Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 191. Jangan Terlalu Mencintaiku


Di dalam mobil, Kailla tidak kalah penasarannya dibanding dengan dua orang wanita yang ditinggal Pram di rumah sakit.


“Sayang, mereka siapa?” tanya Kailla, bersandar manja di pundak Pram.


“Hm ... Ibu dan perempuan tadi?” tanya Pram, berpura-pura memastikan lagi. Pram menyusupkan jemarinya pada jari jemari lentik Kailla, saling menggengam erat.


“Ya, Sayang, Tante tua dan Tante muda yang di rumah sakit itu,” sahut Kailla, menengadahkan kepalanya. Menatap Pram sambil terus bersandar di dada bidang suaminya itu.


“Hm ... bagaimana aku menceritakan tentang mereka padamu, ya. Untuk saat ini yang aku tahu, wanita tua itu bernama Citra Wijaya. Dulu, perusahaannya pernah bekerja sama dengan perusahaan kita,” jelas Pram, merengkuh tubuh istrinya supaya menempel lebih erat padanya.


“Kalau tante yang satu lagi?” tanya Kailla.


“Haha ... kamu memanggilnya Tante juga?” tanya Pram, kembali tertawa.


“He em ... yang jelas dia lebih tua dariku,” jelas Kailla.


“Aku tidak mengenalnya. Tidak penting untukku. Saat ini yang terpenting dalam hidupku cuma kamu dan anak kita,” jawab Pram, mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali.


“Aku tidak suka padanya, Sayang,’ ucap Kailla dengan manjanya.


“Kenapa?” tanya Pram heran.


“Oh ... aku mengerti. Istriku tidak pernah menyukai perempuan manapun. Apalagi yang suka mengganggu miliknya. Bukan begitu?” lanjut Pram, tersenyum.


“He-em,” gumam Kailla mengerucutkan bibirnya.


“Tatapannya seperti singa betina yang sedang kelaparan!” gerutu Kailla.


“Jangan khawatir, aku tidak tertarik dengan perempuan biasa-biasa saja. Standarku tinggi Nyonya,” jelas Pram, menenangkan Kailla.


“Yakin?” tanya Kailla.


“Yakin sekali. Aku katakan padamu, perempuan itu bisa dinilai dari tatapan matanya. Hanya laki-laki bodoh yang bisa terjebak dengan perempuan seperti itu,” jelas Pram, menyombongkan dirinya sendiri.


“Cih! Dulu saja terjebak dengan Tante Anita,” ucap Kailla pelan.


“Hahaha. Kalau itu bukan aku yang bodoh. Tapi dia yang bodoh ...." ucap Pram. Terlihat ia menghela napas, sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Sebenarnya aku bersalah padanya. Sangat bersalah pada Anita dan keluarga besarnya. Aku ... yang membuatnya seperti sekarang. Jadi aku sarankan untukmu, Nyonya ... jangan terlalu mencintaiku, kalau tidak mau menjadi gila seperti Anita saat aku pergi,” lanjut Pram, tersenyum.


“Jangan terlalu mencintaiku, Nyonya. Cukup aku saja yang gila karena terlalu mencintaimu,” ucap Pram lagi.


“Apa kamu akan meninggalkanku juga?” tanya Kailla, mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Pram.


“Tidak. Selagi aku masih bernapas, aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi napasku yang menentukannya bukan aku sendiri,” ucap Pram tersenyum.


“Ah ... jangan membuatku takut,” rengek Kailla, langsung memeluk erat suaminya.


“Saat itu pasti datang, Sayang. Entah kamu atau aku. Dan kita harus bersiap untuk menghadapi perpisahan itu kapan pun Tuhan memintanya,” jelas Pram.


“Makanya tidak boleh terlalu mencintaiku,” jelas Pram lagi dengan santainya. Berbanding terbalik dengan Kailla saat ini.


Kailla menangis, menatap sedih pada Pram.


“Kalau aku sudah berumur 40 tahun berarti kamu akan seumuran Daddy sekarang,” ucap Kailla, tampak berpikir.


“Ya, lalu kenapa?”


“Apakah aku boleh memberi penawaran pada Tuhan. Aku akan memberi jatah hidupku di dunia untukmu sepuluh tahun. Aku tidak masalah kalau jatah hidupku di dunia akan berkurang sepuluh tahun,” ucap Kailla dengan polosnya, masih saja menitikkan air mata.


“Haha ... bisa begitu, kah?” tanya Pram tertawa mendengar ucapan Kailla.


“Kalau bisa dan kalau memang kamu harus pergi duluan meninggalkanku,” sahut Kailla menunduk.


“Begitu mencintaiku, kah?” tanya Pram, mengangkat dagu Kailla.


“Ya ...."jawab Kailla, mengangguk dengan wajah sembab karena menangis.


“Aku juga mencintaimu. Mencintai kalian. Begitu sampai di Jakarta, kita menjenguk adik bayi,” ucap Pram, mengelus perut rata Kailla.


