
Kailla yang mendengar percakapan keduanya jadi berpikir sendiri. Dia juga tidak memeriksa pakaian apa saja yang dimasukkan untuk suaminya ke dalam koper. Kemarin dia hanya mengambil tumpukan pakaian Pram, tidak memeriksanya satu per satu.
Kailla masuk ke dalam kamar Pram diikuti Bayu yang menyeret kopernya.
“Non, aku letakkan disini,” ucap Bayu, menunjuk ke arah koper yang didirikannya di samping pintu kamar.
“Iya Bay.” Kailla menjawab singkat. Pandangannya sekarang tertuju pada suaminya yang masih terlelap bersembunyi di balik selimut tebal.
“Pantesan.. ponselnya habis baterei,” ucap Kailla pelan, melihat ponsel Pram yang masih bersandar di tempatnya semula sebelum dia tertidur. Kailla ingat, mereka video call-an sampai terlelap semalam.
“Sayang... Sayang..,” panggil Kailla, menguncang tubuh polos Pram.
“Hmmmm,” gumam Pram, menggeliat sebentar.
“Sayang....,” panggil Kailla lagi, saat melihat Pram kembali tidur.
Melihat Pram yang masih betah dengan mimpinya, Kailla terpaksa menggunakan cara lain untuk membangunkannya.
“Aku akan memberinya kejutan,” ucap Kailla tersenyum usil. Di sudah melepas kaos putih dan celana jeans berikut dalamannya. Melempar semuanya asal ke sofa.
“Hmmmm,” gumam Kailla tersenyum licik, setelah membuat dirinya sendiri polos, tanpa sehelai benang pun yang tersisa.
Baru saja dia akan menyusup masuk ke balik selimut, tapi otaknya kembali bekerja.
“Jangan...jangan! Dia sudah terbiasa melihatku seperti ini. Tidak akan terkejut lagi,” ucap Kailla pelan.
Segera dia berlari ke arah kopernya, membuka dan membongkar semua isi koper hingga berantakan dan bercerai-berai di atas lantai hanya demi lingerie merah transparan yang dibelinya kemarin. Kailla memakainya dengan buru-buru sambil menatap dirinya sendiri di cermin.
“Ini lebih memalukan dibanding tidak memakai apa-apa,” ucapnya menggelengkan kepala, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
“Sudah seperti wanita panggilan!” ucapnya, kesal melihat dirinya sendiri dengan tampilan aneh. Seumur-umur belum pernah dilakukannya.
Setelah puas menatap, dia kembali berlari mendekati Pram. Naik ke atas ranjang, sambil tersenyum. Tapi baru saja dia akan menyusup masuk ke dalam selimut, terlintas ide gila lagi di dalam otaknya.
“Aku akan mengerjainya saja,” ucap Kailla, seringai licik itu tercetak jelas di wajahnya.
Buru-buru dia mencari peralatan make-up nya, memoles wajah polosnya dengan dandanan tebal dan sedikit menor. Dandanan yang membuatnya sampai tidak bisa dikenali dirinya sendiri. Bahkan dia sendiri kaget melihat wajahnya di cermin.
“Apakah ini Kailla Riadi Dirgantara!” ucap Kailla tersenyum, menutup mulut supaya suaranya tidak terdengar keluar.
Dia sengaja menggunakan lipstik berwarna merah menyala. Warna yang tidak pernah dipakainya seumur hidup. Setelah merasa dandanannya cukup meyakinkan, kembali dia mendekati Pram. Membuang selimut yang menutup tubuh suaminya yang nyaris telanjang. Dengan perlahan dia naik ke atas ranjang, berbaring menempel di tubuh Pram.
“Aku harus hati-hati, jangan sampai dia terbangun. Bisa gagal rencanaku. Bukan mengerjainya, tapi dia yang akan mengerjaiku,” ucap Kailla pelan.
Terlihat Kailla mengambil foto mereka berdua dengan kamera ponselnya, dengan berbagai pose nakal dan menantang. Dia sengaja membuat Pram terlihat seperti laki-laki nakal dengan meletakkan tangan suaminya itu di daerah-daerah sensitif tubuhnya.
Setelah selesai dan memastikan hasil foto-foto itu sempurna. Memastikan wajahnya tidak terlalu jelas dan mudah dikenali, Kailla langsung meraih kembali pakaian yang tadi dikenakannya.
“Biarkan saja lingerie ini di dalam.” Kailla berkata, sambil mengenakan kaosnya kembali, menutup lingerie merah transparan yang masih dipakainya.
Setelah menghapus kembali dandanan menornya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Kailla mendekati Pram. Mengguncang tubuh suaminya dengan kasar, sambil pura-pura menangis.
“Hiks..hiks..., Sayang...!” panggilnya lumayan keras di telinga Pram. Sontak membuat suaminya itu terkejut.
Melihat Pram yang mulai terbangun dan sedang mengumpulkan kesadarannya, Kailla pun bersiap dengan dramanya. Drama mendadak yang baru dirancangnya beberapa menit yang lalu.
“Hiks... hiks.... hiksss..... kamu jahat!” isak Kailla, sambil memukul dada Pram yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
Suaminya itu masih belum sepenuhnya sadar. Pram meremas rambutnya sendiri untuk menghilangkan pusing akibat dibangunkan secara paksa.
“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram setelah mendapati Kailla sudah berada di kamarnya. Sedang duduk di lantai sambil menangis pilu.
“Hiks... hiks.. hikss!” isak Kailla, dengan bersusah payah dia harus memaksa keluar air matanya.
