
Pagi itu, Bu Ida terheran-heran begitu masuk ke dalam apartemen majikannya. Dapur yang biasanya rapi sekarang berantakan. Pintu microwave masih belum menutup sempurna, ditambah ada beberapa piring dan mangkok di atas meja minibar berisi makanan dan nasi yang masih utuh belum terjamah sama sekali.
Sudah lebih dari seminggu Pram tidak kembali ke apartemen, sejak Pak Riadi dirawat di rumah sakit. Tapi melihat situasi di dapur saat ini, dia yakin Pram sedang berada di rumah. Melirik sekilas jam di dinding menunjukkan pukul 08.00, biasanya sang majikan sudah bersiap ke kantor. Dengan alasan itu, akhirnya Bu Ida memberanikan diri mengetuk pintu kamar tidur majikannya.
Tok!Tok!Tok!
“Pak.. Pak..!” panggil Bu Ida dari luar kamar. Menunggu beberapa saat tidak ada respon dari dalam kamar akhirnya Bu Ida mencoba mengetuk pintu kembali. Tetap tidak ada jawaban.
“Aneh! Apa Pak Pram tidak ada di kamar.”
Bu Ida memberanikan diri membuka pintu kamar. Pintu baru terdorong sedikit, matanya langsung terbelalak melihat pemandangan di dalam kamar. Buru-buru dia menutup kembali pintu kamar dengan pelan, sambil mengelus dadanya.
“Astaga! tidak biasanya Pak Pram bawa perempuan masuk ke kamar,” gumamnya.
Tak lama tampak Sam masuk ke dalam apartemen, mengejutkan Bu Ida yang masih berdiri mematung di depan kamar.
“Bu Ida! tolong panggilin Non Kailla dong. Bentar lagi mau ke kampus nih!” pinta Sam sembari duduk di sofa ruang tamu.
“Sekalian kopi hitam ya Bu,” lanjutnya lagi.
“Hah! Non Kailla menginap disini?” tanya Bu Ida bingung. Segera dia berjalan menuju kamar yang biasa ditempati Kailla. Kosong!
“Apa jangan-jangan...” Bu Ida terkejut menutup mulut dengan kedua tangannya, otaknya sudah menemukan jawaban. Sam yang melihat ekspresi Bu Ida menjadi bingung.
“Ada apa sih Bu? Pagi-pagi udah kesambet aja!”
“I...itu di dalam kamar, Pak Pram lagi tidur bareng Non Kailla,” jawab Bu Ida tergagap dengan pandangan masih tidak percaya, menunjuk jarinya ke arah pintu kamar.
“Biasa aja Bu! Kita di rumah sakit liatnya sampai sakit mata,” celetuk Sam.
“Hah! Yang benar? Pantesan..hihihi!” Bu Ida tertawa cekikikan menutup mulutnya.
“Memang yang Ibu lihat apaan?” tanya Sam penasaran.
“Tidak ada! Cuma Pak Pram tidur sambil pelukan sama perempuan. Siapanya.. saya gak tahu,
gak kelihatan wajahnya. Tapi kamarnya seperti habis perang dunia, pakaian semua berserakan di lantai.
“Ah Ibu kayak tuanya pake nyogok aja, jadi gak melewati masa muda hahaha,” Sam tertawa.
“Jadi beneran ya Pak Pram sama Non Kailla mau nikah?” tanya Bu Ida penasaran. Sudah lama dia tidak bekerja di rumah Riadi Dirgantara, jadi dia ketinggalan banyak berita.
“Katanya sih begitu.” Sam menjawab singkat.
Bu Ida tersenyum, mengingat kecilnya Kailla yang sering berulah setiap menginap di tempat Pram. Terkadang sampai membuat drama hanya demi untuk bisa bolos sekolah. Sering Pram harus turun tangan sendiri menangani kenakalannya. Kalau sudah begitu, pasti Pram dipanggil ke sekolah karena Kailla berulah lagi di sekolahnya.
****
Bunyi ponsel membangunkan Pram yang sedang tertidur lelap sambil memeluk Kailla. Tangannya terlihat meraba-raba di atas tempat tidur, mencari sumber suara yang membangunkan tidur lelapnya.
“Iya..,” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Pram... kamu kemana saja? Kenapa sulit dihubungi. Kamu sengaja memblokir nomorku ya? Aku sampai harus menggunakan nomor baru!” cerocos Anita dari seberang telepon.
“Hmmm..,” gumam Pram dengan mata masih terpejam.
“Pram..! Anakmu merindukanmu....” Anita belum menyelesaikan bicaranya, telepon diputuskan oleh Pram seketika.
