
Pram keluar dari kamar mandi masih dengan handuk terlilit di pinggang. Matanya terbelalak saat melihat Kailla masih berbalut batrobe dengan pose yang menggugah selera.
“Kai, jangan menggodaku lagi!” gerutu Pram, menatap Kailla yang sedang duduk di ranjang dengan pose menantangnya. Bahu sedikit terbuka, membuat Pram menelan ludah.
“Cih! Siapa juga yang menggodamu,” sahut Kailla, tidak kalah sengitnya.
“Aku sedang mengoles sunblock, Sayang,” lanjut Kailla. Kedua tangannya sedang mengusap lembut tangan dan kaki dengan cream supaya kulit putihnya tidak menghitam saat terkena sengatan matahari.
“Hah! Kamu mau ke mana?” tanya Pram heran.
“Jalan-jalan, Sayang. Aku ada janji dengan Sam sebentar lagi,” sahut Kailla, memamerkan senyumnya.
“Memang kamu mau ke mana?” tanya Pram lagi, penasaran.
“Sam akan mengajakku ke pantai,” jawab Kailla singkat, padat dan jelas.
Kailla dan Sam sudah saling berkirim pesan sewaktu Pram di kamar mandi. Sam bercerita tentang pantai di dekat hotel yang sering dikunjunginya sejak kemarin karena ditinggal sendirian oleh Pram sepanjang hari.
Saat mendengar cerita Sam, banyak laki-laki tampan bak aktor korea bertelanjang dada di pinggir pantai, Kailla langsung menggila. Ia berencana mengajak Sam pergi berdua saja. Membawa Pram hanya akan mengganggu kesenangannya. Suaminya tidak akan membiarkannya bebas memandang vitamin untuk matanya yang sudah terlalu lama hanya disuguhkan pemandangan Pram seorang.
“Tidak! Kamu tidak akan ke mana-mana,” ucap Pram tidak mengizinkan Kailla pergi. Ia bukan tidak tahu bagaimana kelakuan istrinya di luar sana, saat tidak bersamanya.
Namun, belum selesai Pram mengemukakan alasannya, Kailla sudah berjalan menuju koper dan mengeluarkan pakaiannya.
“Jangan sampai tergoda, ya! Aku sudah tidak sanggup lagi melayanimu pagi ini,” ucap Kailla usil, mengarahkan telunjuknya pada sang suami.
Dengan gesit ia sudah melepas bathrobe dan menggantinya dengan pakaian santai, membuat mata Pram membulat. Hampir seluruh tubuh Kailla memerah karena ulahnya. Ia tersenyum, melihat mahakarya yang sudah diciptakan dengan penuh cinta pada sang istri.
Namun, senyum di wajah Pram hilang, saat Kailla sudah selesai berpakaian dan berjalan menuju meja riasnya. Dengan cekatan, istrinya menutup tanda kemerahan di lehernya dengan sapuan alas bedak bercampur bedak. Dalam sekejap tanda kepemilikan yang dibuatnya hilang dari pandangan mata.
“Apa yang kamu kenakan itu, Kai? Lepas!” protes Pram saat melihat istrinya yang sudah rapi, hanya mengenakan celana super pendek dengan atasan kemeja putih tipis. Kailla sudah siap meninggalkannya yang masih telanjang menunggu Bayu mengantar pakaian.
“Ini buat jalan-jalan ke pantai, Sayang. Aku tahu kamu tidak akan mengizinkanku memakai bikini. Jadi aku menyembunyikannya di balik ini semua,” sahut Kailla dengan santai.
“Kancing kemejanya sampai ke atas!” perintah Pram, saat melihat Kailla mengancing asal atasannya, memamerkan pundak polos berhias tali bra hitamnya.
“Tidak! Ini fashion, Sayang,” tolak Kailla, membuat kepala Pram bertambah pusing.
“Aku pergi ya, Sayang. Jaga kamar kita baik-baik, ya. Aku pasti kembali. Aku janji nanti malam kamu bisa memilikiku sepuasnya. Tapi kali ini ... aku mau jalan-jalan berdua dengan Sam saja,” pamit Kailla, mengecup bibir Pram sekilas.
“Kai, kamu mau ke mana? Katakan padaku, aku janji tidak melarangmu,” tanya Pram, menahan tangan istrinya.
“Cuci mata, Sayang,” jawab Kailla mengedipkan matanya sambil melepas belitan handuk di pinggang Pram.
