
“Kai...” Pram terlihat menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya lagi.
“Ada hal penting yang harus kamu ketahui.” Akhirnya apa yang disembunyikan Pram selama ini, mulai diungkapkan juga pada Kailla. Dia terpaksa membuka sebagian, agar istrinya juga bisa menjaga dirinya sendiri. Mulai mengetahui kenapa selama ini, dia harus berdamai dengan keadaan.
“Ada apa?” tanya Kailla mulai khawatir saat melihat wajah serius Pram.
“Jangan takut, aku tidak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa.” Pram berusaha menenangkan.
“Begini nyaman?” tanya Pram setelah membiarkan istrinya menatap pemandangan danau di hadapannya.
“Hmmmm,” guman Kailla tersenyum.
“Kamu bisa melihat, laki-laki di ujung sana. Yang mengenakan mantel biru?” tanya Pram, memeluk erat istrinya dari belakang. Berusaha membuat Kailla tenang, berharap kata-kata selanjutnya tidak membuat Kailla terguncang.
“Iya..., ada apa?” tanya Kailla bingung.
“Kalau kamu memperhatikannya selama ini, dia selalu ada di dekatmu,” ucap Pram, membelit erat perut Kailla, sesekali mengusap perut rata istrinya.
“Hmmmm, maksudmu?” tanya Kailla, mulai mencari tahu.
“Dia pengawal pribadimu. Dia akan membantuku, menjagamu setiap kamu berada di luar.
Deg—
“Kamu tidak mempercayaiku?” tanya Kailla, seketika berbalik menatap tajam Pram. Ada amarah yang tercetak nyata di raut wajah Kailla saat ini.
“Bukan begitu. Dia orangku, yang akan menjaga dari bahaya yang mengintaimu,” jelas Pram.
“Jangan bercanda! Aku bukan siapa-siapa, tidak ada yang akan mencelakaiku!” gerutu Kailla, memukul bahu Pram.
Pram menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bercanda Sayang,” jawab Pram, semakin mengeratkan pelukannya.
“Bahkan sekarang kamu memiliki Sam dan Bayu disisimu. Sejak lahir, daddy sudah menyiapkan mereka untukmu bukan?” Pram masih berusaha menjelaskan.
Kailla masih tidak percaya, dia terus-terusan menggelengkan kepalanya.
“Kalau memang tidak ada sesuatu, tidak mungkin mereka dipekerjakan untuk menjagamu siang malam.”
‘Kalau memang tidak ada masalah, tidak mungkin kamu dibatasi daddy sejak kecil,” jelas Pram.
“Aku tidak percaya padamu!” ucap Kailla kesal.
“Kamu hanya mengancamku kan? Supaya aku tidak membuat kekacauan,” lanjut Kailla.
“Tidak Sayang.” Pram menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana aku mengatakannya, supaya kamu mau mempercayaiku.” Pram memejamkan matanya, berharap apa yang dilakukan ini, yang terbaik untuk istrinya.
Pram tidak bisa membayangkan kalau sampai daddy tahu dia sudah membongkar salah satu rahasia yang harusnya Kailla tidak boleh tahu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, istrinya sedang hamil sekarang. Kailla harus tahu, setiap saat dia dalam bahaya. Dan kalau sampai terjadi sesuatu padanya, artinya ada dua nyawa yang sedang dipertaruhkan.
Pram menghela nafasnya sebelum mengeluarkan kata-kata.
“Kai, mama meninggal bukan hanya kecelakaan, tapi ada yang membuat kecelakaan itu terjadi.” Pram berkata.
Kailla diam, menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku tidak percaya dengan semua ucapannmu. Bawakan buktinya ke hadapanku, aku baru akan mempercayai semua ucapanmu!” ucap Kailla.
“Kalau kamu tidak bisa membawakannya, aku anggap tidak mendengar apa-apa hari ini,” lanjut Kailla.
“Kai....,” panggil Pram, meminta istrinya sedikit melunak.
“Sudah, aku ingin menikmati jalan-jalanku. Katakan pada orangmu, aku tidak mau dia terlalu dekat denganku,”ucap Kailla kesal. Pram menghancurkan moodnya, padahal dia sedang menikmati acara jalan-jalannya. Terlihat dia mendengus berkali kali, sambil menatap Pram.
“Kailla tetaplah Kailla...!” ucap Pram, tertunduk. Entah menggunakan cara apa, dia bisa membuat istrinya percaya. Dia bisa saja menunjukkan pesan ancaman itu. Tapi kalau dia menunjukkannya, yang ada Kailla akan merengek minta kembali ke Indonesia lagi karena mengkhawatirkan daddy.
***
Sampai di apartemen, Kailla mulai berulah lagi. Baru saja dia duduk di sofa menonton konten terbaru dari food vlogger kesayangannya, tapi sedetik kemudian dia sudah berlari mencari Pram yang sedang beristirahat di kamar.
“Sayang.., ayo kita cari makan!” ajak Kailla menarik tangan Pram yang setengah tertidur.
“Beri aku 5 menit ya, aku istirahat sebentar Sayang,” pinta Pram. Dia lelah, semalaman dia tidak bisa tidur karena pesan ancaman itu. Paginya dia harus meladeni Kailla yang meminta dengan alasan anak yang merindukannya. Belum lagi sepanjang hari mengajak Kailla berjalan-jalan. Dia baru saja mau memejamkan matanya, Kailla sudah berteriak lagi di telinganya.
“Sayang.., bangun!” panggil Kailla, menarik lengan Pram.
