
“Cukup Kai!! Sudah kukatakan akan menghubungimu nanti!!” bentak Pram kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dia sedang tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Dengan wajah memerah, dia berbalik menatap tajam ke arah Anita yang sedang duduk bersandar di ranjang ruang perawatannya. Anita tersenyum sumringah penuh kemenangan. Dia tahu Pram adalah laki-laki yang bertanggung jawab.
“Aku tidak mempercayaimu.” tegas Pram. Sorot mata Pram memancarkan kemarahan.
“Hehehe, kalau kamu lupa aku masih memiliki bukti fotonya, Pram. Lagipula kamu bisa menghitung sendiri kan kejadian kita di hotel dengan usia kandunganku,” balas Anita tidak mau kalah.
“Brengs*k!!!” Kamu menjebakku, An. Kamu mencampur sesuatu di minumanku, sehingga aku tidak bisa mengingat apa pun.” Pram menghela napas kasar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kalau kamu tidak yakin, tidak masalah bagiku. Aku tinggal membuangnya, seperti kamu membuangku dulu.” Anita berkata dengan santai.
“An, jangan gila ya. Itu bayiku atau bukan, kamu tidak berhak membuangnya. Dia berhak hidup.” ujar Pram. Dia memilih duduk menenangkan diri menyandarkan tubuhnya di sofa. Berharap semua ini hanya mimpi buruk belaka.
“Kamu harus bertanggung jawab dan menikahiku, Pram.” pinta Anita.
Deg—
“Aku tidak akan melakukannya!! Kalaupun aku harus menikah, bukan denganmu. Kamu jelas-jelas tahu itu,” tegas Pram. “Tapi aku pastikan akan bertanggung jawab untuk bayimu. Paling tidak aku akan bertanggung jawab sampai ada kejelasan siapa ayah bayimu. Walau aku yakin, itu bukan bayiku.” lanjutnya lagi.
“Kamu mau bayimu tidak mempunyai status yang jelas!!” teriak Anita.
“Kamu jangan berteriak di depanku, An. Itu tidak akan mengubah keputusanku.” ujar Pram.
“Pram!!!!!! Kelewatan kamu Pram!!” geram Anita.
“Kamu menjebakku An, kamu jangan lupa itu. Bahkan aku tidak ingat apa yang terjadi malam itu.” potong Pram.
Pram memilih keluar dari ruangan Anita, menenangkan diri. Berlama-lama di dalam ruangan bersama Anita hanya akan membuat pikirannya semakin kacau. Sejak dokter meyatakan Anita sedang hamil dan Anita yang menyudutkannya dengan mengatakan dia ayah bayinya, otaknya sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Entah kenapa dia merasa yakin, bayi itu bukan miliknya.
“Dia benar-benar menggunakan segala cara untuk menghancurkanku. Keterlaluan kamu, An.”
***
Kailla langsung terdiam begitu Pram lagi-lagi memutuskan panggilannya sepihak, bahkan dia belum sempat berbicara sama sekali. Dia memilih duduk menunggu dokter keluar dari ruang IGD. Ketakukan dan kesendirian, itulah yang dirasakan Kailla saat ini.
Bu Sari mendekati putri majikannya itu, memeluk gadis itu erat. Dia khawatir dengan kondisi Kailla yang menyedihkan saat ini. Wajah gadis pucat dan tidak berhenti mengeluarkan airmatanya sedari tadi. Terlihat dia mengigit jari-jarinya yang lentik supaya suara tangisnya tidak keluar.
“Keluarga Pasien?” Salah satu dokter keluar dari Ruang IGD.
“Sa.. saya Dok.” Kailla menjawab terbata. Dia benar-benar takut saat ini. Dia takut dokter akan memberinya kabar buruk.
“Maaf Bu saya berbicara dengan siapanya pasien?” tanya sang dokter.
“Sa..saya putrinya.”
“Baiklah, mari ikut saya ke ruangan.”
Kailla mengikuti dokter yang masuk ke ruangan tidak terlalu jauh dari ruang IGD. Sengaja dia meminta Bu Sari untuk menemaninya dan mendengar penjelasan dokter.
Dari tempat duduknya sekarang, Kailla bisa melihat jelas dari dinding kaca yang membatasi ruangan itu dengan ruang IGD. Daddynya sedang terbaring, dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Dia kembali terisak.
