Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 68 : Tidak Mau Ditinggal


“Om!” panggil Kailla dari dalam kamar mandi membuyarkan lamunan Pram. Tampak Kailla menjulurkan kepalanya dari balik pintu dengan rambut basahnya yang tergerai.


“Kenapa?” tanya Pram singkat, berjalan menghampiri Kailla. Menyandarkan tubuhnya di tembok samping kamar mandi dengan tangan terlipat didada.


“Aku lupa bawa handuk. Itu disana!” sahut Kailla menunjuk ke arah tempat tidur. Handuknya tergulung tak beraturan menimpa pakaian yang mau dipakainya nanti. Pram ikut menatap ke arah yang dimaksud Kailla. Ada rasa geli melihat pemandangan itu. Dari masih bocah sampai sekarang sudah menjadi istrinya, anak ini masih tetap sembarangan.


“Ambil sendiri Kai!” jawab Pram berlalu pergi meninggalkan Kailla yang masih mematung di pintu kamar mandi. Senyum tipis tersungging di bibir Pram. Dia memilih untuk kembali duduk di sofa, membiarkan Kailla menggunakan otak dan pikirannya mengambil handuk di atas tempat tidur.


Melihat Pram yang berlalu pergi meninggalkannya, Kailla pun mendengus kesal. Disaat-saat genting seperti ini bisa-bisanya Pram tidak mau menolongnya sama sekali. Walaupun dia sadar, ini bukan kali pertama dia kelupaan membawa handuk ke kamar mandi. Biasanya Pram akan dengan senang hati mengambilkan untuknya.


30 menit berlalu Kailla masih belum keluar juga dari kamar mandi. Tidak ada suara gemericik air juga di dalam sana. Pram menatap keheranan, pintu kamar mandi itu belum juga terbuka.


“Kai...!” panggil Pram sambil mengetuk pintu kamar mandi. Ada sedikit kekhawatiran, karena Kailla sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi.


“Kai..!” panggil Pram lagi. “Aku masuk ya.” Pram meminta izin pada Kailla untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali. Pram semakin panik.


“Kai... maafkan aku, aku masuk ya.” Pram membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci.


Deg—


Pemandangan di hadapannya membuat hati Pram mencelos. Bagaimana tidak, disaat dia mengkhawatirkan Kailla, istrinya itu sedang berendam di dalam bath up sambil mendengarkan alunan lagu di ponselnya melalui earphone. Matanya terpejam, bisa dipastikan saat ini dia tidak menyadari kehadiran Pram di hadapannya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi saat dia membuka matanya.


Pram keluar mengambilkan handuk, kemudian menyampirkannya di samping bath up. Dia memilih keluar dari kamar mandi tanpa bersuara. Begitu sudah di luar kamar mandi, dia menghubungi ponsel istrinya.


“Kai, cepat selesaikan mandimu! Bayu sudah menunggu kita di bawah.” ucapnya begitu Kailla menerima panggilannya.


“Hah! Bagaimana aku bisa keluar kalau han...” Kailla tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dia melihat handuknya sudah tersampir tidak jauh dari tempatnya berendam.


“Ah.... kenapa tidak bilang-bilang.” Segera dia memutuskan panggilan, meraih handuk dan segera melilitkan tubuhnya.


Baru saja dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, Pram sudah merengkuh tubuhnya dan memeluknya dari belakang, mengunci perut rata Kailla dengan kedua tangannya.


“Ini terakhir kalinya aku mengambilkanmu handuk. Besok-besok aku akan langsung melahapmu setiap kamu melupakan handukmu lagi Kai,” bisik Pram di telinga Kailla.


“Mana bisa begitu?” Kailla berkata sambil cemberut. Seketika dia mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Pram yang sedang tersenyum padanya.


“Coba saja kalau tidak percaya,” tantang Pram, menyentil kening Kailla sambil terkekeh. Terlihat dia mengeratkan pelukannya, membisikan sesuatu di telinga Kailla. “Aku mencintaimu, Kai.


Pram melepaskan pelukannya, membiarkan Kailla berpakaian. Dia memilih duduk kembali di sofa, mengecek pekerjaan yang sudah dua hari ini ditelantarkannya.


“Kai, kita akan mampir ke kantor cabang dulu sebelum kembali ke Jakarta. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan.” ucap Pram masih tetap fokus pada ponselnya.


“Baiklah!” sahut Kailla yang tengah sibuk memakai cream di wajahnya. Dia sengaja memoles tipis saja, hari ini tidak ada jadwal kemana-mana.


***


Kailla sudah lebih dulu sampai ke parkiran mobil. Di belakangnya tampak Pram menyusul menyeret koper berisi pakaian-pakaian mereka. Kailla yang sudah berdiri di samping mobil di temani Bayu terlihat ragu untuk masuk ke dalam mobil. Dia menatap Bayu dari atas sampai ke bawah.


“Kenapa tidak masuk Kai?” tanya Pram saat melihat Kailla yang masih berdiri di luar mobil. Tampak Pram menyerahkan koper kepada Bayu untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


Kailla bergeming, dia tetap menatap Bayu tanpa berkedip.


