Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 182 : Macan Tua & Macan Betina


“Sam, kamu tidak perlu ikut denganku sampai ke Bali. Tunggu aku disini!” perintah Pram, membuat Sam terbelalak.


“Astaga! Bagaimana aku bisa melaporkan semuanya ke Non Kailla. Kalau aku ditinggal di ruang tunggu!” batin Sam.


“Ta..tapi Pak nanti kalau Non Kailla bertanya padaku, aku harus menjawab apa?” tanya Sam ragu-ragu.


“Kamu takut sekali dengan majikan nakalmu itu,” ucap Pram.


“Jawab saja. Biasa kan kamu paling pintar menjawab majikan kesayanganmu itu,” sahut Pram santai. Terlihat tangannya sedang membuka sebuah botol air mineral dan langsung menuangnya ke dalam mulutnya.


“Memangnya, Pak Pram tidak takut dengan Non Kailla?” Sam balik bertanya. Pertanyaan Sam sontak membuat Pram yang sedang minum langsung tersedak.


Uhuk! Uhuk!


“Cih, dia sendiri sama takutnya denganku! Apa dia tidak sadar, kalau dia macan tua. Istrinya macan betina. Sama-sama galak,” batin Sam.


Sam tersenyum mengingat macan tua yang takut dengan macan betina. Kalau saja, dia sedang tidak di depan Pram, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak.


“Kamu cari saja alasan kalau istriku bertanya.” Pram berkata lagi.


“Tapi bagaimana Pak, Non Kailla minta setiap menit harus mengirim foto Pak Pram. Saya diminta harus mengikuti kemana pun Pak Pram pergi.”


Pram melotot mendengar ucapan Sam. Dia tidak menyangka tujuan Kailla mengirim Sam mengikutinya hanya untuk melaporkan setiap gerak-geriknya.


Melihat Pram yang tidak menjawab, Sam memberi ide padanya.


“Baiklah Pak. Nanti aku akan mengatakan pada Non Kailla, kalau aku ketinggalan pesawat,” ujar Sam.


“Jangan-jangan! Nanti Kailla mengira aku sengaja meninggalkanmu,” ucap Pram, menolak ide gila Sam. Ide yang akan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya.


Setelah lama berpikir, akhirnya Pram mengizinkan Sam ikut dengannya. Tapi dia mengajukan berbagai macam syarat. Termasuk, Sam tidak boleh mengikutinya setiap saat. Dia tidak mungkin membawa Sam saat bertemu dengan orang bayarannya yang akan mengantar bertemu dengan Citra Wijaya.


Penerbangan Jakarta-Bali yang memakan waktu kurang lebih 1 jam 50 menit, dihabiskan Pram memandang foto istrinya yang memenuhi galeri ponsel.




Sam yang duduk di sebelahnya, hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata cinta bisa mengubah seseorang. Dari sosok Pram yang serius dan tidak banyak bicara. Lebih banyak mengomel, setiap dia membuka suara. Apalagi berharap senyum muncul di bibirnya, bagai mencari mata air di padang pasir.


Tapi siapa menyangka, Pram bisa tersenyum pada layar ponselnya hanya dengan melihat foto istrinya.


Diam-diam Sam mendokumentasikannya. Dia akan mengirimkan pada sang Nyonya saat sudah menginjakan kaki di Ngurah Rai, Bali.


“Pasti macan betina itu akan guling-guling saat melihat suaminya sudah setengah gila tersenyum pada layar ponsel,” ucap Sam dalam hati.


***


Ngurah Rai, Bali.


Pram dan Sam yang tidak membawa bagasi, langsung melenggang keluar bandara. Tampak Pram menghubungi seseorang saat sudah berada di luar bandara. Tak lama setelah mematikan ponselnya, tiba-tiba seseorang mendatangi mereka.


“Maaf, selamat pagi. Apakah benar dengan Pak Pram?” tanya seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahunan pada Pram. Terlihat dia mencocokan wajah Pram dengan foto yang ada di layar ponselnya.


“Iya Pak,” jawab Pram singkat.


Terlihat laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Pram dan Sam. Setelah itu, dia mengajak kedua tamunya berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari pintu keluar.


“Silahkan Pak, ikut dengan saya. Saya yang akan mengantar Bapak ke hotel,” ajaknya sambil berjalan di depan, menunjukkan arah.


Saat mobil yang ditumpangi berhenti di lobby hotel, Pram hanya turun sebentar dan mengambil kunci kamarnya dan Sam. Dia sudah melakukan reservasi sebelumnya, saat masih berada di Jakarta.


“Sam, ini kunci kamarmu,” ucap Pram, menyodorkan sebuah cardlock.


