
Setelah mengurus administrasi, Bayu ditemani roomboy mengantar Kailla ke kamarnya. Begitu masuk ke dalam kamar, Kailla langsung berlari keluar menemui Bayu yang berdiri di depan kamarnya.
“Bay, ini tidak salah kamar?” tanya Kailla menaikkan alisnya pada Bayu yang menunggu di luar.
“Sudah benar Non. Kan tadi langsung diantar roomboy,” jawab Bayu.
“Tapi kenapa pesan kamar yang seram begini Bay?” tanya Kailla sedikit kesal.
“Itu aku pesan kamar yang paling mahal Non. Serem apanya Non?” Bayu masuk ke dalam melongok sebentar melihat keadaan di dalam kamar. Keadaan di dalam kamar memang sedikit remang-remang. Entah karena gorden yang belum terbuka sempurna atau jenis lampu kamar yang tidak terang benderang.
“Itu romantis Non, cocok untuk pengantin baru!” celetuk Bayu sambil terkekeh.
“Ahhh... kamu sudah mirip sama bosmu. Pikirannya pun setali tiga uang!” gerutu Kailla. Terpaksa dia masuk kembali ke dalam kamar, membuka gorden jendela lebar-lebar, menyalakan semua lampu di dalam kamar.
Setelah itu Kailla memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menutup habis tubuhnya dengan selimut. Tampak Kailla memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Tak lama gadis tukang tidur itu pun terlelap.
***
Pram yang sudah menyelesaikan rapatnya, tergesa-gesa mencari Bayu. Setelah berkali-kali menghubungi ponsel Bayu tidak diangkat sama sekali, akhirnya Pram terpaksa menuju ke bagian resepsionis untuk mengecek kamar sekaligus meminta kunci cadangan tempat istrinya beristirahat sekarang. Beruntung tadi dia meminta Bayu memesan kamar atas namanya, jadi dia tidak terlalu pusing menjelaskan kepada pihak hotel.
Pram terlihat menempelkan cardlock pada kotak sensor di pintu setelah memastikan nomor kamar terlebih dulu. Begitu masuk ke dalam, pemandangan yang menyambutnya adalah kamar yang terang benderang sampai menyilaukan karena terkena semburat cahaya matahari sore yang masuk dari jendela kamar.
“Kailla... ckckckck..” Pram berdecak saat melihat istrinya yang sedang terlelap tanpa peduli panasnya sinar matahari yang menyorot tubuhnya. Segera Pram menutup semua gorden dan meredupkan lampu kamar yang menyilaukan matanya.
“Dasar penakut! Sebelum menikah denganku, bagaimana kamu melewatkan hari-harimu.” bisik Pram. Dia memilih duduk di ranjang, menatap wajah polos Kailla yang sedang terlelap. Mengusap lembut pipi bak buah peach itu dengan belakang telunjuknya.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Kai,” bisik Pram sebelum mengecup kening istrinya yang masih berlayar ke alam mimpi.
Pram akhirnya memutuskan membersihkan dirinya di kamar mandi sambil menunggu istrinya bangun. Melempar asal jas dan rompi kerjanya di atas sofa yang berwarna senada.
Tak lama kemudian, Kailla pun menyusul bangun dari tidurnya. Gemericik air dari shower kamar mandi itu memaksa kesadarannya kembali ke alam nyata. Kelopak mata indah itu terbuka perlahan, mengerjap beberapa kali sampai akhir si empunya menyadari ada sesuatu yang tidak beres di dalam kamarnya.
Deg—
“Siapa yang sedang di kamar mandi?” bisik Kailla pelan sambil menutup mulutnya. Tidak sampai disitu, dia kembali menyadari kamar tidurnya kembali meredup. Padahal tadi jelas-jelas dia menyalakan lampu terang benderang dan membuka semua gorden sebelum tidur.
Ketakutan yang sempat hilang kembali menyergapnya, akal sehat dan logikanya sudah tidak bisa berjalan di relnya. Semakin mengedarkan pandangannya, dia semakin bergidik. Hawa dingin dari AC kamar semakin membuat bulu kuduknya meremang. Dengan berjalan perlahan dan mengawasi sekeliling dia keluar dari kamarnya. Target utamanya saat ini adalah Bayu. Bagaimanapun dia harus bertemu asistennya dan menyeret laki-laki yang menjaganya itu pulang ke apartemen. Dia sudah tidak peduli lagi dengan suaminya.
“Terserah saja Pram mau menikah lagi! Kamar ini lebih mengerikan dibanding harus menerima kenyataan suamiku selingkuh dengan si penerjemah.”
Tampak Bayu berjalan menghampirinya. Laki-laki itu heran melihat majikannya gemetaran dan berdiri di luar tanpa alas kaki dengan wajah ketakutan.
