
Anita langsung tersenyum bahagia begitu melihat sosok yang ditunggu sedang berjalan masuk ke dalam gedung. Pram terlihat semakin tampan dan gagah dengan setelan birunya. Anita yang saat itu sedang berbincang dengan salah satu rekan bisnisnya langsung berpamitan untuk menyambut kedatangan Pram.
Tapi..
Rasa bahagianya seketika menguap terbang entah kemana, saat langkahnya semakin dekat dengan Pram. Ada sosok lain yang berjalan di belakang Pram.
“Kailla!” ucapnya.
“Brengsek! Beraninya dia membawa serta gadis j*lang itu kesini.!! Tidak! Ini tidak mungkin, rencana yang sudah kususun, bisa berantakan kalau begini,” batinnya.
Terlihat Pram meraih tangan Kailla dan mengenggamnya begitu mereka sudah masuk ke dalam gedung.
“Pram..” sapa Anita berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin.
“Hai An!” Pram juga berusaha untuk bersikap ramah dan memberi senyum walau terkesan dipaksakan. Dia mengulurkan tangannya, untuk menyalami Anita. “Sukses An!”
“Terimakasih.” Anita tersenyum kecut. Melirik Kailla yang berdiri disamping Pram. Dari tadi gadis itu hanya diam mengenggam erat tangan Pram.
“Sayang..,” panggil Pram. Sorot matanya meminta Kailla untuk ikut menyapa Anita.
“Aku harus memanggilnya apa, pertemuan kami sebelumnya bahkan hanya sebatas perkenalan tanpa saling menyapa.”
“Selamat ya, Tante!” Kailla mengulurkan tangannya. Dia sendiri bingung harus memanggil wanita cantik di hadapannya ini dengan sebutan apa. Tapi mengingat dia seumuran suaminya yang dipanggilnya Om. Hanya panggilan itulah yang terpikir di kepalanya.
Pram membuang mukanya kesamping, berusaha menahan tawanya supaya tidak keluar. Dia sempat melihat ekspresi Anita, mata wanita itu hampir meloncat keluar menatap Kailla.
“Terimakasih!” Anita menjawab singkat, menyambut tangan Kailla.
“Astaga, anak ini! Sepertinya dia sengaja mempermalukanku di depan Pram.”
Setelah bertegur sapa dengan Anita, Pram membawa Kailla menemui Ibu Anita yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka berdiri saat ini.
“Selamat sore, Bu. Apa kabarnya?” Pram berjongkok mengenggam tangan Ibu Anita.
“Pram.. Kamu datang, Nak?” Ibu anita terlihat senang menyambut kedatangan Pram. “Ayo kita duduk”,” lanjutnya lagi ketika melihat Pram yang sedang berjongkok di depannya.
Pram berdiri dan menarik Kailla untuk berdiri disisinya.
“Bu kenalkan istriku, Kailla!” ucap Pram menepuk lembut punggung Kailla, membawanya untuk menyapa Ibu Anita.
“Kailla, Oma.” Kailla sedikit membungkuk kemudian mengenggam tangan keriput yang sedang menggenggam pegangan kursi roda.
Ibu Anita terbelalak menatap Pram tidak percaya, kemudian beralih menatap sayu pada Anita yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.
“Cantik.” Ibu Anita tersenyum membelai pipi Kailla. “Dia masih muda sekali. Selamat ya untuk pernikahannya.” ucap Ibu Anita menatap Pram.
Jujur di dalam hati kecilnya, dia masih mengharapkan Pram bisa kembali dengan Anita. Apalagi sekarang Anita juga sudah sendiri. Tapi takdir sepertinya tidak berpihak pada putri kesayangannya. Tidak dulu atau sekarang, Pram memang tidak pernah ada di garis jodoh putrinya. Selama ini, dia melihat sendiri bagaimana Anita yang tidak bisa melupakan Pram, walau berkali-kali dia mengatakan sangat membenci Pram tapi jauh di dalam hatinya dia masih menyimpan cinta yang sama besarnya dengan cintanya pada Pram 17 tahun yang lalu.
Dia menatap Anita yang sedang menyapa para tamu, ada rasa sakit di hatinya. Tidak bisa dibayangkan kalau sampai Anita mengetahui Pram sudah menikah saat ini. Kegilaan seperti apalagi yang bisa dilakukannya. Pernikahan Anita dengan almarhum suaminya juga adalah buah dari kekecewaan pada Pram.
Sekarang hanya satu yang ditakutkannya, putrinya kembali menggila seperti dulu. Dengan bersusah payah dia dan keluarga mengembalikan Anita menjadi wanita normal kembali. Sejak suami Anita meninggal, ambisi dan dendam masa lalunya kembali. Bukannya dia tidak tahu, sejak 2 tahun belakangan, Anita menyewa orang untuk mencari tahu semua hal tentang Pram.
