
Dalam perjalanan, Kailla menatap foto hitam putih di tangannya itu tanpa berkedip. Diputar ke segala arah, tetap saja ia tidak mengerti gambaran apa yang ada di sana. Tidak ada bentuk atau bayangan apapun di sana.
“Sayang, kamu paham melihatnya.” Kailla bertanya pada sang suami yang sedang memegang setir. Ia menyodorkan foto itu tepat ke hadapan Pram.
“Hehehe ... tidak. Aku juga tidak bisa melihat apa-apa,” sahut Pram, berkata jujur. Kembali pria itu fokus menyetir.
“Tapi kenapa kamu bersikap seolah-olah mengerti. Apa kamu berpikir kalau mengangguk seperti tadi, dokter akan mengakui kepintaranmu,” gerutu Kailla.
“Setidaknya aku tidak sebodoh dirimu,” gurau Pram, sekilas menatap istrinya yang cemberut.
“Ah ... kamu selalu mengatakan diriku bodoh. Lalu kenapa kamu mau menikahiku yang bodoh ini.” Kailla bertanya kesal, mengerucutkan bibirnya.
“Untuk membantu Riadi Dirgantara. Memperbaiki dan menyelamatkan keturunannya. Haha ....” tawa Pram pecah saat mengucapkan kalimat itu. Ia masih sempat mencuri pandang pada istrinya yang sedang menahan amarah dan kesal karena ucapannya.
“Ah! Jangan menggodaku,” gerutu Kailla, memukul lengan Pram yang terdekat dengannya.
“Aduh! Sakit, Kai!” Pram merespon pukulan kencang pada lengannya.
“Aku serius, Kai. Coba bayangkan kalau kamu menikah dengan laki-laki seperti Sam, akan jadi seperti apa keturunan Riadi Dirgantara selanjutnya. Hahaha ....” jelas Pram, kembali tergelak hebat.
Kailla tidak menjawab, hanya mendengus kesal. Terlihat ia menyimpan kembali potongan foto USG ke dalam dompetnya.
“Sudah ... aku hanya bercanda. Aku menikahimu karena aku menyayangimu. Makanya, aku bersedia mengambil tanggung jawab untuk menjaga dan melindungimu yang diberikan Riadi padaku,” jelas Pram setelah menghentikan tawanya.
“Sayang, kita mampir ke tempat Daddy, ya. Aku sudah beberapa hari ini tidak mengunjunginya,” pinta Kailla, tertunduk sedih.
“Ya, maafkan aku karena tidak mengizinkanmu terlalu sering ke rumah sakit,” ucap Pram, menautkan jemari tangan kirinya pada jemari Kailla.
“Sudah ada Donny dan perawat yang menunggu di rumah sakit. Kalau ada perkembangan, mereka langsung mengabari kita. Kamu juga sedang hamil, Kai. Tidak baik terlalu lama menunggu di sana,” jelas Pram.
“Ya,” sahut Kailla, mengerti maksud suaminya.
“Lagi pula, setiap pulang kantor aku pasti mampir ke rumah sakit untuk melihat Daddy,” jelas Pram. Menarik tangan Kailla yang digenggamnya, mengecup lembut dan dalam punggung telapak tangan istrinya.
Mobil yang dikendarai Pram terlihat masuk ke pelataran rumah sakit. Setelah mendapatkan tempat parkir, Pram menggandeng Kailla masuk sambil sesekali menatap istrinya.
“Kai, kamu mau ikut aku kantor lagi atau langsung pulang ke rumah?” tanya Pram, saat berjalan di koridor menuju ke ruang ICU.
“Aku ikut denganmu saja, ya. Aku bosan sendirian di rumah,” jawab Kailla, melepas gengaman tangannya pada Pram, berganti memeluk lengan kekar suaminya sambil menyandarkan kepala dengan manja.
“Ya, sudah. Tapi aku tidak bisa lama-lama, ya. Jam tiga sore aku masih ada rapat.” Pram menjelaskan.
Donny dan perawat Riadi sedang berbincang di depan ruang ICU saat Pram dan Kailla menghampirinya.
“Don, bagaimana Daddy?” tanya Kailla, saat sudah berdiri di depan pintu ruangan.
Donny, sang asisten menggeleng. Pertanda tidak ada perkembangan apa-apa.
“Sayang, aku mau masuk sendiri dulu, ya,” pinta Kailla pada suaminya.
“Sayang, tolong,” pinta Kailla saat meletakkan tas coklat bermotif keluaran Louis Vuitton itu ke pangkuan Pram.
“Hei ....” panggil Pram, menarik tangan Kailla tiba-tiba supaya mendekat padanya.
“Jangan menangis di depan Daddy. Bisa saja Daddy mendengar semua keluh kesahmu,” bisik Pram di telinga Kailla.
“Ya, aku masuk dulu,” ucap Kailla, setelah meminta izin perawat yang berjaga di sana.
Saat masuk ke ruangan, seperti biasa Daddy masih tidur, tidak bergerak sedikit pun. Yang terdengar hanya suara alat-alat medis yang terhubung pada tubuh sang daddy.
“Dad ....” panggil Kailla, dengan suara bergetar menahan perasaannya saat ini. Ia sudah mau menangis begitu mendengar bunyi alat medis yang saling bersahutan dan teratur.
“Dad, ini aku Kailla. Daddy apa kabar hari ini?” tanya Kailla mulai menitikkan air matanya. Terlihat ia berbalik berusaha mengatur napasnya kembali setelah menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Dad, aku baru pulang dari rumah sakit. Kita baru pulang melihat cucumu, Dad,” cerita Kailla, berdiri mendekat sambil memegang tangan daddy-nya.