“Kamu jahat! Ternyata kamu tidak mengizinkanku ikut ke Bali karena kamu ingin bersenang-senang dengan wanitamu!” omel Kailla, dengan air mata yang mengalir terus-menerus. Tangisan pilu itu kembali keluar dari bibir tipisnya.
“Hah!?! Apa maksudmu Sayang?” tanya Pram bingung. Segera turun dari ranjang dan mendekati istrinya yang terlihat menyedihkan. Kailla sedang menangis sampai tubuh mungilnya bergetar hebat. Pram membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya, berusaha menenangkannya.
Istrinya hanya diam, menangis terus-terusan. Tanpa mau menjelaskan apa pun padanya.
Pandangan Pram tertuju pada koper yang isinya berantakan di dekat pintu.
“Kamu kemalingan?” tanya Pram heran melihat isi koper yang tercerai berai.
Kailla menggeleng.
“Lalu kenapa menangis? Ada yang menyakitimu?” tanya Pram lagi, menangkup wajah Kailla yang basah karena air mata. Menghapus jejak air mata yang mengalir deras di pipi cantik istrinya.
Kailla mengangguk kali ini. Menatap Pram dengan suara tangis semakin kencang.
“Siapa yang menyakitimu. Katakan padaku, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri,” ucap Pram berusaha menenangkan istrinya.
“Jangan menangis lagi, katakan padaku apa yang terjadi?” tanya Pram memeluk Kailla kembali, mengusap lembut punggung istrinya. Berusah menenangkan Kailla.
Sebentar, aku mau mengenakan pakaianku dulu,” pinta Pram setelah melihat Kailla sedikit tenang.
Dia berjalan ke arah koper, mencari pakaian miliknya yang dibawa Kailla dari Jakarta.
“Mana pakaianku Kai?” tanya Pram heran, tidak mendapati satu pun pakaian miliknya tersusun di dalam sana. Dia mencari kembali di tumpukan yang sudah tercerai berai di luar koper. Matanya terbelalak, melihat baju-bajunya yang sudah tidak terpakai dibawa Kailla ke Bali.
“Kai, kamu salah membawa pakaian. Pakaian apa yang kamu bawakan untukku ini,” ucap Pram, kembali menatap istrinya yang masih duduk di lantai.
“Hah?!” Kailla terbelalak, tangannya menunjuk ke arah koper.
“Di sana bukannya pakaianmu. Aku mengambilnya dari lemari pakaianmu,” sahut Kailla, berlari mendekati Pram.
“Ini kan yang sudah tidak pernah dipakai. Aku sudah meminta Bu Sari memindahkannya ke gudang,” jelas Pram.
“Sewaktu pindah rumah kemarin, sepertinya Donny dan David salah memasukkan ke dalam lemari, seharusnya baju-baju ini sudah berada di dalam gudang.” lanjut Pram sudah tertunduk lemas, meraih sebuah kaos yang sedikit kekecilan dan terpaksa memakainya.
“Celananya mana Kai?” tanya Pram lagi. Setelah mencari tidak ada satupun celana bahkan celana dalam yang dibawa Kailla.
“Maaf, aku.. aku.. hanya membawa setumpuk di lemari itu saja. Aku lupa mengeceknya satu persatu,” jelas Kailla menunduk. Dia memang hanya mengurus dan mengecek kebutuhannya saja, tidak pernah memikirkan kebutuhan Pram sama sekali. Sebelum menikah, Bu Ida selalu mengurus semua kebutuhan Pram, setelah menikah pun tetap sama.
Selama ini Kailla benar-benar dimanja semua orang, bahkan untuk kebutuhannya sendiri, Kailla dibantu asistennya. Dia tidak pernah pusing dengan pakaian kotornya atau kamarnya yang berantakan. Ada Bu Sari yang selalu membantunya. Bahkan sekarang Pram mempekerjakan keduanya, Bu Sari dan Bu Ida untuk melayani mereka di rumahnya yang baru.
Bahkan dia tidak pernah membuka lemari pakaian Pram, tidak pernah menyiapkan semua pakaian Pram. Semua dilakukan Bu Ida dan Bu Sari. Setiap hari tugasnya hanya memasangkan dasi untuk suaminya saja. Selebihnya Pram melakukannya sendiri.
“Hahaha....” Pram tertawa mendengar jawaban Kailla. Seharusnya dia sudah tahu bagaimana istrinya. Segera dia meraih celana panjang yang kemarin di pakainya seharian. Mau tidak mau, dia harus mengenakannya kembali.
“Kemarilah!” Pram mendekap istri kecilnya yang sedang menunduk ketakutan padanya.
“Mulai hari ini, aku mau kamu yang menyiapkan semua kebutuhanku. Dari bangun tidur sampai tidur malam,” pinta Pram.
“Aku mau kamu yang melakukan semuanya untukku Sayang,” pinta Pram lagi. Tersenyum menunggu istrinya mengangguk.
“Menyiapkan pakaianku setiap hari, menyiapkan sarapan ku setiap pagi. Aku mau kamu yang melakukannya untukku. Hanya untukku, tidak untuk pekerjaan lain. Kamu mengerti?” tanya Pram.
“Iya aku mengerti, maafkan aku. Lalu kamu bagaimana sekarang?” tanya Kailla, menyesal karena kelalaiannya.
“Tidak apa-apa. Aku akan meminta Bayu membelinya untukku,” sahut Pram tersenyum, mengecup bibir istrinya.
“Lalu kenapa tadi istri kecilku menangis?” tanya Pram tiba-tiba.
****
Terimakasih
Love you all
Mohon like komennya ya