Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 39 : Kamu Dimana Sayang


Sesampai di rumah sakit segera Kailla bertanya ke bagian resepsionis. Sesuai dengan arahan, Kailla pun bisa menemukan ruangan Dona dengan mudah. Begitu masuk, terlihat Dona yang sedang tertidur ditemani Rika dan Dion.


“Rik, gimana keadaan Dona?” tanya Kailla.


“Kaki kirinya harus dioperasi, yang lainnya cuma luka lecet saja, Kai,” jelas Rika.


“Gimana ceritanya sampai bisa kayak gini?” tanya Kailla menghampiri Dona yang sedang tertidur.


“Cerita dari bapak-bapak yang nolongin tadi, Dona tuh mau nyebrang terus yang nabrak ini naik motor sambil terima telepon. Jadi gak konsen gitu, Kai.” Dion yang sedari tadi memilih diam, mencoba menjelaskan.


“Lagi apes banget si Dona. Terus kapan rencana operasinya?” tanya Kailla lagi.


“Besok siang, Kai. Ini aku juga bingung. Tadi tuh sudah dilakukan pemeriksaan sama dokter dan cek segala macem. Mana keluarganya gak ada yang bisa dihubungi,” jelas Rika. “Tadi aja pas ambil ruangan ini aku terpaksa deposit dulu. Gak tau besok gimana Kai?” sambung Rika lagi.


“Ya udah, aku ke kasir dulu deh. Aku selesain administrasinya dulu. Entar uang yang udah kamu deposit, aku balikin ya Rik” jelas Kailla.


Setelah mengurus administrasi, Kailla langsung menuju ruangan Dona. Tampak Rika bersandar di pundak Dion sambil memainkan ponselnya. Kailla memilih duduk di kursi samping tempat tidur Dona.


“Kai, kamu sudah makan? Mau dibelikan makanan gak?” tanya Dion menatap Kailla yang sedang memperhatikan Dona yang sedang terlelap.


“Nanti aja deh, Dion. Aku belum lapar,” tolak Kailla. Sebenarnya masih ada rasa canggung sejak dia tahu kalau Pram sempat menemui Dion dan menceritakan statusnya. Tapi tidak mungkin juga dia terus-terusan menghindar. Hampir setiap hari dia akan bertemu Dion apalagi mereka berempat berteman baik. Kailla berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa.


***


Sementara di tempat lain, Pram terlihat berjalan gontai keluar dari restoran, berbanding terbalik dengan Anita yang terlihat lega dan tenang. Pikiran Pram kacau begitu mendengar penuturan Anita barusan, seperti ada beban berat yang menghantam tubuhnya. Rasa bersalah yang ditanggungnya selama 17 tahun ini kian bertambah. Dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri yang saat itu adalah pribadi yang lemah dan tidak bisa mengambil keputusan tegas.


Sebelum memacu mobilnya menuju ke kantor dia mencoba menghubungi Stella, setelah beberapa kali mencoba menghubungi Kailla tapi tidak kunjung dijawab.


“Ste, Kailla sudah makan siang belum?” tanyanya begitu panggilan tersambung.


“Maaf Pak, Nyonya barusan pulang. tadi ada urusan mendadak katanya,” lapor Stella dari seberang telepon. Kadang dia sendiri suka tertawa geli setiap memanggil Kailla dengan sebutan Nyonya, karena terlalu sering menggoda gadis itu, jadi lidahnya sudah terbiasa.


“Kailla pulang dengan Sam atau dengan sopir kantor?” tanyanya lagi, sedikit khawatir.


“Dengan taksi, Pak.” Stella menjawab singkat.


Deg—


“Baiklah, Ste sepertinya aku tidak balik ke kantor lagi. Jadwal ulang semua kerjaanku untuk hari ini ya, tapi yang tidak bisa ditunda minta Dave menggantikanku,” titah Pram.


“Noted, Pak.”


