Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 37 : Anita








“Kenapa?” tanya Pram begitu melihat gadis disebelahnya mengerucutkan bibirnya menatap foto-foto di ponsel. Wajah Kailla terlihat cemberut dan berkali-kali dia menyentuh layar ponselnya, menariknya ke atas dan kebawah.


“Kamu tidak menyukainya?” tanyanya lagi.


“Entahlah. Aku terlihat begitu menyedihkan disini?” ungkap Kailla menatap lekat layar ponsel.


“Bagiku tetap cantik, lagi pula itu kan masih perlu diedit, Kai,” sahut Pram sekilas melirik gadisnya. “Kita langsung ke kantor ya, masih ada berkas-berkas yang harus ku tandatangani,” sambungnya lagi. Pram memilih fokus menyetir, meladeni kekesalan Kailla tidak akan pernah ada habisnya.


Kailla mengangguk, setelah menyimpan ponsel ke dalam tasnya. Dia menyandarkan kepalanya di kursi mobil menatap jalanan ibukota yang siang ini lumayan tersendat. Cuaca siang itu lumayan panas, sinar matahari menembus dari jendela mobil membuat Kailla harus menutup wajahnya setiap terkena sengatannya.


“Kenapa? tidak nyamankah?” tanya Pram tiba-tiba.


Kailla hanya mengangguk. Menatap sekilas ke arah laki-laki disampingnya.


“Oh ya, setelah menikah kamu bisa memilih salah satu mobilku untuk dipakai ke kampus,” ujar Pram membuat Kailla bingung dan heran. “Atau kamu mau mobil baru?” tanya Pram.


“Mobilku kan masih bagus Om.” Kailla menolak halus. “Lagian itu hadiah ulang tahun dari daddy, aku tidak akan menggantinya dengan mobil apapun.” lanjutnya lagi.


Pram tersenyum, “Tidak masalah, setelah menikah kamu adalah tanggung jawabku. Sudah menjadi kewajibanku memenuhi semua kebutuhan dan memastikan kenyamananmu, Kai.”


“Oh ya Kai, aku sudah minta Ste mengatur janji dengan dokter SpOG, kita akan konsultasikan kontrasepsi yang cocok untukmu,” jelas Pram.


“Ha!” Kailla kaget. Dia menegakkan duduknya dan menatap Pram yang masih fokus menyetir.


“Apakah harus?” Gumamnya pelan tapi masih bisa didengar Pram. Dia sendiri masih belum begitu paham untuk masalah beginian.


“Tidak harus sih. Kalau kamu mau langsung hamil, tentu aku tidak keberatan,”


“Tidak.. tidak. Aku mau menyelesaikan kuliahku, aku belum mau hamil dulu,” tegas Kailla. Membayangkan harus hamil dan melahirkan ada sedikit rasa takut.


“Tidak perlu dipikirkan, kuliah yang benar. Selesaikan secepatnya, aku akan menunggumu,” jelas Pram menenangkan Kailla yang terlihat khawatir.


Tak lama mobil Pram masuk pelataran gedung RD Group. Terlihat dia menggandeng Kailla masuk ke dalam gedung, menggengam erat tangan gadisnya. Sungguh pasangan yang serasi, itulah komentar orang-orang begitu melihat mereka. Sesekali Pram terlihat tersenyum menatap Kailla. Pemandangan yang sangat langka untuk para karyawan RD Group bisa melihat Presdir mereka tersenyum.


Begitu melewati meja sang sekretaris. Stella buru-buru berdiri sambil memperbaiki rok pendeknya yang sedikit terangkat.


“Siang Pak, di dalam ada Bu Anita ditemani Pak David. Beliau memaksa menunggu Bapak di dalam,” lapor Stella.


Pram mengernyit, “ Baiklah, aku akan menemuinya.”


Begitu Pram mendorong pintu ruangannya, terdengar suara Anita yang menyapanya.


“Pram........” sapa Anita sambil berdiri hendak menghampiri Pram yang baru masuk menggandeng Kailla di belakangnya. Tadinya dia berencana memeluk Pram, tapi langkahnya terhenti.


Deg—


Mata Anita terpaku menatap pada sosok yang tadinya tertutup tubuh kekar Pram.


“Ada apa ya An?” tanya Pram berusaha sopan.


Melihat Kailla yang berdiri di belakang Pram, dia mengurungkan niatnya. Tadinya dia ingin mengajak Pram makan siang sekaligus meminta maaf untuk kejadian semalam di apartemen Pram.


