu Ida dan Bayu.


***


“Mit, kamu tidak merindukanku?” tanya Kailla begitu sudah masuk masuk ke dalam ruangan Mitha.


“Nyonya..!” panggil Mitha setengah berteriak, langsung tersenyum pada Kailla.


“Bagaimana suamiku?” tanya Kailla menaikkan alisnya.


“Beres Nyonya! Selalu ku pantau. Aman terkendali!” jawab Mitha menunjukkan jempol tangannya.


“Oh ya Nyonya, kemarin Pak Presdir ada wawancara lagi. Nah presenter ceweknya tuh mepet-mepet sama Pak Presdir. Terus langsung ku amankan Nyonya,” cerita Mitha.


Terlihat Mitha mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto hasil kerjanya. Berharap istri Presdirnya memberi pujian atas kerja nyatanya.


“Plakkk! Kailla langsung memukul kencang lengan Mitha.


“Dasar perempuan penggoda! Ini bukan si presenter, tapi kamu sendiri yang mencuri kesempatan deketin suamiku!” omel Kailla setelah melihat foto di ponsel Mitha.


“Hahaha..,itu cara aku mengamankannya Nyonya. Kalau aku tidak mencuri berdiri di tengah, pasti perempuan ini yang menempel ke Pak Presdir. Mendingan diriku, Nyonya sudah jelas bibit bebet bobotku. Lah, kalau perempuan ini, bisa-bisa Pak Presdir langsung diterkam kalau kurang waspada.” Mitha beralasan sambil terkekeh menatap Kailla yang sedang melotot padanya.


***


Terimakasih. Love you all.