***
“Baik Bu,” Pram menjawab ramah. Dia memilih mengajak Kailla mencari tempat duduk di pojok ruangan. Melihat gelagat Kailla, dia tahu kalau istrinya itu sudah tidak nyaman berada disana.
Pram dan Kailla sedang menikmati hidangan penutup ketika Kepala Cabang perusahaannya yang di Bandung menyapa mereka.
“Sore, Pak Presdir.” sapa sang kepala cabang sambil menyalami Pram. Terlihat dia juga sedang ditemani istrinya menghadiri undangan Anita.
“Oh, Sore Pak. Bagaimana?” Pram tampak menyalami dan tersenyum.
“Baik Pak. Oh ya, kenalkan istriku.” Tampak sang kepala cabang memperkenalkan istrinya kepada Pram.
Pram terlihat menyalami sekaligus memperkenalkan Kailla.
“Istriku Kailla,” kenal Pram pada kedua orang dihadapannya. Disambut dengan adegan salaman dan cium pipi kiri dan kanan antara kedua istri.
Deg—
Anita yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka ikut mendengar ucapan Pram. Matanya langsung menatap tak percaya pada dua pasangan yang sedang berbincang-bincang di pojok ruangan.
“Istri?” Sejak kapan? Bahkan tidak ada yang melaporkannya padaku kalau Pram sudah menikah.”
Rasa penasaran membawa kakinya melangkah mendekat. Hal pertama yang dilihat Anita adalah cincin dengan model hampir sama yang terselip di jari manis Pram dan Kailla. Tapi dia masih belum yakin, bisa saja itu hanya cincin pertunangan. Anita masih menolak mempercayai pendengarannya sendiri. Semakin mendekat, hatinya semakin teriris. Dia bisa melihat bagaimana protektifnya Pram. Tangan kiri Pram yang selalu menempel di pinggang ramping Kailla, seolah tidak ingin gadis itu menjauh darinya.
“Selamat Sore!” Sapa Anita memulai percakapan.
“Ah Ibu Anita. Selamat ya!” Terlihat kepala cabang dan istrinya menyalami Anita yang ikut bergabung dengan mereka.
Anita tersenyum, matanya masih tidak lepas dari Kailla. Ada rasa cemburu merayap di dalam hatinya. Bagaimanapun dia masih menginginkan posisi yang sekarang diambil alih Kailla. Itu tempatnya. Kondisi dia yang sedang hamil anak Pram, harusnya Pram memberi status itu padanya bukan Kailla.
Terlihat Pram, Anita dan kepala cabang terlibat percakapan mengenai proyek bersama mereka yang sudah sampai tahap finishing. Kailla sendiri memilih diam berdiri di samping Pram, sesekali dia tersenyum merespon pembicaraan yang sama sekali tidak dipahaminya.
“Baiklah, sepertinya kami harus berpamitan dulu. Terimakasih undangannya Bu Anita.” pamit kepala cabang pada Anita.
“Mari Pak Presdir, Bu Presdir!” Kepala cabang juga berpamitan dengan Pram dan Kailla.
Anita langsung menatap tajam pada Pram. “Kamu bahkan tidak mengundangku, Pram.”
Pram menghela napas kasar, menatap Kailla yang berdiri di sampingnya tanpa banyak bicara.
“Baik, aku kesini memang khusus untuk memperkenalkannya padamu. Ini Kailla istriku, Nyonya Reynaldi Pratama! Mulai sekarang kamu harus tahu posisimu.” ucap Pram. Segera dia menarik tangan Kailla untuk meninggalkan Anita.
“Tunggu Pram!” cegah Anita. Terlihat dia menahan tangan Kailla agar berhenti dan mau mendengarkan ucapannya.
“Kamu tidak bisa memutuskan begini saja Pram. Istrimu tentu belum mengetahui semuanya sampai dia bersedia menikah denganmu.” lanjut Anita lagi.
Pram menghentikan langkahnya seketika, menarik Kailla agar berdiri di belakang tubuhnya.
“Apa maumu?” tanya Pram berusaha merendam nada bicaranya supaya tidak terdengar kasar. Telunjuknya mengarah jelas ke arah Anita. Sekarang dia sedang mengontrol emosi yang sudah memuncak hanya demi istri yang sedang dilindunginya. Dia tidak mau Kailla ketakutan melihat kemarahannya.
“Haha... kamu takut Pram?” tanya Anita. Kali ini terlihat dia berjalan menghampiri Kailla yang sedang terdiam di belakang Pram.
“Suamimu ini...”
*****
Lanjut nanti malam ya.... terimakasih dukungannya. Love you all.