Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 67 : Ketukan Di Pintu


Di dalam kamar, di sebuah rumah sakit jiwa. Samar -samar alunan lagu dari Anji Drive yang diputar berulang-ulang. Semakin di dengar, akan semakin mengiris hati. Apalagi ketika mengintip dari jendela kecil di dekat pintu, tampak seorang wanita cantik yang meneteskan air matanya sambil memainkan rambut panjangnya. Sesekali dia ikut bersenandung mengikuti alunan lagu itu.


Wanita itu jarang bicara, seharian hanya duduk diam menatap foto-foto lama yang terhampar di ranjangnya. Kalau beruntung, bisa melihat dia tersenyum sekilas menatap foto-foto itu.


Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati


dari kamu yang belum juga kembali


Ada satu keyakinan yang membuatku bertahan


Penantian ini kan terbayar pasti


Lihat aku Sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat slalu sayang, hatiku kau genggam


Aku tak kan pergi menunggu kamu disini


Tetap disini


Jika bukan kepadamu


aku tidak tahu lagi


Pada siapa rindu ini kan ku beri


Pada siapa rindu ini kan ku beri






Dia tidak mengingat apa-apa dan tidak bisa mengingat siapa-siapa. Tidak mengingat ibunya atau adiknya bahkan dirinya sendiri. Satu-satu yang diingat hanya lelaki yang ada di fotonya. “Rey” begitulah bibirnya mengucap nama lelaki itu.


Dia bisa berlama-lama menatap foto itu tanpa berkedip. Tapi ekspresinya akan berubah-ubah, terkadang dia tersenyum, seketika dia akan menangis tanpa suara. Tangannya selalu menggengam sepucuk surat lusuh, sebagian tulisannya pun sudah pudar karena air mata. Lipatan kertasnya juga sudah hampir rusak karena dimakan waktu.


16 Maret 2003


Yang tercinta Anita,


Maafkan aku...


Tidak usah menungguku, An. Aku tidak akan datang untuk menikahimu. Terimakasih untuk 3 tahun ini. Aku mungkin pengecut, tapi aku tidak bisa menentang orang yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Orang yang berjasa di dalam hidupku. Disaat orangtuaku saja bahkan membuangku, dia dengan tulus hati menerimaku.


Aku mencintaimu, An. Aku tahu ini menyakitkan karena aku juga merasakan sakit yang sama. Setelah hari ini, tidak akan pernah ada Rey lagi didunia ini. Jangan mencariku An. Aku bukan orang yang pantas kamu perjuangkan


Sampaikan maafku pada kedua orangtuamu.


Dari yang mencintaimu, Reynaldi Pratama.


***


Anita dibawa adiknya ke rumah sakit saat tidak sadarkan diri di pelataran hotel. Tapi begitu sadar dia langsung mengamuk dan melukai siapa saja yang mendekatinya. Hanya meneriakan nama Rey saja. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, dokter menyarankan untuk sementara dirawat di rumah sakit jiwa sampai kondisinya stabil. Tapi herannya begitu mendengar alunan lagu kesukaanya, dia menjadi tenang berbanding terbalik saat sebelum dirawat disini.


Terlihat wanita tua memangku rantang makanan duduk di kursi roda. Dia hanya bisa menatap putrinya dari jauh, menitikkan air matanya.


“Bu, ayo kita pulang,” ajak sang anak laki-laki yang mendorong kursi roda.


“Sebentar lagi, ibu masih merindukan kakakmu.” sahut sang ibu. Tampak dia mengusap air mata yang menetes di pipi keriputnya.


Ya Tuhan, kalau bisa meminta, aku bersedia mengganti sisa hidupku untuk kesembuhan putri ku. Kalau bisa memiliki kuasa, aku pasti akan memberikan kebahagiaan seperti yang diimpikannya.


Tapi cinta tidak bisa dipaksa, kalau memang bukan miliknya sampai kapanpun tidak akan kembali padanya.


