
“Hahaha.., itu caraku mengamankannya Nyonya. Kalau aku tidak mencuri berdiri di tengah, pasti perempuan ini yang menempel ke Pak Presdir. Mendingan diriku, Nyonya sudah jelas bibit bebet bobotku. Lah, kalau perempuan ini, bisa-bisa Pak Presdir langsung diterkam kalau kurang waspada.” Mitha beralasan sambil terkekeh menatap Kailla yang sedang melotot padanya.
“Kamu lihat sendiri Nyonya! Begitu aku berdiri di tengah mereka, tampang perempuan ini langsung jutek banget kan. Keliatan sekali niatnya ke Pak Presdir,” ucap Mitha sambil menunjuk sosok perempuan berbaju putih. Mereka sedang bergosip ala emak-emak komplek saat bertemu di tukang sayur keliling.
“Tapi kamu juga tidak perlu sok kecantikan gitu di depan suamiku!” gerutu Kailla.
“Aduh Nyonya! Cemburumu luar biasa. Lihat ini, Pak Presdir saja tidak mau menatapku sama sekali. Pak Presdir menatap ke samping terus-terusan,” Mitha berusaha menenangkan. Saat ini telunjuknya sedang mengarah pada sosok Pram di dalam ponselnya.
“Awas ya!” ancam Kailla dengan mengulum senyum di bibirnya. Suaminya memang tidak tergoda dengan Mitha ataupun perempuan berbaju putih di foto itu.
“Bukan apa-apa Nyonya, perempuan yang di samping memang lebih cantik dari kita berdua. Kebetulan tidak tersorot kamera. Mata seorang Presdir tidak pernah salah! Hahaha..” Tawa Mitha pecah saat berhasil membuat Kailla mengomel kembali.
“Dasar kamu Mit!” gerutu Kailla. Masih menatap kesal ke arah si penerjemah suaminya.
“Nyonya kamu sakit?” tanya Mitha setelah menghentikan tawanya.
“Aku baik-baik saja Mit,” sahut Kailla sambil menggelengkan kepala.
“Tapi kurusan, pucat lagi.” Mitha berpendapat.
“Seminggu ini aku tidak bisa makan apapun. Mual,” ucap Kailla.
“Hah! Jangan-jangan Nyonya hamil.” Mitha langsung mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
“Masa sih Mit?” Kailla ragu. Dia tidak merasa apa-apa. Selain mual dan tidak nafsu makan.
“Kesempatan ini Nyonya. Kalau beneran Nyonya hamil, ini kesempatan meminta yang aneh-aneh ke suamimu!” Mitha tersenyum jahil menatap Kailla.
“Apa sih Mit.” Kailla masih belum paham arah pembicaraan Mitha.
“Kalau Nyonya hamil, Nyonya bisa minta aaaaa..pa saja ke Pak Presdir. Suamimu pasti akan mengabulkan semuanya. Bahkan kalau Nyonya minta bulan, pasti Presdir akan memerintahkan Pak Pieter mengambilnya untuk Nyonya hahaha,” ucap Mitha.
Dahi Kailla berkerut mendengar ucapan Mitha.
“Iya beneran. Kesempatan ini Nyonya. Kita bisa mengerjai siapa saja. Bahkan suami Nyonya sendiri. Nanti Nyonya beritahu padaku, apa saja keinginan Nyonya yang belum tercapai. Aku bantu list, kita akan mulai memintanya satu per satu,” ucap Mitha memberi ide jahil kepada istri Presdirnya.
“Aku mau Sam kesini, kalau begitu!” Kailla tersenyum licik.
“Hanya itu saja Nyonya? Ngidam itu boleh lebih dari satu, Nyonya!” jelas Mitha.
“Mengidam itu seperti ini maksudnya?” Kailla memastikan lagi.
Mitha mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pikirkan mau mengidam apa saja.” Kailla tertawa. Dia sendiri tidak yakin kalau dia hamil.
“Nyonya, aku boleh nitip gak?” tanya Mitha ragu dengan tersenyum manis.
“Udah ah, semakin mengobrol denganmu, semakin kacau. Aku pamit ya, aku mau pulang dulu. Kepalaku mulai pusing sekarang,” ucap Kailla keluar dari ruangan Mitha. Tangannya memijat pelipisnya sendiri.
“Bye Nyonya. Pikirkan ideku tadi ya,” ucap Mitha setengah berteriak.
Dengan masih memejamkan matanya, dia merogoh isi tasnya. Mencari ponselnya, supaya bisa segera menghubungi Pram. Kepalanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia tidak yakin akan sampai di lobby dengan selamat.
