
Pram sedang berdiri di depan makam mamanya Kailla saat ini.
“Ma, hari ini aku datang dan memanggilmu sama seperti Kailla memanggilmu. Aku akan menikahi putrimu 2 hari lagi. Tolong restui aku. Aku benar- benar mencintainya. 20 tahun yang lalu, aku pernah berjanji padamu untuk menjaganya seumur hidupku dan sekarang aku berjanji kembali untuk membahagiakannya disisa hidupku.”
“Kai, kemarilah! Kamu tidak mau memperkenalkanku pada mamamu?” tanya Pram begitu melihat Kailla sudah sedikit lebih tenang.
“Mama sudah mengenalmu, Om.” Kailla menjawab singkat tanpa menatap Pram sama sekali. Terlihat Kailla berjalan menuju ke arah mobil yang sedang terparkir. “Aku mau ke rumah sakit sekarang.”
“Tapi mama belum tahu kalau aku akan menjadi suamimu sebentar lagi.” Pram sedikit berteriak dan menyusul langkah Kailla. Pram tersenyum melihat gadis itu sudah mulai membaik dan mau berbicara lagi padanya.
“Kai..” Pram menarik tangan Kailla dan mendekapnya. “Maafkan aku! Aku salah, seharusnya aku bisa lebih mengontrol diriku semalam.”
“Maaf juga tidak bisa mengubah keadaan, Om.” Kailla berkata lirih, berusaha terlepas dari dekapan Pram.
“Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan bertanggungjawab.”
“Apakah masih sakit?” Pram berbisik di telinga Kailla sambil tersenyum menggoda.
Blush... pipi itu merona malu kembali seperti biasanya.
“Selalu Menggemaskan!!!
Kailla memukul dada bidang Pram dan berusaha melepaskan diri. “Aku membencimu, Om!”
“Ayolah Kai, maafkan aku!”
“Aku mau ketemu daddy sekarang,” ucap Kailla berusaha untuk tidak menatap Pram.
“ Maafkan aku Kai. Atau aku juga harus minta maaf pada daddy karena telah menyakitimu semalam. Tidak masalah! Aku akan mengaku salah nanti, biar dia menghukumku!”
“Om..!”
Pram hanya tersenyum melihat gadis yang dicintainya yang berusaha terus-terusan menghindarinya.
***
“Om, Aku tidak mau menikah!” ucap Kailla tiba-tiba setelah mobil mereka sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
“Aku tetap akan menikahimu 2 hari lagi dengan atau tanpa persetujuanmu, Kai. Aku akan bertanggung jawab untuk kesalahan yang aku lakukan.” tegas Pram.
Pram menghela napas kasar, “Kenapa tiba-tiba tidak mau menikah? Kamu masih marah padaku karena semalam?”
“Sejak daddy sakit, aku sudah memikirkannya. Aku mau merawat daddy, aku juga mau cuti kuliah,” jelas Kailla. Membuang pandangannya pada mobil-mobil yang berderet rapi di sisi jendela.
“Kai dengar! Aku sudah mempekerjakan 2 orang perawat untuk mengurus daddy. Jadi tidak ada alasan untuk itu,” jelas Pram lagi memijat pelipisnya yang sedikit pusing.
“Aku mau menghabiskan waktu dengan daddy di sisa-sisa umurnya.” Wajah Kailla berubah sayu.
“Kamu masih tetap bisa bersama daddy walaupun kita sudah menikah. Kita akan bersama-sama menemani daddy.”
“Aku mau bersama daddy setiap saat!” tegas Kailla.
“Baiklah! Kita akan membeli rumah di komplek perumahan daddy. Kamu bisa setiap hari bertemu daddy. Ada lagi?” tanya Pram lembut.
“Kenapa harus membeli rumah lagi? Di rumah daddy tidak ada siapa-siapa?”
“Aku laki-laki, Kai! Aku akan bertanggung jawab pada istriku. Walau kekayaanku tidak sebanyak daddy, tapi aku masih mampu memenuhi semua keinginanmu. Ada lagi? Katakan apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau menikah denganku.”
“Aku tidak mau menikah, Om. Aku hanya mau mengurus daddy, aku akan cuti kuliah.”
“Tidak! Aku tidak mengizinkanmu. Kamu harus tetap kuliah!”
Mendengar jawaban Pram Kailla langsung cemberut.
“Katakan saja kamu tidak ada niat menyelesaikan kuliahmu. Jangan menggunakan daddy sebagai alasan!” tegas Pram tersenyum melihat wajah cemberut dengan bibir mengerucut di sampingnya
“Cuti sampai kapan?” tanya Pram menatap Kailla yang terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaannya.
