Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 43 : Rumah Sakit


Bagaimana kabarnya Ibu?” tanya Pram setelah kembali duduk di sofa. Asisten rumah tangga yang tadi menbukakan pintu untuk Pram datang dengan membawa secangkir kopi panas dan cemilan.


“Silahkan diminum, Nak.”


“Terimakasih Bu.” Pram mengambil cangkir kopi dan menikmatinya.


“Ibu baik-baik saja sekarang. Ya.. seperti yang terlihat. Umur sudah kian bertambah, kesehatan mulai menurun, Nak Rey..”


“Pram... Ibu bisa memanggilku Pram saja Bu,” pintanya. Sudah lama sekali dia tidak mendengar orang-orang memanggilnya Rey. Belakangan dia lebih memilih untuk dipanggil Pram.


“Baiklah Nak Pram.” Ibu Anita terlihat tersenyum. “Apakah kamu sudah berkeluarga?” tanyanya.


“Beberapa hari lagi Bu. Rencananya aku ingin membawanya ikut bersamaku. Tapi dia tidak bisa ikut,” jawab Pram.


“Selamat Nak, mudah-mudah dilancarkan ya.”


“Terimakasih Bu.” jawab Pram tersenyum.


“Calon istrinya masih muda dan cantik Bu. Dia akan menikahi putri tunggalnya Pak Riadi. Ibu tentu masih ingat.” Anita menambahkan.


“Oo iya... Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik. Kamu tidak berjodoh menjadi menantuku, jadi lupakan semua yang terjadi di masa lalu. Ibu juga sudah mengikhlaskannya. Dengan ikhlas ada rasa lega di hati Ibu.”


Mereka berbincang-bincang, terlihat Ibu Anita tersenyum bahagia menerima kedatangan Pram. Beban yang ditanggungnya selama ini seperti terangkat. Dia sudah terlalu tua untuk berlama-lama menyimpan dendam. Dengan saling memaafkan seperti ini membuat perasaannya menjadi lega. Setidaknya dia bisa menganggap Pram seperti putranya sendiri.


Setelah menikmati makan siang bersama keluarga Anita, Pram pun berpamitan. Dia masih harus meninjau ke proyek. Akan tetapi, Anita mengajak Pram untuk mengunjungi makan ayahnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


“Ayah, aku membawa seseorang untuk bertemu denganmu,” ratap Anita begitu mereka sudah sampai di gundukan tanah makan ayah Anita.


“ Pak, maafkan aku,”


Pram terkejut menatap nisan yang bertuliskan nama ayah Anita. Dia menatap tanggal dan tahun kematian yang tertulis disana. Itu hanya berselang lima bulan dari kepergiannya ke Inggris 17 tahun silam.


“Aku benar-benar bersalah pada keluarga ini. Kenapa aku bisa berbuat sebegitu bejatnya dulu. Bagaimana aku bisa menebus dosa-dosaku Ya Tuhan.


Hati Pram benar-benar teriris mengingat bayangan kesalahan demi kesalahan yang bermunculan di ingatannya saat ini. Terlihat dia berjongkok mengusap nisan tua itu. Wajahnya menampakan penyesalan yang mendalam.


Anita berdiri tepat di depan makam, menitikan air mata yang sedari tadi jatuh bercucuran. Dia menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Bagaimana tidak, ayahnya meninggal dengan kemarahan dan kebencian. Dan sekarang dia berhasil menyeret laki-laki yang menjadi alasan kematian ayahnya. Pandangannya berkunang-kunang, tiba-tiba kepalanya menjadi sakit dan pusing. Anita jatuh, tidak sadarkan diri.


Brukkkk!!!!


Pram yang melihat Anita terjatuh tidak sadarkan diri segera berlari menghampiri. Menahan tubuh lemah itu dengan tangannya.


“An.. An.. bangun..” Pram menepuk-nepuk pipi Anita, berusaha menyadarkan wanita itu. Tapi usahanya sia-sia, tubuh Anita tetap melemas di pangkuannya.


Dan disinilah sekarang Pram berdiri. Menunggu cemas di depan ruang IGD rumah sakit. Dari tadi terlihat dia mondar mandir dengan pikiran kacau. Tadinya dia berencana menuju ke proyek setelah dari mengunjungi makam ayah Anita. Tapi semua rencana harus berantakan dengan kejadian pingsannya Anita.