“Kai ...." panggil Pram, tanpa sengaja melepas cekalan tangannya karena ulah Kailla yang melepas handuk di pinggangnya.
Belum selesai Pram berkomentar, Kailla sudah meraih kacamata sambil berlari keluar kamar mencari Sam sang asisten. Tanpa pamit, tanpa pesan bahkan tanpa menoleh lagi pada suaminya yang terus-terusan memanggil namanya.
“Kailla, mau ke mana kamu, Sayang?” tanya Pram setengah berteriak, saat ia tidak bisa menghentikan langkah istri nakalnya itu. Tidak terdengar lagi jawaban dari istrinya. Pram ditinggal Kailla saat lagi sayang-sayangnya.
“Br*ngsek!! Bayu lama sekali,” gerutu Pram, yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan Kailla. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah menunggu Bayu membawakannya pakaian dan menyusul Kailla.
Tak lama Bayu pun datang menemui Pram, membawa kantong belanjaan berisi pakaian. Pram langsung merebut kantong belanjaan, dengan buru-buru ia mengenakannya.
“Bay, di mana Sam?” tanya Pram.
“Tadi katanya mau menemani Non Kailla jalan-jalan ke pantai sekitar hotel.
“Ikut aku!” perintah Pram, sambil meraih ponsel di atas nakas.
Pram berusaha menghubungi Kailla, tetapi tidak ada satupun panggilannya yang diterima sang istri.
“Br*ngsek! Kemana Sam membawa istriku!” gerutu Pram, sambil mengedarkan pandangannya.
Tampak banyak gadis cantik dan laki-laki tampan dengan berbagai rupa dan warna berkeliaran di sekitar mereka.
Melihat pemandangan itu, hati Pram semakin ketar-ketir.
“Pantas saja, istriku kabur dariku dan memilih jalan berdua dengan Sam. Pasti ada yang tidak beres,” lanjut Pram lagi.
“Hubungi Sam, minta share lokasi!” perintah Pram, tanpa memandang ke arah Bayu yang mengekor di belakang.
Tak lama, Sam pun membalas dan mengirim lokasi tempat ia dan Kailla sekarang berada.
“Ini, Bos!” sahut Bayu, menyodorkan ponselnya pada Pram.
“Antar aku ke sana!” titah Pram.
***
Kailla dan Sam sedang berdiri di pinggir pantai menatap para gadis cantik dan laki-laki tampan yang sedang berlalu lalang di hadapan mereka.
“Sam, cowok yang itu tampan sekali.” Kailla berkata sambil menggigit kuku tangannya karena terlalu senang. Sam mengajaknya cuci mata, melihat banyak pria tampan dan gagah dengan berbagai tampilan.
“Yang mana, Non?” tanya Sam, mengedarkan pandangannya. Ia khawatir Pram menyusul mereka. Baru saja ia mengirim lokasi mereka pada Bayu.
“Biasa saja, Non!” jawab Sam. Mata Sam berbanding terbalik dengan Kailla. Sedari tadi dia sibuk menatap gadis-gadis cantik dengan pakaian minim bahan yang berkeliaran di depan mata mereka. Bahkan tidak sedikit yang hanya mengenakan bikini, membuat air liur Sam menetes.
“Apanya yang biasa. Itu tampan, Sam!” gerutu Kailla. Ia sedang menangkup wajah dengan kedua tangannya. Menatap laki-laki berwajah Asia yang sejak tadi menggoda hatinya.
“Ma ...sih lebih tam ... pan Pak Pram,” sahut Sam dengan ragu, saat melihat Pram tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Tepat di belakang Kailla sambil meminta Sam menutup mulutnya.
“Apa-apaan, Sam!” gerutu Kailla.
“Jangan menyebut nama suamiku di sini, mood- ku hancur seketika!” lanjut Kailla lagi.
“Ya Tuhan, Sam Benar-benar tampan! Dipeluk pasti empuk sekali, Sam,” ucap Kailla sambil tergelak. Ia sudah geregetan sedari tadi melihat laki-laki yang ketampanannya di atas rata, setara dengan aktor Korea idolanya.
“Non, Pak Pram......” Sam tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Pram sudah melotot dan mendorongnya berdiri bersebelahan dengan Kailla.
Sejak tadi, Pram sudah meminta Sam untuk diam, tidak perlu bersuara. Ia ingin mendengar apa yang dibahas istrinya dengan Sam, saat ia tidak ada.