“Kenapa masih rata saja?” tanya Pram, heran.


“Aku sudah tidak sabar membelikanmu daster hamil,” lanjut Pram, terkekeh. Membayangkan Kailla yang berjalan dengan perut membuncit sambil membuat banyak kegilaan seperti biasanya.


“Aku sudah tidak sabar melihatnya, Sayang,” ucap Pram, tersenyum.


Apakah dia setampan diriku atau senakal dirimu?”


“Apakah dia sepintar diriku atau seceroboh dirimu?”


“Apakah dia sesabar diriku atau segila dirimu?” ucap Pram, sedari tadi menggoda istrinya yang cemberut.


“Huh! Kenapa kalau yang mirip denganmu selalu sifat yang baik-baik. Kenapa yang mirip denganku selalu yang jelek-jelek,” ucap Kailla kesal.


“Kalau mau anakmu menurunkan sifat baikmu, belajar menjadi lebih baik mulai dari sekarang,” ucap Pram menempelkan keningnya di kening Kailla.


“Hah!"


“Anak akan meniru semua yang dilakukan orang tuanya. Kalau kamu ingin anakmu menjadi anak yang baik, kamu juga harus berubah. Kamu tidak mau anakmu menjadi senakal dirimu, kan?” tanya Pram.


“Saat kamu mengirimnya belajar ke sekolah, dia malah membuat masalah dan hampir setiap hari kamu harus menemui guru karena ulah nakalnya di sekolah. Saat kamu menyuruhnya tidur, dia malah mencuri coklat dan mengotori sepraimu,” ucap Pram, bersiap menerima pukulan Kailla karena kata-katanya.


“Hah! Kamu menyindirku?” tanya Kailla kesal.


“Aku hanya ingin berbagi pengalaman tentang apa yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu, saat harus menghadapi kenakalan istriku sendiri,” jelas Pram tertawa.


Sebentar lagi, kamu akan merasakannya, Sayang,” ucap Pram lagi.


“Ah!” gerutu Kailla.


“Aku tidak akan mengurus langsung anak kita nantinya, seperti aku mengurusmu dulu. Aku akan menyerahkan sepenuhnya padamu. Kamu yang harus mengantarnya ke sekolah, harus mengurus semua keperluannya, harus mengajarinya mengerjakan pekerjaan rumah. Aku hanya akan mendampingimu. Aku tidak akan mengganggu wilayah teritorialmu,” ucap Pram menjelaskan.


“Kalau mereka bertengkar di sekolah ... bagaimana?” tanya Kailla heran.


“Kamu yang harus mengurusnya di sekolah. Tapi kalau mereka jadi anak-anak pintar, juara kelas, aku akan datang ke sekolah untuk menerima ucapan selamat dari guru-gurunya. Hahahaha!” Pram terbahak.


“Itu tidak adil! Kenapa giliran anak kita nakal kamu melepas semua tanggung jawab padaku. Tapi saat mereka jadi anak yang baik, kenapa malah kamu yang berdiri paling depan.” Kailla menggerutu sendiri.


“Kita akan merawat anak kita bersama-sama. Mohon kerjasamanya Nyonya,” ucap Pram, tersenyum.


****


Setelah menyelesaikan liburannya, Pram kembali ke kantor seperti biasanya. Sebentar lagi, ia dan Kailla akan ke dokter untuk memeriksa kandungan Kailla yang sudah hampir jalan dua belas minggu.


Pram sudah sangat merindukan bayinya, merindukan bunyi detak jantung yang menggetarkan hidupnya. Walaupun ia tidak paham apa yang tergambar di monitor, tetapi hatinya menghangat setiap kali melihat foto hitam putih itu.


“Sayang,” panggil Kailla, tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya.


“Kamu sudah datang, Sayang?” tanya Pram, mengalihkan pandangannya dari berkas yang menumpuk di atas meja. Istrinya hari ini tampak cantik dengan dress berwarna peach selutut. Rambut yang digerai dengan polesan make-up tipis.


“Cium aku sekarang,” pinta Pram, masih duduk di kursi kerjanya.


“Kenapa manja sekali,” ucap Kailla, bergegas menghampiri Pram.


“Tapi janji, jangan meluma*t bibirku. Lipstikku nanti berantakan,” pinta Kailla dengan manjanya.


“Iya, aku hanya ingin merasakan lipstik barumu,”jawab Pram tersenyum.


Cup! Sekilas, singkat dan ringan.


“Ini namanya menempel Sayang, bukan mencium,” keluh Pram, kesal.


“Nanti malam saja! Kamu bisa menikmati bibirku sepuasmu. Ayo berangkat sekarang,” ajak Kailla, sudah menarik tangan Pram.


***


Terimakasih.


Detik-detik menuju ending ya.


Terimakasih untuk dukungannya selama ini.


Love You All