
Keesokan harinya.
Semburat matahari pagi sudah menembus masuk melewati tirai putih di sebuah kamar hotel di Bali. Pram dan Kailla yang masih terlelap dan saling memeluk, seolah tidak terganggu dengan sinar panas menyilaukan yang menyorot tubuh polos mereka.
Terlihat Pram sesekali menganti posisi tidur, sebelum akhirnya membuka mata. Detik pertama, yang dilihatnya adalah wajah polos penuh kedamaian yang tertidur dengan napas teratur. Wajah itu damai, tenang dan menghanyutkan. Tentu saja cantik, memikat dan setiap saat membuatnya selalu ingin menerkam berkali-kali.
Di saat inilah Pram merasa menjadi orang yang terlahir dengan keberuntungan. Ia beruntung, selalu menjadi orang pertama dan satu-satunya di dunia ini bisa menatap wajah malaikat seorang Kailla putri konglomerat Riadi Dirgantara. Jangan ditanya bagaimana putri yang sedang tidur ini saat terjaga. Pram yakin, tidak akan ada laki-laki mana pun yang sanggup bertahan dengan semua kenakalan, kemanjaan dan kegilaannya.
Senyum Pram tersungging saat merasakan pergerakan kecil Kailla. Istrinya masih betah meringkuk dalam dekapannya.
“Kai, bangun ... Sayang,” panggil Pram berbisik di telinga istrinya, saat melihat jam di dinding kamar hotel sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.
“Sayang, ayo bangun,” panggil Pram, mengguncang pelan tubuh polos yang masih menimpa lengan kirinya.
Kailla bergeming, masih betah dengan alam mimpinya. Seringai pun muncul di bibir Pram saat panggilan lembut tidak bisa membangunkan istrinya dengan cara yang manusiawi.
Tangannya sudah berpindah, dari punggung merambat ke bagian depan. Mengeksplor semua yang dirasa bisa mengusik tidur lelap sang istri.
“Ah!" desah Kailla saat Pram meremas sesuatu dengan kencang. Bukan nikmat tetapi nyeri menggelenyar.
“Masih belum mau bangun, Sayang?” tanya Pram sudah bersiap melancarkan serangan yang lebih dasyat. Otaknya sudah bersiap dengan rencana nakal, yang diyakininya akan membuat Kailla menggila.
“Ayo bangun, Sayang,” panggil Pram sudah menindih tubuh istrinya. Menggigit kecil telinga Kailla, setelah menyingkirkan anak rambut yang mengganggu misinya.
Pram menggelengkan kepala, saat melihat istrinya tidak kunjung bisa dibangunkan. Ia sudah menyibak pergi selimut tebal yang membungkus tubuh mereka sejak semalam.
Sekejap mata, selimut itu teronggok di lantai, tidak berdaya menimpa pakaian Pram dan Kailla yang sejak semalam, sudah terlebih dulu menghuni lantai kamar.
Tepat saat Pram akan memulai pertempurannya, Kailla membuka mata. Saat merasa meriam akan ditembakan, ia langsung mengeluh dan merengek seperti biasanya. Hilang sudah wajah polos bak bidadari yang dikagumi Pram. Berganti wajah menggemaskan terkadang menyebalkan disaat gadis kecilnya sudah membantah dan menolak semua kata-katanya.
“Sayang, aku lelah,” rengek Kailla, seperti biasa. Pram sudah sangat hafal dengan kata-kata itu. Hampir tiga bulan ini, ia selalu mendengarnya setiap pagi, siang bahkan malam.
“Ya, aku hanya ingin membangunkanmu,” ucap Pram, memilih mengalah setelah melihat wajah memelas istri yang dicintai. Ia masih ingat semalaman sudah membuat Kailla kelelahan.
Pram menggulingkan kembali tubuhnya ke samping Kailla. Tadinya ia sudah bersiap menindih dan mengunci tubuh istrinya. Ia berpikir sudah akan kembali terbang bersama, memanfaatkan detik-detik berakhirnya bulan madu dadakan. Besok mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Pekerjaan menantinya.
“Sayang, ayo bersiap. Kamu mau menemaniku ke rumah sakit, kan?” tanya Pram, kembali menindih tubuh Kailla, mengecup seluruh wajah nan menggemaskan istrinya.
