
2 hari kemudian.
Kai, aku harus berangkat ke kantor sekarang,” ucap Pram masih bertelanjang dada saat keluar dari kamar mandi. Terlihat dia buru-buru mengenakan kemejanya.
“Kai, kamu belum bangun?” panggil Pram lagi. Melihat Kailla yang masih betah menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut. Pram berdecak kesal melihat istrinya yang akhir-akhir ini susah sekali dibangunkan.
“Kai..., “ Pram kembali mengulang panggilannya dengan lebih keras setelah dilihat Kailla masih belum bergerak sama sekali. Dengan sekali sentak saja, dia berhasil menarik selimut yang menutup tubuh istrinya itu. Seketika menampilkan pemandangan indah untuknya, istrinya sedang memeluk erat gulingnya tanpa busana.
“Ah.... Sayang!” teriak Kailla. Dia sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Hanya saja dia masih betah bermalas-malasan menikmati aroma bantalnya.
“Huh..!” dengus Kailla kesal. Dengan terpaksa dia harus bangun dan meraih pakaiannya yang berserakan di bawah ranjang. Pram tersenyum melihat Kailla yang sedang kesal padanya.
Belakangan Kailla sudah tidak malu-malu lagi padanya. Biasanya istrinya itu akan segera mengamankan dirinya di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang, Kailla sudah lebih terbiasa dengannya.
“Kai, nanti sore mau dijemput atau berangkat dengan Bayu?” tanya Pram menatap Kailla yang sedang sibuk mengenakan bra-nya.
“Aku bisa berangkat dengan Bayu,” sahut Kailla, yang saat ini sedang berdiri memunggungi Pram.
“Sayang, tolong bantu kaitkan,” pinta Kailla menunjuk ke arah kaitan bra yang belum terpasang sempurna di punggungnya.
“Haha...., biasanya siapa yang membantumu mengaitkannya?” tanya Pram, tangannya langsung meraih kaitan bra itu dengan lancar. Selama sebulan ini, tangannya sudah terlatih dengan benda berenda milik Kailla. Bahkan dia sudah hafal dengan berbagai model yang dikoleksi Kailla. Berbeda saat awal menikah, dia sering mengumpat setiap malam.
“Biasa kalau tidak Bu Ida ya Bayu.Hahaha...!” sahut Kailla sambil tertawa.
“Kamu.....!” Pram melotot menatap Kailla. “Sini kamu!” ucap Pram sambil mengunci perut Kailla dari belakang.
“Hahaha...!” Kailla masih tertawa terbahak-bahak setelah berhasil menggoda Pram.
“Sepertinya ini lebih membesar dibanding pertama kali aku menyentuhnya,” ucap Pram. Tangannya sudah sibuk menyusup masuk ke dalam bra, meremas gundukan kenyal yang menggemaskan itu.
“Hah... !” Kailla langsung berontak. Dia sudah hafal kebiasaan Pram setiap kali melakukan itu akan berakhir kemana.
“Sayang... sudah. Kamu harus ke kantor.” Kailla berusaha mengingatkan.
“Iya, tanganku tidak akan kemana-mana. Aku hanya memeriksanya, apa kita perlu membeli bra baru dengan ukuran yang lebih besar,” ucap Pram menggoda Kailla.
“Tidak perlu!” tolak Kailla. Dia memilih berbalik menatap Pram.
“Ayo, aku pasangkan dasinya,” tawar Kailla. Terlihat dia meraih dasi yang digulung Pram di dalam saku kemejanya.
“Baik Nyonya.” Pram memilih sedikit membungkuk supaya Kailla lebih leluasa memasangkan dasi untuknya.
“Nanti acara gatheringnya jam berapa?” tanya Kailla. Tangannya dengan cekatan membuat simpul di leher Pram.
“Jam 7 malam. Tapi aku mau kamu datang lebih cepat,” jawab Pram sambil merengkuh pinggang Kailla dan memeluk istrinya erat.
“Sudah! Suamiku sudah tampan,” ucap Kailla setelah selesai memasangkan dasi. Kedua tangannya sekarang beralih merapihkan kerah kemeja Pram.
“Baiklah Nyonya, aku berangkat sekarang. Aku mencintaimu,” ucap Pram sebelum mengecup lembut bibir Kailla.
Kailla buru-buru mengenakan gaun tidurnya. Setelah itu dia ikut mengekor di belakang Pram yang bersiap turun ke bawah.
“Bu, hari ini masak apa?” tanya Kailla saat sudah berada di dapur. Terlihat Bayu sedang duduk di ruang tamu menikmati acara tv dan secangkir kopi hitam.
“Ibu bingung Non. Ibu masak apapun tidak ada yang Non makan,” ucap Bu Ida menatap sedih ke arah majikannya.
“Iya, aku hanya bisa makan roti saja. Selain itu, aku akan memuntahkannya.” Kailla menghela napas, sudah hampir 10 hari ini selera makannya berubah. Bahkan dia harus kehilangan berat badan hampir 2 kg.
