Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bag 147 : Aku Mau Pulang


Pram mengajak Sam masuk ke ruang kerjanya kembali, menjauh dari Bayu dan Bu Ida. Dia tidak mau pembicaraannya dan Sam di dengar orang lain.


“Apa yang terjadi?” tanya Pram masih berusaha bersikap tenang menghadapi Sam. Karena bagaimanapun, Sam adalah orangnya Kailla, menyakiti Sam sama saja dengan menyakiti istrinya.


“Ma..maaf Pak, tadi Non Kailla menanyakan tentang Pak Riadi. Saya tidak tahu kalau Non Kailla belum mengetahuinya. Setelah itu Non Kailla menangis dan....”


“Sam..Sam..Sam!” potong Pram geram, berusaha menahan emosinya, tangannya terkepal di dalam kantong celananya.


“Bukannya kamu tahu bagaiamana hubungan Kailla dan daddynya. Kalau kamu mengatakannya, kamu tahu kan bagaimana hancurnya istriku,” jelas Pram, meremas rambutnya. Kesal melihat Sam.


“Lain kali, sebelum bicara, dipikir lagi!!” omel Pram, mengetuk telunjuk ke pelipisnya berkali-kali. Meminta Sam berpikir ulang setiap mengatakan sesuatu kepada Kailla.


Pram menghela nafas kasar. “Kamu urusi Kailla, minta dia membuka pintu kamarnya!” perintah Pram.


“Tapi Pak....,” ucap Sam ragu.


“Istriku sudah tidak mau bicara denganku saat ini. Kamu urusi majikanmu sekarang!” titah Pram.


“Baik Pak.”


“Aku tidak mau tahu, aku harus bisa masuk ke dalam kamar menemui istriku!” perintah Pram, terlihat dia membuka laci meja kerjanya, mengambil kunci cadangan dan mengantonginya.


“Sam benar-benar tidak punya otak! Baru dua hari aku bisa tidur di kamar, sekarang terancam harus tidur di luar lagi!” umpat Pram dalam hati.


Sam ikut menghela nafas, mencuri pandang pada Pram yang sedang berdiri di samping meja kerjanya. Pram tampak kesal, raut wajahnya tidak bersahabat saat ini. Dengan langkah gontai, Sam keluar dari ruang kerja Pram. Tidak mau berlama-lama, takut kena semprotan lagi majikannya itu.


***


“Non..., ini aku Sam,” panggil Sam, mengetuk pintu kamar Kailla.


“Buka pintunya Non. Pak Pram mau masuk ke kamar!” ucap Sam, masih berusaha membujuk.


Hening.


“Ayo Non, buka pintunya dong. Pak Pram akan menendangku sekarang. Masa Non tega kalau aku jadi gelandangan di sini,” bujuk Sam.


“Sam!” teriak Pram yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dengan berkacak pinggang.


“Jangan sembarangan bicara! Aku bisa benar-benar ditendang Kailla karena ucapanmu!” ucap Pram kesal mendengar kata-kata Sam. Dia mau memukul asisten istrinya saja harus berpikir dua kali. Tapi Sam malah berbicara seenaknya di depan Kailla.


“Tinggalkan aku. Kerjaanmu cuma menambah masalahku saja!” omel Pram.


“Kai, ayo buka pintunya Sayang. Aku tetap bisa masuk sekarang, aku punya anak kuncinya Kai,” jelas Pram lagi, mengeluarkan anak kunci dari kantong celananya.


“Kai..., aku masuk sekarang ya.” Pram meminta izin terlebih dulu. Dia tidak mau membuat amarah Kailla semakin menjadi saat tahu dia mencuri masuk saat istrinya itu tidak mengizinkannya.


Ceklek! Kailla membuka pintu dari dalam.


Pram tersenyum, mendorong pintu itu perlahan.


Dia melihat Kailla sedang duduk di sisi ranjang, memegang boneka kesayangannya dengan wajah sembab. Bahkan masih ada sisa-sisa air mata di pipinya.


“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram berpura-pura tidak tahu saat sudah berdiri di hadapan Kailla.


“Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!” usir Kailla, melempar bantal yang tersusun rapi di dekatnya ke arah Pram.


Pram terdiam di tempatnya berdiri, tidak terpengaruh dengan bantal-bantal yang berterbangan membentur tubuhnya.


“Kai, maafkan aku,” ucapnya setelah Kailla menyelesaikan lemparannya.


“Aku tidak mau melihatmu. Aku membencimu!” teriak Kailla sambil menangis.


“Sayang.., maafkan aku.” Pram berjongkok di depan Kailla.


“Aku sengaja tidak memberitahumu. Aku takut kamu khawatir,” jelas Pram menggengam tangan Kailla.


“Aku mau pulang sekarang!” pinta Kailla sambil menatap tajam ke arah Pram.


