Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 192. Seperti Nonton Piala Dunia


“Sayang,” panggil Kailla, tiba-tiba masuk ke ruang kerja.


“Kamu sudah datang, Sayang?” tanya Pram, mengalihkan pandangannya dari berkas yang menumpuk di atas meja. Istrinya hari ini tampak cantik dengan dress berwarna peach selutut. Rambut yang digerai dengan polesan make-up tipis.


“Cium aku sekarang,” pinta Pram, masih duduk di kursi kerjanya.


“Kenapa manja sekali,” ucap Kailla, bergegas menghampiri Pram.


“Tapi janji, jangan meluma*t bibirku. Lipstikku nanti berantakan,” pinta Kailla dengan manjanya.


“Ya, aku hanya ingin merasakan lipstik barumu,” jawab Pram tersenyum.


Cup. Sekilas, singkat dan ringan.


“Ini namanya menempel, Sayang ... bukan mencium,” keluh Pram, kesal.


“Nanti malam saja! Kamu bisa menikmati bibirku sepuasmu. Ayo berangkat sekarang,” ajak Kailla, sudah menarik tangan Pram.


Sampai di luar ruangan Stella, sang sekretaris sudah menyambut keduanya dengan senyuman.


“Sudah mau jalan, Nyonya?” tanya Stella, terkekeh melihat Pram yang diseret Kailla.


“Aku jalan dulu, Ste. Kalau ada yang mencari atasanmu, katakan saja ... Pak Pram tidak bisa diganggu,” titah Kailla.


“Ya, Nyonya. Titip salam buat adik bayinya.”


Sampai di lantai bawah, terlihat Pram mencari kedua asisten Kailla yang biasanya menunggu lobi. Pram mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan Bayu dan Sam.


“Apa mereka pergi makan siang, ya?” tanya Pram, setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


“Kita pergi berdua saja, Sayang. Sudah lama aku tidak melihatmu menyetir,” pinta Kailla, memeluk erat lengan suaminya.


“Mau melihatku menyetir? Ok!” ajak Pram, mengedipkan matanya. Iasudah lumayan lama tidak menyetir sendiri. Sejak pulang dari Austria, Pram memang lebih sering memakai sopir.


***


Saat tiba di rumah sakit, tepat jam makan siang. Kembali mereka harus menunggu dan mengantri seperti pasien lainnya.


“Sayang, kamu tidak lapar?” tanya Kailla, bersandar di pundak Pram.


“Kamu lapar?” Pram balik bertanya.


“Aku tidak lapar, tetapi sepertinya anakmu lapar,” sahut Kailla.


“Hahaha ... bisa begitu ya?” tanya Pram, terkekeh.


“Kamu mau makan apa? Apa kita pergi makan siang saja?” tawar Pram.


“Aku tidak mau. Sayang, bisa belikan aku roti saja,” pinta Kailla.


“Ok, Nyonya,” sahut Pram, bergegas meninggalkan Kailla sendirian di kursi ruang tunggu.


Tak lama, Pram sudah kembali dengan sekantong roti dan susu kotak. Meletakkannya di atas pangkuan istrinya.


“Sayang, katanya anak kita lapar.” Pram berkata, setelah melihat Kailla tidak meyentuh rotinya sama sekali. Istrinya masih sibuk bermain game di ponselnya.


“Oh, aku lupa,” sahut Kailla. Segera memeriksa isi kantong, kemudian tersenyum menatap Pram.


“Keju kesukaanmu,” ucap Pram, merengkuh pundak Kailla, supaya mendekat padanya.


“Enak?” tanya Pram, setelah melihat Kailla menggigit dengan penuh semangat.


“Enak. Sayang, mau?” tanya Kailla menyodorkan roti keju itu ke mulut Pram.


Pram tersenyum kembali, pandangannya beralih pada roti bekas gigitan Kailla. Sambil mengigit, dia tersenyum menatap istrinya penuh cinta.


“Enak, Sayang?” tanya Kailla.


Pram mengangguk, menepuk pucuk kepala istrinya seperti biasa.


“Kalau enak, makan yang banyak. Aku membelinya untukmu dan bayi kita,” sahut Pram.


“Kamu tidak lapar?” tanya Kailla kembali.


“Tidak, aku makan di kantor saja.” sahut Pram.


“Tadi timbangannya naik berapa kilo, Sayang?” tanya Pram tiba-tiba.


“Masih tetap, sedikit turun sepertinya,” jawab Kailla, masih tetap menikmati roti kejunya.


“Tapi tidak masalah, kah?” tanya Pram khawatir.


“Nanti kita konsultasikan ke dokter,” ucap Pram menenangkan. Pram sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mengikuti jejak Kailla yang menghabiskan waktu menunggu dengan mengutak-atik ponsel.


Setelah menghabiskan hampir dua buah roti keju, Kailla pun merasa kekenyangan. Tangannya sudah bersiap merapikan kantong belanjaan, tetapi matanya tertuju pada sebuah roti yang tersisa di dalam kantong.


