
“Ada apa ini?” tanya Hendrawan melihat istrinya yang sibuk membersihkan tumpahan jus di gaunnya dengan tisu.
“Oh tidak apa -apa. Tadi ketumpahan jus,” sahut Winny pada suaminya.
Hendrawan hanya mengangguk sambil tersenyum. “Thanks Pram, pinjam dulu jasnya,” ucap Hendrawan menepuk lengan Pram yang sedang tidak fokus. Dia kepikiran dengan kata-kata Winny barusan.
“Apa aku terlalu berlebihan padanya,” batin Pram.
Bayangan istrinya yang sedang menangis dan ketakutan tadi mengganggu pikirannya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Beberapa rekan bisnisnya terlihat masih sibuk mengobrol. Kalau tidak, dia mungkin lebih memilih pulang saat ini. Perasaannya tidak tenang setelah membentak dan hampir menampar Kailla.
“Oh ya, istrimu di mana Pram?” tanya Hendrawan menatap Pram.
“Barusan pulang dengan sopirnya,” jawab Pram singkat.
“Oh... ! Beruntung tadi sempat berkenalan,” cerita Hendrawan.
“Oh ya!” Winny kaget mendengar cerita suaminya.
“Kasihan istrimu. Dari tadi sore cuma disuruh duduk dan menunggu. Kelewatan kamu Pram!” ucap Hendrawan menggoda Pram.
Pram hanya tersenyum kecut, berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini.
“Aku ke toilet sebentar,” pamit Pram. Semakin dipikirkan, semakin tidak tenang. Harusnya tadi dia tidak meminta Bayu mengantar istrinya pulang.
Terlihat Pram menghubungi ponsel Kailla. Menunggu beberapa saat, panggilan tidak kunjung dijawab. Mencoba beberapa kali, sampai akhirnya ponsel Kailla tidak aktif sama sekali. Pram pun mencoba menghubungi Bayu. Hasilnya tetap sama. Ponsel Bayu juga berakhir dengan kondisi tidak aktif dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
***
Kailla yang keluar dari hotel dengan menangis sambil merengkuh lengan Bayu, terpaksa masuk ke dalam mobil. Perasaannya saat ini campur aduk. Kesal, sedih, kecewa, marah dan ada banyak lagi perasaan tidak enak yang mengumpul di hatinya.
Dia menangis sampai puas. Selama ini dia sudah berusaha mendengar semua ucapan Pram. Apapun itu dia tidak pernah membantahnya, walaupun kadang dia suka berontak. Tapi pada akhirnya dia akan mengalah pada suaminya itu.
Bayu dan sopirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam-diam mendengar isak tangis majikannya tanpa banyak bicara.
“Turunkan aku disini!” pinta Kailla tiba-tiba. Terlihat dia mengusap kasar kedua pipinya yang masih basah dengan air mata.
“Maaf Non, tidak bisa. Nanti Pak Pram marah,” tolak Bayu.
“Aku bilang turunkan aku disini!” perintah Kailla kesal. Tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya, baik Bayu ataupun sang sopir.
“Mohon maaf Non, benar-benar tidak bisa.” Bayu kembali menjawab dengan setengah memohon.
“Mau turunkan aku disini atau aku loncat dari mobil?” Kailla memberi pilihan pada Bayu dan bersiap membuka pintu mobil.
“Non... tolong jangan mempersulit,” mohon Bayu. Kali ini dia menatap Kailla. Dia takut majikannya itu benar-benar akan loncat dari mobil yang sekarang sedang melaju.
“Kalau aku loncat, kalian akan lebih sulit lagi,” ancam Kailla. Tangannya sudah bersiap memegang handle pintu mobil.
“Non.....,” panggil Bayu berusaha membujuk.
“5.. 4..3..2...,” ucap Kailla mulai menghitung.
Tepat pada hitungan ke 2, terdengar decitan ban mobil yang dipaksa berhenti mendadak. Melihat mobil yang sudah berhenti, Kailla buru- buru membuka pintu dan berlari keluar. Bayu yang duduk di kursi depan pun bergergas menyusul keluar. Berlari mengejar istri Bosnya itu.
“Non...!” teriak Bayu sambil menyusul Kailla yang sedang berjalan di depannya.
“Non mau kemana?” tanya Bayu lagi.
“Pergi! aku mau pulang ke tempat daddy. Aku tidak mau lagi tinggal disini!” ucap Kailla tanpa menengok ke arah Bayu yang mengekor di belakangnya.
“Terus sekarang Non mau kemana?” tanya Bayu lagi.
“Hotel! Aku tidak mau lagi tinggal dengan Bosmu!” ucap Kailla lagi.
“Non.. yakin bisa pulang ke Jakarta tanpa Pak Pram?” tanya Bayu lagi. Kali ini dia harus bisa menghentikan istri Bosnya melakukan hal yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu.
“Apa maksudmu?” tanya Kailla berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Bayu.
