Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 118 : Mengantar Bekal Makan Siang


“Kai .... bangun!” panggil Pram saat melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi.


“Hmmmm, kamu belum ke kantor?” tanya Kailla masih dengan suara seraknya.


“Sebentar lagi, aku masih mau memelukmu.” ucap Pram. Bibir dan tangannya sudah sibuk menjamah tubuh polos istrinya. Pram benar-benar tidak pernah melepaskan Kailla walau cuma sehari.


“Sayang, kamu beneran mau dibawain bekal? Apa aku titip ke Bayu saja? Aku sedang tidak enak badan.” Kailla beralasan.


“Kamu sakit?” Pram bertanya. Tiba-tiba dia langsung bangkit duduk, menatap Kailla yang masih meringkuk di balik selimut.


“Hmmm,” guman Kailla.


“Sayang, aku serius. Apa yang kamu rasakan. Pusing? Mual?” tanya Pram mulai panik. Kantuk


yang sempat menyergapnya beberapa saat yang lalu seketika menghilang.


“Tidak ada rasa apa-apa Sayang,” sahut Kailla membuka matanya. Menatap ke arah Pram yang saat ini sedang panik melihatnya.


“Apaan sih! Aku cuma butuh alasan supaya tidak perlu ke kantor saja,” ucap Kailla dalam hati.


“Sayang, tidak ada rasa yang aneh disini kan?” tanya Pram. Kali ini tangannya sudah mengusap perut rata istrinya.


“Aku tidak sakit perut Sayang,” jawab Kailla dengan polosnya.


“Kamu belum telat kan?” tanya Pram masih saja mengelus perut Kailla.


“Aku kan sudah tidak kuliah lagi Sayang. Bagaimana aku bisa telat. Kamu lupa ya, kita sedang di Austria,” jawab Kailla serius. Matanya menatap Pram dengan penuh rasa bersalah.


“Maafkan aku. Aku begitu merepotkanmu ya? Sampai-sampai kamu tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi,” ucap Kailla.


Kailla langsung memeluk Pram. Dia sudah tidak peduli lagi dengan tubuh t*lanj*ngnya yang sudah tidak tertutup apa-apa saat memeluk Pram. Biasanya dia akan berlari sejauh mungkin saat seperti ini. Entah kenapa dia mengkhawatirkan suaminya saat ini.


“Apa aku begitu merepotkan suamiku sendiri,” batin Kailla.


“Haha.. Istriku memang luar biasa,” ucap Pram sambil tertawa. Kailla masih saja kebingungan melihat Pram.


“Maksudku jadwal menstruasimu. Apa sudah telat?” tanya Pram mencoba mengulangi pertanyaannya.


Pipi Kailla langsung merona malu mendengar pertanyaan Pram. Tapi akhirnya dia menggelengkan kepala.


Melihat jawaban Kailla, Pram sedikit lega. Berarti tidak seperti yang dipikirkannya. Mungkin hanya sakit biasa, Kailla-nya belum hamil.


“Aku.. tidak tahu. Jadwal menstruasiku tidak teratur,” sahut Kailla sedikit ragu dan tertunduk malu. Dia tidak pernah membahas masalah ini dengan siapapun, kecuali sewaktu konsultasi dengan dokter SpOG. Itu pun dia terpaksa menahan malu di hadapan Pram. Ada rasa risih setiap membahas masalah itu.


Dia punya pengalaman buruk saat pertama kali mendapat menstruasi. Dan dia tidak akan mengulang lagi perbuatan memalukan itu. Dia ingat, pertama kali mendapatkannya saat kelas 4 SD. Sebelumnya dia pernah mendengar cerita dari teman sekelasnya, tapi pada saat itu dia belum pernah mengalaminya sendiri.


Begitu dia melihat ada bercak darah di ****** ********, dia menjerit ketakutan. Hampir seluruh asisten dan security di rumah panik dibuatnya. Beruntung ada Bu Sari yang menenangkan dan menjelaskan padanya. Bu Sari segera membawanya ke kamar dan membantunya membersihkan sekaligus mengajarinya mengenakan pembalut.


Dan yang paling menyedihkan saat itu, daddy tidak bersamanya. Daddy sedang di luar kota.


