
Pram baru saja akan kembali ke kamarnya setelah bertemu Bayu, tiba- tiba ponsel di saku celananya berdering.
“Nomor tidak dikenal?”
Pram terlihat ragu mau menerima atau menolak. Tapi bisa saja ini nomor orang yang menculik Kailla. Walau dia sudah tahu pasti, saat ini Kailla ada di tangan Anita.
“Iya..” sapa Pram membuka pembicaraan.
“Nak Pram... ini Ibu Anita.” sahut si penelepon dari seberang.
Pram terkejut, ini kali pertamanya Ibu Anita menghubunginya.
“Iya Bu ada apa?” Pram bertanya. Dia heran apa yang mau dibicarakan oleh Ibu anita. Apakah wanita ini sudah tahu mengenai masalah Kailla. Dia sengaja tidak mau mencari tahu atau memberi tahu Ibu Anita karena merasa kasihan. Wanita tua itu sudah cukup menanggung beban hidup dan sakitnya selama ini, kalau ditambah mengetahui kelakuan putrinya pasti dia akan semakin sedih dan khawatir.
“Begini Nak.. emm....Bisakah Nak Pram ke rumah. Ada yang mau ibu bicarakan?” ucap Ibu Anita sedikit ragu. Tapi mau tidak mau, dia harus berbicara dengan Pram. Perubahan sikap Anita sejak kemarin begitu mengkhawatirkannya. Dia takut kejadian dulu terulang kembali. Dulu dia masih sehat dan kuat, apalagi dulu ada sosok Elang almarhum suami Anita yang ikut mendukungnya.
Setelah berpikir, Pram menyetujui permintaan Ibu Anita. Siapa tahu Ibu Anita bisa membantunya.
“Baik Bu. Sebentar lagi aku kesana.” jawab Pram memutuskan panggilan teleponnya.
***
Dan sekarang Pram sedang berdiri di ruang tamu rumah Anita. Tadi asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya dan meminta dia menunggu di ruang tamu. Melihat suasana di rumah saat ini sepertinya Anita sedang tidak ada di rumah. Mobil yang biasa dipakai Anita tidak tampak di garasi mobilnya
“Nak Pram,” panggil Ibu Anita mengejutkan Pram. Ibu Anita kaget melihat keadaan Pram saat ini, lelaki itu seperti sedang tidak baik-baik saja. Ada lingkaran hitam di kedua matanya, wajahnya sedikit lusuh seperti terlalu banyak pikiran. Rambut acak-acak tidak seperti biasanya yang rapi mengkilat.
Pram langsung menghampiri Ibu Anita yang saat ini sedang didorong oleh seorang perawat.
“Ada apa Ibu memintaku kesini?” tanya Pram. Terlihat Dia mengedarkan pandangannya.
Ibu Anita tersenyum melihat Pram. Dia mengerti saat ini Pram mencari siapa.
“Anita dari semalam belum kembali ke sini,” ucap Ibu Anita menjelaskan pada Pram. Pram terlihat mengangguk.
“Sus, bisa tinggalkan kami.” perintah Ibu Anita pada perawat yang berdiri di belakang kursi rodanya. Perawat itu mengangguk dan segera masuk ke dalam meninggalkan majikan dan tamunya.
“Nak Pram...” ucapan Ibu Anita terhenti. Terlihat dia menghela napas, sepertinya kata-kata selanjutnya adalah kata-kata yang berat diucapkannya.
“Ini bukalah!” Ibu Anita bergetar menyodorkan kotak karton berukuran sedang yang sedari tadi dipangkunya.
“Apa ini Bu?” tanya Pram sedikit ragu.
“Bukalah Nak!”
“Ini apa Bu?” Pram terlihat bingung melihat foto-foto di dalam kotak.
“Itu foto Anita dengan almarhum suaminya, Elang Persada.” sahut sang Ibu. “Ibu harus mulai darimana ya?” lanjutnya terlihat bingung.
“Ibu terpaksa meminta bantuanmu, Nak Pram. Saat ini hanya kamu satu-satunya yang ibu bisa mintai tolong,” ucapnya sambil tertunduk. Ada dua bulir air mata yang menetes mengenai telapak tangannya.
Ibu Anita lagi-lagi menghela napas. “Anita... sakit.” Dengan susah payah dia mengeluarkan kata-katanya. Sejak 2 bulan terakhir, Ibu sangat mengkhawatirkannya. Sikapnya berubah, hampir sama seperti dulu waktu kamu meninggalkannnya.”
