Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 94 : Pelaku Pembakaran Foto Ketua OSIS


Segera Kailla berlari dan memeluk Pram. “Terimakasih Sayang,” ucap Kailla mengecup pipi kiri Pram.


“Kenapa pagi ini kamu terlihat manis sekali, Kai?” tanya Pram. Kedua tangannya sedang menahan pinggang Kailla supaya tetap berada di dekatnya.


“Jadi aku harus marah-marah?” Kailla bertanya balik, masih menatap manik mata suaminya sambil cemberut.


“Hehehe..., aku mulai merindukan kenakalanmu, Kai.” Pram mengecup bibir Kailla sekilas.


“Kalau begitu kirim Sam kemari, aku butuh partner untuk membuat kekacauan lagi. Hehe..,” Kailla terkekeh.


“Tidak sekarang, Sayang.” Pram menjawab singkat sembari tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


“Om.. ups!” Kailla langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Sayang.. hehe,” ucap Kailla.


“Hmmm... Ada apa?” tanya Pram lembut. Sekarang kedua tangannya sudah membelit di pinggang, mengunci di balik punggung Kailla.


“Aku merindukan daddy,” Kailla terlihat sedih. Ada kilauan yang mengkristal di kedua matanya.


“Aku juga merindukannya, kamu mau menghubunginya?” Pram mengeratkan belitan di pinggang istrinya. Dia sudah bersiap meraih ponsel barunya di atas nakas yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


Kailla menggeleng. Dia tidak mau menangis saat melihat daddynya, jadi saat ini dia sedang mengumpulkan kekuatannya. Dia akan menghubungi perawat daddy saat dia sudah cukup tegar untuk tidak menangis di hadapan daddynya. Dia tidak mau melihat daddy sedih lagi karena dia menangis.


“Kai...,” panggil Pram. Kali ini dia serius menatap Kailla. Seperti ada sesuatu yang ingin diucapkan, tapi sulit untuk keluar dari mulutnya.


“Hmmmm,” gumam Kailla.


“Seandainya daddy meminta sesuatu darimu, apa kamu akan mengabulkannya?” Pram sedikit ragu, tapi mau tidak mau dia harus mengatakannya. Pertanyaan yang sudah lama ingin dilontarkannya, tapi selama ini dia berusaha menunggu kesiapan Kailla.


“Apa yang diinginkan daddy?” tanya Kailla


“Daddy sangat menginginkan.... “ Pram terlihat menghela napas. Dia berat mengatakannya.


Selain karena memang dia tahu Kailla belum siap, sekaligus belum menginginkannya. Dia juga tidak mau dianggap egois, karena menuntut Kailla hamil secepatnya. Tapi dia tahu, daddy sangat menginginkan cucu. Dan kondisi daddy sekarang, tidak tahu bisa bertahan sampai kapan.


Pram berharap dengan kehamilan Kailla, dapat menjadi penyemangat untuk daddy. Dan kalau pun itu tidak berpengaruh, setidaknya dia dan Kailla masih sempat mengabulkan permintaan terakhir daddynya.


“Daddy menginginkan apa dariku?” Kailla bertanya lagi. Dia bingung kenapa Pram tidak kunjung mengatakannya.


“Kalau daddy menginginkan cucu, apa kamu bisa mengabulkannya?” tanya Pram sedikit ragu. Dia tidak sanggup menatap wajah Kailla saat ini. Pram memilih membuang pandangannya ke arah jendela. Menatap gedung apartemen di seberang jalan.


Hening—


Tidak ada jawaban atau sekedar pertanyaan balik dari Kailla. Keheningan itu masih tetap bertahan, sampai Pram memberanikan diri menatap ekspresi perempuan di hadapannya.


Kailla sedang menunduk, ada tetes air bening yang jatuh dari mata indahnya. Pram memilih memeluk Kailla, menenangkan istrinya yang sedang bersedih.


“Aku tidak akan bertanya lagi. Maafkan aku, Kai. Lupakan aku pernah menanyakannya dan lupakan kamu pernah mendengarnya. Anggap pertanyaanku tadi itu tidak pernah ada.” Pram segera menghapus air mata yang turun di kedua mata istrinya.


“A... apa.. kah kalau aku ha..hamil, daddy akan bahagia?” tanya Kailla sambil terisak.


“Pertanyaan yang sama lagi!”


Bukannya Pram tidak tahu, sesaat sebelum Kailla setuju untuk menikah dengannya, istrinya itu melontarkan pertanyaan yang sama di hadapan mertuanya. Dan sekarang dia mendengarnya sendiri. Kailla mau menikah dengannya hanya karena daddynya, tidak lebih. Dan saat ini pun kalau Kailla bersedia hamil anaknya, masih dengan alasan yang sama. Kalau bukan karena berlomba dengan waktu, Pram lebih memilih menundanya. Menunggu sampai Kailla benar-benar menginginkannya, bukan terpaksa seperti sekarang.


“Aku tidak bisa menjawabnya, Kai. Kamu sendiri yang tahu jawabannya,” sahut Pram.