“Kalau mau tetap cuti kuliah, aku akan mengizinkanmu. Tapi kamu tidak boleh menggunakan kontrasepsi, aku mau kamu hamil,” tawar Pram.
“Tidak! Aku belum mau hamil Om.” tolak Kailla.
“Ya sudah, selesaikan kuliahmu! Tidak ada penawaran!”
Kailla menghela napas kasar menghentakan kakinya. “Aku sungguh ingin bersama daddy.”
“Kai, aku serius kali ini. Aku akan mengatakan pada daddy sebentar lagi, kalau aku akan menikahimu 2 hari lagi.” ucap Pram.
“Kalau kamu tidak mau menikah denganku, aku akan memberimu kesempatan untuk mengatakannya terlebih dahulu kepada daddy nanti. Tapi kalau kamu tidak berani mengatakannya, kamu tidak memiliki kesempatan lagi selamanya. Kamu tetap harus mrnikah denganku. Dan aku pastikan kamu tidak akan bisa mundur lagi.” lanjut Pram lagi.
Pram menghampiri kailla, memeluk erat gadis itu. “Maafkan aku, aku juga tidak punya pilihan. Aku benar-benar mencintaimu. Cukup kamu percayakan hidupmu padaku.” bisik Pram, kemudian mengecup kening Kailla.
***
Daddy sedang disuapi oleh perawat saat mereka masuk ke ruang perawatan. Melihat itu, segera Kailla mengambil alih mangkok bubur dari tangan perawat.
“Aku saja, Sus.” Kailla langsung duduk di samping ranjang dan mulai meyuapi daddynya dengan telaten.
“Daddy suka?” tanyanya sambil tersenyum manis. Sesekali dia membersihkan sisa bubur yang belepotan di sekitar mulut daddynya.
“Dad, kamu merindukanku? Aku sangat merindukanmu. Daddy harus cepat sembuh, jadi setiap waktu aku bisa melihatmu di rumah.”
Daddy terlihat berusaha tersenyum, tapi harus dengan bersusah payah. Tangannya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Daddy mau menyentuhku?” tanya Kailla menahan air matanya yang mulai berkaca-kaca. Segera dia meraih tangan daddynya yang kaku dan membawa tangan yang gemetaran itu menyentuh wajahnya. Ada bulir airmata yang mengalir di pipi keriput sang daddy.
“Aku mencintaimu Dad.” Kailla mengecup pipi daddynya, menghapus sisa-sisa air mata mengalir di sana.
Kailla sedang memejamkan mata di samping daddynya saat Pram mendatangi mereka. Pram sedari tadi memilih diam, menatap ayah dan anak yang saling berbagi kasih sayang.
“Kai... bukannya ada yang mau kamu sampaikan ke daddy?” tanya Pram lembut menepuk bahu Kailla.
Deg—
“Aku harus bilang apa!”
“Ti—tidak ada.” Kailla menjawab terbata-bata sembari menatap Pram.
“Dad, ada yang mau aku sampaikan.” Pram membuka pembicaraan, sekilas dia melirik ke arah Kailla yang sedang tertunduk.
“Dad, lusa aku akan menikahi Kailla, mungkin daddy tidak bisa menghadiri. Tapi setelah daddy sembuh kita bisa menggelar resepsi. Aku meminta restumu Dad.” Pram mencium tangan Pak Riadi.
Mata Pak Riadi langsung berkaca-kaca kembali. Di seperti ingin mengatakan sesuatu.
“I.....iiii...... yah.” dengan bersusah payah akhirnya kata itu terucap juga dari bibirnya. Terlihat Pram langsung memeluk Pak Riadi dan membisikkan sesuatu.
“Dad, aku akan menjaga putrimu dengan baik. Daddy jangan khawatir.” Bisik Pram yang dijawab sebuah anggukan.
***
2 hari kemudian.
Kailla baru saja keluar dari kamarnya setelah dirias oleh MUA. Tadinya dia ingin berbicara dengan daddy sambil menunggu Pram datang menjemputnya. Tapi daddy sepertinya masih tertidur di kamarnya ditemani perawat. Sejak kemarin daddy sudah dirawat di rumah. Semenjak tahu Kailla dan Pram akan menikah, daddy bersemangat sekali dan itu membantu proses pemulihannya.
Rumah tampak sepi, hanya beberapa asisten rumah tangga saja dan security yang berjaga di depan. Tidak ada yang special, karena Kailla dan Pram hanya menikah secara agama dan negara. Tidak ada resepsi, bahkan yang hadir hanya para saksi. Mereka sepakat untuk tidak dirayakan sampai daddy sembuh.
Saat ini Kailla sedang menunggu Pram menjemputnya.
Terimakasih.