Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 58 : Sekarang Kamu Istriku!


“Bukalah! Itu adalah sesuatu yang paling kamu inginkan. Itu adalah jawaban dari semua doa-doamu selama ini.”


Terlihat Pram berjalan menuju lemarinya, membuka setelan jasnya dan menggantinya dengan pakaian santai. Kemudian menghampiri Kailla yang masih duduk menatap kotak itu tanpa membukanya sama sekali.


“Kenapa?” tanya Pram.


Kailla menggeleng dan memilih untuk melepaskan crownnya yang masih terjepit di rambutnya.


“Om bisa tolongin?” tanyanya pada Pram menunjukkan crown yang masih belum mau terlepas dari rambutnya. Pram langsung berdiri, membantu melepas jepitan yang tersisa di rambut Kailla.


“Ini bagaimana membukanya?” Pram sedikit kebingungan, setelah semua jepitan sudah terlepas dari rambut Kailla, tapi crown itu tetap tidak mau terlepas.


“Aduh Om, jangan ditarik!” teriak Kailla memegang kepalanya.


“Maaf Kai sebentar lagi, aku sedang berusaha,” ucap Pram. Pandangannya sama sekali tidak beralih dari rambut istrinya. Akhirnya dengan sedikit bersabar, crown itu pun terlepas.


“Akhirnya!” Pram bisa bernapas lega, dia masih sempat melepaskan jepitan terakhir yang membuat rambut panjang Kailla terurai sempurna.


“Aku mau mandi dulu, Om.” Kailla langsung berdiri dan mengangkat gaunnya berjalan ke arah kamar mandi. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama, Kailla sudah keluar lagi mencari Pram dengan gaun yang setengah terbuka di bagian atasnya. Terlihat Kailla menahan gaunnya supaya tidak melorot.


Melihat Pram yang sedang duduk di sofa menatap laptop yang terbuka sempurna di hadapannya, Kailla langsung tersenyum.


“Om tolong bukain. Retsletingnya sudah terbuka sebagian tapi sepertinya macet.” Kailla langsung duduk disamping Pram, menyibak rambut panjangnya dan menyodorkan punggung mulusnya yang sudah terbuka sebagian.


Pram terkejut melihat pakaian Kailla yang setengah berantakan, tidak bisa berbuat apa-apa. “Dave matikan sekarang, kita lanjutkan nanti!” perintah Pram pada David.


Kailla tidak kalah terkejut begitu mendengar ucapan Pram, matanya melotot melihat David yang tertawa cekikikan dari layar laptop Pram.


“Haha.. kemarilah!” Pram meraih tubuh Kailla dan membawa ke dalam pelukannya. Dia yakin saat ini pipi Kailla sedang merona, menahan malu. Kailla hanya bisa menelusupkan wajahnya ke dada bidang Pram sambil tetap menahan gaunnya supaya tidak melorot.


“Maafkan aku, Kai. Tadi ada sedikit keperluan dengan David, jadi terpaksa membawa pekerjaanku ke dalam kamar.” ucap Pram. Tangannya sedang berusaha menarik habis resleting yang tersisa di gaun istrinya.


Sretttt!! Retsleting itu pun terbuka sampai ke pinggang Kailla.


“Sudah!” ucap Pram masih tidak melepas pelukannya. Tangannya masih belum berhenti. Dia masih berusaha melepas kaitan bra di punggung Kailla.


“Ini juga sudah! hehe,” ucap Pram terkekeh, begitu kaitan bra kailla juga terlepas, menampilkan punggung putih mulus istrinya yang terbuka sempurna.


“Masih butuh bantuan apa lagi?” bisik Pram menggoda di telinga Kailla. Tangan kanan Pram sibuk mengelus punggung mulus Kailla dan tangan kirinya tengah menahan agar tubuh kailla tetap berada di pelukannya.


“Ti—tidak ada! Aku mau mandi sekarang,” Kailla menjawab dengan terbata-bata.


“Gaun ini.. perlu dibantu? Aku akan membantumu melepaskannya dengan sukarela,” tanya Pram sudah bersiap menarik turun gaun yang sedang dipakai Kailla.


“Hah!” Kailla terkejut, seketika dia mendongak menatap Pram yang sedang terkekeh melihatnya. Buru- buru Kailla melepaskan diri dari pelukan Pram, berlari dengan kecepatan penuh menuju kamar mandi.


“Huh!! Hampir saja, telat sedikit aku bakal jadi santapannya lagi.” gumam Kailla begitu sudah masuk ke dalam kamar mandi dan memastikan pintunya terkunci.


