
Bu Ida masih saja sibuk dengan peralatan tempurnya. Dia benar-benar belum menyadari kelalaiannya saat tadi Kailla berpamitan padanya. Bahkan dia tidak bertanya, tujuan majikannya mencari Bayu. Saat sudah hampir menyelesaikan masakannya, tiba-tiba dia baru tersadar.
Deg—
“Tadi Non Kailla pamit kemana ya,” bisik Bu Ida dengan dahi berkerut. Seingatnya tadi Kailla hanya mencari Bayu.
“Tidak masalah juga, selagi bersama Bayu,” ucapnya lagi, tangannya terlihat masih sibuk mengaduk sup daging di dalam panci.
Bu Ida khusus membuat sup daging itu untuk Kailla, walaupun bukan bakso tapi kuah kaldu sup daging itu rasanya hampir mirip dengan kuah bakso. Dia tersenyum menatap masakannya. Mendengar kehamilan Kailla, dia juga ikut bahagia. Kailla sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
Waktu berlalu begitu cepat, baru saja rasanya tiap malam dia harus begadang bersama Bu Sari, bergantian menimang Kailla sewaktu masih bayi. Kecilnya Kailla sangat rewel sekali. Mungkin karena tidak mendapat sentuhan mama dan daddynya. Bahkan sewaktu belajar bicara, Kailla memanggil mama padanya dan Bu Sari. Tapi sejak dia pindah ke apartemen Pram, hubungannya dengan Kailla sedikit menjauh. Dia tidak bisa tiap hari lagi bertemu dengan putri majikannya itu. Berbeda dengan Bu Sari yang masih melayani Kailla sampai sekarang.
Baru saja dia mengangkat panci berisi sup itu dan memindahkannya ke atas meja minibar, dari arah pintu muncul Bayu yang baru masuk.
“Non Kailla-nya mana Bay?” tanya Bu Ida, kepalanya celingak celinguk, sibuk mencari keberadaan Kailla di balik punggung kekar Bayu.
“Non bukannya masih di kamar?” Bayu balik bertanya. Heran dengan pertanyaan Bu Ida. Dari tadi dia di luar, tidak melihat Kailla keluar sama sekali.
“Non Kailla tadi keluar mencarimu Bay!” jelas Bu Ida mulai panik.
Bayu menggeleng. “Tidak ada Bu,” sahutnya singkat. Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berlari keluar membuka pintu apartemen dengan kasar.
“Habis aku sekarang!” umpatnya pada diri sendiri. Dia berlari mencari ke lobby, berusaha menanyakan pada security. Dia juga sempat mengecek cctv apartemen untuk memastikan keberadaan istri Bossnya itu.
Setelah mengecek cctv, dia melangkah gontai kembali ke apartemen. Kailla benar-benar keluar apartemen, sewaktu dia sedang ke toilet. Dia sempat melihat Kailla celingak celinguk sambil memanggil namanya, sebelum akhirnya masuk ke dalam lift dan turun ke lobby.
“Riwayatku tamat di tangan Pram kali ini!” bisiknya pelan, sambil menjatuhkan tubuhnya yang melemas di atas sofa. Terlihat Bayu menghubungi seseorang untuk mengirim titik keberadaan Kailla, supaya dia segera bisa menyusul.
“Tidak bertemu Bay?” tanya Bu Ida panik. Dia langsung memukul lengan Bayu yang masih bisa duduk santai di sofa setelah tahu Kailla menghilang.
“Ayo Bay! Cepat cari! Non Kailla sedang hamil, kalau sampai kenapa-kenapa, kita berdua pasti habis di tangan Pak Pram!” pukul Bu Ida kembali saat melihat Bayu malah memilih tiduran di sofa sambil memejamkan matanya.
Deg—
“Non Kailla hamil? Astaga! Benar-benar nyawaku tinggal dalam hitungan jam kalau begini,” ucap Bayu mulai panik. Tadinya dia masih bisa sedikit tenang, karena di luar sana, ada pengawal yang dipekerjakan Pram untuk menjaga Kailla. Tapi kalau Kailla sedang hamil, Pram tidak akan melepaskannya walaupun istrinya itu kembali dalam keadaan utuh. Pram pasti akan membuat perhitungan dengannya.
“Bu, aku keluar dulu! Jangan katakan apapun pada Pak Pram!” teriak Bayu berlari keluar dengan panik setelah mendapatkan lokasi Kailla dari si pengawal.
Tapi saat membuka pintu apartemen, Bayu terperanjat. Pram sudah berdiri tepat di depan pintu menatap Bayu dengan tajam. Tangannya terkepal, urat-urat di kening dan pelipisnya menonjol jelas, menandakan seberapa marahnya dia saat ini.
“Ikut aku!” perintah Pram, mengajak Bayu ke ruang kerjanya.
Plak!Plak!Plak!
Tiga tamparan panas beruntun mendarat tepat di wajah Bayu tanpa perlawanan.
“Aku tidak akan bertanya bagaimana dan kenapa. Silahkan bercerita!” perintah Pram. Dia sudah duduk dengan tangan terlipat di dada siap mendengarkan.