“Hmmmm, kamu tidak lelah?” tanya Pram masih belum rela membuka matanya.
“Ayo.... kita cari makanan seperti yang di makan Nex Carlos itu!” rengek Kailla.
“Kita tidur saja ya?” ajak Pram, meraih tubuh istrinya agar tertidur di atas tubuhnya, kemudian memeluknya erat.
“Aku tidak mau. Aku mau mencari nasi uduk, bebek goreng lengkap dengan sambal petirnya dan kol goreng,” rengek Kailla kembali.
“Kita ajak dedek main bola saja yuk, aku lelah kalau harus berkeliling Sayang!” ucap Pram, masih berusaha membujuk.
“Huh..! Kalau giliran main bola, dia tidak ada lelahnya. Diajak cari makan saja susah!” gerutu Kailla.
“Aku cari dengan Bayu dan Sam saja!” ucap Kailla kesal. Segera bangkit dari atas tubuh Pram. Sontak membuat Pram membuka matanya.
“Tidak! Kamu tidak akan kemana-mana!” ucap Pram, langsung menarik tangan Kailla.
“Aku benar-benar menginginkannya Sayang,” rengek Kailla.
“Aku sepertinya mengidam lagi Sayang,” ucap Kailla mengelus perutnya, tersenyum licik melihat Pram.
“Percuma mencari, pasti tidak akan menemukannya. Kita di Austria bukannya di Pondok Indah Sayang,” ucap Pram.
“Sayang...,” rengek Kailla lagi.
“Minta Sam dan Bayu saja yang mencarinya,” ucap Pram, bangkit dari tidurnya.
Membuka pintu kamarnya. Dia sudah lelah mendengar rengekan Kailla sedari tadi. Permintaan Kailla semuanya merepotkan. Tidak ada satupun yang mudah dituruti. Semua ini gara-gara konten itu, istrinya selalu meminta makanan aneh-aneh, yang tidak ada di Austria.
“Sam..! Bay...!” teriak Pram dari pintu kamarnya. Buru-buru kedua asisten yang sedang duduk santai di sofa itu berlari menemui Pram.
“Iya Bos..!” jawab Bayu, saat sudah berada di depan Pram. Terlihat Sam mengekor di belakang Bayu. Bersiap menunggu perintah majikannya.
“Kai.., mana ponselmu Sayang,” pinta Pram. Mengulurkan tangannya menunggu Kailla menyerahkan ponselnya.
Setelah menerima ponsel dari tangan Kailla, dia kembali bertanya.
“Yang mana tadi yang kamu mau Sayang?” tanya Pram melihat ke arah Kailla.
“Ini...!” Terlihat Kailla menggeser layar ponselnya dan memperlihatkan makanan yang diinginkannya.
“Ini.....!” Pram menunjukkan layar ponsel ke depan kedua asisten istrinya satu per satu supaya mereka bisa melihat dengan jelas.
“Cari sampai dapat! Kalau perlu keliling Austria, cari makanan yang diinginkan istriku! Kalau tidak ketemu, jangan pulang!” perintah Pram membuat kedua asistennya terkejut.
“Tapi Bos.......” Bayu baru saja akan mengemukakan pendapatnya. Tapi Pram sudah memotong terlebih dulu.
“Tidak ada tapi-tapian! Jangan pulang kesini kalau tidak bisa mendapatkan makanan itu. Kalau berani pulang dengan tangan kosong, aku pastikan akan mengirim Sam kembali ke Jakarta saat itu juga!” ucap Pram mengedipkan matanya pada Bayu.
Terlihat Pram menutup kasar pintu kamarnya kembali, bersiap tidur di ranjang empuknya. Kailla yang berdiri di belakang Pram hanya bisa terkejut mendengar perintah Pram.
“Sayang....., tadi serius?” tanyanya ragu-ragu.
“Bagaimana kalau mereka tidak menemukannya,” batin Kailla.
Nafsu makannya hilang saat mendengar perintah dan ancaman Pram yang tidak main-main pada Bayu dan Sam. Dia tidak mau Sam sampai dipulangkan ke Jakarta.
“Sayang...., “panggil Kailla lagi. Kali ini dia memilih mengelus lembut wajah Pram yang masih memejamkan matanya. Mengecup lembut bibir suaminya.
“Aku lelah Kai...,” tolak Pram, saat merasakan tangan Kailla sudah menelusup masuk ke balik pakaiannya, mengelus dada bidangnya.
“Sayang.., aku sudah tidak mau lagi nasi uduk bebeknya, kita main bola saja yuk sama dedek bayi,” bujuk Kailla. Tangannya dengan cekatan membuka ikat pinggang Pram, dan menarik turun retsleting celana Pram.
“Aku lelah Kai...” Pram masih menolak. Sebenarnya pura-pura menolak. Perasaannya saat ini sudah hampir meledak, melihat bagaimana Kailla merayu dan menggodanya.
“Aku yang kerja Sayang, kamu tinggal menikmati saja,” ucap Kailla. Mengulang kalimat yang sering diucapkan Pram saat dia sering menolak suaminya itu.
“Hahaha....Kamu belajar banyak Sayang.“ Pram terbahak mendengar kata-kata rayuan Kailla.
Kailla hanya bisa berdoa dalam hati, semoga apa yang dilakukannya sekarang bisa menyelamatkan Sam. Dia berharap dengan menggoda Pram, dia bisa menyelamatkan Sam, tidak jadi dideportasi suaminya.
***
Terimakasih. Mohon dukungan Like dan komennya. Love You All.