“Tidak Pram, tadinya aku ingin mengajakmu makan siang, tapi sepertinya kamu sedang sibuk,” jawab Anita. Dia melihat sekilas tangan Pram yang menggenggam erat tangan Kailla. Ada cemburu yang menyergap hatinya seketika. Walau dia membenci Pram, disuguhi pemandangan seperti itu hatinya seperti tercubit. Dulu dia pernah ada di posisi gadis itu, menjadi wanita yang satu-satunya dilindungi Pram.


Pram membawa Kailla untuk duduk di kursi kerjanya, kemudian dia bergabung dengan David dan Anita. Dia mencoba bersikap profesional di depan Anita.


“Ada apa ya, An?” tanya Pram begitu sudah duduk di sofa tepat di depan Anita.


“A..aku ingin meminta maaf soal semalam,” jawab Anita ragu, dia melirik sekilas ke arah Kailla yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kata-katanya barusan. Gadis itu malah sibuk dengan ponselnya.


Melihat Anita yang sedikit canggung, David tahu kalau yang akan dibicarakan mengenai masalah pribadi. Dia bermaksud berpamitan, tapi ditahan oleh Pram yang memintanya untuk tetap duduk dan ikut menyimak.


“Baiklah, tidak masalah An. Aku sudah melupakannya,” ujar Pram menatap Anita lekat-lekat. Dia sedikit heran dengan perubahan sikap Anita yang tiba-tiba. Jauh berbeda dengan semalam waktu di apartemennya.


“Pram, kamu tidak mau mengenalkanku pada tunanganmu?” tanya Anita menatap ke arah Kailla.


Pram terkekeh menanggapi pertanyaan Anita. Dia ikut menatap Kailla. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan kehadiran Anita di ruangan itu.


“Bukannya di perayaan ulang tahun perusahaan kamu sudah memperkenalkan dirimu sendiri, An,” sindir Pram. Tapi tetap saja dia meminta Kailla untuk ikut bergabung.


“Kai, kemarilah sayang,” panggil Pram sambil menepuk sofa kosong disebelahnya. Mendengar Pram memanggilnya segera Kailla menghampiri. Dia menurut saja seperti anak kecil yang patuh.


“Mungkin kamu sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya, kenalkan teman kuliahku, Anita.”


Kailla tersenyum, mengulurkan tangannya yang disambut oleh Anita. “Apa kabar?” sapa Kailla.


“Baik,” jawab Anita singkat memandang gadis di depannya.


“Gadis ini cantik juga, harus ku akui Pram beruntung mendapatkannya.”


“Tadinya aku ingin, mengundang Pram makan siang, tapi sepertinya dia sedang sibuk. Maaf, jadi mengganggu kalian,”jelas Anita


“Oh, kalau memang begitu, aku tidak apa-apa menunggu disini, Om,” ucap Kailla seketika mengejutkan Pram.


“Benarkah?” tanya Anita memastikan.


“Tidak apa-apa kalau Om mau makan siang, aku akan menunggu disini atau meminta Sam menjemputku nanti.” ujar Kailla dengan polosnya. Dia sama sekali tidak berpikir wanita seperti apa yang sedang ada di hadapannya.


“Baiklah, ayo Pram. Ada banyak hal yang mau aku bicarakan,” putus Anita sambil berdiri. “Cantik, aku pinjam tunanganmu ya,” lanjutnya lagi sambil tersenyum.


“Kai….” Dia masih tidak menyangka kalau Kailla akan mengizinkannya pergi dengan Anita. “Kamu ikut ya?” pintanya memohon, mengenggam tangan gadis itu.


Kailla menggeleng, “Aku disini saja Om, takut mengganggu.”


“Kai...., “ mohonnya sekali lagi.


“Aku disini saja sama David,” tolak Kailla sambil melirik David yang dari tadi hanya diam.


Pram sudah tidak bisa menolak lagi, terpaksa dia mengikuti Anita dengan langkah gontai.


“Kai, aku hanya pergi sebentar. Kamu jangan kemana-mana, minta Stella menemanimu. Aku tidak percaya dengan David, hehehe.., “ pamit Pram mengecup kening Kailla.


***


Terimakasih untuk dukungannya. Jika berkenan mohon bantuannya rate, like dan komen ya. thanks a lot.