Mungkin dia pernah singgah, tapi bukan kamu pemilik seharusnya,Nak. Ibu sudah melihatnya sendiri, bahkan sisa-sisa cinta itu sudah tidak pernah ada lagi di matanya.


***


Pram sedang menunggu Kailla keluar dari kamar mandi, hari ini mereka akan kembali ke Jakarta. Setelah dua hari harus tertahan di Bandung demi penyelidikan kasus pelecehan dan penculikan yang dialami Kailla. Pram benar-benar mengirim laki-laki itu ke penjara.


Pram tersenyum, dia mengingat bagaimana perjuangannya meluluhkan hati Kailla yang masih mempermasalahkan fotonya dan Anita di hotel.


Flashback On


“Aku melihatnya sendiri, Om. Bagaimana itu bisa dibilang jebakan.” Kailla menatap sinis pada Pram. “Aku tidak percaya. Aku bukannya tidak mengenal bagaimana suamiku.” lanjutnya lagi.


“Memang suamimu seperti apa?” Pram balik bertanya sambil tersenyum menatap Kailla yang sedang marah padanya.


“Su.. suamiku itu..” Kailla tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menatap Pram bingung.


“Kamu menyebalkan! Pergi sana, jangan menyentuhku!” Kailla mendorong Pram setelah melihat laki-laki itu sedang menertawakannya.


“Kamu tidak memanggilku Om?” tanya Pram pura-pura heran dan berpikir.


Bukk! Bukk! Bukk!


Lagi-lagi Pram mendapatkan pukulan dari bantal guling bertubi-tubi.


“Jangan menyentuhku! Tubuhmu itu sudah tidak steril lagi, ada jejak wanita lain disitu. Aku tidak mau! Menjijikan!” Kailla bergidik memandang Pram dari atas ke bawah.


“Katakan saja kamu cemburu, Kai!” sergah Pram masih berusaha memeluk istrinya. Senyum tidak lepas dari bibirnya. Melihat raut wajah Kailla saat ini, benar-benar seperti candu tersendiri baginya.


“Aku? Cemburu?” tanya Kailla mengarahkan jari telunjuk ke dadanya. Matanya melotot menatap Pram.


Ayolah Kai! Kalau kamu cemburu, aku tidak keberatan membuat foto yang sama denganmu sekarang.” Pram terkekeh kali ini. Dia sudah berdiri, membuka kancing kemejanya satu persatu menampilkan dada bidangnya.


“Ayo Kai! Lepaskan jaketmu itu!” titah Pram. Terlihat dia menghubungi Bayu untuk segera ke kamarnya.


“Om .. om mau apa? Kenapa memanggil orang kesini?” tanya Kailla bingung.


“Kita butuh orang untuk memotretnya Kai!” Pram lagi-lagi tergelak melihat ekspresi Kailla.


“No! Big No!” potong Kailla menyilangkan kedua tangannya.


“Apa perlu memakai juru foto yang sama seperti yang di pakai Anita. Aku masih menyimpan nomor ponselnya. Sebentar ya.” Tampak Pram menghubungi seseorang dan menyalakan speaker ponselnya.


“Iya Pak.” sapa seorang laki-laki di seberang telepon. Dia adalah room boy yang dipaksa Anita mengambil foto mereka tempo hari. Dari hasil penyelidikan Bayu, dia akhirnya bisa mendapatkan nomor ponsel dan menanyakan langsung kejadian yang sebenarnya.


“Selamat siang, saya Reynaldi Pratama. Orang yang kamu ambil fotonya bersama dengan seorang wanita di sebuah kamar di hotel tempatmu bekerja. Ingat kan?” tanya Pram.


“Iya.. iya, ingat Pak.”


“Baguslah! Istri saya sudah melihat foto hasil karyamu. Dan dia tertarik untuk membuat foto yang sama.” jelas Pram serius. “Tapi kamu tahu sendiri, saya sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri waktu itu, bagaimana saya bisa menceritakan proses pengambilan fotonya.” lanjut Pram lagi.


“Iya Pak.”


