
Pram kembali ke dalam mobil, tetapi tidak mendapati istrinya.
“Kai, kamu dimana?” panggil Pram heran. Istrinya tidak ada di dalam mobil.
“Non Kailla disana!” jawab Bayu sambil menunjuk ke arah Kailla yang sedang berjongkok di semak-semak.
“Kai ... Sayang ... kamu kenapa?” tanya Pram mendekati istrinya yang sedang mengeluarkan semua isi perutnya. Hanya cairan berbusa.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Pram lagi, mengusap tengkuk Kailla.
“Ya, kepalaku pusing. Aku mau tidur saja,” sahut Kailla.
“Sayang, bantu aku berdiri,” pinta Kailla, ia sudah tidak sanggup berdiri sendiri. Tubuhnya lemas, pandangannya pun berkunang-kunang.
Pram merengkuh tubuh istrinya yang sudah tidak bertenaga, melemas di dalam pelukannya. Bahkan di dalam mobil, Kailla hanya memeluk erat Pram, tanpa berdaya.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Pram kesekian kalinya.
“Hmmm,” gumam Kailla menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
“Kenapa aroma alkoholnya menyengat sekali,” ucap Pram pelan.
“Sayang, mereka tidak menyakitimu, kan?” tanya Pram, saat melihat luka kecil di pelipis Kailla.
“Hmmm.” Kailla bergumam kembali.
“Kita ke rumah sakit?” tawar Pram lagi, memeluk erat tubuh Kailla.
Kailla hanya menggeleng.
“Aku hanya ingin memelukmu. Tubuhku sakit semua, semalaman tidur di lantai,” adu Kailla.
“Sayang, maafkan aku.” Hati Pram seperti teriris saat mendengar istrinya yang hanya tidur di lantai semalaman.
“Mereka menyakitimu?” tanya Pram lagi, memastikan. Ia tidak terlalu yakin dengan jawaban Kailla. Melihat kondisi Kailla yang mengenaskan saat ini, ia tidak percaya kalau semuanya baik-baik saja.
“Tidak, mereka tidak menyakitiku,” sahut Kailla masih memejamkan matanya.
“Mereka tidak memukulmu?” tanya Pram lagi, berusaha mengintrogasi istrinya.
“Tidak Sayang. Bisakah bertanyanya nanti saja. Aku mengantuk, kepalaku pusing,” pinta Kailla.
Ketika mobil mereka sampai di rumah, Kailla masih terlelap. Pram memilih menggendongnya turun, membawa istrinya ke kamar.
“Bu Ida, bantu aku siapkan air panas dan handuk,” perintah Pram saat melintas di ruang tamu sambil menggendong Kailla.
“Siap Pak,” sahut Bu Ida, mengekor sambil membawa baskom dan handuk kering.
Perlahan, Pram menurunkan tubuh Kailla di atas ranjang empuknya. Tak lama, Bu Ida masuk ke kamar, menyiapkan air panas dari kamar mandi kemudian meletakkannya di atas nakas. Pandangannya tertuju pada Kailla yang tergolek dengan tubuh dan pakaian kotornya.
“Pak, mau dibantu?” tanya Bu Ida, berdiri di belakang Pram yang sedang melepas jam tangan di pergelangan istrinya.
“Ibu boleh keluar,” perintah Pram. Pandangan tidak beralih sedikit pun dari wajah istrinya.
Tangannya dengan cekatan melucuti satu-per satu pakaian istrinya, hingga tidak tersisa. Mengusap pelan tubuh kotor Kailla dengan handuk basah.
“Kai, maafkan aku.” Pram berbisik lirih, melihat beberapa lebam di tangan dan kaki Kailla.
“Aku akan membuat perhitungan dengannya, Sayang. Aku bersumpah padamu,” ucap Pram, tangannya sedang mengusap perut rata istrinya.
“Anak Daddy baik-baik saja, kan? Maafkan Daddy ... tidak bisa menjaga kalian,” ucap Pram pelan, mengecup perut rata itu sambil menahan tangis.
Setelah mengganti pakaian Kailla, Pram turun ke bawah. Meminta Bu Sari menyiapkan makanan untuk istrinya.
***
Kailla terbangun saat hari menjelang sore. Matanya mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya terbuka sempurna. Tampak Pram sedang berbaring di atas sofa kamar dengan tangan terlipat di dada.
“Sayang ....” panggil Kailla, pelan. Perutnya sudah terasa lapar. Ia menatap makanan yang sudah dingin di atas meja.
Melihat Pram yang masih terlelap, Kailla memilih tidak mengganggunya. Berjalan pelan keluar kamar, mencari Bu Sari supaya menyiapkan makanan hangat untuknya.
“Bu, aku lapar ....” ucap Kailla, saat sudah duduk di meja makan.