***


Selesai berpakaian, Kailla menghampiri Pram yang masih duduk di sofa, memegang kotak yang tadi sempat diberikannya padanya.


“Kamu benar-benar tidak mau melihat hadiahmu?” tanya Pram lagi. Kailla menggeleng. Sebenarnya, dalam hati kecil dia sangat ingin melihatnya, tapi dia terlanjur kecewa dengan Pram yang selama ini malah menyembunyikannya. Sebelum ini, dia berpikir daddy dan Pram memang tidak memiliki foto mamanya, ternyata dugaan dia salah. Pram sengaja melakukannya.


“Kemarilah! Kamu marah padaku?” tanya Pram. Dia harus menarik Kailla agar mau duduk disampingnya.


“Dengar Kai, aku memang menyimpannya selama ini. Tapi bukan karena aku tidak mau memberikannya padamu. Tapi....”


“Maafkan aku. Kamu bisa menyimpannya sekarang, ini milikmu.” bujuk Pram berusaha memeluk istri kecilnya


Kailla masih terdiam sesekali terisak di pelukan Pram.


“Itu yang tersisa dan bisa ku selamatkan. Kalau daddy mengetahuinya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku.” jelas Pram. Dia membantu Kailla membuka isi kotaknya.


Mata Kailla terbelalak melihat potongan koran usang yang pinggirannya sudah menguning. Sebagian tulisannya pun sudah mulai pudar. Ada foto wanita berukuran kecil tanpa warna yang tidak terlalu jelas lagi disana, disebelahnya tampak foto mobil yang hancur tak berbentuk.


Tangannya bergetar hebat menyentuh foto wanita itu.


“Dia mamaku?” tanyanya menatap Pram. Pram hanya mengangguk dan memeluk erat Kailla.


“Maafkan aku, selama ini menyembunyikannya darimu. Aku juga tidak punya pilihan,” ucap Pram. “Dia secantik dirimu,” lanjut Pram lagi.


“Aku merindukannya. Aku menggunakan segala cara untuk bisa melihatnya, tapi tidak ada seorang pun yang mau mendengarkanku. Satu-satunya yang bisa ku lakukan adalah berdamai dengan keadaan.” Kailla terisak.


“Menangislah, aku sudah menyiapkan pundakku ini jauh-jauh hari hanya untuk hari ini,” ucap Pram.


Kailla menangis sesengukan dalam pelukan suaminya. Kerinduan dan ketidakberdayaan yang selama ini tersimpan di hatinya terbayar sudah. Dia ingat bagaimana di setiap doanya, meminta untuk melihat wajah perempuan yang melahirkanya ke dunia. Dia hanya ingin melihat saja, karena dia tahu, dia terlahir dengan takdir tidak bisa memiliki dan memeluk perempuan yang dipanggilnya mama.


“Maafkan aku, daddy membakar semua foto-foto mama, bahkan membungkam media pada saat itu. Sampai sekarang tidak akan pernah ada lagi jejak mama. Tidak perlu bersusah payah mencarinya. Informasi tentang mama tidak akan bisa ditemukan.” jelas Pram.


“Kenapa daddy setega itu pada mama?” tanya Kailla menatap Pram tidak percaya daddynya bisa melakukan semua itu.


“Jangan membenci daddy, ada banyak hati yang harus dijaga daddy termasuk kamu, Kai.”


“Lalu kenapa sekarang Om memberinya kepadaku?” tanya Kailla bingung.


Pram menangkup wajah sembab Kailla, menghapus air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


“Karena sekarang kamu istriku, kamu milikku. Bukan milik Riadi Dirgantara lagi. Aku berhak atas dirimu sepenuhnya, jadi aku bisa melakukan apapun yang aku anggap benar tanpa memikirkan orang lain lagi termasuk daddy.”


“Jadi kalau Om tidak menikahiku, Om akan menyimpan ini selamanya?” tanya Kailla menatap Pram.


Pram mengangguk, “Mungkin!”


Kailla memukul dada bidang Pram, kemudian memeluk erat laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Tanpa diduga-duga dia mengecup bibir Pram sekilas. “Aku menyayangimu, Om.”


Pram yang terkejut dengan apa yang dilakukan Kailla hanya bisa tersenyum dan menyentuh bibirnya.


“Aku mencintaimu,” ucap Pram menyentuh wajah Kailla dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Menepuk punggung Kailla lembut.


“Mulai sekarang jangan menangis lagi, aku akan menjadi suami yang gagal kalau kamu terus menerus menangis seperti ini.” Pram mengeratkan pelukannya dan mencium kening istrinya.






****


Terimakasih dukungannya. love you all.