Dia baru saja berhasil mengeluarkan ponselnya, Tapi saat menatap ponsel di tangannya, pandangannya yang berputar-putar sekarang mulai menggelap. Perlahan kesadarannya menurun, kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Dia ambruk di depan ruangan Mitha.
***
Pieter yang baru saja kembali dari makan siang terkejut. Dari kejauhan dia melihat Kailla yang sedang berpegangan di dinding.
“Sepertinya Kailla sedang tidak sehat,” ucap Pieter pelan. Dia sudah hampir seminggu tidak bertemu dengan istri Presdirnya itu.
Melihat Kailla yang tiba-tiba melemas tidak sadarkan diri, Pieter langsung berlari. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Kailla. Terserah Pram akan mengutuk atau mengumpatnya setelah ini. Dia sudah tidak peduli lagi.
Pieter berhasil menangkap tubuh Kailla yang hampir jatuh mengenai lantai.
“Kai.., kamu kenapa?” panggil Pieter sambil menepuk pipi Kailla. Dia masih mendekap erat tubuh Kailla yang melemas dan tidak bertenaga. Beberapa karyawan yang kebetulan lewat juga ikut berkerumun di sana, termasuk Mitha yang keluar setelah mendengar suara ribut-ribut di depan ruangannya.
“Kai.. bangun,” panggil Pieter. Kali ini dia sedikit menggoncangkan tubuh Kailla. Tapi tetap saja tidak ada respon.
“Nyonya, bangun..” Mitha ikut membangunkan Kailla yang berada di dekapan Pieter.
“Mit, aku membawanya ke ruanganku,” ucap Pieter langsung mengangkat tubuh Kailla. Dia tidak mungkin membawa Kailla ke ruangan Mitha yang diisi banyak staff. Pilihan terbaik adalah ruangannya yang lebih privacy dan nyaman. Apalagi ruangannya masih di lantai yang sama.
Pieter mau tidak mau harus menggendong Kailla, tidak mungkin membiarkannya pingsan di sini dan menjadi tontonan karyawan lain. Dengan panik dia membawa Kailla ke ruangannya. Mitha segera berlari memberitahu Pram, kalau Kailla pingsan dan dibawa oleh Pieter. Dia tidak mau mendapat masalah karena ini.
“Kai, kamu kenapa?” tanya Pieter, walaupun dia tahu Kailla tidak akan bisa menjawabnya sekarang. Dia menidurkan Kailla di sofa ruangannya.
“Aku harus bagaimana sekarang?” tanya Pieter. Berbicara pada dirinya sendiri. Terlihat dia berjongkok supaya bisa menatap Kailla lebih jelas.
“Kai, bangun..” panggilnya mengelus lembut wajah Kailla yang memucat. Melihat Kailla yang masih diam, Pieter terpaksa memercikan air ke wajah Kailla.
“Kai..., bangun dong. Jangan membuatku takut,” ucap Pieter setelah usahanya membangunkan Kailla tidak membuahkan hasil.
***
Mitha berlari dengan panik menuju ruangan Presdirnya. Bagaimanapun dia tidak mau terlibat dan ikut-ikutan dengan masalah ini. Dia tahu kalau Pram telah mengultimatum Pieter supaya tidak mendekati istri Presdirnya itu. Bahkan Pram sendiri meminta Mitha untuk melaporkan kalau ada sesuatu diantara Kailla dan Pieter. Tapi saat ini malah Pieter membawa Kailla ke ruangannya dalam keadaan pingsan.
“Aduh, bagaimana ini kalau sampai Pak Presdir marah. Mana tadi barusan keluar dari ruanganku lagi. Hadeuh....!” ucap Mitha sambil berlari.
Begitu tiba di depan ruangan Pram, Mitha langsung meraih gagang pintu dan menerobos masuk tanpa izin.
Ceklek! Mitha masuk tanpa permisi. Sekretaris Pram hanya bisa melotot tanpa bisa mencegah. Dia tidak berpikir Mitha akan masuk dengan lancangnya.
“Pak.. Pak.. Presdir. Itu.. itu Nyonya pingsan,” ucap Mitha dengan nafas tersengal-sengal. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu.
Pram yang sedang memeriksa tumpukan dokumen langsung terkejut.
“Dimana istriku sekarang?” tanya Pram panik sambil berjalan keluar melewati Mitha.
“Di ruangan... Pak Pieter,” jawab Mitha ragu.
****
Terimakasih.