
“Sayang, tolong pasangkan,” pinta Pram, menyodorkan dasinya di pangkuan Kailla.
“Sebentar....” Kailla masih sibuk memoles cream di wajahnya. Membiarkan Pram menunggu sambil mengecek email di ponsel.
Setelah memoles tipis lipstik di bibirnya, barulah dia beranjak dari meja riasnya. Menghampiri Pram yang sedang serius menatap layar di ponsel.
“Ah, kamu bertambah tinggi Sayang. Ayo turunkan tubuhmu seperti biasanya!” protes Kailla saat dia harus sedikit kepayahan mengalungkan dasi di leher suaminya.
“Ahhhh...!” teriak Kailla, saat baru saja menyelesaikan protesnya, Pram sudah menggendongnya tiba-tiba, berdiri di atas tempat tidur.
“Ini ketinggian Sayang!” gerutu Kailla lagi.
“Sudah! Jangan banyak protes. Nanti aku bisa menggigitmu!” ancam Pram. Tanpa menoleh ke arah istrinya. Saat ini dia masih serius dengan ponselnya. David sedang mengirim laporan pekerjaan untuknya. Dia butuh konsentrasi untuk membacanya.
“Sayang, aku ikut denganmu saja ya,” rengek Kailla, tangannya sedang membuat simpul di leher suaminya.
“Hmmm, tapi kamu akan lelah menunggu Sayang. Setelah makan siang Mitha baru mengajakmu,” ucap Pram menatap Kailla sekilas.
“Tapi.... aku akan bosan menunggu di rumah.” Kailla beralasan.
“Kamu yakin?” tanya Pram, menatap ke manik mata Kailla.
Kailla mengangguk. “Iya, aku akan menunggu di ruanganmu!” jawab Kailla pasti.
“Janji tidak membuat kekacauan?” tanya Pram meminta kepastian Kailla. Dia sudah sangat hafal dengan istrinya, yang kadang sengaja atau pun tidak sering membuat masalah untuknya.
“Iya...!” Kailla mengangguk.
“Baiklah....,” ucap Pram menyetujui, menyentil kening istrinya.
“Sudah!” ucap Kailla setelah selesai memasangkan dasi. Tangannya sibuk merapikan kerah kemeja Pram saat ini. “
“Ayo turunkan aku!” pintanya pada Pram sambil merentangkan kedua tangannya. Berharap Pram menggendongnya turun.
“Kalau aku loncat dari atas tempat tidur, kasihan anakmu. Dia masih tidur di dalam sini, nanti dia kaget,” rengeknya lagi, setelah melihat Pram malah berbalik pergi. Tanpa melihat ke arahnya lagi.
“Ah.....!” dengus Kailla kesal, saat Pram malah sibuk menyemprotkan parfum di tubuhnya. Terpaksa dia turun sendiri, gagal bermanja-manja dengan suaminya.
“Jangan terlalu banyak menyemprotnya. Nanti aroma tubuhmu jadi berubah, aku tidak suka!” protes Kailla sambil memeluk pinggang Pram dari belakang.
“Kenapa kamu bawel sekali pagi ini Sayang,” ucap Pram. Matanya menatap Kailla melalui cermin meja riasnya.
“Ah...,” dengus Kailla lagi.
“Kenapa lagi?” tanya Pram setelah menangkap wajah cemberut Kailla.
“Kamu belum menciumku pagi ini,” protes Kailla kesal.
“Haha... hanya itu kamu harus kesal seperti ini,” ucap Pram sambil tertawa.
“Kemarilah!” pinta Pram, menarik tangan Kailla supaya berdiri di hadapannya.
Cup!Cup!Cup!Cup!
Ciuman beruntun dilabuhkan Pram di kening, pipi dan bibir Kailla. Ditutup dengan kecupan di pucuk kepala Kailla.
“Sudah! Ayo kita berangkat ke kantor. Aku ada rapat pagi ini,” ucap Pram menarik tangan Kailla ikut keluar dengannya.
Sampai di ruang makan, sudah tampak Bu Ida sedang menyiapkan sarapan di atas meja.
“Bu, aku akan ikut ke kantor,” cerita Kailla, sembari meraih sepotong roti tawar dan jus yang sudah disiapkan Bu Ida.
“Baik Non.”
Pram memilih duduk di samping Kailla yang sudah berselancar dengan ponselnya, menyantap nasi goreng special buatan Bu Ida.
“Sayang, kamu tidak mau mencobanya?” tanya Pram, menawarkan nasi goreng yang ada di hadapannya. Dia sudah mengangkat sendok, bersiap menyuapkan nasi goreng itu ke mulut Kailla.
“Tidak mau! Nanti aku muntah lagi,” tolak Kailla, tetap menggigit roti tawarnya.
“Kamu tiap hari hanya makan dengan roti. Bagaimana nasib anakku di dalam sana,” protes Pram, pandangannya menunjuk ke arah perut Kailla.
“Aak.. satu suap saja!” pinta Pram. Kalau muntah jangan diteruskan lagi,” ucap Pram lagi.
Kailla terpaksa membuka mulutnya ragu-ragu. Dia sebenarnya ingin bisa makan apa saja seperti orang-orang. Tapi bayinya terlalu cerewet, makan apa saja, pasti dia akan berontak.
Satu suapan mulus tanpa halangan seperti biasanya. Bahkan Kailla sendiri tidak menyadari, dia terlalu serius dengan game di ponselnya saat ini.
Melihat Kailla yang tidak muntah, Pram kembali menyuapkan nasi itu pada Kailla. Dia tersenyum menatap wajah istrinya yang sedang serius bertarung dengan ponsel di tangannya. Bahkan Kailla tidak menyadari, kalau Pram terus-terusan menyuapinya nasi goreng. Istrinya hanya membuka mulutnya saja setiap sendok itu mendekat.