“Aduh! Jangan membahas laki-laki tua itu di sini!” omel Kailla menatap Sam yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
“Aku sedang tidak ingin mengingatnya dulu. Mataku butuh pencerahan sekarang, Sam,” jelas Kailla.
Ia sengaja kabur dari Pram demi bisa menikmati ini semua, tetapi sebaliknya Sam mengingatkannya pada sang suami terus-menerus.
“Yang mana Non si tampan yang kamu maksud?” tanya Pram tiba-tiba, sudah membelit pinggang Kailla dengan erat dari belakang.
“Hah...!” Mulut Kailla langsung ternganga, tidak bisa berkata-kata. Ia terkejut, berbalik dan menatap Pram yang sedang menunggu jawabannya.
“Tamat riwayatmu Kai!” batin Kailla.
“Suamiku yang paling tampan,” ucap Kailla mengalihkan pembicaraan. Berusaha memberikan senyum terindah untuk sang suami supaya tidak memarahinya.
“Benarkah? Laki-laki tua ini lebih tampan?” tanya Pram, menyindir istrinya.
“Ya, Sayang,” ucap Kailla, mengernyit.
Kailla menunduk, mencuri pandang pada Sam yang berdiri di sampingnya.
“Sam ... tolong aku,” ucap Kailla tanpa suara. Hanya menggerakan bibirnya saja.
Sam mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng pertanda ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sam, tolong tinggalkan kami. Aku harus memberi pelajaran pada anak nakal ini!” perintah Pram, menepuk pucuk kepala istrinya.
“Jadi kamu kabur dariku demi melihat laki-laki lain. Nakal!” gerutu Pram, saat Sam sudah meninggalkan mereka.
Pram sedang merapikan kemeja Kailla yang melorot, tidak membiarkan pundak mulus istrinya terekspos.
“Aku sebenarnya juga tidak mau melihatnya, Sayang. Tapi terlihat oleh mataku. Aku bisa apa,” sahut Kailla ragu.
“Tapi tetap kamu yang terbaik,” lanjut Kailla, membawa tangan Pram menyusup masuk ke dalam kemejanya. Membiarkan Pram menyentuh langsung perut ratanya. Mengingatkan suaminya untuk tidak memarahinya, karena ada bayi mereka tumbuh di sana.
“Licik kamu, Sayang,” gerutu Pram, mengecup pundak Kailla. Tangannya sudah merambat naik ke atas, mengusap gundukan favoritnya.
“Sayang, jangan disini,” protes Kailla. Setelah merasa kejahilan tangan Pram yang sudah meremas sesuatu di balik kemejanya.
“Kamu yang mengundang tanganku masuk. Kenapa sekarang jadi protes?” ucap Pram, tersenyum usil.
“Sayang ... besok aku harus ke rumah sakit. Aku akan melakukan tes darah,” cerita Pram, berbohong. Baru saja orangnya memberitahu, kalau Ibu Citra bersedia melakukan tes DNA walaupun dia sedikit kecewa dengan sikap Pram yang tidak percaya dan menghargainya.
Sejak pulang dari rumah Ibu Citra, tidak sekali pun Pram menghubungi. Bahkan untuk meminta melakukan tes DNA, Pram menyuruh Kinar dan orang suruhannya yang mengurus semuanya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Kailla heran.
“Kepalaku pusing dan aku sudah ke rumah sakit kemarin. Dokter memintaku melakukan tes darah untuk memastikan penyakit apa yang menyerangku,” jawab Pram berbohong.
Berdasarkan informasi dari orang suruhannya, tes DNA bisa saja tidak dengan mengambil sampel darah, tetapi untuk hasil yang lebih baik dan lebih cepat disarankan menggunakan darah.
“Aku boleh ikut denganmu?” tanya Kailla tiba-tiba.
“Boleh. Aku juga tidak akan membiarkanmu berkeliaran lagi tanpa pengawasanku,” sahut Pram menyindir istrinya.
***
Next :
Pram terkejut saat di lobby rumah sakit, dari arah pintu masuk tampak Ibu Citra dan Kinar yang sedang berjalan masuk.
“Bukannya aku minta diatur jadwal supaya tidak bertemu dengannya di rumah sakit,” ucap Pram dalam hati.
Pram menatap Kailla yang sedang berdiri di sampingnya. Dia tidak mau Ibu Citra bertemu dengan istrinya.
To be continue.