Mungkin nasib dia jauh lebih beruntung dibandingkan teman-temannya yang lain. Dia bertemu dengan Pak Riadi secara tidak sengaja. Waktu itu Pak Riadi yang sedang kecopetan ditolong oleh Pram kecil. Pak Riadi yang pada saat itu belum memiliki anak sangat tertarik dengan Pram yang menurutnya anak yang pintar dan baik. Begitu mengetahui latar belakang Pram, dia pun menawari Pram untuk tinggal bersamanya. Memberinya pendidikan dan tempat tinggal yang layak. Dan Pak Riadi memperlakukannya seperti anak sendiri, dia disekolahkan di sekolah terbaik di Jakarta.


Terkadang Pram masih sering mengunjungi tempat masa kecilnya itu, walaupun sekarang tempat itu jauh lebih baik dibanding dulu ketika dia masih tinggal disana. Selain itu dia juga membantu menyekolahkan beberapa anak yang orang tuanya tidak mampu. Melihat anak-anak itu, Pram merasa sedang bercermin.


Pram menghabiskan hari ini dengan mentraktir anak-anak jalanan. Dia membawa puluhan bungkus makanan cepat saji, berikut cemilan-cemilanya. Melihat mereka yang berebutan dan tersenyum bahagia ada kepuasan sendiri dalam hati Pram.


“Om pulang dulu ya,” pamitnya ketika melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya menunjukan pukul 8.00 malam. Melihat senyum dan tawa anak-anak itu, perasaannya menjadi lebih baik. Dia memutuskan untuk kembali ke apartemen, setelah memastikan Anita tidak mengganggunya lagi.


Jalanan hari ini tidak terlalu padat sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Pram sampai ke apartemennya. Setelah selesai mandi dan menyantap makan malam, dia memutuskan mengecek beberapa pekerjaan yang dikirimkan David melalui email.


Ponsel yang bergetar di meja kerjanya membuyarkan konsentrasinya.


“Iya Dad,” jawab Pram setelah memastikan Pak Riadi yang telah menghubunginya.


“Pram, Kailla bersamamu? Aku menghubunginya berkali- kali tapi ponselnya tidak dijawab.” Ada nada khawatir dari suara Pak Riadi.


Deg— Dia melupakan Kailla. Terakhir Stella mengatakan kalau Kailla meninggalkan kantor dari tadi siang. Kalau sampai sekarang dia belum sampai di rumah, kemana perginya anak itu.


“I..iya Dad, Kailla bersamaku. Malam ini dia menginap di tempatku,” jawab Pram berbohong. “Kailla sudah tidur sepertinya Dad,” sambungnya lagi.


Segera dia menyambar kunci mobilnya berlari menuju lift, setelah memutuskan sambungan teleponnya. Jangan ditanya apa yang dirasakan Pram saat ini. Dia benar-benar khawatir, mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Kailla dan tidak ada satu pun yang dijawab.


“Ayo Kai, angkat teleponnya, jangan membuatku khawatir,” gumamnya. Memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, menembus jalan ibukota. Nafasnya naik turun karena dia berlari menuju parkiran mobilnya. Dia menggila setelah ponsel Kailla pada akhirnya tidak aktif setelah sekian puluh kali dia mencoba menghubunginya.


“Kai... Kai..Kai.., kamu dimana sayang? Dimana aku harus mencarimu.” Dia meremas rambutnya, memukul setir mobilnya berkali-kali. Pikirannnya buntu, dia memacu mobilnya tidak tentu arah. Mencoba menghubungi Stella, setelah ponsel Kailla tidak aktif lagi.


“Ste, Kailla bilang gak dia pergi kemana?” tanyanya begitu teleponnya tersambung.


“Tidak Pak, katanya dia ada urusan dan nanti langsung pulang ke rumah.”


“Kenapa tidak meminta sopir mengantarnya hah!!!” Teriak Pram di telepon.


“Maaf Pak.”


Tutsssss.... Pram memutuskan sambungan telepon tidak memberi kesempatan Stella menjelaskan. Dia benar-benar frustrasi sekarang.


***


Terimakasih..