Cup. Cup. Cup. Cup.
“Ayo, kita mandi bersama untuk menghemat waktu,” ajak Pram , sudah bangkit berdiri. Bersiap menarik tangan Kailla yang masih bermalas-malasan di atas ranjang empuk sambil memeluk guling.
“Aku masih mengantuk, Sayang,” rengek Kailla.
“Ayo ...." Kali ini Pram yang merengek, berusaha membujuk.
“Ya sudah. Aku pergi sendiri saja. Lagi pula perawat di rumah sakit biasanya cantik dan seksi-seksi,” ucap Pram tersenyum, bergegas ke kamar mandi.
“Kamu tidak ikut, aku bisa memiliki kesempatan berduaan dengan mereka tanpa ada yang mengganggu,” lanjut Pram lagi.
“Tidak! Aku ikut,” potong Kailla sesaat setelah mendengar ucapan Pram. Ia langsung berdiri di atas tempat tidur, memanggil Pram.
“Sayang, gendong aku,” pinta Kailla.
“No!” tolak Pram, berlalu meninggalkan Kaila sendirian.
Kailla memilih meloncat turun, mengejar Pram yang hampir sampai ke pintu kamar mandi.
“Tertangkap!” ucap Kailla sambil memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang.
“Jangan main-main lagi, Sayang. Aku sudah terlambat,” sahut Pram. Menarik tangan Kailla untuk ikut masuk ke kamar mandi bersamanya.
***
Di rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Kailla terus-terusan memeluk lengan Pram. Mendengar cerita Pram kemarin, ia menjadi khawatir sendiri.
“Sayang, maafkan aku, ya. Apa aku sudah merepotkanmu selama ini,” ucap Kailla, menatap suaminya. Ia takut Pram menderita penyakit serius. Apalagi selama ini ia yang paling sering menyusahkan suaminya.
“Ya ... aku tidak apa-apa,” sahut Pram tersenyum. Ia hanya berbohong pada istrinya. Bisa saja ia pergi sendiri ke rumah sakit tanpa membawa Kailla, tetapi ia khawatir meninggalkan Kailla dengan Sam atau Bayu.
“Sayang, aku tidak mau kamu sakit. Aku mencintaimu,” ucap Kailla dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak apa-apa, Sayang,” sahut Pram, berusaha menenangkan. Kenyataannya, ia memang tidak sakit. Namun, tidak mungkin berterus terang pada Kailla untuk saat ini.
“Aku takut kamu akan meninggalkanku," bisik Kailla pelan, hampir tidak terdengar.
“Daddy koma. Kalau kamu kenapa-kenapa, bagaimana denganku,” ucap Kailla pelan, meneteskan dua bulir air dari mata indahnya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji.”
Tak lama, seorang perawat memanggil mereka masuk ke dalam ruangan. Proses pengambilan sampel darah hanya sebentar, tapi waktu mereka habis untuk menenangkan Kailla.
Pram masih tertawa setiap mengingat Kailla yang hampir menangis saat proses pengambilan darah. Bukan Kailla yang menenangkan Pram, tetapi sebaliknya. Kailla mengganggu proses pengambilan darah dengan berteriak kesakitan dan gemetaran setiap petugas hendak menyuntikan jarum ke tangan Pram.
Kalau bukan karena permintaan Pram, Kailla sudah diusir petugas yang mengambil sampel darah Pram.
“Kamu belum puas menertawakanku,” gerutu Kailla, menatap tajam ke arah suaminya.
Kembali Pram tergelak, membayangkan rasa sakit yang harus di tahannya karena ulah Kailla.
Bisa dibayangkan Pram harus menahan rasa sakit dari jarum suntik pada lengan kanannya dan dan gigitan Kailla pada lengan kirinya.
Kailla menggigit Pram saat melihat jarum suntik itu menembus kulit tangan suaminya. Kalau tidak begitu, ia akan menjerit kesakitan seolah-olah jarum itu akan menembus kulitnya sendiri. Pram sudah memintanya keluar dari ruangan atau memejamkan mata, tetapi istri nakal dan keras kepalanya itu malah menolak.
“Kai, aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi saat kamu melahirkan,” ucap Pram, tidak berani memikirkannya. Pasti akan mengerikan sekali keadaannya pada saat itu.