“Dad, kenapa belum mau bangun? Nanti aku bagaimana kalau Daddy terus-terusan tidur. Apa Daddy tidak lelah?” protes Kailla.
“Dad, nanti kalau aku melahirkan, Daddy harus bangun. Aku tidak mau, kalau Daddy tidak ada,” pinta Kailla. Kembali air mata itu jatuh, tidak bisa diajak kompromi.
Setelah bercerita dengan Daddy, Kailla memilih keluar. Terlalu lama di dalam, ia hanya akan menangis terus menerus. Begitu sampai di luar, ia tidak menemukan Pram.
“Pak Pram menerima telepon di sana,” sahut Donny, menujuk ke arah ujung koridor.
“Oh ... sudah lama?” tanya Kailla penasaran.
“Belum, Non,” sahut Donny.
Kailla langsung mencari keberadaan Pram di tempat yang dimaksud Donny. Dan benar saja, Pram sedang berdiri di sebuah ruang terbuka yang mirip dengan balkon. Kailla tidak bisa mendengar jelas ucapan Pram, tetapi melihat raut wajah Pram saat ini sepertinya sang suami sedang kesal.
“Sayang, kenapa?” tanya Kailla tiba-tiba, mengejutkan Pram.
Segera Pram berbalik, masih dengan posisi memegang ponsel di telinganya.
“Maaf, nanti aku akan menghubungi Ibu lagi,” ucap Pram memutuskan panggilannya.
“Ada apa, Sayang? Sudah bicara dengan daddy-nya?” tanya Pram, memeluk pinggang Kailla.
“Sudah. Ayo kita ke kantor sekarang,” ajak Kailla.
Setelah berpamitan dengan Daddy, mereka pun kembali ke kantor. Mood Pram sedang tidak terlalu baik, di perjalanan dia lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.
“Sayang, kenapa?” tanya Kailla, heran. Suaminya tiba-tiba berubah pendiam, tidak banyak bicara dan mengganggunya.
“Aku tidak apa-apa, Sayang. Hanya sedikit lelah,” jawab Pram beralasan.
Sebenarnya Pram sedang kesal. Barusan Ibu Citra menghubungi ponselnya. Kata-kata Ibu Citra tadi menurut Pram sangat kasar, seolah-olah ia memang putra kandungnya Ibu Citra yang durhaka. Padahal Pram sendiri tidak yakin. Ibu Citra keberatan karena Pram pulang ke Jakarta tanpa memberitahunya terlebih dulu, tidak berpamitan juga.
Menurut Ibu Citra, Pram telah berlaku tidak adil padanya dan lebih memilih berada di sisi Riadi. Padahal Pram sudah mengatakan kalau Riadi sedang koma dan tidak berdaya sekarang.
Namun, Ibu Citra sebaliknya menumpahkan sumpah serapahnya pada Kailla dan bayinya. Walaupun ia tidak mengatakan sumpah itu untuk anak di kandungan Kailla. Sumpah serapah itu ditujukan pada semua keturunan Riadi, secara tidak langsung bayinya yang ada di kandungan Kailla juga termasuk. Entah dosa apa yang dilakukan mertuanya sampai Ibu Citra begitu membenci Riadi dan keturunannya.
“Sayang, aku mau makan rujak buah itu,” pinta Kailla tiba-tiba, saat mobil mereka melintas melewati gerobak penjual rujak buah. Tangannya menunjuk ke arah penjual yang sedang memotong buah-buahan segar. Mulutnya sudah menelan saliva, membayangkan betapa nikmatnya rujak buah dengan sambal kacang yang pedas.
“Yang mana, Sayang?” tanya Pram, tiba-tiba menghentikan mobilnya. Menimbulkan bunyi decitan yang nyaring karena gesekan ban mobil dan aspal. Belum lagi klakson pengendara di belakang mereka yang mengomel karena Pram berhenti tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
“Disana!” tunjuk Kailla, membalikkan badannya ke arah belakang. Karena posisi penjual rujak buah sudah terlewat jauh ke belakang.
“Tapi di seberangnya, Sayang,” jelas Kailla. Tangannya masih terus menunjuk ke arah yang di maksud.
Kailla langsung mengeluarkan dompet dan membuka pintu mobil. Ia sudah berencana berlari ke sana, untuk membeli rujak buah yang tiba-tiba sangat diinginkannya.
“Sayang, mau kemana?” tanya Pram, menahan tangan Kailla, supaya tidak keluar dari mobil.
“Aku mau ke sana. Aku mohon ... izinkan aku membelinya kali ini,” pinta Kailla merengek, kembali menelan ludah. Bayangan rujak buah itu tidak mau pergi dari otaknya. Ia yakin Pram pasti akan menolaknya lagi seperti biasa dengan alasan kebersihan dan lain-lain.
“Tidak. Kamu tidak boleh ke sana. Biar aku yang pergi,” ucap Pram menarik Kailla masuk kembali ke dalam mobil. Terlihat Pram melepas sabuk pengamannya.
“Bagaimana membelinya?” tanya Pram, meminta pendapat Kailla.
“Aku mau ikut denganmu. Aku mau memilih sendiri buahnya,” pinta Kailla. Memandang suaminya, dengan tatapan memohon.
“Tidak!” tolak Pram.
“Kamu tunggu disini. Aku segera kembali,” pamit Pram. Tidak memberi kesempatan istrinya membantah.
“Jangan menyusul, jalanan sedang ramai,” pinta Pram setengah mengancam, mengarahkan telunjuknya pada Kailla.
“Anak Daddy mau makan rujak, kah?” tanya Pram, tersenyum menatap Kailla. Ia masih sempat mengusap perut rata istrinya, sebelum keluar dari mobil.
***
To be continue
Terima kasih.
Bisa mampir di karyaku yang lain sambil menunggu Om Pram up