“Sayang, buka mulutmu,” pinta Kailla, setelah membuka plastik pembungkus dan menyodorkan roti di depan mulut suaminya.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Pram, masih serius menatap layar ponselnya. Kali ini Pieter yang mengirim email padanya.


“Sayang, itu apa?” tanya Kailla, menunjuk ke layar ponsel Pram.


“Ini proses pembangunan hotel di Austria. Pieter baru saja mengirimnya padaku,” jawab Pram, mencari-cari roti sisa gigitannya yang belum disodorkan Kailla kembali padanya.


“Aku lapar, Sayang.” Pram berkata sambil menarik tangan Kailla yang masih memegang roti.


“Suapi aku,” pinta Pram.


“Kenapa sekarang kamu bertambah manja. Kemanjaanmu sudah melebihiku,” gerutu Kailla.


“Hahahaha ... mulai sekarang belajar memanjakanku, jadi nanti kamu tidak kaget lagi saat harus memanjakan anak kita,” jawab Pram.


“Bagaimana bisa begitu,” sahut Kailla geregetan.


“Hahaha ... bisa saja,” jawab Pram, merengkuh tubuh Kailla, menikmati rasanya memeluk erat istrinya.


Pelukan hangat Pram harus berakhir saat seorang perawat memanggil nama Kailla.


“Ibu Kailla Riadi Dirgantara,” panggil perawat, sambil membawa sebuah map di tangannya.


“Ya, Sus,” sahut Kailla langsung berdiri.


“Sayang ...." panggil Kailla, menyerahkan ponselnya pada Pram yang sedang membereskan tas tangannya yang berantakan bercampur dengan sisa botol air mineral.


“Ya, aku menyusul,” sahut Pram, menenteng tas tangan Kailla yang baru saja dirapikannya.


Begitu masuk ke dalam ruangan. Senyum dokter wanita sudah menyambut mereka. Sebelum memulai pemeriksaan, terlihat dokter bertanya pada Kailla dan Pram menyangkut keluhan atau pun kendala selama hamil. Ini pemeriksaan pertama mereka, sebelumnya Kailla melakukan pemeriksaan di Austria.


Tak lama Kailla sudah dipersilakan naik ke atas ranjang pemeriksaan.


“Sayang, temani aku. Aku takut,” pinta Kailla menggengam tangan Pram. Saat sudah berbaring pun, dia tidak mau melepaskan tangan suaminya.


“Maaf, Bu,” ucap perawat membantu Kailla mengangkat gaunnya supaya dokter bisa melakukan pemeriksaan USG.


“Sayang ...." panggil Kailla menatap Pram yang berdiri di sampingnya. Saat ini perawat sedang menuangkan cairan gel di perut ratanya.


“Ya, tidak apa-apa,” jawab Pram menenangkan, tangannya yang bebas merapikan anak rambut dan menyelipkan di belakang daun telinga Kailla.


“Maaf ya, Bu,” ucap dokter wanita itu saat meletakkan sebuah alat dan menekannya di perut bagian bawah.


Pram dan Kailla mendengar keterangan dokter sambil menatap layar hitam putih yang tergantung di dinding. Tidak ada satupun yang Kailla paham.


“Sayang ...." panggil Kailla manja, menarik Pram supaya mendekat padanya. Terpaksa Pram membungkuk dan mendekatkan telinganya di bibir Kailla.


“Kenapa?” bisik Pram.


“Aku bingung, aku masih tidak melihat apa-apa disana. Seperti nonton piala dunia lagi diacak. Hanya semut hitam saja,” ucap Kailla kesal. Sontak membuat Pram terbahak.


Bagaimana ia tidak kesal, saat dokter menjelaskan pada mereka, Pram menganggukan kepala, pertanda laki-laki itu paham apa yang dilingkari dokter di layar. Sedangkan ia seperti orang bodoh, tidak bisa melihat ada tanda-tanda bayi mereka di sana.


Dokter yang mendengar protes Kailla hanya bisa tersenyum.


“Ini, Bu ... bayinya,” ucap dokter kembali menjelaskan. Kailla kembali menatap Pram. Suaminya kembali mengangguk pertanda mengerti.”


“Sudahlah, nanti di mobil ... baru aku menanyainya. Mungkin aku yang terlalu bodoh tidak bisa melihat bayiku di sana,” ucap Kailla dalam hati.


“Bayinya sehat, Dok?” tanya Pram.


“Sehat, Pak. Yang penting ibunya jangan terlalu lelah, harus cukup istirahat, makan makanan bergizi,” jelas Dokter.


Kembali Kailla menarik tangan Pram, membisikan sesuatu di telinga suaminya.


“Tuh! Dengar, kan? Jangan membuatku lelah setiap malam!” omel Kailla.


***


Terima kasih.


Love you all