Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 71 : Wasiat


Hari ini ruas jalan menuju ke kantor lumayan tersendat. Beberapa kali mereka harus terjebak macet dan mobil terpaksa merayap. Mereka harus menghabiskan waktu lebih lama di perempatan lampu merah, karena antrian mobil yang panjang. Ini menjadi lahan rezeki buat pedagang asongan yang biasa menjajakan koran, minuman, cemilan bahkan para pengamen.


“SAM!! Ayo cepat jalankan mobilnya. Kunci pintunya!! teriak Kailla menatap pedagang kacang goreng yang menawarkan dagangannya berdiri di samping jendela mobil. Raut ketakutan dan panik tercetak jelas di wajahnya.


Teriakan Kailla yang keras seketika mengejutkan Pram yang sedang memejamkan matanya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali, memandang Kailla yang sedang menangis menunjuk pedagang yang berdiri di jendela.


“Kai.... Sayang..,” panggil Pram menyadarkan Kailla. Menepuk lembut pipi Kailla yang terus menerus menangis. Dia terpaksa harus berjongkok di depan Kailla untuk menenangkannya.


“Ayo Sam! kita jalan,” perintah Kailla lagi, tidak mempedulikan Pram di hadapannya.


“Ta..tapi Non. Ini lagi macet. Mobil kita tidak bisa berjalan.” sahut Sam terbata-bata.


Kailla masih menatap pedagang yang berseliweran dan sesekali berhenti di jendela mobil dekat dia duduk.


“Aku tidak mau tetap disini. Dia mau menculikku lagi!” ucap Kailla keras. Dia sudah bersiap berdiri untuk meraih gagang pintu di samping tempat duduk Pram. Untung saja langkahnya tertahan oleh Pram sedang berjongkok di depannya.


“Kai.., tidak ada yang menculikmu disini!” ucap Pram sedikit keras. Berharap Kailla segera sadar dari bayangan peristiwa di malam penculikannya.


“Sam! Tutup jendelanya!” perintah Pram. Dia kembali duduk, setelah memastikan semua jendela telah tertutup.


“Kemarilah Kai.” Pram meraih tangan Kailla, mengajak Kailla duduk di pangkuannya. “Tidak ada yang menculikmu disini.” bisiknya di telinga Kailla, setelah memastikan istrinya itu duduk dengan nyaman di pangkuannya. Tubuh Kailla masih bergetar hebat di dalam pelukan Pram.


Pram bisa merasakan seberapa takutnya Kailla saat ini. Tergambarkan dari seberapa erat kedua tangan Kailla memeluk lehernya. Menelusupkan kepalanya disana.


“Kai, jangan takut. Tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi,” hiburnya. Mengelus punggung Kailla lembut.


Pram terus-terusan membisikan kata-kata yang menenangkan di telinga Kailla, tangannya pun tak lelah membelai. Hingga dirasakan istrinya sudah tenang.


“Kai.., Kai..,” panggil Pram lembut. Hening, tanpa ada respon sama sekali dari Kailla.


“Sayang.....” panggil Pram sekali lagi. Tidak ada jawaban, bahkan pergerakan pun tidak ada. Pram mencoba mengintip wajah Kailla yang melemas di pundaknya, Pram terbahak. Kailla lagi-lagi tertidur.


***


Tiba di kantor, Pram dan Kailla turun dari mobil ditemani Sam dan Bayu di belakangnya. Terlihat Pram menggengam tangan Kailla menuju lift. Tatapannya lurus ke depan tanpa menjawab sapaan karyawannya. Hanya Kailla saja yang tersenyum dengan muka bantalnya dan mengangguk kesana kemari meladeni karyawan yang menyapa mereka sedari masuk kantor RD Group.


Sam dan Bayu memilih menunggu kedua majikannya itu di lobby sambil mengoda para gadis cantik yang duduk di meja resepsionis.


Begitu pintu lift yang mengantar mereka ke ruangan Pram terbuka, tampak Stella yang tersenyum manis menyambut kedua atasannya.


“Pak, Nyonya!” sapa Stella tersenyum manis. Sekilas dia melirik Kailla dan tersenyum menggoda istri atasannya itu. Ini pertemuan mereka untuk pertama kalinya setelah Kailla menikah dengan Pram. Bahkan Stella belum punya kesempatan mengucapkan selamat kepada Kailla.


“Mereka dimana Ste?” tanya Pram begitu mendorong ruang kerjanya dan tidak ada siapa-siapa di dalamnya.


