
Pram langsung keluar dari mobil, menghampiri Kinar yang sedang mengedarkan pandangannya. Pram yakin, wanita itu sedang mencarinya. Tampak Pram mengenakan kembali kacamata hitamnya, sebelum menemui Kinar. Pram tidak terlalu suka dengan tatapan Kinar padanya.
“Bagaimana keadaan Ibu Citra?” tanya Pram saat sudah berdiri di hadapan Kinar.
“Sudah sedikit tenang Pak,” jawab Kinar menatap Pram tidak berkedip.
Sayang, dia sedang menutup wajah dengan kacamata hitamnya. Kalau tidak, aku bisa melihat wajah tampannya dengan jelas.”
“Aku sebenarnya hanya ingin mengetahui masa laluku. Dan data-data yang aku dapat dari ayah angkatku, Riadi Dirgantara, mengarah pada Ibu Citra. Walau sebenarnya aku tidak yakin,” ucap Pram membuka pembicaraan. Dia membuang pandangannya ke arah jalanan.
“Bisa tolong ceritakan tentang Ibu Citra, bisa saja dia ibu kandungku. Tunggu sebentar,” lanjut Pram. Terlihat dia berjalan kembali ke arah mobil, mengambil sesuatu di dalam map.
“Ini salinan akta kelahiran yang aku temukan dan tercantum nama Ibu,” ucap Pram, menyodorkan fotokopi akta itu ke tangan Kinar.
Pram terpaksa membuka sebagian ceritanya pada Kinar, karena hanya Kinar yang bisa menjadi kunci untuk mendekati Ibu Citra. Selama berada disini, dia sudah membaca kedekatan hubungan keduanya.
Pram juga mengeluarkan tanda pengenal miliknya, menyodorkannya pada Citra. Tapi kali ini dia hanya memperlihatkan. Tidak membiarkan Kinar menyentuhnya. Sengaja dia menutup statusnya di sana, dia tidak mau kedua wanita ini mengetahui tentang Kailla, istrinya keturunan Riadi Dirgantara.
Pram masih bisa mengingat jelas, bagaimana sumpah serapah Ibu Citra pada mertua dan istrinya sekaligus bayinya. Dan atas dasar itu, Pram tidak akan membiarkan orang-orang ini mengetahui tentang Kailla, sampai dia mendapatkan kejelasan kejadian yang sebenarnya.
“Aku bertemu dengan ibu belasan tahun yang lalu, saat berkerja di salah satu panti sosial di Jakarta. Ibu lama tinggal disana, sejak keluar dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh,” cerita Kinar.
“Aku juga tidak tahu banyak tentang masa lalu Ibu. Hanya mendengar cerita dari mulut Ibu,” lanjut Kinar lagi.
“Ibu sangat membenci laki-laki yang bernama Riadi, setahuku Riadi itu pernah menemui Ibu sewaktu tinggal di panti. Menawari Ibu ikut bersamanya,” cerita Kinar lagi.
Pram terbelalak mendengar cerita Kinar. Bahkan dia sendiri tidak tahu-menahu mengenai hal ini, padahal hampir setiap hari dia ikut bersama mertuanya dulu.
“Kapan itu?” tanya Pram penasaran.
“Aku lupa pastinya. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum kami pindah ke Bali,” sahut Kinar.
“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Pram.
“Cerita Ibu, Riadi itu ingin meminta maaf dan menawari Ibu ikut dengannya. Sewaktu itu, Riadi juga sempat menyinggung tentang putra Ibu, Reynald. Tapi ibu tidak mau mempercayai Riadi lagi,” sahut Kinar.
“Karena menurut Ibu, keluarga Riadi sudah menghancurkan kepercayaan Ibu. Padahal istri Riadi itu, sepupu Ibu,” lanjut Kinar lagi.
Pram kembali kaget. Yang sekarang dibicarakan Kinar adalah almarhumah ibu angkatnya, yang biasa dipanggilnya Mama Anna. Pram sudah mulai merangkai, Ibu Citra juga dari keluarga Wijaya.
“Apa lagi yang kamu ketahui? Apa aku bisa bicara langsung dengan Ibu?” tanya Pram memastikan.
“Aku juga belum yakin, yang membawaku kesini adalah akta kelahiran itu nama dan tanggal lahirnya sama persis dengan akta kelahiran milikku,” jelas Pram lagi.
“Bapak bisa kembali lagi nanti malam. Dan bicara langsung dengan Ibu. Aku akan berusaha membujuk Ibu,” ucap Kinar.
“Tidak bisakah sekarang? Aku harus kembali ke Jakarta secepatnya. Istri...” Pram kembali diam.
“Maksudku, aku sudah membeli tiket kembali ke Jakarta nanti malam,” lanjut Pram.
