
Brakkk!
“Om..!” panggil Kailla saat mendorong pintu ruang kerja Pram. Seketika dia terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terpaku menatap orang-orang di dalam ruang kerja yang saat ini juga terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
Kailla mengabsen satu per satu wajah terkejut dengan mulut ternganga di dalam ruang kerja suaminya. Tapi saat melihat tatapan tajam Pram padanya, Kailla langsung tersentak. Dia langsung menunduk, tersadar dengan penampilannya saat ini. Otaknya kosong seketika, tidak bisa berpikir apa-apa untuk menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Kakinya bagai terpaku di tengah pintu, dia sudah tidak punya tenaga untuk melarikan diri. Dengan satu tangan di merengkuh kemeja bagian atasnya untuk menutupi bekas kecupan suaminya yang tidak terhitung jumlahnya. Tangan yang satunya sibuk menarik turun kemejanya berusaha menutupi paha mulusnya.
“Maaf..” ucapnya lirih sambil menunduk setelah bisa menguasai keadaan. Kailla sudah tidak punya muka lagi untuk menatap semua orang dengan berbagai ekspresi di dalam sana. Segera dia berbalik, menutup pintu itu pelan. Rasa malu bercampur ketakutan akan tatapan tajam Pram menyatu, memaksa air mata itu turun tanpa bisa dikendalikan. Menangisi kebodohannya sendiri. Dia berlari menuju kamar tidur, tanpa mempedulikan Bu Ida yang memanggilnya sedari tadi.
“Non..Non...,” panggil Bu Ida melihat majikannya itu berlari sambil menunduk.
Sebenarnya Bu Ida juga tidak kalah kagetnya, dia baru menyadarinya, begitu Kailla sudah membuka pintu ruang kerja Pram. Dia terlambat menyelamatkan majikannya. Tadinya, dia tidak terpikir Kailla akan langsung berjalan menuju ke sana. Dia terlalu sibuk dengan kompor dan pancinya.
“Apa aku susul saja ya?” pikir Bu Ida, segera dia melepas celemeknya, setengah berlari menuju kamar tidur Kailla.
Tok!Tok!Tok!
“Non...Non..,” panggil Bu Ida. Tapi tidak ada jawaban dari dalam.
“Non..Non.., panggil Bu Ida lagi, sambil menempelkan telinganya ke daun pintu. Berharap bisa mencuri dengar apa yang terjadi di dalam sana. Sepi! Tidak terdengar apa-apa.
***
Pram yang masih terpaku diam, menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Tidak bisa berkata apa-apa. Dia sedang berbincang dengan David saat pintu itu terbuka tiba-tiba dan istrinya dengan tampilan setengah t*lanjang muncul di depan mereka. Sekilas dia masih bisa menangkap ekspresi orang-orang yang sedang rapat bersamanya. Semuanya terkejut, bahkan tidak sedikit yang menatap istrinya dari atas sampai ke bawah sambil mengulum senyuman.
Pieter lebih gila lagi, dia menelan salivanya berkali-kali, melihat bekas kecupan di belahan dada Kailla. Belum lagi saat tatapannya beralih ke paha putih yang mulus bagai porselin. Dia harus bersusah payah mengembalikan konsentrasinya dan berhenti menikmati pemandangan indah di depan matanya. Dia merasa tidak enak dengan Pram, yang saat itu juga sedang melihat serius ke arahnya.
“Ini sih cabe kualitas super!” batin Pieter.
Segera Pieter mengalihkan pandangannya kepada Mitha, berharap Pram tidak memperpanjang masalah karena dia tertangkap basah sedang memandangi wanita milik Pram dengan tatapan penuh damba.
“Pieter, lanjutkan saja! Aku permisi sebentar,” pamit Pram memecahkan keheningan di dalam
ruangan. Segera dia berdiri meninggalkan rapat, mencari keberadaan istri cerobohnya itu.
Begitu Pram meninggalkan ruangan, Pieter langsung berpindah duduk di dekat Mitha.
“Mit, perempuan barusan yang dikenalin Presdir sebagai istrinya?” tanya Pieter pelan.
Mitha hanya mengangguk dan tersenyum.
Pikiran Pieter sedang merangkai semua kejadian barusan, mencari kebenaran dari pernyataan Mitha di perjalanan tadi saat mereka mau berangkat ke tempat Pram.
“Sepertinya apa yang kamu katakan masuk akal Mit,” ucap Pieter tiba-tiba.
Mitha tersenyum. “Hanya seorang simpanan!” bisik Mitha mengedipkan matanya kepada Pieter. Kepala divisi yang ikut berada di meja yang sama, lebih memilih menunduk. Mendengar dalam diam, tidak mau terlibat terlalu jauh dengan pembicaraan Pieter dan Mitha.
“Sugar baby,” celetuk Pieter.