“Ba..Ba..Bay, ayo kita pulang!” rengek Kailla terbata-bata, menarik tangan laki-laki itu menjauh dari kamarnya.
“I..iya, tapi tas dan sepatu Non Kailla masih di dalam,” ucap Bayu menenangkan.
“Biarkan saja, nanti minta suamiku yang mengambilnya,” usul Kailla. Dia sudah tidak mau masuk ke dalam kamar itu lagi.
“Emang ada apa Non? Sepertinya tidak ada aura yang aneh-aneh di dalam. Sama seperti kamar hotel pada umumnya,” ucap Bayu.
“Setan jenis apa yang bisa memiliki ilmu setinggi itu,” ucap Bayu dalam hati.
“Apa kita cek dulu ke dalam, siapa tahu Non salah dengar,” usul Bayu.
“Jadi maksudmu aku yang salah dengar, salah lihat dan lupa ingatan!” gerutu Kailla kesal. Dia jelas-jelas mendengar suara air di kamar mandi. Itu seperti nyata. Dia masih mengingat jelas kalau sudah menyalakan lampu dan membuka gorden sebelum dia tertidur.
“Maksudku kita cek dulu Non. Ayo!” ajak Bayu. Tampak Bayu masuk perlahan, diikuti Kailla yang mengendap-endap di belakang asistennya sambil memejamkan matanya. Kailla sedari tadi memegang erat ujung jaket asistennya itu, seolah takut ditinggalkan.
“Tidak ada bunyi apa-apa Non,” ucap Bayu setelah menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Senyap! Tidak ada bunyi air seperti yang majikannya ceritakan.
Baru saja mereka akan berbalik, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Sontak membuat Kailla menjerit ketakutan. Bayu yang terkejut mendengar jeritan Kailla yang tiba-tiba, segera berbalik menenangkan istri majikannya.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhh.......!” jerit Kailla, merapatkan diri pada Bayu sambil memejamkan matanya. Dia sudah hampir memeluk Bayu kalau saja Pram tidak berteriak padanya.
“KAILLA!!!” teriak Pram menyadarkan istrinya yang sedang ketakutan. Laki-laki tampan itu masih dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambut basah yang masih menetes.
“Lepaskan istriku!!” perintah Pram pada Bayu yang sedang memegang pundak Kailla untuk menenangkan sang majikan. Terlihat Pram menghempaskan tangan Bayu yang masih bertengger manis di pundak istrinya.
“Keluar dari kamarku!! teriak Pram pada Bayu. “Kamu bisa pulang dengan sopir sekarang, tunggu aku di apartemen!” perintah Pram lagi pada Bayu. Sekarang nada bicaranya sedikit lembut setelah tadi sempat berteriak kasar.
“Dan kamu! Tunggu aku disana!” perintah Pram pada Kailla menunjuk ke ranjang.
Kailla masih saja menunduk tidak berani menatap Pram sama sekali. Dia tahu suaminya sedang marah padanya saat ini.
“Maafkan aku,” ucap Kailla, setelah melihat kaki Pram sudah berdiri di depannya.
“Kai, aku tidak suka kamu memasukkan laki-laki ke dalam kamar tanpa seizinku, apalagi kalau kalian hanya berdua. Ini berlaku untuk semua asistenmu,” ucap Pram. Nada bicaranya sudah melembut seperti biasanya.
Pram sebenarnya merasa bersalah telah meneriaki Kailla tadi. Tapi dia kehilangan kontrolnya saat melihat Kailla hendak memeluk Bayu di dalam kamar. Dia salah karena tidak mencari tahu penyebabnya, tapi melihat keduanya menempel di dalam kamar, akal sehatnya langsung terbang entah kemana.
“Maafkan aku. Aku mau pulang sekarang,” sahut Kailla masih tetap menunduk. Dia sedang tidak ingin menatap wajah suaminya. Selama ini Pram belum pernah berteriak padanya, baru kali ini saja laki-laki itu berteriak.
“Apa kita menginap disini saja malam ini Kai?” tawar Pram memilih berjongkok supaya bisa menatap wajah istrinya yang terus-terusan menunduk.
“Kai....., kamu masih marah?” tanya Pram lagi setelah berhasil mengintip wajah Kailla yang masih saja terlihat cemberut.
“Ayolah Kai. Bagaimana kalau kita lanjutkan proyek kita yang tertunda tadi pagi?” rayu Pram, masih berusaha membujuk istrinya.
“Aku sudah tidak berminat melanjutkan kerjasama kita!” sahut Kailla ketus. Seketika membuat Pram tertawa.
“Kamu mau membatalkan kerjasama kita Kai?” tanya Pram di sela tawanya.
***
Terimakasih dukungannya. Love You All.