“Maaf Bos. Non Kailla keluar saat aku ke toilet,” lapor Bayu sambil menunduk. Dia tidak bisa menjelaskan apapun.
Pram terlihat menghela nafasnya, kepalanya pusing. Baru saja dia masuk ke ruang rapat, bahkan rapat saja belum di mulai. Pengawal Kailla sudah menghubunginya, mengabarkan istrinya keluar dari apartemen tanpa Bayu. Tidak sampai disitu, istrinya berkeliling dari satu kedai ke kedai yang lain di seputaran apartemen. Entah apa yang dicarinya saat ini.
Dan saat kembali ke apartemen, bisa-bisanya Bayu dengan tenangnya masih berada di apartemen tidak mencari keberadaan Kailla sama sekali.
“Kamu boleh keluar sekarang, selalu hubungi pengawalnya Kailla. Biarkan dia yang mengikuti istriku saat ini. Aku harus meeting sekarang,” perintah Pram. Tangannya sudah menyalahkan laptop di meja kerjanya, bersiap bergabung dengan rapat di kantornya.
***
Pram keluar dari ruang kerjanya saat menjelang makan siang. Menatap ke ponsel, belum ada laporan dari pengawalnya Kailla.
“Mudah-mudahan dia baik-baik saja,” ucap Pram pelan.
Membayangkan Kailla sedang di luar sendirian tanpa Bayu membuatnya tidak tenang. Apalagi ini di Wina. Tapi kalau tidak melepaskannya, sampai kapan pun istrinya tidak bisa belajar mandiri. Mudah-mudahan dengan begini, Kailla bisa belajar lebih dewasa, walaupun setelah ini bisa dipastikan dia tidak akan pernah mengizinkannya lagi.
Pram baru saja bersiap menyantap makan siangnya, saat bel di pintu apartemennya berbunyi.
“Pak Pieter,” ucapnya pelan saat membuka pintu dan mempersilahkan asisten Bosnya itu masuk.
Bruk!! Pieter meletakan tumpukan berkas itu di atas meja makan.
“Kenapa kamu yang mengantarnya? Bukankah kamu bisa mengirimnya melalui sopir,” tanya Pram.
“Sekalian memastikan semuanya baik-baik saja,” sahut Pieter tersenyum.
“Mendadak keluar dari ruang rapat. Apa ada masalah, Pram?” tanya Pieter mencari tahu. Pieter curiga, telah terjadi sesuatu dengan Kailla. Pram hanya akan meninggalkan pekerjaannya kalau itu berurusan dengan istrinya. Apalagi sedari tadi, dia tidak melihat istri temannya itu. Hanya Pram duduk sendirian menyantap makan siangnya.
Pram menggeleng. “Mau ikut makan siang?” tawar Pram, meminta Bu Ida mengambil piring kosong untuk Pieter.
Pram tidak mau bercerita banyak hal mengenai Kailla pada Pieter. Dia tidak mau perasaan Pieter pada Kaillaa semakin berkembang. Tampak kedua sahabat itu menyantap makan siangnya sambil membahas pekerjaannya.
“Pieter, selanjutnya kamu ambil alih seluruh urusan yang berhubungan dengan Winny dan perusahaannya. Aku tidak mau terlibat lagi,” pinta Pram. Tangannya terlihat sibuk menyuapkan sup daging ke dalam mulutnya.
“Baik Pram. Istrimu pencemburu sekali,” ucap Pieter menggoda Pram.
“Aku bahkan melihatnya menuang jus pada Winny,” bisiknya sambil terkekeh.
Baru saja Pram akan menjawab, ada sebuah pesan teks masuk ke ponselnya.
Pak, Nyonya mulai panik. Sepertinya Nyonya terlalu menikmati acara jalan-jalannya, sampai tidak tahu arah pulang ke apartemen.
Pram tersenyum setelah membaca pesan masuk itu. Dia sudah hafal dengan kelakukan Kailla setiap lepas dari pengawasan dan pengawalan.
Ikuti saja, terus awasi! Kalau dia tampak mulai menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa, tolong arahkan dia ke kantor polisi terdekat. -Pram-
“Jangan membahas istriku lagi,” ucap Pram ketus, menjawab pertanyaan Pieter sebelumnya.
“Haha...,” tawa Pieter pecah saat melihat tatapan tajam Pram.
“Sejak kapan seorang Pram jadi pencemburu,” ucap Pieter masih tertawa.
“Aku tidak peduli kamu menyukai istriku. Itu hakmu, aku tidak bisa melarangmu. Tapi aku keberatan kamu mendekatinya, apalagi sampai mengganggu milikku,” ucap Pram tegas.
“Mungkin terdengar gila, aku bisa bicara setenang ini pada orang yang berusaha merebut milikku. Tapi aku paling mengenal Kailla, aku percaya istriku. Kalau pun dia berpaling, bukan kamu orangnya,” jelas Pram lagi.
***
Terimakasih
Love you all. Mohon bantuan Like, komen dan share ya