“Aku saja tidak bisa pulang ke Indonesia tanpa Pak Pram. Semua dokumenku dan Bu Ida ada di tangan Pak Pram. Termasuk milik Non Kailla,” jelas Bayu.
“Mungkin Non bisa mengurusnya sendiri di KBRI, kalau Non tetap memaksa kembali ke Indonesia. Tapi apa Non yakin Pak Pram akan tinggal diam?” jelas Bayu lagi.
Kailla langsung melotot mendengar jawaban Bayu. “Laki-laki tua itu benar-benar tidak tahu diri!” gerutu Kailla.
“Aku tidak peduli. Aku tidak mau kembali padanya. Kamu boleh pulang sekarang!” perintah Kailla.
“Non yakin Pak Pram tidak bisa menemukan Non?” tanya Bayu lagi.
“Jangankan ponsel Non Kailla, ponsel saya pun di bawah kendali Pak Pram saat ini,” jelas Bayu.
“Non ingatkan, ponsel kita sama-sama disediakan Pak Pram,” jelas Bayu.
Baru saja Kailla akan menjawab, tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berdering. Setelah mengeluarkan dan memastikan si penelepon adalah Pram, Kailla memilih mendiamkannya. Dering ponsel yang terus menerus, akhirnya memaksa Kailla menonaktifkannya seketika.
Senyap! Sekarang berganti ponsel Bayu yang berdering.
“Pak Pram,” ucap Bayu pelan.
“Kamu berani menerimanya, aku akan mempersulit hidupmu Bay!” ancam Kailla mengarahkan telunjuknya ke arah Bayu.
“Oke fine!” Bayu langsung menonaktifkan juga ponsel miliknya.
“Ayo Non, kita pulang. Wajah Non Kailla itu pucat. Non Kailla butuh istirahat,” bujuk Bayu lagi.
“Aku tidak mau!” tolak Kailla. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Kamu tidak melihat dia mengusirku dari sana. Aku benar-benar membencinya saat ini,” ucap Kailla geram. Saat ini dia sudah tidak bisa merasakan sakit kepalanya. Hatinya jauh lebih sakit.
“Beraninya laki-laki tua itu mau menamparku di depan teman perempuannya ,” gerutunya.
“Kita bisa apa Non,” bujuk Bayu.
“Non mau pergi kemana pun, Pak Pram pasti bisa menemukan Non Kailla,” jelas Bayu.
“Sebaiknya Non menurut saja, Non bisa membalas dendam dengan cara lain!” usul Bayu.
“Aku tidak mau bertemu dengannya lagi.” tolak Kailla. Dia masih saja berjalan, tanpa mempedulikan Bayu yang terus mengikutinya.
“Non Kailla benar-benar tidak tahu siapa suaminya,” gerutu Bayu kesal saat Kailla tidak mau mendengarkan perkataannya.
“Non, tunggu! Kita bicara baik-baik. Setelah aku menjelaskan, aku tidak akan mengikutimu lagi,” ucap Bayu berlari menghampiri Kailla.
“Baik, katakan. Setelah itu lepaskan aku! Kamu boleh kembali pada laki-laki tua yang tidak tahu diri itu!” ucap Kailla. Kali ini dia memilih berhenti dan mendengarkan sepatah dua patah dari asistennya yang sebentar lagi akan menjadi mantan asistennya.
“Non itu ada di dalam kendali Pak Pram. Walaupun aku tidak mengikuti Non, orangnya Pak Pram akan tetap mengikuti Non saat ini,” jelas Bayu.
“Ya Tuhan, hidup seperti apa ini!” ucap Kailla memejamkan matanya. Rasanya sudah ingin berteriak sekencang-kencangnya.
“Non Kailla saja masih menggunakan kartu kredit dari Pak Pram. Setiap Non menggeseknya, Pak Pram akan mendapat laporannya. Apa Non yakin bisa kabur dari suami Non?” tanya Bayu. Masih berusaha menjelaskan seperti apa sebenarnya suaminya majikannya saat ini.
“Pantas saja dia tidak mengizinkanku memegang uang cash selama ini!” gerutu Kailla.
“Bukan itu saja Non. Coba Non Kailla tunggu, sebentar lagi mobil Pak Pram sudah terparkir di depan Non,” ucap Bayu sambil menunjuk ke arah jalanan di samping majikannya itu.
Bayu menatap jam di pergelangan tangannya sambil tersenyum. Pram sudah menghubunginya dan dia memilih menonaktifkan ponselnya. Artinya Pram pasti akan menyusul ke sini sebentar lagi. Dia hanya tinggal menghitung waktu saja. Selebihnya Pram yang akan mengurus istrinya sendiri.
“Maafkan aku Non. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Bayu dalam hati.
Kailla melemas, memilih duduk di pinggir jalan sambil memeluk lututnya saat ini. Apapun yang dilakukannya, dia tidak akan pernah lolos dari suaminya.
***
Terimakasih.
Next : Pram tahu Kailla hamil.