“Ya sudah, kalau kamu merasakan sesuatu. Kamu harus mengatakannya padaku. Apa pun itu, aku akan mendengarkannya,” pinta Pram. Istrinya sejak kecil tidak punya mama. Daddy-nya juga tidak punya banyak waktu untuknya. Dia tidak punya tempat berbagi. Jadi Kailla agak susah untuk berbicara tentang apa yang dirasakan dan diinginkannya. Ketika dia marah, sedih atau menginginkan sesuatu dia tidak akan menyampaikan isi hatinya secara langsung. Tapi dia akan mencari perhatian dengan membuat kekacauan. Setelah dia merasa diperhatikan, dia baru bisa diajak bicara. Dan sifat itu masih terbawa sampai sekarang.


“Iya....” Kailla menjawab singkat.


“Kalau kamu sakit, tidak perlu. Aku bisa makan siang di luar,” sahut Pram.


Kailla terdiam dan berpikir. “Baiklah, aku akan membuatkanmu makan siang,”


Dia juga khawatir, nanti suaminya akan kembali makan siang bersama Winny. Walaupun sudah dijelaskan kalau tidak ada hubungan apa-apa. Rasanya dia tidak rela kalau Pram terlalu sering bertemu dengan perempuan lain di luar pekerjaannya.


“Terserah mau dibilang cemburu atau apa. Aku tidak suka suamiku pergi dengan perempuan lain,” batinnya.


***


Terlihat Kailla masuk ke kantor KRD ditemani Bayu. Dia sengaja meminta Bayu ikut dengannya sampai ke ruangan Pram. Dia takut bertemu dengan Pieter.


“Lebih baik tidak mengetahui, dibanding seperti sekarang ini. Harus maen petak umpet dengan Pak Pieter,” gerutu Kailla.


“Tapi bisa saja aku pura-pura tidak tahu,” ucapnya lagi sambil masuk ke dalam lift.


Bayu yang melihat istri Bosnya komat kamit dengan dahi berkerut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tepat sampai di ruangan Pram, Bayu memilih kembali ke lobby. Ada Pram atau tidak di dalam, dia juga tidak bisa menemani istri Bosnya. Pram tidak mengizinkannya berada di dalam ruangan hanya berdua saja dengan Kailla.


“Non aku kembali ke lobby ya,” pamit Bayu.


“Iya Bay,” sahut Kailla sambil meraih gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Begitu masuk Kailla heran menatap ruangan Pram yang kosong, suaminya tidak ada di dalam. Padahal Pram sendiri yang memintanya datang membawa bekal makan siang. Mau bertanya pada sekretaris, wanita itu sedang tidak ada di tempat. Mungkin karena sedang jam makan siang juga.


Tampak Kailla mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Pram. Setelah beberapa kali mencoba, tidak ada satu pun panggilannya dijawab.


“Ya sudah, aku menunggu di sini saja,” ucap Kailla setelah mengirim pesan teks ke nomor suaminya. Terlihat di meletakkan lunch bag di atas meja kerja Pram.


Kailla memilih menunggu, sambil memainkan game di ponselnya sampai tertidur di sofa. Dia sudah terlelap, saat Pieter masuk ke ruangan Presdir.


“Aneh, dimana Pak Presdir? Bukannya rapat sudah selesai,” ucap Pieter pelan.


Baru saja dia akan menghubungi Pram, tapi matanya menangkap sosok cantik yang sedang terlelap.


“Kailla....” ucapnya pelan.


Pieter terpaku menatap Kailla sambil tersenyum.


“Cantik,” ucapnya lagi.


Entah memiliki keberanian dari mana, dia melupakan saat ini sedang berada di ruang atasannya. Dia melupakan sosok perempuan yang tertidur itu adalah istri teman baiknya. Dia melupakan logikanya dan memilih mengikuti perasaannya. Kakinya melangkah perlahan mendekati perempuan yang mencuri hatinya beberapa hari ini.


Dengan berjongkok, dia menatap Kailla yang tertidur dengan wajah polosnya. Dia masih ingat aroma perempuan yang memeluknya erat di ruang rapat. Kalau bisa meminta, dia ingin mengulangnya kembali.


Dia menyukai Kailla tepat pada saat pertama kali melihat perempuan itu muncul di tengah pintu. Otaknya masih mengingat jelas raut wajah Kailla saat itu. Awalnya dia berpikir, Kailla sama dengan perempuan lain yang biasa mengisi tempat tidurnya setiap malam. Tapi Pram memberinya kejutan, mengenalkannya sebagai putri pemilik RD Group.


Kailla bukan perempuan biasa. Pieter sempat mengubur rapat-rapat perasaannya. Tapi Kailla datang dengan cerita perjodohan dan ada banyak kisah yang tertangkap matanya. Kailla tidak mencintai Pram. Bahkan di akun media sosialnya tidak ada sosok Pram sama sekali.


***


Terimakasih.. Love You All