Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 47 : Maafkan Aku Kai


Pram kembali dengan membawa sekantong makanan dan minuman di tangannya. Sedari pagi tadi perutnya hanya terisi dengan sepotong roti. Saat melewati Donny dan Sam yang sedang berdiri di pojokan, Pram mengeluarkan 2 kotak makanan dan minuman untuk kedua asisten itu.


“Ini buat kalian berdua.” Pram menyodorkannya kepada Donny.


“Terimakasih Pak.” Dijawab berbarengan oleh Sam dan Donny.


“David kemana ya? Saya tidak melihatnya dari tadi.” tanya Pram.


Tadi siang sempat kesini sebentar Pak, tapi dapat telepon dari kantor dan dia harus kembali,” jelas Donny.


Pram mengangguk, tidak mungkin juga membiarkan David terus menerus meninggalkan perusahaan. Matanya beralih memandangi Kailla, gadis itu sama sekali tidak bicara sedari tadi. Tidak juga berpindah tempat, hanya duduk diam.


“Kailla sejak kapan menunggu disini?” tanyanya mengalihkan pandangan pada kedua orang di depannya.


“Sejak kemarin siang Pak. Dokter tidak mengizinkannya pergi terlalu jauh dari ruang ICU,” jelas Donny.


Deg— Hatinya berdenyut mendengar jawaban sang asisten. Menatap nanar gadis di ujung bangku. Rasa bersalah kembali menghantamnya untuk kesekian kalinya.


“Semalam dia tidur dimana?” Mata Pram tak berkedip melihat gadis yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari pintu ruang ICU.


“Tidur disana juga Pak, tapi Non Kailla tidak bisa tidur, semalaman dia hanya duduk dan menangis. Dia tidak mau bicara.” jelas Donny lagi.


“Ya Tuhan...”


“Apakah dia makan dengan baik?” tanya Pram memastikan. Melihat wajah Kailla yang pucat dan matanya yang dilingkari garis hitam sebenarnya dia sudah tahu pasti gadis itu tidak mengurus dirinya sendiri. Tidak sedang baik baik saja saat ini.


Kedua asisten hanya menggeleng.


“Kenapa kalian tidak menghubungiku?” tanyanya dengan nada sedikit meninggi. “Bukannya kalian tahu, kalian dipekerjakan untuk apa? Hah!!” Pram menatap tajam keduanya. Ada rasa sesal, harusnya kemarin dia mendampingi Kailla, tidak membiarkan dia seorang diri menghadapi semuanya sendiri. Pram bisa membayangkan betapa takutnya Kailla yang sudah terbiasa diurusi dan dilayani orang lain.


“Maaf Pak,” sesal kedua asisten seraya menunduk tidak berani beradu pandang dengan sang majikan.


Pram menghampiri Kailla yang masih duduk mematung dengan ekspresi datar. Mendudukan tubuhnya tepat disebelah Kailla, Pram membuka kotak makanan yang berisi nasi campur kesukaan Kailla.


“Kai....” panggilnya lirih. “Makan ya, aku suapin.” Terlihat Pram menyendokan makanannya.


Kailla menggeleng, menahan sendok yang sudah siap meluncur ke dalam mulutnya.


“Tapi kamu harus makan, Sayang,” bujuknya lagi. Hening... Kailla tidak menjawab sama sekali.


“Kalau daddy tidak bisa bangun lagi, aku harus bagaimana?” tanyanya pelan.


Mendengarnya, Pram terkejut. Kaillanya benar-benar terguncang saat ini. Segera dia meraih tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Melihat Kailla yang seperti ini membuat hati Pram ikut terluka dan hancur.


“Daddy akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, daddy pasti bangun,” ucap Pram berusaha meyakinkannya. Dia mengelus lembut rambut Kailla yang berantakan, mengecup gadis itu berkali-kali.


“Kamu mau menangis? Kamu bisa menangis di pelukanku sekarang.” tawar Pram lembut.


Kailla menggeleng... segera dia melepaskan diri dari pelukan Pram dan bergeser menjauh.


Melihat Kailla menjaga jarak, hatinya seperti diiris-iris. Segera dia berlutut di depan gadis itu, mengenggam kedua tangan dingin yang terlihat lebih putih dari biasanya.


“Maafkan aku Kai. Kamu boleh menghukumku.” bujuk Pram lagi.


Kailla menggeleng, “Tidak apa-apa. Om tidak perlu bertanggungjawab padaku dan daddy. Om bukan siapa-siapa kami.”


“Kai.....” lirih Pram. Hatinya saat ini seperti dihantam godam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kailla.


“Gadis di hadapanmu ini sedang kacau Pram, bukan hanya sekedar ngambek seperti biasanya,” batinnya mengingatkan dirinya untuk bersabar menghadapi Kailla.