Pram terkejut mendengar penuturan Ibu Anita. “Apa maksudnya Bu?”
“Dulu sewaktu kamu meninggalkannya, Anita sempat mengalami gangguan jiwa. Tepatnya setelah ayah dan bayinya meninggal.” Ibu Anita mulai bercerita.
“Bayinya bukan meninggal, tapi Anita dengan berbagai cara menggugurkannya. Setelah dia dan ayahnya kembali dari Jakarta menemui Riadi Dirgantara, Anita berubah.” lanjutnya lagi.
“Puncaknya, setelah beberapa hari dia berhasil menggugurkan kandungan dan ayahnya meninggal dunia di waktu yang hampir bersamaan. Anita menggila. Dia bisa melukai siapapun yang mencoba mendekatinya. Kami harus membawanya di rawat di rumah sakit jiwa.” Ibu Anita bercerita sambil terus meneteskan air matanya.
Pram terkejut, perasaan bersalah kembail menghantamnya. Dia tidak menyangka kesalahan yang dilakukannya dulu bisa berpengaruh sebegitu besar pada Anita dan kelurganya.
“Mungkin karena dokter juga memvonis Anita susah hamil lagi setelah keguguran. Ini menjadi salah satu pemicunya.” jelas Ibu Anita lagi.
“Hah!” Pram kali ini terkejut. “Bagaiman bisa? Bukannya sekarang Anita sedang hamil?” tanya Pram bingung.
Ibu Anita menggeleng, “Dokter sudah memvonis Anita susah untuk hamil lagi. Walaupun masih ada kemungkinan, tapi itu kecil sekali. Dan Ibu tidak yakin Anita benar-benar hamil.
“Ya Tuhan,” Pram mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
“Beruntung Elang hadir di hidupnya. Pelan-pelan Anita bisa menata kembali hidupnya. Setelah dinyatakan sembuh dan bisa hidup normal kembali, mereka menikah. Walaupun ibu tahu, Anita tidak pernah mencintai suaminya.”
Ibu Anita terlihat menautkan jari jemarinya, makin kesini suaranya makin melemah. Air mata yang tumpah ruah sedari tadi membuat dadanya sesak.
“Mereka hidup bahagia. Elang bersedia menerima Anita tanpa syarat. Tapi kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya beberapa tahun yang lalu membuatnya kembali terpuruk.” Ibu Anita terisak.
Tampak Pram memeluk Ibu Anita dan menenangkannya.
“Sejak 2 tahun yang lalu dia mengejarmu kembali, sikapnya mulai berubah. Emosinya tidak bisa ditebak. Dia bisa bahagia di satu waktu, terkadang dia menangis setelahnya. Kadang dia menggila. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu sudah tua dan sakit-sakitan. Adik laki-lakinya sudah sejak 2 tahun yang lalu bekerja di Jakarta dan tidak pernah kembali.” lanjutnya lagi.
“Nak Pram, tolong putriku. Tadinya aku berharap kamu bisa kembali dengannya, tapi kemarin kamu sudah mengenalkan istrimu. Egois rasanya kalau ibu tetap mengharapkanmu menjadi menantuku.” isak Ibu Anita mengenggam tangan Pram penuh harap.
Pram mengangguk. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
“Apakah terjadi sesuatu?” tanya Ibu Anita tiba-tiba. “Apakah Anita melakukan sesuatu?” tanyanya lagi menatap wajah Pram.
Pram menghela napas, sebenarnya dia ragu untuk mengatakannya. Wanita tua ini sudah terlalu banyak beban dalam hidupnya. Tapi dia juga harus tahu apa yang dilakukan putrinya
“Putrimu menculik istriku Bu. Aku sudah meminta orang untuk mencarinya. Tapi aku belum menemukannya.” cerita Pram.
“Ya Tuhan, Anitaaaaaaaaa..... Kamu kenapa, Nak.” Wanita tua itu kembali terisak. Air mata itu kembali tumpah. Dia mengelus dadanya berulang kali.
“Aku mohon tolong putriku, Pram. Ibu hanya bisa meminta padamu.” Ibu Anita memohon.
“Iya Bu, aku pasti menolongnya,” janji Pram mengenggam tangan keriput yang sudah basah karena tetesan air matanya.
“Ibu akan menghubungi Anita sekarang. Kamu bisa mendapatkan istrimu kembali, Nak.”
****
Next malam ya.. part anita ini sudah hampir selesai. Author sudah tidak sabar mau ikut Om pram dan Kailla bulan madu ke Austria.
Terimakasih dukungannya. Love you all.