“Sayang, daddy sudah baik-baik saja,” ucap Pram.


Kailla masih saja menatap Pram sinis, air matanya terus menerus turun tanpa henti.


“Jangan menangis lagi, jangan marah lagi,” ucap Pram, jari-jari tangan itu sedang menghapus air mata yang turun deras di pipi Kailla.


“Tidak bisa sekarang Sayang. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Lalu kita pulang,” janji Pram.


“Aku tidak menginginkan semua ini. Aku tidak butuh uangmu, aku tidak butuh perusahaanmu, aku tidak butuh hartamu. Aku hanya butuh daddy. Aku hanya mau bersama daddy. Ayo kita pulang,” rengek Kailla.


“Beri aku waktu sedikit lagi, aku janji tidak lama,” pinta Pram.


“Aku tidak bisa menunggu, daddy membutuhkanku sekarang. Aku mohon, izinkan aku pulang bersama Sam,” mohon Kailla.


“Tidak bisa Kai, aku tidak bisa mengizinkanmu. Jangan begini, kamu sedang hamil sekarang,” tolak Pram.


Isak tangis itu kembali terdengar, setelah penolakan Pram.


“Kamu hanya memikirkan anakmu saja, tapi tidak pernah memikirkan perasaanku dan daddy,” ucap Kailla.


Pram menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu, aku mengkhawatirkan kalian semua,” jelas Pram.


“Daddy membutuhkanku sekarang. Aku mohon, aku mau pulang,” pinta Kailla sekali lagi.


“Daddy sendirian disana. Aku tahu rasanya seperti apa. Setiap hari, daddy pasti menungguku pulang,” lanjut Kailla.


“Iya...., aku tahu. Tapi aku masih ada pekerjaan, aku janji kita pulang secepatnya. Aku akan memastikan daddy di sana baik-baik saja.” Pram menenangkan istrinya.


“Daddy pasti kesepian. Mungkin dia tidak bisa bicara, dia tidak bisa mengatakannya. Tapi dia pasti merindukanku. Aku mohon izinkan aku pulang,” rengek Kailla. Air matanya mengucur semakin deras.


“Iya, nanti kita pulang....” Pram tidak bisa berkata-kata.


“Ayo, kita masih punya waktu untuk mencari semua ini. Tapi tidak dengan daddy. Aku tidak mau menyesal. Aku mau menghabiskan waktuku dengan daddy di sisa usianya. Hanya daddy yang aku miliki di dunia ini. Dan daddy juga hanya memilikiku,” isaknya lagi.


Pram menggelengkan kepalanya.


“Ada aku. Kalian masih memilikiku. Aku akan menjagamu dan daddy,” ucap Pram.


“Jangan menangis lagi. Kita akan pulang secepatnya, kita akan menjaga daddy bersama-sama,”lanjut Pram lagi. Berdiri dan membawa Kailla ke dalam pelukannya.


“Iya..,” ucap Kailla pelan. Kedua tangannya sedang memeluk erat pinggang Pram.


“Sudah, jangan menangis lagi,” ucap Pram mengecup pucuk kepala Kailla yang masih duduk di ranjang.


“Kita makan sekarang!” ajak Pram sembari melepas jas, melemparnya asal ke atas ranjang.


***


Pram sedang termenung di ruang kerjanya, memikirkan permintaan Kailla. Mungkin mereka belum bisa kembali dalam waktu dekat. Tapi dia sudah harus mempersiapkannya mulai dari sekarang.


Kalau kondisi kantor sudah memungkinkan, dia akan segera menyerahkannya pada Pieter. Tidak perlu menunggu terlalu lama, sesuai dengan rencana awal. Istrinya sudah tidak bisa menunggu selama itu. Pram menghela nafasnya, sebelum menandatangani surat pengangkatan Pieter sebagai pimpinan yang baru, menggantikannya di KRD.


Dia tidak tahu sampai kapan sanggup menahan rengekan Kailla, makanya dia harus mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau memang dia sudah tidak sanggup membujuk istrinya, dia harus meninggalkan Wina saat itu juga.


Tampak Pram menyimpan berkas itu di dalam laci mejanya sambil tersenyum.


“Pada akhirnya, tetap saja aku harus mengalah pada anak nakal itu!”


***


Pram masuk ke kamar tidurnya, menatap Kailla yang sudah terlelap.




“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Pram pelan setelah mengecup kening Kailla.


“Aku akan mengorbankan apapun untukmu, asal itu bisa membuatmu bahagia,” bisik Pram pelan.


“Maafkan aku, aku tidak bisa melepaskanmu pulang sendirian. Apalagi sekarang kamu hamil, aku harus menjagamu dengan tanganku sendiri. Kapan kamu akan mengerti Kai, musuh Riadi mengintai nyawamu setiap saat.”


***


Terimakasih dukungannya.