“Pasien koma, tim dokter sedang melakukan pemeriksaan penyebab komanya. Pasien masih harus melakukan serangkaian tes. Untuk saat ini kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU, supaya keadaan pasien terus bisa kami pantau. Mohon pihak keluarga ada yang bisa mengurus administrasinya.” jelas dokter menatap prihatin.
Kailla hanya bisa mengangguk, tubuhnya melemas pikirannya kosong seketika begitu mendengar penjelasan dokter. Dia harus dibantu Bu Sari supaya tidak terjatuh.
“Ibu keluar dari ruangan ini ke kiri lurus saja. Bagian administrasi dan kasir ada di paling pojok.” jelas dokter lagi.
“Baik Dok,” ucap Kailla.
Bu Sari harus membantu memapah Kailla untuk bisa sampai ke bagian administrasi. Tampak petugas bagian administrasi menyodorkan beberapa lembar kertas yang harus diisi oleh Kailla.
“Aku harus bagaimana?” lirihnya. Perasaannya campur aduk. Terlihat dia menulis dengan tangan gemetar. Dia bingung, dia sedih, dia merasa sendiri saat ini. Ini kali pertama dia harus menghadapi semuanya sendirian. Biasanya selalu ada Daddy atau pun Pram yang mengurus segala sesuatu untuknya.
“Ini,” Kailla menyodorkan kartu kreditnya. Dia harus melakukan deposit supaya dokter bisa melakukan tindakan selanjutnya.
“Bu, Daddy akan baik-baik saja kan?” tanyanya lirih pada Bu Sari yang dijawab anggukan dan sebuah pelukan erat yang menenangkan.
Setelah dipindahkan ke ruang ICU, Kailla hanya diizinkan sesekali saja menemui Daddynya yang terbaring tidak sadarkan diri. Selebihnya dia harus menunggu di luar, sampai dokter memanggilnya untuk memberitahu perkembangan selanjutnya.
Dia sedang duduk memeluk kedua kakinya saat ponselnya berdering. Dia melirik sekilas ke layar ponselnya dan memilih untuk membiarkanya saja.
“Om.”
Mendengar ponsel yang berdering tanpa henti, Bu Sari pun mengingatkan Kailla.
“Non, ponselnya.”
“Biarkan saja ,” jawab Kailla. Begitu ponselnya berhenti berdering segera Kailla memasang mode senyap dan melemparnya masuk ke dalam tas.
***
“Anak ini ngambek lagi,” gumam Pram setelah beberapa kali menghubungi Kailla tapi berakhir dengan panggilan tidak terjawab. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jeansnya kemudian berjalan masuk ke ruangan Anita.
Terlihat Anita sedang duduk di ranjang dengan makanan yang disediakan suster di hadapannya.
“Makanlah!” perintah Pram begitu melihat Anita diam saja hanya menatap ke arah makanan tanpa menyentuhnya sama sekali. Makanan-makanan itu masih tertutup rapat dan rapi.
“Kasihan bayimu kalau kamu mogok makan,” lanjutnya lagi.
“Apa pedulimu, bahkan kamu tidak mau mengakuinya.”
“Cukup An, habiskan makananmu, jangan seperti anak kecil. Setelah ini aku harus kembali ke kantor. Kamu tahu kan, aku kesini juga untuk mengurusi pekerjaaanku,” potong Pram.
15 menit menunggu, Anita tetap bergeming. Kesabaran Pram pun habis. “Baiklah An, terserah apa maumu. Paling tidak minum obatmu.” ucap Pram sambil membantu Anita meminum obatnya.
“Aku harus kembali ke kantor sekarang. Besok aku baru menemuimu lagi,” pamit Pram berjalan meninggalkan ruangan.
“Pram!! Tega kamu ya!! Terus nanti malam siapa yang menungguiku disini?” Teriak Anita melempar serbet kearah Pram.
“Aku juga butuh istirahat An, bukan tugasku mengurusimu.” Jawab Pram sebelum menutup pintu.
“Brengsek kamu Pram!!!”
Maaf telat up ya.. nanti malam saya up lagi, terimakasih dukungannya. Jika berkenan, mohon bantuan like dan komennya, Terimakasih, Love you all.