
Tampak Bayu masuk ke dalam apartemen dengan menenteng shopping bag di tangannya.
“Nih!” sodor Bayu pada Bu Ida. Ia masih tetap berdiri di sana, tidak mau beralih sedikit pun. Ia sedang memastikan test pack itu benar untuk Bu Ida apa bukan.
Sepanjang perjalanan, otaknya berpikir keras untuk apa Bu Ida membeli test pack. Bukannya apa-apa, selama di Austria ia tinggal di unit yang sama dengan Bu Ida. Kalau terjadi sesuatu dengan wanita tua itu, pasti ia yang diciduk duluan oleh Pram. Walaupun tidak masuk akal, tapi zaman sekarang ini sering terjadi hal-hal di luar akal sehat.
Tadi ia sempat kepikiran apa test pack ini untuk istri Bosnya. Namun, pasti Bosnya akan langsung membawa istrinya sendiri ke rumah sakit atau membeli sendiri test pack ke apotek.
“Terima kasih!” ucap Bu Ida. Matanya melotot menatap Bayu yang masih saja mematung di sampingnya tanpa bicara.
“Kenapa masih berdiri di sini?” tanya Bu Ida lagi.
“Tidak, Bu. Aku masih belum bisa percaya dengan kenyataan yang ada di depan mataku,” ucap Bayu menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, ayo ikut denganku,” ajak Bu Ida sambil tertawa mengangkat test pack yang masih di dalam kantong belanjaannya.
Mendengar ajakan Bu Ida, Bayu langsung bergidik. Secepatnya ia pergi menghilang dari hadapan wanita tua yang sedari tadi menertawainya.
“Ada-ada saja!” gerutu Bayu. Ia memilih berbaring di sofa ruang tamu, meluruskan kakinya. Selama sepuluh hari ini pekerjaannya hanya makan dan tidur saja. Kailla sepanjang hari hanya mengurung diri di kamar, otomatis ia tidak memiliki pekerjaan. Duduk menonton tv dari pagi sampai malam.
***
Terlihat Bu Ida berjalan tergesa-gesa menghampiri kamar tidur majikannya.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja Ibu Ida akan mengetuk kembali, tetapi Kailla sudah membuka pintu dan menjulurkan kepalanya di ambang pintu.
“Ini, Non!” Bu Ida menyerahkan bungkusan test pack kepada Kailla sambil tersenyum.
“Terima kasih Bu!” jawab Kailla singkat.
“Mudah-mudahan positif, Non. Supaya tambah disayang Pak Pram,” goda Bu Ida sambil menutup pintu kamar majikannya.
Tampak Kailla merogoh isi shopping bag dan mengeluarkan sebuah benda yang baru pertama kali dilihatnya. Sebelum membuka kemasannya, ia mencoba membaca petunjuknya. Semakin dibaca semakin bingung sendiri. Akhirnya dia memilih mencari tahu dari google.
“Oh, ini harus dicelupkan di air seni,” ucapnya pelan.
Ia ragu untuk melakukan pengecekan, tetapi bagaimana pun ia harus tahu hasilnya. Semoga saja tidak seperti yang ditakutkannya. Ia benar-benar belum siap sekarang. Walaupun ia pernah mengatakan ingin hamil secepatnya, tetapi sebenarnya ia belum menginginkannya.
Buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Lalu mengikuti petunjuk yang dibacanya di kemasan. Dengan gemetar, Kailla mencelupkan ujung benda pipih kecil itu ke dalam air seninya yang baru saja ditampung di wadah.
“Ya Tuhan ....” bisiknya lirih sambil berdoa dalam hati. “Aku belum siap,” ucapnya setelah mengangkat test pack itu dari wadah.
Kailla memilih meletakkannya di atas wastafel sambil menunggu hasilnya. Ia menunggu dengan cemas, duduk di toilet. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Hatinya saat ini sangat takut dan kalut. Ia tidak bisa membayangkan kalau benar-benar hamil.
Entah berapa lama ia duduk di sana, menatap benda pipih dari kejauhan. Kailla menarik napas berulangkali, berusaha menenangkan detak jantung yang berdegup kencang. Dengan perlahan, ia berjalan ke arah wastafel. Sambil memejamkan matanya, Kailla meraih test pack yang sudah menunjukkan hasilnya.
Mata Kailla terbelalak, tubuhnya melemas jatuh di lantai kamar mandi saat memastikan hasil test pack yang menunjukkan dua garis merah. Ia terdiam selama beberapa menit. Pikirannya kosong.