“Sudahlah.. ayo kita bersiap. Ini hari pertamaku masuk kantor. Aku tidak mau terlambat,” ucap Pram lagi.


Kailla mengangguk, bergegas dia menuju ke kamar mandi. Dia tidak mau karenanya Pram mengomel dan terlambat.


perkara mudah. Lidahnya sudah terlanjur lancar memanggil Pram dengan sebutan Om.


“Sayang... aku harus pakai apa?” tanya Kailla pada Pram yang sedang memakai setelan jasnya.


“Hmmmm... kamu tidak bawa banyak pakaianmu?” Pram bertanya sambil membongkar isi koper Kailla.


Kailla menggeleng.


“Nanti aku minta orang kantor menemanimu belanja. Sementara pakai yang ada saja Kai,” sahut Pram.


Kailla berpikir dia tidak akan kemana-mana, jadi dia hanya membawa beberapa potong pakaian keluar. Isi kopernya didominasi pakaian untuk sehari-hari di rumah.


***


Mobil yang ditumpangi Pram dan Kailla masuk ke dalam pelataran gedung perkantoran 5 lantai. Gedungnya tidak terlalu tinggi tapi lumayan luas. Di bagian atas gedung tertera logo KRD. Kailla menatap gedung itu dari jendela mobil, dia sedikit heran dengan logo perusahaan RD Group yang sedikit berbeda dengan yang ada di Indonesia.


Kailla menatap Pram yang duduk di sampingnya, mencari jawaban dari kebingungannya.


“Kenapa Sayang?” tanya Pram tersenyum. Dia tahu Kailla sedang heran melihat logo di atas gedung. Sedari tadi kepala Kailla mendongak ke atas dengan kedua alis mata yang bergelombang.


“Kenapa logonya berbeda dengan di Indonesia?” tanya Kailla polos.


“Karena ini di luar negri. Dan untuk semua kantor cabang di luar negri nantinya aku akan memakai logo KRD,” jelas Pram.


“Untuk yang di luar Indo, ini kantor cabang pertama kan?” tanya Kailla lagi. Pram mengangguk.


Tak lama mobil mereka pun berhenti di lobby kantor. Tampak Pieter, Mitha dan beberapa staff menyambut mereka di pintu masuk. Pram turun terlebih dahulu, terlihat dia mengancingkan jasnya kembali sesaat setelah berdiri di luar mobil. Segera mengulurkam tangannya untuk membantu Kailla turun, dan mengikutinya masuk.


“Ayo Sayang..” ajak Pram saat melihat Kailla yang ragu-ragu. Dia tahu, istrinya sedang diliputi rasa malu karena masih memikirkan kejadian kemarin.


“Aku di mobil saja Om..eh Sayang,” tolak Kailla. Pram terkekeh melihat perjuangan Kailla, lidah istrinya selalu terpeleset setiap memanggilnya.


“Ayo, tidak apa-apa Kai. Kalau kamu tidak yakin, aku akan selalu mengenggam tangannmu,” bujuk Pram. “Aku tidak akan melepaskannya, aku janji,” lanjut Pram lagi.


Akhirnya dengan terpaksa Kailla turun dari mobil dengan tetap menggenggam erat tangan Pram. Wajahnya menunduk, tidak berani menatap orang-orang yang sedang menyambut mereka di pintu masuk. Kailla berusaha menyembunyikan dirinya di balik punggung Pram.


“Presdir,” sapa Pieter diikuti Mitha dan staff lainnya.


“Ee.... ,” Pieter sedikit ragu untuk menyapa Kailla, karena Pram belum mengenalkannya secara resmi kemarin.


“Kenalkan, istriku Kailla.. Riadi..Dirgantara,” ucap Pram menatap sinis ke arah Mitha. Dia sengaja menyebut nama panjang istrinya dan memberi jeda ketika mengucapkannya. Hanya untuk memberi kesempatan kepada otak Mitha dan Pieter untuk berpikir.


Mitha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Pieter menatap Kailla sambil melotot.


“Istri Pram ternyata putri pemilik RD Group. Gila ini!” ucap Pieter dalam hati.


Pram merasa sudah cukup kedua orang ini mempermalukan istrinya, walau hanya sekedar di dalam pikiran mereka. Berani-beraninya Pieter membandingkan istrinya dengan wanita murahan yang foto-fotonya menghiasi galeri ponsel teman baiknya itu.


Dia sendiri yang menjaga istrinya sejak kecil, memastikan tidak ada laki-laki manapun yang berani menyentuh dan mendekati Kailla. Kalau mengingat bagaimana panik dan kesalnya dia dulu, saat Kailla pertama kali mengenal cinta-cintaan, dia akan tersenyum sendiri. Kalau Kailla sampai tahu, semua surat-surat cinta Kailla yang tiba -tiba menghilang dari kotak penyimpanan karena ulahnya, dia yakin Kailla pasti mengomelinya lagi. Apalagi kalau Kailla tahu, dialah pelaku yang membakar foto ketua OSIS di SMP Kailla dulu, tamat riwayatnya.



***


Terimakasih🙏🙏