“Aku tidak mau dia ikut dengan kita!” Kailla berkata lirih menunjuk ke arah Bayu. Sontak mengejutkan Pram seketika.


“Hah! Kenapa? Mulai sekarang dia dan Sam yang akan menjagamu.” sahut Pram santai. Pram sudah membicarakannya dengan Bayu. Dan Bayu juga sudah menyetujuinya.


Drama belum berakhir sampai disitu, begitu melihat Bayu duduk di belakang setir, lagi-lagi Kailla menolaknya.


“Aku tidak mau dia menyetirnya!” tolak Kailla menatap Pram yang baru masuk ke mobil dan duduk disebelahnnya.


“Ayolah Kai! Jangan seperti anak kecil.” bujuk Pram memijat tengkuknya. “Aku lelah, aku tidak mungkin menyetir saat ini.” lanjut Pram.


“Kemarilah!” Pram meraih tubuh Kailla agar bersandar di dadanya, kemudian mendekapnya erat. “Pejamkan matamu, aku lelah mendengar suara rengekanmu Kai,” lanjut Pram lagi.


“Tapi Om....” Kailla belum menyelesaikan kata-katanya, Pram sudah mengecup bibirnya lembut.


“Diamlah Kai, aku mau tidur sebentar.” bujuk Pram, kembali mendekap istrinya.


***


Setelah mampir di kantor cabang sebentar, mereka pun meneruskan perjalanan menuju Jakarta. Hari ini tol Bandung - Jakarta lumayan tersendat selain ada perbaikan jalan di beberapa titik, juga ada kecelakaan.


“Bay, mampir ke rest area ya.” perintah Pram. Jalanan yang lumayan tersendat akhirnya memaksa Pram memilih menunggu di rest area sampai jalanan lumayan lancar. Baru saja Pram melangkahkan kaki keluar dari mobil, drama Kailla berlanjut kembali.


“Om mau kemana?” tanya Kailla meraih tangan Pram yang hendak keluar mobil.


“Ke toilet, Kai.” Pram menjawab singkat.


“Aku ikut!” ucap Kailla.


“Kamu mau ke toilet juga? Ayo!” ajak Pram meraih tangan Kailla, mengajaknya keluar.


Kailla menggeleng, “Aku ikut Om ke toilet!”


“Hah!” Mata Pram melotot seketika, Bayu yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka sampai harus menutup mulutnya menahan tawa.


“Aku serius!” ucap Kailla, masih mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada seorang pun yang dikenalnya. Bayu! Dia belum bisa mempercayai Bayu. Untuk saat ini dia tidak bisa mempercayai siapapun selain Pram.


“Itu toilet laki-laki, aku tidak mungkin membawamu masuk Kai.” jelas Pram lagi. Kailla hanya menunduk, menautkan jari-jemarinya ke jari jari Pram. Tidak ada jawaban, tapi yang jelas saat ini dia tidak mau ditinggal sendirian oleh Pram.


Pram melihat perubahan di wajah Kailla, walaupun Kailla tidak mengatakan apapun, dia tahu istrinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Melihat bagaimana Kailla menggengam erat tangannya, takut ditinggalkan itu menjawab apa yang dipikirkan Kailla saat ini.


“Baiklah, aku tidak akan kemana-mana.” Pram mengalah, memilih mengajak Kailla kembali duduk di dalam mobil.


Melihat Pram kembali duduk, Kailla tersenyum lega.


“Mana ponselmu? Kamu tidak mau memainkan game kesukaanmu?” tanya Pram lagi. Segera dia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Kailla.


“Bay, tolong belikan kopi untukku?” perintah Pram setelah memastikan Kailla sedang serius dengan gamenya. Kailla saat ini sedang ada di dunianya sendiri, jari dan otaknya sedang bertarung untuk memenangkan game yang sedang dimainkannya. Pram sengaja membiarkannya bersandar di dadanya seperti biasa.


“Kai, kamu butuh sesuatu?” tanya Pram pada Kailla yang sedang berkonsentrasi penuh. Istrinya itu hanya menjawab dengan gelengan tanpa suara.


“Belikan dia air mineral dan roti tawar saja.” perintahnya lagi pada Bayu setelah melihat jawaban Kailla sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratusan.


Bagaimanapun dia tidak mungkin mengajak Kailla ke toilet, jalan satu-satunya harus membuat Kailla tertidur, sehingga dia bisa meninggalkannya dengan tenang pada Bayu.


30 menit kemudian Kailla benar-benar terlelap, kalau saja Pram tidak sigap, ponsel ditangan istrinya itu akan terjun bebas menyentuh lantai mobil. Segera dia keluar setelah melepaskan dirinya dari tubuh Kailla yang sedari tadi bersandar padanya.


“Bay, kamu tunggu di luar! Jangan terlalu jauh dan jangan sampai masuk ke dalam mobil!” perintah Pram. “Kailla akan ketakukan kalau terbangun dan melihatmu!” lanjutnya lagi. Dia harus buru-buru ke toilet sebelum Kailla terbangun. Walaupun Kailla tidak mengatakan apapun, tapi dia tahu istrinya masih ketakutan karena penculikan yang dialaminya beberapa hari yang lalu.


***