Kinar menggeleng. “Maaf Pak, Ibu baru saja minum obat dan tertidur. Aku juga butuh waktu untuk membujuk.” Kinar beralasan. Pandangan Kinar tanpa sengaja beralih pada jari manis Pram, disana melingkar cincin nikah.
“Dia sudah menikah?” tanya Kinar dalam hati.
“Tapi melihat umurnya yang sudah berusia 40 tahun menurut Ibu, pasti sudah menikah,” batin Kinar tertunduk lemas.
Pram melihat arah tatapan Kinar, langsung menyembunyikan tangan ke balik punggungnya.
“Kinar..,” panggil Pram. Terlihat dia menghela nafas, sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Terlalu cepat kalau mengambil kesimpulan Ibu Citra memiliki hubungan denganku di masa lalu. Karena sebenarnya tidak ada bukti yang kuat mengarah kesana. Selain itu, kebetulan ini terasa tidak masuk akal. Aku anak yang diangkat Riadi dari jalanan, saat berusia 10 tahun. Tidak ada cerita tentang keluargaku,” cerita Pram.
“Sebenarnya keingintahuanku, tidak lebih dari rasa penasaranku terhadap masa lalu ayah angkatku,” lanjut Pram.
“Tapi, karena aku sudah sampai disini. Aku akan melakukan tes DNA, untuk mendapatkan kejelasan. Nanti ada orangku yang akan menghubungimu,” ucap Pram.
“Aku mohon, Ibu jangan sampai tahu dulu. Aku takut hasilnya tidak sesuai yang diharapkannya, dia akan kecewa,” jelas Pram.
Kinar menggangguk.
“Ini kartu namaku,” sodor Pram pada Kinar. Mengambil salah satu kartu namanya di dalam dompetnya.
“Hubungi aku, kalau Ibu Citra sudah bisa di ajak bicara. Aku pergi sekarang. Terimakasih,” pamit Pram, tanpa menunggu jawaban dari Kinar. Dia sudah berbalik, berjalan menuju mobil tanpa menatap Kinar sama sekali.
“Iya.. Pak,” sahut Kinar pelan. Tertegun menatap sosok tampan yang bahkan tidak melirik padanya sama sekali.
Sampai di mobil, tampak Pram menghubungi orangnya, mengatur untuk tes DNA sekaligus mencarikan rumah yang layak untuk kedua wanita yang baru dikunjunginya.
Terlepas Ibu Citra ibu kandungnya atau bukan, dia merasa perlu menolong kedua wanita itu.
Mendengar cerita dari Kinar, mertuanya pasti memiliki salah pada Ibu Citra di masa lalu.
Dan sebagai menantu, dia harus mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang belum diselesaikan mertua sekaligus ayah angkatnya. Apalagi saat ini, Pak Riadi sedang terbaring koma di rumah sakit.
Dia juga belum terlalu jelas cerita yang sebenarnya. Kejahatan apa yang dilakukan mertuanya. Apalagi kalau memang benar Ibu Citra adalah ibu kandungnya. Dia belum bisa berpikir apa yang harus dilakukannya. Yang jelas saat ini, Kailla istrinya, tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kedua orang tua mereka.
Pram menghela nafasnya. Kepalanya pusing, bukan karena masalah Ibu Citra, tapi bagaimana merayu Kailla supaya tidak marah karena kemungkinan dia tidak bisa pulang ke Jakarta malam ini.
***
Hari menjelang sore, saat ponsel Pram berdering. Dia baru saja keluar dari kamar mandi, masih terbalut handuk di pinggangnya. Ada nomor tidak dikenal mengirim pesan padanya.
Pak, silahkan datang ke rumah Ibu Citra. Aku sudah menjelaskan ke Ibu dan Ibu setuju bertemu dengan Bapak -Kinar.
Pram tersenyum membaca pesan di ponselnya. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama, saat teringat istrinya.
“Mati aku kali ini,” ucap Pram pelan, meremas rambutnya sendiri. Berusaha mencari cara untuk melunakkan Kailla.
Kailla baru saja selesai mandi, masih berbalut handuk saat Pram menghubunginya.
“Sayang...,” panggil Pram tersenyum menatap Kailla yang masih polos dengan handuk terlilit sebatas dada. Belum lagi rambut yang menetes air, membasahi pundak polosnya.
Kailla yang tidak kalah terkejut menatap Pram yang hanya terbalut handuk di pinggang, menampilkan pemandangan dada kekar yang biasa digigitnya setiap malam.
“Sayang!” panggil Kailla.
“Untuk apa?” tanya Pram heran.
“Untuk memastikan ada tanda-tanda perang dunia apa tidak di sana,” ucap Kailla.
Dengan menggelengkan kepala, Pram terpaksa menuruti perintah Kailla.
“Istriku sudah setengah gila,” gumamnya pelan, takut terdengar Kailla.
“Sudah?!” tanya Pram kesal. Harus meladeni kelakuan gila Kailla.