“Jangan-jangan Non Kailla hamil,” ucap Bu Ida. Sudah beberapa hari ini, di ingin menyampaikan kepada majikannya itu.
“Kenapa semua orang mencurigaiku hamil. Kalau aku beneran hamil, aku harus bagaimana,” batin Kailla.
Tampak raut wajah Kailla berubah. Memikirkan ucapan orang-orang terdekatnya, ada rasa takut di dalam hatinya. Walaupun dia mengatakan dia siap hamil, tapi hati kecilnya masih ada sedikit ketakutan. Dia belum sepenuhnya siap.
“Bu, apakah aku terlihat seperti orang hamil?” tanya Kailla ragu.
“Iya Non. Sepertinya Non Kailla hamil,” sahut Bu Ida sambil mengangguk.
“Non sudah telat datang bulan?” tanya Bu Ida pelan. Dia tahu, pasti majikannya canggung kalau pembicaraan mereka terdengar oleh Bayu.
“Iya Bu.. sejak menikah aku belum datang bulan sama sekali. Padahal aku menikah sudah sebulan,” jawab Kailla tertunduk lemas.
“Kenapa tidak ajak Pak Pram ke dokter?” tanya Bu Ida. Dia kasihan melihat wajah Kailla saat ini. Walau bagaimana pun, dia menjaga Kailla sejak kecil, sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
“Aku takut Bu. Bagaimana kalau aku beneran hamil,” ucap Kailla menunduk.
“Tidak apa-apa Non. Pak Pram pasti senang kalau Non hamil,” ucap Bu Ida berusaha menenangkan.
“Aku harus bagaimana?” tanya Kailla pelan. Dia sudah tidak bisa berpikir saat ini. Semakin memikirkan kehamilannya, dia semakin tidak tenang.
“Periksa ke dokter saja atau beli test pack di apotik Non. Jadi Non bisa cek sendiri,” saran Bu Ida.
“Benarkah? Masa aku harus minta Bayu membelikannya untukku,” ucap Kailla lagi. Rasanya malu harus meminta Bayu membeli benda itu.
“Tidak apa-apa Non. Atau Ibu yang akan meminta Bayu membelikannya untuk Non.” Bu Ida tersenyum sambil menggenggam tangan Kailla.
“Baik Bu, sebentar aku ambilkan uangnya,” pamit Kailla melangkahkan kaki ke kamarnya. Setidaknya dia harus tahu dia hamil atau tidak. Apapun hasilnya, dia harus menerima kenyataannya. Siap atau tidak siap, dia harus menghadapinya.
Kailla sudah kembali dengan beberapa lembar uang di tangannya. Beruntung Pram selalu mengisi uang cash di dompetnya. Karena tidak semua bisa di bayar menggunakan kartu debit atau kartu kredit.
Kailla menyerahkan lembaran uang itu pada Bu Ida, kemudian memilih duduk menikmati sepotong roti tawar seperti biasanya. Perutnya tidak bisa menerima makanan lain. Seketika akan bergejolak dan dia harus memuntahkan isi perutnya sampai tidak tersisa lagi.
“Bay, tolong belikan test pack ke apotik ya!” pinta Bu Ida pada Bayu yang sedang menikmati kopinya.
“Hah? apa itu Bu?” tanya Bayu heran. Dia tahu jelas testpack itu untuk mengecek kehamilan. Tapi kata-kata itu keluar dari mulut Bu Ida, rasanya tidak bisa dipercaya. Makanya dia memastikan lagi.
“Test pack! Untuk cek kehamilan,” jelas Bu ida.
“HAH!” Bayu terkejut sambil berteriak. Hampir saja kopi di tangannya terjatuh kalau dia tidak berhati-hati.
“Yang benar saja Bu, umur segini masih bisa hamil?!” ucap Bayu sambil menatap Bu Ida dari atas ke bawah berulang-ulang. Setelah selesai menatap, dia menggelengkan kepalanya masih tidak yakin dengan permintaan Bu Ida.
“Kurang ajar kamu Bay!” gerutu Bu Ida.
“Ibu yang kelewatan. Sekarang aku tanya. Ibu umurnya berapa?” tanya Bayu seperti seorang petugas sensus.
“54 tahun,” sahut Bu Ida ketus.
“Nah kan! Buuu, kalau seumur ibu ini ditunggu-tunggu bulannya tidak datang bukan berarti hamil. Itu artinya menopause!” jelas Bayu semakin membuat Bu Ida kesal.
“Sudah, pergi saja beli. Tidak perlu banyak bertanya. Saya mau buat koleksi, mau buat dipajang, itu terserah saya. Beli yang paling bagus ya Bay!” perintah Bu Ida.
***
Terimakasih. Masih lanjut nulis, mudah-mudahan reviewnya cepet. Bisa masuk hari ini bab selanjutnya. like dan komennya dong😘😘