“Aku mencintaimu, Kai. Kamu harus ingat itu.” Pram berdiri, mengecup kening Kailla, kemudian menangkup wajah pucat itu dan tersenyum. Memaksa Kailla saat ini hanya akan membuat gadis itu semakin bersedih.


Dia pergi, memberi waktu untuk Kailla menyendiri. Dia memilih menghampiri Sam untuk menyampaikan sesuatu.


Sam mengangguk,” Kenal Pak.”


“Besok jemput mereka, tolong bawa kesini. Biarkan saya berbicara langsung dengan temannya sebelum kamu membawa mereka kemari.” perintah Pram menepuk pundak Sam. Baru berjalan beberapa langkah, dia berbalik lagi. “Kamu juga boleh mengajak Dion,” lanjutnya lagi.


“Semoga mereka bisa membuat Kailla merasa tidak sendiri, disaat dia belum mau memaafkanku.”


“Pak....” Sam memberanikan diri.


“Ada apa, Sam?”


“Itu.... luka bapak gak diobati?” tanyanya sedikit ragu. Pram menyentuh sudut bibir dengan jarinya. Ada darah yang mengering disana.


“Ini hanya luka kecil.” Pram menjawab santai, memilih duduk memperhatikan Kailla dari jauh.


Ponsel di saku celananya sudah bergetar sedari tadi. Dia sengaja mematikan nada deringnya, supaya tidak terganggu. Tanpa melihat pun dia sudah tahu siapa yang menghubunginya.


***


Pram hampir tertidur, sedari tadi dia mencoba memejamkan matanya bersandar di dinding. Lelah sekali rasanya. dia baru saja menempuh perjalanan Bandung-Jakarta. Ditambah lagi harus bersabar dengan Kailla yang sampai sekarang masih belum mau didekati olehnya.


Seorang dokter memanggil Kailla, sontak membuat matanya langsung terjaga. Segera dia berlari kecil menghampiri secepat mungkin. Dilihatnya Kailla sudah tertidur dengan duduk bersandar di dinding.


“Iya dok. Ada apa ya?” tanya Pram.


“Maaf, Bapak ini siapa?” tanya dokter ragu.


“Saya menantunya pasien Dok. Kebetulan saya baru tadi sore tiba di Jakarta.”


“Oh, mari kita bicara di ruangan saya,” ajak sang dokter, setelah melihat gadis yang biasanya diajak bicara sedang tertidur lelap.


Pram mengikuti langkah dokter menuju ruangan di samping ICU. Untuk pertama kali dia bisa melihat Pak Riadi yang terbaring dengan selang dan alat bantu di tubuhnya dari dinding kaca yang membatasi kedua ruangan ini.


“Ya Tuhan, bagaimana Kailla bisa menghadapi semua ini dengan baik-baik saja.”


“Bagaimana Dok?” tanya Pram.


“Pasien mengalami penyumbatan pembuluh darah otak. Kami belum bisa memastikan kapan pasien akan sadar, semakin lama sadar secara otomatis akan mempengaruhi kerja organ tubuh yang lain. Setelah sadar pun, ada kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan. Kami berharap pihak keluarga bisa mengajak pasien berkomunikasi, biasanya pasien dengan kondisi seperti ini bisa mendengar dan merespon. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien Pak.”


Pram mengangguk. “Baiklah Dok, untuk selanjutnya dokter bisa menghubungi saya untuk setiap perkembangan pasien.”


“Baik Pak.”


***


Setelah keluar dari ruangan, mata Pram tertuju pada gadis yang tidur di depannya. Kailla tertidur dengan posisi duduk. Berkali-kali kepalanya terjatuh ke depan dan itu membuat tidurnya terganggu. Pram memilih duduk disebelahnya, meletakan kepala gadis itu dipundaknya.


“Aku harus menunggunya tertidur baru leluasa mendekati gadis nakal ini,” ucapnya pelan menautkan jari jemarinya dengan milik Kailla yang sedang terlelap.


Senyumnya tersungging melihat Kailla yang sedang tertidur, wajahnya damai sekali. Beberapa helai rambut tampak menutupi sebagian wajahnya. Benar-benar wajah tanpa beban, padahal di luar sana tanpa sepengetahuannya ada banyak orang yang berniat tidak baik mengintainya. Dan gadis polos ini bahkan tidak tahu apa-apa.


“Melihatmu seperti ini lebih-lebih aku tidak bisa melepaskanmu Kai. Aku akan memperjuangkanmu... Aku sangat mencintaimu, Kailla Riadi Dirgantara.


Dia mengeluarkan ponselnya, tersenyum menatap foto-foto mereka berdua yang tersimpan di galeri ponselnya. “Aku berjanji akan membuat senyummu kembali, Kai.”





Terimakasih dukungannya. Love you all.