Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 154 : Lapis Legit


“Kai, cium aku. Aku mohon,” pinta Pram. Setelah menunggu Kailla, yang terlihat ragu-ragu menciumnya.


Kailla menatap suaminya dengan seulas senyum di bibirnya, kedua tangannya sudah bergelayut di leher Pram.


“Sayang, turunkan sedikit. Kamu masih terlalu tinggi,” protes Kailla.


“Aku mau ciuman yang luar biasa,” pinta Pram, setelah menurunkan wajahnya. Mencari posisi ternyaman untuk Kailla bisa menciumnya.


Baru saja Kailla akan mendaratkan bibirnya ke bibir Pram, tiba-tiba ponsel di kantong Pram berdering. Mengganggu konsentrasi Kailla, yang sedang bersusah payah menahan malu.


“Mengganggu saja!” omel Pram, langsung menonaktifkan dan melempar ponselnya asal.


Pram langsung menerkam bibir Kailla, tidak menunggu Kailla menciumnya terlebih dulu.


Meraih tengkuk istrinya, supaya memperdalam ciumannya.


“Mmmphhtt....” Pram benar-benar membungkam istrinya saat ini. Tidak membiarkan Kailla bersuara. Dengan sedikit dorongan, dia menjatuhkan tubuh Kailla ke atas sofa ruang tamu. Kemudian menyusul menindih Kailla dengan hati-hati, ada bayi mereka di dalam tubuh istrinya saat ini.


Tangannya sudah menelusup masuk dibalik pakaian Kailla, membelai dan meremas, membuat Kailla menggelinjang. Sentuhan lembut dan nakal Pram membuat Kailla menggila seketika. Dalam sekejap atasannya sudah berantakan, tidak pada tempatnya lagi. Pram benar-benar memperlakukan Kailla dengan luar biasa, sampai Kailla melemas dan hanya bisa memejamkan mata, menikmati semua kelembutan Pram.


“Ah........,” desah Kailla.


Desahan panjang dari bibir tipis bergabung dengan tubuh yang menegang, menandakan Kailla benar-benar sudah melayang saat ini. Kedua tangan masih mencengkeram erat pinggang Pram yang terbalut kaos hitamnya.


Pram tersenyum, memandang ekspresi Kailla saat ini. Ekspresi yang setiap malam dilihatnya setiap mereka menuntaskan penyatuan mereka. Tapi hari ini, dia tidak mau mengganggu Kailla. Istrinya sudah terlalu lelah melayaninya hampir tiap malam. Kasihan bayi mereka yang harus ikut begadang setiap ayahnya bertamu.


“Sudah...?” tanya Pram lembut, merapikan rambut Kailla yang berantakan. Pram menyudahi semuanya, setelah melihat Kailla terengah-engah dengan memejamkan matanya.


Kailla sudah tidak sanggup bicara, hanya berusaha mengatur nafasnya supaya kembali normal.


Buk! Buk! Buk!


Pukulan bertubi-tubi itu mendarat di dada Pram. “Kelewatan!” gerutu Kailla, setelah nafasnya tenang kembali.


“Itu hukuman karena tidak mau menciumku,” ucap Pram sambil tersenyum licik.


“Ah... aku kan sudah mau menciummu, tapi ponselmu itu mengganggu,” protes Kailla.


“Jadi...., artinya kamu mencintaiku juga?” tanya Pram memastikan, membuat Kailla menutup mulutnya tiba-tiba.


Deg—


“Kenapa harus ditanya berulang-ulang, kalau sudah tahu jawabannya,” gerutu Kailla.


“Aku ingin mendengar langsung dari bibir ini,” sahut Pram, jarinya sedang memainkan bibir tipis Kailla.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla.


“Aku akan menghukummu lagi,” ancam Pram, menatap istrinya dengan tatapan serigala kelaparan.


“Ah....! Jangan lagi,” tolak Kailla, sambil merengek manja, tangannya sedang merapikan pakaian atasnya yang sudah berantakan karena ulah tangan usil Pram.


“Aku mencintaimu Nyonya,” ucap Pram sambil tertawa. Tangannya sedang menyingkap baju Kailla.


“Dan aku perintahkan kamu juga mencintaiku, karena di dalam sini ada bayiku,” lanjut Pram, telunjuknya sedang menulis bentuk hati berulang-ulang di atas perut Kailla yang terbuka.


“Aku mau dia tumbuh dengan kasih sayang kita berdua. Aku mau kamu juga mencintainya. Aku tidak mau, anakku bernasib sama sepertiku,” bisik Pram di telinga Kailla


“Iya......., aku juga tidak mau anakku bernasib sama sepertiku, tumbuh tanpa kasih sayang mamanya. Aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki mama,” ucap Kailla bergetar, menahan apa yang dirasakannya saat ini.. Ada 2 bulir air mata turun membasahi pipi saat mengucapkannya.


Pram mengangguk, menghapus air mata di pipi Kailla sampai tidak berjejak lagi.


“Biarkan dia mendapatkan apa yang tidak pernah kita dapatkan selama ini,” ucap Pram, mengelus lembut perut mulus istrinya.


“Kamu tidak ke kantor?” tanya Kailla tiba-tiba.


“Tidak, besok baru ke kantor,” sahut Pram.


“Sayang, kamu tidak apa-apa? Wajahmu sedikit pucat,” tanya Kailla memastikan lagi. Beberapa hari ini, dia sering menangkap basah Pram memijat kening dan pelipisnya.


“Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat,” jawab Pram. Segera bangkit dari atas tubuh Kailla.


“Aku lapar, ayo kita sarapan. Setelah itu aku akan memijat kepalamu,” ajak Kailla.


“Ah, kamu jangan menggodaku lagi. Pijatanmu itu pasti akan berakhir dengan kelelahanku Nyonya. Pasti pada akhirnya kamu akan meminta terbang ke langit lagi,” goda Pram. Menarik tangan Kailla supaya berdiri dan mengikutinya menuju ke dapur.


“Teriakanku tadi begitu mengerikan ya?” tanyanya pada Kailla saat melihat betapa berantakannya dapur mereka sekarang.


“He..em..,” sahut Kailla.


“Anakmu saja sudah hampir meloncat keluar, mengikuti Bayu dan Bi Ida,” lanjut Kailla terkekeh.


“Sayang..., aku ingin makan kue lapis legit. Tapi... aku mau kamu yang membuatnya dengan tanganmu sendiri,” pinta Pram tiba-tiba, dengan wajah memelas dan penuh harap. Entah dari mana pikiran itu muncul, terlontar tiba-tiba. Dia menginginkannya, sangat menginginkannya. Padahal dia tidak terlalu suka makanan manis dan berlemak. Tidak baik untuk tubuhnya yang sudah menuju tua sebentar lagi.


Deg—


“Apa-apaan ini,” bisik Kailla pelan, menatap suaminya tidak percaya.


“Mau ya? Aku benar-benar menginginkannya.” rengek Pram manja. Langsung memeluk istrinya dari belakang.


“Aku tidak bisa membuatnya,” tolak Kailla menjelaskan.


“Tapi aku serius, belajar dari youtube. Jangan cuma bisa menonton orang makan saja,” potong Pram.


“Sayang.....,” rengek Kailla.


“Aku mohon, aku benar-benar menginginkannya,” pinta Pram.


“Kita tidak punya bahan-bahannya.” Kailla beralasan.


“Aku akan meminta Pieter menyiapkannya, bahkan lengkap dengan ovennya.” Pram berkata, sambil tersenyum. Membayangkan kelezatan lapis legit buatan istrinya.


“Baiklah...,” ucap Kailla tertunduk lemas.


“Sekarang kita sarapan,” ajak Pram setelah permintaannya dikabulkan Kailla.


Oh ya, aku mau makan nasi goreng buatanmu Sayang,” pinta Pram lagi.


Menatap Kailla yang sudah cemberut.


“Huh...! Aku yang hamil, kenapa dia yang mengidam seperti ini. Malah lebih merepotkan dibandingkan permintaanku,” gerutu Kailla. Tangannya sudah meraih wajan, bersiap membuat nasi goreng untuk Pram.


“Terimakasih Nyonya. Aku mohon jangan mengerjaiku lagi!” sahut Pram, memberi kecupan di kedua pipi cemberut Kailla.


“Aku mau tiduran sebentar Sayang, panggil aku kalau sudah siap,” ucap Pram berjalan menuju sofa. Merebahkan diri di sana, sambil memijat kembali kepalanya yang sakit.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pram sudah berangkat ke kantor. Sejak bangun tidur, kepalanya semakin sakit, belum lagi sekujur tubuhnya yang ikuta-ikutan sakit sekarang. Tadinya dia berpikir setelah istirahat seharian, dia akan kembali sehat. Nyatanya, sakitnya semakin menjadi.


Rapat penting hari ini terpaksa membuatnya tetap harus ke kantor. Dia sudah dua hari tidak ke kantor, pekerjaan pun sudah menumpuk di meja kerjanya.


Tampak Pram minum 2 butir sekaligus obat sakit kepala, sebelum berpamitan pada Kailla.


“Kai..., Sayang.., aku ke berangkat ke kantor sekarang,” pamit Pram, membangunkan istrinya yang masih terlelap.


“Hmmmm.., Iya. Sudah jam berapa sekarang?” tanya Kailla masih dengan suara seraknya.


“Jam tujuh, lanjutkan tidurmu. Aku berangkat Sayang,” ucap Pram mengecup kening Kailla.


“Daddy berangkat Sayang, jangan menyusahkan mommymu hari ini,” bisik Pram, membungkuk dan mengusap perut Kailla, kemudian menciumnya.


***


Perjalanan ke kantor dihabiskan Pram dengan memejamkan matanya, mencoba beristirahat di mobil. Dia sempat tertidur karena efek obat sakit kepala yang diminumnya, sampai harus dibangunkan sopirnya.


“Pak... kita sudah sampai kantor,” panggil sopir kantor membangunkan Pram.


Pram membuka matanya dan langsung masuk dengan terburu-buru. Dia harus segera sampai ke ruangannya, kepalanya semakin berat. Tepat saat akan membuka pintu ruangannya, Pram ambruk, bersandar di depan pintu. Dia sudah tidak sanggup lagi. Dengan bersusah payah dia meminta sekretarisnya menghubungi Pieter, membawanya ke rumah sakit.


“Ya Tuhan, kalau aku sakit, bagaimana istriku,” ucapnya pelan, mencoba mendorong pintu ruangannya. Dengan sempoyongan menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya disana sambil menunggu Pieter.


***


Terimakasih dukungannya. Love You All😘😘😘


Get Well Soon, Om Pram😘😘😘