***


Kailla baru saja keluar dari kampusnya. Terlihat dia berjalan ke arah Sam yang sedang menunggunya sambil duduk di atas kap mobil


“Kita mau kemana nih?” tanyanya sembari membuka pintu mobil.


“Kita ke rumah sakit ya. Aku mau jenguk Dona,” titahnya pada Sam yang sedang berlari masuk ke kursi setir.


Tak lama mobil sedan putih itu pun meluncur menuju ke rumah sakit. Kailla sendiri memilih memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah. Beberapa hari belakangan, kondisinya memang sedikit drop karena di juga harus bolak balik ke rumah sakit mengurus Dona.


Baru lima menit memejamkan matanya, ponsel di dalam tasnya berdering.


“Donny, tumben telepon.”


“Iya Don, ada apa?” tanya Kailla masih memejamkan matanya bersandar di kursi.


“Non, Bapak... Bapak.. “ lapor Donny terbata-bata.


“Daddy kenapa?” Kailla mulai sedikit panik. Segera dia menegakkan duduknya.


“Bapak jatuh di kamar mandi, Non. Dan sampai sekarang masih belum sadar. Sudah diolesi minyak angin sama Bu Sari. Tapi masih gitu-gitu aja. Jadi ini gimana Non?” tanya Donny panik.


“Tolong bawa ke rumah sakit tempat biasa Daddy chek up. Ini aku langsung nyusul kesana,” perintah Kailla yang mulai panik.


“Sam, kita ke Rumah Sakit Pondok Xxxxx.” perintah Kailla. Mengurut pelipisnya yang sedikit pusing.


“Semoga Daddy baik-baik saja.”


Sam sedari tadi melirik ke kaca spion memastikan kalau majikannya itu baik-baik saja. Begitu sampai di rumah sakit, Kailla segera berlari ke IGD, mencari tahu kondisi Daddynya. Air mata Kailla tumpah begitu melihat Donny dam Bu Sari berdiri cemas di depan ruang IGD. Tubuhnya bergetar hebat, begitu mengintip daddy nya terbaring tak sadarkan dari pintu kaca rusng IGD. Dia harus berpegangan di gagang pintu demi menopang tubuhnya yang melemas. Melihat itu Bu sari segera menghampiri dan memeluk putri majikannya itu.


“Non... tenang. Bapak pasti baik-baik saja.” Bu Sari menepuk lembut punggung Kailla.


Kailla menangis sesengukan di dalam pelukan Bu Sari. Terlihat Bu Sari menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu depan IGD. Putri majikannya ini tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.


“Non, Pak Pram sudah di kabari?” tanyanya lembut. Kailla hanya menggeleng, dia tidak bisa berpikir apa-apa saat ini. Mendengar pertanyaan Bu Sari segera di mencari ponsel di dalam tasnya. Menghubungi nomor ponsel Pram, kalau perlu dia akan memintanya pulang saat ini juga. Dia benar-benar kebingungan saat ini. Dia mencari kontak Pram di ponselnya. Tangannya gemetar hebat sehingga dia harus mengulang berkali-kali. Kailla menunggu, rasanya lama sekali. Hanya terdengar nada dering terus menerus, membuat gadis itu hampir putus asa.


Wajahnya sedikit lega, ketika panggilanya tersambung. Belum sempat dia berkata-kata. Pram sudah terlebih dahulu berbicara.


“Kai, nanti aku akan menghubungimu ya.” Tuttttttttt... panggilan diputus oleh Pram tanpa memberi kesempatan Kailla untuk berbicara.


“Ada apa ini, aku saja belum berbicara bagaimana dia bisa memutuskan panggilannya. Aku yakin kalau dia tahu apa yang akan aku sampaikan, dia juga akan segera datang kesini tanpa pikir panjang.”


Kailla mencoba menghubungi Pram kembali. Kali ini dia harus berebut berbicara, paling tidak Pram harus tahu kondisi Daddy. Kailla masih menunggu dengan harap-harap cemas. Begitu sambungan tersambung.


“Om.......” Kailla tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Pram sudah memotong terlebih dulu.


“Cukup Kai!!!! Sudah ku katakan akan menghubungimu nanti!!” bentak Pram kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dia sedang tidak bisa berpikir jernih saat ini.”


***


Lanjut agak siangan ya... terimakasih untuk dukungannya🙏🙏🙏