Bu Ida yang heran melihat Kailla melahap nasi goreng tanpa drama mual dan muntah, baru saja akan membuka mulut untuk berkomentar. Tapi Pram sudah memberi kode padanya untuk tetap diam. Melihat telunjuk yang ditempelkan di bibir majikannya itu, pertanda dia diminta untuk tetap diam dan tidak banyak bicara. Bu Ida pun memilih ke dapur untuk mencuci piring kotor.
“Hmmmm,” gumam Kailla masih saja serius dengan ponselnya. Kali ini dia sedang berburu tas di toko langganannya.
“Jangan lupa minum vitamin dan susumu hari ini?” Pram mengingatkan.
“Astaga...!” Kailla menutup mulutnya seketika, membayangkan perjuangan yang harus dilewatinya sebentar lagi.
“Jangan sekarang, kamu baru selesai sarapan. Bawa ke kantor saja!” pinta Pram. Dia baru saja berhasil menyuapi Kailla nasi goreng, dia tidak mau susu dan vitamin itu menghancurkan usahanya tadi. Dia khawatir Kailla memuntahkannya kembali.
“Bu, tolong siapkan vitamin dan susuku. Aku akan membawanya ke kantor.” perintah Kailla pada Bu Ida.
“Baik Non,” sahut Bu Ida tersenyum. Dia sedang bahagia pagi ini. Majikannya tidak muntah seperti biasanya.
“Anaknya Non Kailla cuma mau sama bapaknya. Dari dalam perut saja sudah berontak sama ibunya,” ucap Bu Ida dalam hati.
Bu Ida tersenyum kecut membayangkan betapa berisiknya nanti rumah mereka dengan omelan dan protes dari Kailla, saat bayi itu lahir. Belum lagi kalau sudah beranjak besar dan tiap hari bertengkar dengan ibunya. Bu Ida yakin, hari-harinya Pram akan dilewatkan dengan penuh perjuangan, membayangkan Pram harus mengurus istri dan anaknya sekaligus.
***
Setelah makan siang, Mitha pun menjemput istri Presdirnya di ruangan Pram. Setelah mengetuk pintu, dia pun masuk ke dalam ruangan. Tampak Pram yang sedang serius menatap laptop yang menyala di mejanya. Kailla sendiri sedang duduk di sofa, memantau medsos di ponselnya.
“Maaf Pak Presdir, saya jalan sekarang?” tanya Mitha ragu. Setelah melihat Pram tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.
“Iya..,” sahut Pram, tersenyum menatap Kailla.
“Nyonya, kita berangkat sekarang,” ajak Mitha, mengejutkan Kailla.
“Ah.... oke!” sahut Kailla, menyambar tas di sampingnya dan mengekor Mitha keluar dari ruangan. Tapi baru saja kakinya sampai ke pintu, Pram sudah bersuara terlebih dulu.
“Nyonya, kamu tidak berpamitan pada suamimu?” Pram mengingatkan. Menatap Kailla dengan wajah kesal. Bisa-bisanya Kailla melupakan suaminya sendiri.
“Maaf, aku terlalu senang jadi melupakanmu,” ucap Kailla berbalik menghampiri Pram.
“Kemarilah!” Pram menarik Kailla duduk di pangkuannya.
“Setelah melihat kejutannya, aku harap kamu langsung menghubungiku. Aku ingin mendengar suaramu,” pinta Pram, memeluk erat Kailla yang sedang duduk di pangkuannya.
“Aku tidak bisa ikut, pekerjaanku masih banyak disini,” lanjut Pram.
“Iya..,” angguk Kailla.
“Aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap bahagia disisiku,” ucap Pram lagi.
“Iya...,” sahut Kailla singkat.
“Setelah ini jangan nakal lagi. Kalau tidak, aku akan mengurungmu di dalam kamar,” ancam Pram terkekeh melihat wajah terkejut dan kesal Kailla.
“Hehehe.... cium aku sekarang!” pinta Pram.
Cup! Kailla mengecup bibir Pram sebentar.
“Hati-hati di jalan! Jangan coba-coba selingkuh dariku!” ucap Pram, meraih kepala Kailla dan mengecup kening dan pucuk kepala istrinya, sebelum melepaskannya pergi bersama Mitha yang sedang menunggu di luar ruangan.
***
“Kenapa kita kesini Mit?” tanya Kailla saat mereka masuk ke sebuah restoran. Kailla mengekor Mitha yang sudah berjalan di depannya. Setelah mendapati meja yang sudah terlebih dulu dipesan Pram, mereka pun duduk di sana menunggu kejutan yang diceritakan Pram
“Pak Presdir memintaku membawamu kesini Nyonya. Tunggu sebentar lagi, sepertinya....,”
Mitha tidak dapat melanjutkan kata-katanya, Kailla sudah berteriak histeris melihat pemandangan yang tertangkap oleh matanya.
Kailla langsung menghubungi Pram sambil menangis. Tepat di deringan ketiga, terdengar suara Pram dari seberang telepon.
“Iya Kai..., kamu sudah mendapatkan kejutanmu?” tanya Pram.
“Hiks..hiks... sudah. Terimakasih,” ucap Kailla sambil terisak.
“Ya sudah, jangan menangis, nikmati kejutanmu. Kamu harus membayarnya nanti malam,” goda Pram.
“Aku menyayangimu Sayang,” ucap Kailla.
“Aku malah mencintaimu Nyonya,” ucap Pram sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
Tuttttt..........
“Aku juga mencintaimu, Reynaldi Pratama, ucap Kailla dalam hati, sambil menangis menatap kejutan yang diberikan suaminya.
***
Terimakasih. Love You All.