“Nah, silahkan kamu jelaskan bagaimana proses pengambilan fotonya. Sepertinya dia sangat tertarik sekali. Mudah-mudahan kerjasama kita ini sukses, saya akan membayar mahal kalau istriku berminat.” jelas Pram menahan tawanya.


“Ba..baik Pak.”


“Bicaralah! Istriku mendengarkanmu sekarang.” perintah Pram.


Kailla yang sedari tadi melotot menatap Pram terpaksa harus mendengarkan penjelasan panjang lebar sang room boy. Setelah memutuskan sambungan teleponnya, dia langsung menghampiri Pram.


“Apa maksud Om? Memalukan sekali! Aku tidak pernah mengatakan mau difoto seperti itu juga!” ucap Kailla memukul dada bidang Pram yang polos karena kancing kemejanya sudah terbuka semua. Secepat kilat, Pram menangkap kedua tangan mungil yang memukulnya sedari tadi.


“Jangan marah lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah mengkhianatimu Kai.” ucap Pram lembut.


“Tidak!” Kailla masih menggelengkan kepalanya. Tanpa diduga Pram sudah mengangkat tubuh Kailla dan membantingnya di atas ranjang. Tanpa membuang-buang waktu, segera dia mengunci tubuh mungil itu dengan tubuh kekarnya.


“Please..,” mohon Pram lagi dengan wajah memelas, setelah berhasil menindih tubuh kecil yang tak berdaya di bawahnya. Tanpa menunggu jawaban dari Kailla, dia sudah menghujani seluruh wajah cantik istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.


Cup!cup!cup!


Waktu berhenti seketika, saat mata mereka beradu tatap. Ada sebuah anggukan kecil dan senyuman di wajah Kailla menandakan maaf itu sudah didapatkan Pram.


“Aku mencintaimu, Kai.” Perlahan dia mengecup bibir tipis Kailla yang sedari tadi mengodanya. Kecupan manis itu lama-lama berubah menjadi ******n yang lebih menuntut. Meskipun Kailla tidak menyambutnya, setidaknya istrinya tidak menolak semua perlakuannya. Otaknya langsung berpikir cepat, dia harus berpacu dengan waktu sebelum Kailla tersadar dan mendorong tubuhnya seperti yang sudah-sudah.


Pram mengalihkan kecupannya di leher jenjang Kailla, berharap bisa mendengar suara merdu mendesah milik Kailla. Tangannya pun tidak tinggal diam, sudah bergerilya kemana mana. Senyum terkembang di bibirnya saat mendengar desahan pertama Kailla, tapi kebahagiaan Pram tidak bertahan lama. Suara ketukan di pintu kamar menghancurkan semua kerja keras dan perjuangannya sedari tadi.


Tok..Tok..Tok..


3 ketukan pertama, Pram masih bisa bernafas lega, istrinya masih di awan. Tapi 3 ketukan selanjutnya, Kailla langsung tersadar.


“Om ada yang mengetuk pintu!” ucap Kailla segera bangkit, membuat Pram menghentikan segala aktivitasnya.


“Kamar sebelah Kai. Bukan kamar kita!”sahut Pram segera menidurkan Kailla kembali. Sebenarnya Pram tahu, itu pasti Bayu. Tadi dia meminta Bayu membawakan baju ganti untuknya dan Kailla. Tapi dia masih berharap seorang mata-mata seperti Bayu cukup pintar, kalau pintu kamar tidak dibuka, dia harusnya tahu diri kalau penghuninya sedang tidak ingin diganggu.


Tok..Tok..Tok..


“Kamar kita Om!” ucap Kailla begitu mendengar ketukan kembali. “Ayo dilihat!” perintah Kailla.


“Shitt!!” Pram terpaksa bangun dan membuka pintu. Wajahnya tampak kesal.


Ceklek!


“Ini Bos!” Bayu menyodorkan paperbag ke hadapan Pram.


Flashback off.


***


Terimakasih dukungannya. Love you all.