“David membawa mereka menunggu di ruang meeting Pak.” sahut Stella. Pram mengangguk, merespon jawaban Stella.


“Ayo Kai!” ajak Pram lagi kembali meraih tangan Kailla dan menarik istrinya menuju ruang meeting.


Mendengar protes Kailla, Pram menghentikan langkahnya seketika. “Maaf.” ucapnya singkat.


“Kalau saja kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, aku tidak akan sungkan-sungkan mengendongmu ke ruang meeting Kai.” goda Pram tersenyum.


“Hah! Tidak! Aku bukan anak kecil lagi Om!” tolak Kailla menatap Pram sinis. Dia masih ingat dengan jelas, bagaimana Pram mengelabuinya dulu. Saat dia merengek ingin bertemu dengan daddy di kantor, Pram akan menggendongnya dari lantai bawah sampai ke lantai atas demi mengulur-ulur waktu supaya dia tidak mengganggu daddy di ruang meeting. Bahkan tidak jarang, dia sampai harus tertidur di gendongan Pram saat menunggu daddy.


Pram terkekeh melihat ekspresi Kailla saat ini. “Dengar Kai, mana ada yang berani denganmu sekarang. Seorang Reynaldi Pratama saja akan bertekuk lutut di depanmu!”


***


Begitu Pram dan Kailla masuk ke ruang meeting, tampak David sedang mengobrol dengan pengacara pribadi Pak Riadi. Tidak jauh dari tempat duduk mereka, ada dua orang yang ikut menyimak pembicaran.


“Selamat Siang,” sapa Pram begitu masuk ke dalam ruangan. Terlihat Pram menyalami semua yang ada di dalam ruangan dan memperkenalkan Kailla yang sedari tadi memeluk erat lengannya tidak mau lepas. Pram mempersilahkan para tamunya duduk kembali, dia sendiri memilih duduk di salah satu kursi ditemani Kailla disampingnya.


“Ada apa ya Pak?” tanya Pram membuka pembicaraan, setelah memastikan David sudah keluar dari ruangan.


Kailla yang duduk di sebelah Pram terlihat menggeser kursi mendekati Pram. Secepat kilat dia meraih tangan Pram yang berada di atas meja, menautkan jari-jarinya dengan jari-jari milik Pram kemudian menyembunyikan tautan tangan mereka di bawah kolong meja. Melihat kelakuan Kailla, Pram menatap istrinya sekilas, tersenyum sembari mengedipkan matanya.


Pram kembali mengubah ekspresinya saat menatap orang-orang di hadapannya. Senyuman itu hilang, berganti wajah seriusnya.


“Begini Pak Pram, sebelumnya saya minta maaf. Seharusnya saya datang menemui Bapak dan Ibu sebelum pernikahan Bapak dan Ibu terjadi, seperti permintaan Pak Riadi sendiri yang pernah disampaikan kepada saya.” Pengacara itu memulai pembicaraan.


“Ada masalah apa ya Pak dengan mertua saya?” tanya Pram.


“Pak Riadi meminta saya untuk membantu proses pengalihan semua aset-asetnya baik yang atas nama Pak Riadi pribadi maupun yang atas nama perusahaan.” jelas sang pengacara.


Kailla terlihat bingung, dia mengeratkan gengaman tangannya.


“Awalnya Pak Riadi sempat membuat surat wasiat dan sempat mengalami perubahan setelah Ibu Kailla lahir.” jelasnya lagi.


“Tapi beberapa bulan yang lalu, Pak Riadi kembali memanggil saya untuk membantu proses pengalihan aset sebelum putrinya dan Bapak menikah. Dan pengalihan aset ini disesuaikan dengan wasiat Pak Riadi setelah perubahan. Seluruh aset atas nama Riadi Dirgantara akan dialihkan kepada Ibu Kailla Riadi Dirgantara.”


Terlihat pengacara itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Riadi Dirgantara Group beserta aset-asetnya akan dialihkan kepada Bapak Reynaldi Pratama.” jelasnya lagi. “Dan bapak- bapak di hadapan kita ini yang akan membantu proses peralihannya.” lanjutnya lagi.


Kailla yang sedari tadi diam dan bingung, akhirnya bereaksi.


“Aku tidak mau,” bisiknya ke Pram dengan mata berkaca-kaca. “Daddy masih hidup, aku tidak mau menerimanya. Aku cuma mau daddy, yang lain aku tidak mau.” lanjutnya lagi mulai terisak.


***


Terimakasih dukungannya. Mohon bantuan komen dan like jika berkenan ya. love you all