
“Kai, kamu sudah tidur?” tanya Pram saat keluar dari kamar mandi melihat istrinya sudah memeluk boneka kesayangannya.
“Hmmm..,” gumam Kailla dengan mata terpejam.
“Kai, kita belum menyelesaikan pembicaraan kita,” ucap Pram saat selesai memakai kaos tidurnya. Tangannya sudah menyibak selimut di atas tempat tidur, bersiap menjatuhkan tubuhnya di samping Kailla.
“Besok saja Sayang. Aku sudah mengantuk,” sahut Kailla dengan pelan, hampir tidak terdengar. Dalam hitungan beberapa menit ke depan bisa dipastikan Kailla sudah terlelap dan berlayar ke alam mimpi.
“Tapi aku masih ada keperluan selain pembicaraan yang belum selesai Kai.” Pram berkata. Tangannya sudah melingkar di pinggang Kailla, memeluk erat istrinya dari belakang.
“Ah... aku mau tidur Sayang,” tolak Kailla seperti biasanya. Dan Pram sudah sangat hafal. Dari pertama menikah sampai sekarang, istrinya tidak pernah menyambutnya dengan tangan terbuka. Selalu diawali dengan penolakan, tapi tetap saja Kailla akan berakhir di tangannya.
“Aku mau melihat investasiku Sayang,” bujuk Pram. Kalau memang belum ada perkembangannya, aku akan investasi lebih banyak lagi,” ucap Pram sambil mengecup pipi Kailla.
“Huh.. kenapa setiap malam tiba, isi otakmu selalu itu-itu saja,” dengus Kailla.
Dia memilih duduk, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kantuknya seketika hilang, saat tangan Pram menyusup masuk di balik gaun tidurnya. Jari-jari nakal suaminya itu sudah merayap kemana-mana.
“Hahaha.. dengan istri sendiri. Sah-sah saja Kai,” sahut Pram, tertawa melihat raut wajah Kailla yang cemberut sembari memeluk bonekanya.
“Baiklah mari kita selesaikan masalah tadi siang yang sempat tertunda. Aku masih menunggu penjelasanmu.” Kailla melipatkan kedua tangan di dadanya. Setelah Pram merebut paksa boneka yang dipeluknya, melempar boneka pemberian daddy itu ke sofa.
Dari awal Pram sudah memberi peringatan kepada istrinya. Kailla bisa membawa boneka itu dengan syarat saat tidur bersama Pram, dia harus membuang jauh-jauh benda berbulu lembut itu.
Terlihat Pram mengambil ponselnya di atas nakas, menyerahkannya pada Kailla setelah membuka galeri yang menyimpan foto-fotonya. Kailla tersenyum melihat isi galeri ponsel Pram. Foto-fotonya mengisi hampir seluruh isi galeri.
“Ini fotoku bersama Winny saat masih kuliah di London,” jelas Pram setelah mata Kailla menangkap fotonya berdua dengan Winny yang tersimpan di ponsel.
“Kamu masih menyimpannya?” tanya Kailla. Matanya sudah melotot menatap suaminya, kecemburuan yang tidak mau diakuinya seketika mencuat ke permukaan.
“Aku baru meminta pada Winny tadi sore. Jangan berburuk sangka. Untung dia masih menyimpannya,” jelas Pram. Dia merangkul pundak Kailla, supaya istrinya mendekat padanya.
“Ini Winny dan suaminya Hendrawan! Mereka berdua teman kuliahku.” Pram menunjuk salah satu foto temannya itu bersama dengan laki-laki berkaos hitam.
“Hah! Dia sudah bersuami?” tanya Kailla tiba-tiba. Dia langsung menutup mulutnya. Selama ini dia telah berpikiran yang tidak-tidak pada suami dan teman kuliahnya itu.
“Kamu pikir sendiri! Mereka teman kuliahku, sudah seumuran denganku semua. Mana mungkin belum menikah. Sebentar lagi anaknya sudah seumuranmu.” sahut Pram, menyentil kening Kailla.
“Kenapa tidak menceritakannya padaku?” tanya Kailla pelan.
“Kamu tidak memberiku kesempatan. Lagipula Winny bukan siapa-siapaku. Bukannya sebelum ini kamu juga mengamuk, sampai aku harus memanjat balkon kamarmu. Aku pikir kamu sudah menerima penjelasanku waktu itu,” jawab Pram singkat, mengecup pelipis Kailla sekilas.
Kailla hanya mengerucutkan bibirnya, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya.
“Apa aku terlalu berlebihan?” tanya Kailla tiba-tiba saat menyadari apa yang dilakukan pada suaminya selama ini.
“Mungkin kamu terlalu mencintaiku Nyonya, jadi setiap ada perempuan dekat denganku, emosimu langsung meledak. Booommm!” ledek Pram sambil tertawa melihat Kailla yang sudah bersiap marah padanya.
“Kamu...!” gerutu Kailla mengarahkan telunjuknya ke arah Pram. Dengan cepat, Pram langsung menggigit telunjuk Kailla yang tepat berada di depan wajahnya.
“Sayang, kamu sangat mencintaiku? “tanya Pram sambil tersenyum menggoda Kailla setelah melepas gigitannya pada telunjuk Kailla.
“Kamu...!” Sebuah pukulan mendarat mulus di dada Pram.