“Aku akan membayar dengan apapun, kalau bisa membuatmu tidak merasa kesakitan saat melahirkan,” ucap Pram pelan.
“Kalau memang bisa, aku rela menanggung rasa sakitnya,” lanjut Pram dengan wajah khawatir.
***
Pram terkejut saat mereka akan keluar dari rumah sakit. Saat berjalan di lobby rumah sakit, dari arah pintu masuk tampak Ibu Citra dan Kinar yang sedang berjalan masuk.
“Bukannya aku minta diatur jadwal supaya tidak bertemu dengannya di rumah sakit,” ucap Pram dalam hati.
Pram menatap Kailla yang sedang berjalan di sampingnya. Ia tidak mau Ibu Citra bertemu dengan istrinya. Dengan sigap ia meraih tangan Kailla dan menggengamnya erat. Berusaha menyembunyikan tubuh mungil istrinya di balik tubuh kekarnya. Ia tidak bisa menghindar, Kinar dan Ibu Citra pasti melihatnya.
Dugaan Pram menjadi kenyataan, beberapa detik kemudian ia bisa mendengar Kinar menyapanya.
“Siang, Pak Pram.”
“Pram, kita bertemu di sini,” ucap Bu Citra sambil tersenyum. Ia sudah sangat merindukan putranya. Sejak pulang dari kediamannya, Pram tidak menghubunginya sama sekali.
“Ibu ...." panggil Pram ragu, menggengam erat tangan istrinya.
Deg—
Pandangan Ibu Citra dan Kinar tertuju pada sosok perempuan yang bersembunyi di balik tubuh Pram. Kalau Ibu Citra menatap wajah Kailla tanpa berkedip, sebaliknya Kinar menatap gengaman erat tangan Pram pada Kailla.
“Siapa gadis cantik yang digenggam Pak Pram,” batin Kinar.
“Pram ... dia ...." tanya Bu Citra menunjuk ke arah Kailla. Namun, Ibu Citra tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Pram sudah memotong terlebih dulu.
“Maaf, kami buru-buru. Permisi,” pamit Pram, bergegas meninggalkan keduanya.
Kinar dan Ibu Citra masih menatap punggung Pram dan Kailla menghilang di pintu masuk rumah sakit.
“Gadis itu siapa, ya?” tanya Ibu Citra. Wajahnya menampakan keheranan. Demikian juga dengan Kinar, wanita itu sedikit kecewa melihat Pram yang menggenggam tangan seorang gadis.
Sebenarnya ia tidak mau berharap terlalu tinggi. Namun, selama merawat Ibu Citra, wanita tua itu selalu mengatakan padanya. Walaupun terdengar mustahil dan tidak mungkin. Ibu Citra selalu mengatakan kalau ia bisa menemukan putra kandunganya, ia akan menjodohkannya dengan Kinar.
Kinar tidak pernah berharap banyak, karena ia yakin, kemungkinan itu sangat kecil. Namun, saat melihat Pram datang ke rumah mereka, ia merasa kalau dirinya masih memiliki kesempatan. Apalagi sosok Pram yang dilihatnya benar-benar tampan dan terlihat bukan orang sembarangan. Kinar bisa menilai sendiri, kalau Pram bukan orang susah seperti mereka. Bisa menikah dengan Pram, pasti ia bisa memiliki segalanya. Harta dan kemewahan, apalagi ia memiliki kunci menuju ke sana. Ibu Citra, ibu kandung Pram.
"Kalau aku menemukan putraku, aku akan memintanya menikahimu. Kalau dia sudah menikah, kamu tidak keberatan kan menjadi yang kedua?"
Kalimat yang sering diucapkan Ibu Citra selama ini, walau pun saat itu bagi mereka berdua hanya sebuah mimpi di siang bolong.
Namun, mimpi itu sebentar lagi menjadi nyata. Kinar hanya berharap, Ibu Citra memegang omongannya.
**
Di dalam mobil, Kailla tidak kalah penasarananya dibanding dengan dua orang wanita yang ditinggal Pram di rumah sakit.
“Sayang ... mereka siapa?” tanya Kailla, bersandar manja di pundak Pram.
***
To be continue..