“Itu kenapa ranjangnya acak-acakan?” tanya Kailla melotot.
“Aku tadi tidur di sana, Sayang,” sahut Pram kesal.
“Lepaskan handukmu!” perintah Kailla lagi.
“Aku ingin memastikannya!” lanjut Kailla.
“Apa-apaan ini Kai! Tidak Kai, aku bukan anak kecil!” tolak Pram.
“Aku keluar kamar dengan handuk ini, kalau kami tidak mau memperlihatkannya padaku,” ancam Kailla. Dia sudah berpikir yang macam-macam tentang suaminya.
“Coba kalau berani! Aku akan mengurungmu di kamar seharian saat aku kembali nanti!” ancam
Pram.
“Sudah, stop bercandanya. Ada yang mau aku sampaikan,” ucap Pram, memilih berbaring di ranjangnya.
“Kenapa Sayang,” tanya Kailla. Dia sengaja meletakan ponselnya di dekat cermin meja rias, supaya dia leluasa mengeringkan rambut dengan kedua tangannya.
“Aku tidak bisa pulang malam ini,” jelas Pram. Sontak membuat wajah istrinya cemberut.
“Aku tidak mau tahu!” ucap Kailla ketus.
“Aku baru saja akan berdandan seksi untukmu malam ini,” gerutu Kailla, meraih lingerie merah transparan, memamerkan di depan ponselnya.
“Hah!” Mata Pram langsung membulat, saat lingerie transparan itu tampak jelas di layar ponselnya. Dia heran, belum pernah melihat pakaian itu di dalam lemari Kailla.
“Dimana kamu mendapatkannya? “ tanya Pram kemudian.
“Aku... aku tadi ke mall dengan Bayu,” sahut Kailla ragu. Tidak berani menatap wajah Pram. Dia takut suaminya mengomel karena keluar diam-diam.
“Kamu tidak main mata dengan cowok di luaran sana kan? Ingat ya, di dalam perutmu itu ada anakku. Jangan coba-coba melirik laki-laki lain!” ucap Pram sedikit kesal. Kailla keluar rumah tidak meminta izin padanya terlebih dulu.
“Iya.. aku tidak macam-macam,” jawab Kailla.
“Kai, besok pagi susul aku ke Bali. Bayu akan menemanimu ke sini,” perintah Pram tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan.
“Serius?” tanya Kailla, memastikan. Dia tersenyum sumringah mendengar kata-kata Pram.
“Iya, lingerie itu dibawa juga!” pinta Pram sambil tertawa.
“Ah...jangan menggodaku,” rengek Kailla dengan manjanya.
“Karena kamu akan ke sini, jadi malam ini aku tidak perlu pulang ke Jakarta,” ucap Pram beralasan.
“Ayo tunjukkan pesonamu Kai,” goda Pram, tersenyum usil menatap Kailla.
“Maksudmu apa Sayang?” tanya Kailla. Dia sedang bahagia, begitu mendengar besok akan menyusul ke Bali.
“Bisa lepaskan handukmu juga?” pinta Pram, tertawa usil.
“Aku sudah merindukanmu Sayang,” rayu Pram menggoda.
“Tidak! Kumpulkan saja rindumu sampai besok” ucap Kailla ketus.
“Hahahaha.. Kai, aku masih ada urusan sebentar lagi. Kita teleponan lagi sebelum tidur,” janji Pram.
“Sayang mau kemana?” tanya Kailla penasaran.
“Ada sedikit pekerjaan,” jawab Pram berbohong.
“Jangan lupa minum vitamin dan susumu, Sayang,” ucap Pram lagi, mengingatkan.
“Iya Sayang.”
“Oh ya, bawakan pakaian untukku juga, Sayang. Tadi aku tidak membawa apa-apa,” pinta Pram.
“Iya, aku jadikan satu koper saja ya?” usul Kailla.
“Iya, tidak usah terlalu banyak membawa pakaian. Kita cuma dua hari di sini,” jelas Pram.
“Iya Sayang.”
“Minta Bayu yang turunkan kopernya dari lemari atas. Jangan menurunkannya sendiri. Itu berat Sayang,” titah Pram.
“Sayang, kenapa jadi bawel sekarang?” tanya Kailla kesal.
“Karena kamu istriku,” ucap Pram.
“Sayang kamu dimana?” tanya Pram heran setengah berteriak, saat Kailla tiba-tiba menghilang dari layar ponselnya. Kailla yang sedang berganti pakaian tidak menjawab sama sekali.
“Sayang aku matikan ya. Aku harus bersiap sekarang. Aku mencintaimu,” teriak Pram, karena sudah tidak melihat Kailla lagi.
“Iya.., aku akan menghubungimu nanti!” teriak Kailla tidak kalah kencang dari walk in closet.
****
Terimakasih.
Love you All
Om pram dan Kailla