“Pram... ternyata tidak jauh beda denganku. Tapi selera Pram bolehlah. Kalau dia sudah bosan, boleh itu dipinjam pakai sesekali.” batin Pieter tersenyum licik.
“Tadi liat....?” tanya Mitha mengarahkan telunjuk ke dadanya, memberi kode mengenai kecupan di dada Kailla yang tidak terhitung jumlahnya.
Pieter mengangguk. “Mungkin Presdir tidak enak denganmu Mit, jadi terpaksa mengakuinya sebagai istri. Kasihan istri Presdir, kalau sampai mengetahuinya.”
***
Pram memilih menemui Kailla. Begitu keluar dari ruang kerja, raut wajah tenang yang tadi dipertahankannya di dalam berubah seketika. Bu Ida yang baru saja kembali ke dapur, bergidik melihat tatapan majikannya.
“Kasihan Non Kailla,” Bu Ida berbisik lirih. Terselip rasa bersalah di benaknya. Kalau saja tadi dia sempat menceritakan kepada Kailla mengenai karyawan kantor yang datang untuk rapat, mungkin Kailla tidak akan menerobos masuk kesana.
Pram membuka pintu kamar tidurnya dengan kasar. Tanpa bertanya pun dia tahu kemana Kailla akan bersembunyi. Perasaan Pram saat ini campur aduk, kesal, marah dan malu. Belum lagi mengingat tatapan orang-orang di dalam ruang kerja begitu melihat penampilan tidak sopan istrinya. Kalau dia bisa mengamuk, dia sudah menghancurkan semuanya sedari tadi.
Mendengar pintu kamar dibuka, Kailla yang sedang duduk memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis, mendongak seketika. Dia tahu Pram yang datang, segera dia meloncat turun berlari menghampiri suaminya. Berharap bisa menangis di pundak Pram yang selalu melindunginya. Tapi baru saja dia akan memeluk Pram, laki-laki itu sudah berdiri kaku menatapnya.
Tatapan Pram tajam dan mengerikan. Siapa saja melihat akan tahu ada kemarahan di dalamnya. Pram tidak bersuara sama sekali. Melihat itu Kailla langsung mengurungkan niatnya. Dia mundur beberapa langkah, sebelum akhirnya berdiam diri dan menunduk. Dia sudah siap menerima semua kemarahan Pram. Terlihat jari- jari tangannya meremas ujung kemeja, kakinya pun sudah dirapatkan. Sesekali dia mengintip suaminya yang sedang berdiri menatapnya dalam diam.
Deg—
Tatapannya masih sama. Tajam! Siapapun yang melihatnya akan bergidik saat ini.
“Maaf...kan aku,” ucap Kailla terbata, pelan hampir tidak terdengar. Dia memilih tetap menunduk, tidak berani sedikit pun menantang Pram seperti biasanya.
Hening! Tidak ada suara, jawaban atau pergerakan diantara keduanya.
“Tatap aku sekarang Kai!” perintah Pram tiba-tiba memecahkan keheningan di kamar itu.
“Maafkan aku,” ucap Kailla mengulang kembali permintaan maafnya. Kali ini dia mencoba memberanikan diri menatap suaminya.
Pram menghela napas kasar, masih menatap tanpa berkedip. Tapi kali ini tatapnya sedikit lebih lembut dibanding sebelumnya.
“Terimakasih untuk hadiahmu pagi ini Kai!” ucap Pram tersenyum kecut, menatap mata istrinya yang masih menangis tanpa berhenti.
“Maafkan aku...aku menyesal,” ucap Kailla lagi. Dia benar-benar menyesal telah berbuat seceroboh itu dan mempermalukan suaminya di depan banyak orang.
“Tetap di kamar sampai aku mengizinkanmu keluar!” perintah Pram tegas. Kemudian dia berbalik meninggalkan Kailla yang masih tetap berdiri mematung. Lama terdiam, Kailla hanya memandang pintu yang tertutup rapat.
“Hiks...hiks... Dad, aku mau pulang,” ucap Kailla lirih. Tangisannya pecah.
“Aku tidak mau disini, aku mau pulang Dad,” ucap Kailla berulang-ulang sambil menangis.
***
Pram keluar dari kamar dengan wajah sedikit lebih tenang, jauh berbeda dari sebelumnya.
“Bu, antarkan sarapan dan makan siang Kailla ke kamar. Dia tidak akan kemana-mana sampai aku mengizinkannya keluar,” titah Pram. Saat ini dia butuh air dingin untuk meredam emosinya. Bagaimanapun dia tidak mungkin membentak Kailla, apalagi sampai memukul istrinya itu.
Sedari tadi dia sudah berusaha sebisa mungkin menjaga emosinya. Kailla benar-benar mempermalukannya saat ini. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi orang-orang yang sedang menunggu di dalam ruangannya.
***
Maaf telat up ya🙏🙏🙏
Terimakasih dukungannya. Love you all