“Aku masih ada urusan,” pamit Pram, langsung berlalu pergi. Tanpa menunggu lagi jawaban Sam.


“Pak... Pak, tunggu. Foto dulu Pak! “ pinta Sam memberanikan diri, berusaha menghentikan langkah Pram.


“Maaf Pak, ini untuk kelancaran urusan Pak Pram sendiri. Nanti saya akan kabari ke Non Kailla, kalau Pak Pram sedang tidur di dalam kamar,” jelas Sam.


“Astaga Kailla, aku ini suamimu. Bukan tawanan!!” gerutu Pram, kesal.


“Iya Pak, karena Pak Pram itu suaminya Non Kailla, makanya foto Pak Pram sangat dibutuhkan saat ini. Tolong bekerjasama lah denganku Pak, supaya kita sama-sama enak,” jelas Sam lagi.


Pram hanya bisa berdecak kesal. “Aku sudah membayangkan betapa mengerikannya saat harus membawamu bersamaku ke Bali!” omel Pram.


Setelah berhasil mengambil foto Pram dengan wajah setengah kesal, lagi-lagi Sam menghentikan langkah Pram.


“Pak, sebentar,” panggilnya pelan.


“APA LAGI?!” Pram berteriak kasar, menatap tajam pada Sam. Kesabarannya habis sudah. Dari tadi dia berusaha mengikuti tingkah konyol Sam.


“Ulang sekali lagi Pak. Aku lihat hasilnya, ada seorang gadis ikut terfoto tadi,” jelas Sam menunjukkan hasil fotonya barusan.


“Pak, bisa geser sedikit mendekat dengan patung itu?” tanya Sam ragu. Dia berpikir, sebaiknya mengambil foto dengan patung saja, meminimalkan segala resiko. Dia tidak mau ada wanita yang tertangkap dalam kamera ponselnya. Itu akan membuat Kailla berpikiran buruk pada suami tercintanya.


"Kelewatan kamu Sam. Istriku memang kekanak-kanakan, tapi kamu tidak perlu ikut-ikutan dan meladeninya!" gerutu Pram.


Dengan terpaksa Pram mengikuti permintaan Sam. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk memarahi Sam saat ini. Tapi setelah urusannya selesai, dia berjanji akan menggantung Sam di tiang bendera depan hotel.


“Sekali lagi, aku akan menendangmu ke jalanan!” omel Pram, menatap sinis pada asisten istrinya itu.


“Sudah Pak. Maaf, saya hanya ingin menyelamatkan Pak Pram, supaya malam ini tidak tidur di pos satpam,” jelas Sam ragu-ragu, menahan tawanya setelah berhasil mengolok-olok Pram.


“Beraninya kamu!” gerutu Pram, sudah mengarahkan telunjuk ke arah Sam.


Sam tahu, Pram sedang kesal padanya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengabulkan semua permintaan Kailla. Dia tidak mau sampai Kailla mengganggu hidupnya hanya karena salah paham atau berprasangka yang tidak-tidak.


Pram kembali masuk ke dalam mobil untuk bertemu dengan orang suruhannya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Citra Wijaya. Setelah itu dia harus pulang. Dia tidak mau meninggalkan Kailla sendirian tidur di kamar mereka malam ini.


Dia sengaja memesan hotel, supaya bisa beristirahat dan meninggalkan Sam di sana. Dia tidak mungkin membawa Sam ikut bersamanya saat ini.


****


Mobil yang di tumpangi Pram terlihat berhenti di sebuah rumah sederhana, di pinggiran kota. Setelah mengumpulkan keyakinannya, Pram turun dari mobil melangkah pasti menuju rumah yang dimaksud orang suruhannya.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya pintu itu dibuka. Tampak seorang wanita cantik, muncul dari balik pintu.


“Maaf, apakah disini rumahnya Ibu Citra Wijaya?” tanya Pram pada si wanita cantik, berambut panjang bergelombang, tergerai indah di bahunya.


“Maaf, dengan siapa ya Pak?” tanya wanita itu sopan, sedikit membungkuk.


“Saya Reynaldi Pratama, ingin bertemu dengan Ibu Citra,” ucap Pram mengenalkan diri.


Deg—


Wanita cantik itu, terlihat terkejut. Menatap lelaki tampan di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Apa ini putra Ibu? Ah, dia tampan sekali!” batin wanita itu.


Lagi-lagi dia menatap Pram. Tapi tatapannya penuh kekaguman kali ini. Pipinya merona seketika, melihat Pram yang menatap ke arahnya.


“Maaf mbak, saya bisa bertemu Ibu Citra?” tanya Pram, memecah lamunan wanita cantik di hadapannya.


***


Terimakasih.


Love You All


Mohon dukungan Like komen dan share ya.