Terlihat Pram menonaktifkan ponsel kemudian melemparnya ke sembarang arah. Segera dia mendekati tubuh polos Kailla dan mendekapnya erat.
“Morning Kai, kamu masih tidur?” sapa Pram lagi membalikan tubuh kailla menghadap kepadanya. Mengecup kening Kailla yang menggeliat sebentar dan terlelap kembali, seolah tidak terusik dengan apa yang dilakukan Pram.
“Istri kecilku!” Senyum tersungging di bibir Pram, merapikan helai rambut yang menutupi wajah Kailla.
Melihat Kailla yang masih terlelap, Pram memilih bangun dari tidurnya dan memakai kembali pakaiannya. Tampak dia berjalan keluar dari kamar sambil mengenakan kaosnya.
“Bu, tolong siapin susu untuk Kailla,” pintanya pada Bu Ida ketika sudah berada di dapur.
“Iya Pak.”
“Sam, Kailla hari ini tidak ke kampus. Tapi nanti siang, tolong antarkan kami ke rumah sakit.” perintah Pram begitu melihat Sam yang sedang duduk selonjor di sofa ruang tamu.
***
Kailla terbangun dari tidurnya dengan wajah sembab. Kepalanya pusing, dari semalam dia menangis sampai tertidur. Tubuhnya terasa remuk redam, belum lagi bagian inti tubuhnya terasa perih.
“Hiks.. hiks..” isaknya tanpa bisa berkata-kata. Air mata kembali mengalir deras. Menarik selimut, memastikan tubuh polosnya tertutup sempurna.
“Dad.. hiks..hiks..”
Ceklek!
Tampak Pram masuk dengan membawa segelas susu hangat. Diletakannya di atas nakas samping tempat tidur.
“Kai..” panggil Pram lembut sembari duduk di tepi tempat tidur.
Tidak ada respon sama sekali, padahal Pram tahu kalau sebenarnya Kailla sudah bangun dari tadi. Dia sempat mendengar isak tangis Kailla sewaktu berdiri di depan pintu.
“Kai..“ panggilnya lagi. Tetap hening, tidak ada pergerakan dan suara sama sekali.
Pram berjalan mendekati tas berisi pakaian Kailla yang tergeletak di pojok kamarnya. Membongkar isinya, mencari pakaian untuk Kailla. Begitu tangannya menyentuh pakaian dalam berenda milik Kailla senyum terkembang di bibirnya, membayangkan apa yang dia lewatkan tadi malam. Tapi penyesalan di hatinya, jauh lebih besar dibanding apapun saat ini.
“Kai, ayo susunya diminum.” titah Pram sembari naik ke atas ranjang mendekati Kailla yang sama sekali tidak mau menatapnya.
Melihat Pram yang mendekatinya segera Kailla menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, tanpa menyisahkah apapun.
“Kai, maafkan aku. Ini pakaianmu.” ucap Pram, meletakan pakaian yang tadi disiapkannya di sisi Kailla. “Habiskan susumu, aku akan menunggumu di luar.” lanjutnya lagi.
***
Siang itu Pram dan Kailla bersiap ke rumah sakit. Hari ini Pram sengaja tidak ke kantor, dia masih mengkhawatirkan kondisi Kailla. Terlihat Sam sudah duduk di kursi setir, menunggu kedua majikannya turun ke parkiran mobil.
Tak lama, terlihat Pram berjalan dengan mengenggam tangan Kailla menuju ke mobilnya. Sejak tadi pagi, Kailla sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Walau berkali-kali Pram meminta maaf, Kailla bergeming. Sam segera keluar untuk membuka pintu belakang mobil untuk kedua majikannya. Sengaja Pram, meminta Sam membawa mobil hari ini supaya dia memiliki banyak waktu untuk mengajak gadis itu berbicara.
“Kai, kemarilah..!” pinta Pram setelah melihat Kailla memilih duduk menempel dengan pintu mobil. Melihat Kailla tetap diam akhirnya Pram yang berinisiatif mendekati, merangkul dan membawanya ke pelukan.
“Kamu kenapa?” Maafkan aku.” bisiknya pelan di telinga Kailla. Kailla hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.
“Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti!” Pram memilih mengeluarkan ponselnya, mengaktifkannya kembali. Dia yakin pasti akan ada banyak panggilan dan pesan tidak penting dari Anita. Dan benar saja, ada puluhan voice mail dan pesan bernada ancaman.
“Kurang ajar! Dia mencari masalah denganku!”
***
Terimakasih.. aku usahakan up lagi nanti sore ya. Love you all