“Kalau memang kecemburuanmu yang meledak-ledak itu bukti seberapa besar kamu mencintaiku. Bisakah aku meminta padamu Nyonya, jangan terlalu mencintaku. Aku takut tidak sanggup menghadapi kecemburuanmu itu,” goda Pram.
“Apa kamu bilang? Laki-laki tua? Coba katakan sekali lagi, aku akan menerkammu sekarang.” ancam Pram. Dia sudah bersiap mengambil posisi singa kelaparan yang sedang berburu mangsanya.
“Huh! Bagaimana seorang presdir pikirannya begini mesum,” dengus Kailla.
“Hanya denganmu saja Kai,” jawab Pram. “Aku tidak dengan yang lain seperti itu,” lanjut Pram lagi.
“Kalau kamu berani dengan perempuan lain, aku akan membuatmu menjadi daging cincang!” Kailla menatap Pram tajam.
“Kai.. “panggil Pram memeluk erat pundak istrinya saat ini. Membawa istrinya itu untuk berhadapan dengannya.
“Hmmmm,” gumam Kailla.
“Mulai sekarang, setiap ada masalah jangan seperti tadi. Kamu bisa menegurku, memarahiku, mengomeliku bahkan memukulku. Tapi aku harus tahu kesalahanku apa. Semua harus dibicarakan,” jelas Pram.
“Hemm.... “ Pram menghela nafasnya.
“Aku sudah sering mengatakan, aku tidak suka orang lain melihat kita bertengkar. Aku tidak mau, masalah rumah tangga kita jadi tontonan orang lain. Harusnya kamu mengerti Kai, aku tidak perlu mengulangnya berkali-kali,” lanjut Pram lagi.
“Iya, maafkan aku,” Kailla hanya berbisik pelan. Suaranya hampir tidak terdengar. Saat ini suaminya sedang memarahinya.
“Aku jujur, kadang aku juga lelah. Tapi mau bagaimana lagi, kamu juga tanggung jawabku. Apa yang kamu lakukan, aku ikut bertanggung jawab.”
“Kalau bisa memilih, mungkin aku akan melepaskanmu. Daripada seperti sekarang, harus memaksamu. Tapi aku tidak punya pilihan Kai.” Pram menatap manik mata istrinya.
“Maafkan aku,” bisik Kailla pelan.
Terkadang Pram juga menyesali keputusannya untuk menikahi Kailla secepat ini. Tapi dia benar-benar tidak punya pilihan. Untuk itulah, dia punya banyak kesabaran menghadapi kelakuan Kailla.
Dia punya alasan kenapa selama ini tidak mau terlalu memaksa Kailla untuk berubah seperti yang dia inginkan. Dia punya alasan kenapa harus selalu bertahan menghadapi istrinya yang terkadang kelakuannya sudah melewati ambang batas kesabarannya.
Terlihat, saat ini dia banyak berkorban untuk Kailla. Tapi sebenarnya itu salah. Kenyataannya tidak seperti yang terlihat. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkorban dalam hubungan ini. Istrinya jauh lebih banyak berkorban dalam pernikahan mereka.
Kailla mengorbankan perasaannya, masa mudanya bahkan keinginannya sendiri hanya untuk pernikahan ini. Bahkan sampai hari ini Kailla tidak pernah menuntut apapun padanya. Kailla menerima dirinya tanpa banyak protes.
Istrinya baru 20 tahun saat ini. Tapi bukan masalah usianya, istrinya tidak melewati kehidupan orang-orang kebanyakan. Bahkan setelah menikah pun, dia tidak bisa menjanjikan kehidupan yang diinginkan istrinya.
“Sayang, sekarang berjuanglah bersamaku. Kalau memang sudah mencoba dan tetap tidak bisa, aku berjanji akan melepaskanmu di saat yang tepat. Pada saat itu, kamu tidak perlu memintanya, aku akan pergi dengan sendiri,” ucap Pram yang masih menatap Kailla.
Dadanya seperti tertusuk ketika harus mengatakannya. Tidak bisa dibayangkan seberapa sakitnya kalau dia benar-benar harus melepaskan Kailla. Dia tidak berani walau hanya membayangkannya.
“Jangan berkata seperti itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan daddy,” ucap Kailla sambil menangis.
“Terkadang aku merasa gagal karena tidak bisa mengabulkan keinginanmu yang paling sederhana.” bisik Pram sebelum memeluk erat Kailla.
Mengingat dia harus menambah pengawalan lagi untuk Kailla. Dan kalau sampai Kailla tahu, Pram tidak bisa membayangkan akan seperti apa istrinya mengamuk. Tapi dia bisa apa, itu takdir istrinya yang terlahir sebagai putri Riadi Dirgantara bahkan akan menjadi takdir anak-anak mereka nanti.
“Kai...., besok bawakan aku bekal makan siang lagi ya?” pinta Pram tiba-tiba.
Kailla langsung melotot, bahunya melemas seketika. Dia sudah tidak ada niat untuk membawakan bekal untuk suaminya. Tujuannya hanya untuk mengawasi Mitha. Sekarang Mitha di pihaknya, jadi dia tidak perlu lagi pergi ke kantor. Apalagi dia tidak mau bertemu dengan Pieter. Kalau benar yang dikatakan Mitha, dia harus menghindar sejauh-jauhnya dari Pieter. Dia tidak mau dikurung Pram di kamar kalau sampai suaminya tahu Pieter menyukainya.
****
Terimakasih. Love You All.