“Mama ... aku harus bagaimana?” bisiknya pelan sambil menangis. Lama ia terduduk di sana, memeluk lututnya sambil terisak. Ia tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus bagaimana.
Tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Tidak tahu harus bahagia atau menangis.
Setelah puas menangis, ia memilih berbaring di ranjang empuknya, sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Ada bayiku di dalam sini,” ucapnya pelan.
Saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Pram, hanya nama itu yang ada di otaknya. Ia harus mengabari berita ini pada suaminya. Dengan begitu ia bisa sedikit lebih tenang.
Kailla langsung meraih ponsel di atas nakas, dengan buru-buru mencari nomor kontak suaminya.
Tut ... tut ... tut. Panggilannya berakhir dengan mailbox. Tak putus asa, ia kembali mencoba. Bagaimana pun, ia harus menceritakannya pada Pram. Setidaknya hati dan pikirannya sedikit lebih tenang.
Tut ... tut ... tut. Panggilannya kembali tidak mendapat jawaban. Mengulang untuk kesekian kalinya, semua panggilannya berakhir tanpa jawaban. Menyerah. Kailla memilih menghubungi Mitha.
“Mit, suamiku di mana?” tanya Kailla pelan tak bertenaga.
“Pak Pram sedang rapat Nyonya. Hari ini presdir sibuk sekali,” jawab Mitha dari seberang.
“Apa ada hal penting, Nyonya? Aku akan menyampaikannya,” lanjut Mitha lagi.
“Oh ... tidak apa-apa. Nanti aku akan menghubunginya lagi,” ucap Kailla memutuskan sambungan teleponnya.
Ia menghela napas, melempar asal ponsel di ranjang empuknya.
“Kalau dia melihat misscall dariku, pasti dia akan menghubungiku kembali,” ucap Kailla pelan. Saat ini memilih tidur dan beristirahat, menenangkan pikiran sambil mengelus perutnya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore waktu setempat saat Kailla terbangun dari tidurnya. Ia melewatkan jam makan siang. Dengan malas, Kailla bangun dari tidurnya, mengintip ponselnya sebentar, siapa tahu Pram menghubunginya. Namun, tidak ada panggilan atau sekedar pesan teks dari suaminya.
“Sesibuk itukah dia, sampai tidak punya waktu untuk menghubungiku,” keluh Kailla.
Dengan terpaksa ia bangkit dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena terlalu banyak menangis dan berpikir. Belum lagi, tubuhnya tidak bisa menerima asupan makanan selama sepuluh hari ini. Ia hanya bisa menganjal perutnya dengan sepotong roti tawar. Saat ini, kalau bukan memikirkan bayinya, ia tidak akan mau makan. Namun, kalau ia tidak makan, kasihan dengan bayinya.
“Bu, siapakan aku makanan,” pinta Kailla saat sudah berada di dapur.
“Non mau makan pakai lauk apa? Ibu masak sup macaroni dan ayam goreng,” ucap Bu Ida.
“Semuanya saja, Bu. Tapi tidak perlu terlalu banyak. Aku takut akan memuntahkannya kembali,” sahut Kailla.
Dan benar saja, saat baru saja menyuapkan nasi dan sup ke dalam mulut, Kailla langsung melepas sendok dan menutup mulut dengan tangannya. Segera berlari ke kamar mandi, ia memuntahkan isi perutnya. Hanya air saja, dari pagi tadi ia hanya makan sepotong roti dan jus buah.
“Huh!" Kailla berjalan dengan lesu kembali ke meja makan setelah mengeluarkan isi perutnya. Dengan terpaksa kembali ia menyantap sepotong roti tawar polos dan meminta Bu Ida membuatkannya jus jeruk.
“Bu, tolong buatkan aku jus jeruk,” pinta Kailla.
Kailla mengusap pelan perutnya. Kalau tidak memikirkan bayinya, ia lebih memilih tidur saja saat ini.
***
Next :
“KAILLA! Kelewatan kamu Kai!!” Kailla benar benar mempermalukannya saat ini. Pram sudah siap melayangkan tamparannya pada Kailla. Tepat pada saat itu, mata Pram menangkap sorot mata Kailla yang tidak berdaya dan bersiap menerima pukulannya.
Deg— Sorot mata yang sama saat Daddy memukulnya dengan ikat pinggang sepuluh tahun yang lalu.