“Baik, Non. Ibu masak sup ayam. Sebentar Ibu panaskan,” sahut wanita paruh baya itu tersenyum.
“Terima kasih, Bu. Apa suamiku sudah makan?” tanya Kailla, sembari menyuapkan sup ayam dengan potongan wortel itu ke dalam mulutnya.
“Belum, Non. Pak Pram cuma keluar sebentar tadi siang, habis itu seharian di dalam kamar,” cerita Bu Sari.
“Siapkan makanan untuknya, Bu. Tolong bawakan ke kamar,” pinta Kailla, berusaha menghabiskan semangkuk sup ayam itu secepatnya. Kemudian segera menyusul ke kamar. Pram menjaganya seharian, pria itu juga pasti kelelahan dan kelaparan.
Kembali ke kamar, Kailla mendapati suaminya masih terlelap.
“Non, ibu letakkan di atas meja, ya. Makanan yang dingin, Ibu bawa turun,” ucap Bu Sari, tersenyum menatap Kailla yang sedang berlutut di samping sofa. Ibu hamil itu menatap Pram yang sedang tertidur lelap. Suara dengkurannya masih bisa terdengar jelas. Menandakan seberapa lelah sang suami saat ini.
“Sayang ... bangun!” panggil Kailla, mengguncang pelan tubuh Pram.
“Hmmmm,” gumam Pram, membuka mata dan tersenyum menatap wajah Kailla yang terlihat lebih segar dibanding sebelumnya.
“Kai, kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Pram, mengusap wajahnya. Berusaha bangun dan duduk di sofa putih kamarnya.
“Ayo makan!” ajak Kailla, ikut duduk di sebelah Pram.
“Aku suapi?” tawar Kailla, sudah meraih semangkuk sup ayam.
“Boleh ....” jawab Pram.
“Sebentar, masih panas,” ucap Kailla sambil menyendokkan sup ayam dan meniupnya perlahan.
“Aakk ....” Kailla sudah menyuapkan sesendok sup lengkap dengan potongan wortel dan kentang itu ke dalam mulut suaminya.
“Kamu sudah makan?” tanya Pram, merengkuh tubuh Kailla supaya mendekat padanya.
“Sudah, Sayang. Tadi barusan makan di bawah,” jawab Kailla.
“Kai, apa yang terjadi? Mereka tidak menyakitimu, kan?” tanya Pram lagi, memastikan. Ia sudah ingin bertanya sejak pagi, tetapi kondisi Kailla belum sepenuhnya sadar.
Kailla menggeleng.
“Aku baik-baik saja, Sayang,” sahut Kailla tersenyum. Kembali menyuapkan sup ayam ke dalam mulut Pram.
“Kemarilah! Aku mencintaimu, Nyonya,” ucap Pram sambil tersenyum.
“Aku juga mencintaimu,” sahut Kailla tersenyum.
***
Tengah malam, Kailla terbangun dari tidurnya. Perasaannya tidak enak, tubuh bagian bawahnya terasa basah. Aneh dan tidak biasanya. Selain itu perutnya terasa tidak enak. Padahal sewaktu tidur tadi malam, semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan.
Ia baru saja berencana memeriksanya ke kamar mandi, tetapi begitu bangkit dari tidurnya, ia kaget sendiri menatap bercak darah di sprei sutra putihnya.
Deg—
“Apa yang terjadi?” tanyanya, mulai panik. Berlari ke kamar mandi untuk memeriksanya langsung. Begitu berhasil melepas piyama tidurnya, ia mendapati darah mengalir dari pangkal paha menuju ke betis.
“Sayang!” panggilnya pada Pram sambil bergetar. Tubuhnya mulai gemetaran. Ia pernah mengalami pendarahan sewaktu di Austria, tetapi itu hanya bercak darah di pakaian dalam saja. Saat ini darahnya mengalir deras. Sebagian sudah mengotori lantai kamar mandi.
“SAYANG!” teriaknya memanggil Pram dan mulai menangis.
Menunggu beberapa saat, Pram tak kunjung datang. Ia menggapai tisu di atas wastafel, membersihkannya sambil gemetaran ketakutan.
“Sa ... e ... e ... Sa ... yang,” panggil Kailla pelan, hampir tidak memiliki tenaga lagi.
Tangannya sudah berlumuran darah. Tadi, ia berusaha menahan darah yang turun dengan tisu toilet, tetapi darah merembes keluar dan mengotori tangannya.
“Sa ... yang.” Kailla terisak pelan, sudah tidak bertenaga lagi walau hanya sekedar mengeluarkan suara.
Dengan sisa tenaga Kailla menghampiri Pram, memanggil suaminya hanya dengan sebuah goncangan. Suaranya sudah tidak bisa keluar lagi. Perasaannya campur aduk.
****
Tbc
Terima kasih.
Love You all.